LOGINTanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, saat ini benda bulat yang terletak di atas meja kecil, sudah menunjukkan angka sebelas.
Mita yang sejak tadi resah, seketika bernapas lega saat Hanna menyampaikan pesan dari Tuannya Alex.
Ia meminta Mita untuk istirahat, karena malam ini Alex ada urusan dan tidak pulang ke kediaman Branson.
"Baguslah, semoga dia tidak pernah kembali lagi," ucap Mita dengan lembut dan nyaris tak terdengar.
"Kalau begitu, saya permisi dulu Nyonya." Pamit Hanna yang langsung
Pergi.
Mita pun menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Kaki mungilnya melangkah menuju balkon, namun matanya tak sengaja melihat segerombolan orang di bawah sana.
Mita menyipitkan mata untuk memperjelas penglihatannya, pria bertubuh tinggi itu benar-benar Alex bersama ajudannya.
"Bukannya iblis itu sedang ada urusan dan tidak pulang? Kenapa dia ada di sana?" bisik dalam hati Mita.
Seketika jiwa penasarannya tumbuh, ia memperhatikan Alex melangkah menuju pintu samping mansion itu, Mita pun bergegas ke luar dari kamar. Kaki mungilnya dengan lembut menuruni anak tangga.
Setibanya di lantai satu, ia melihat Alex dan yang lainnya masuk ke sebuah ruangan. Dengan hati-hati Mita mendekati pintu ruangan itu.
"Aku akan mengirimmu ke neraka." Kata-kata itu terdengar jelas di telinga Mita, dan diikuti suara tembakan.
Mita terkejut, tubuhnya seketika bergetar. Dalam ketakutan ia memberanikan diri untuk melihat dari sela pintu yang tidak tertutup rapat.
Mita melihat seorang pria tergeletak di lantai, sedangkan Alex duduk di atas kursi dengan posisi kedua kakinya diangkat di atas meja.
Pria kejam itu terlihat santai sambil menghisap rokok. Ia menatap pria itu dengan senyum getir.
"Lempar dia ke kandang buaya," perintah Alex, yang langsung dilaksanakan oleh ajudannya.
Mita pun segera meninggalkan pintu dan kembali ke kamar. Ia naik ke atas tempat tidur, berbaring lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Kejadian malam ini benar-benar membuat Mita takut, otaknya seketika mengingat ancaman Alex terhadap keluarganya.
"Hem..." Suara itu terdengar seiring dengan terbukanya pintu.
Mita refleks memejamkan mata, berpura-pura tidur untuk menghindari Alex. Namun seluruh bulu kuduknya berdiri, karena mendengar langkah pria kejam itu ke arahnya.
"Kamu sudah tidur?" tanya Alex sambil membuka jam tangan, lalu menaruhnya di atas meja kecil di samping tempat tidur.
"Hum, apa kamu tidak mendengarku?" Alex kembali membuka mulut karena tak ada jawaban dari Mita.
Ia menghela napas sambil membuka dua kancing bajunya, lalu menjatuhkan bokongnya di sisi ranjang. Satu tangannya membuka selimut, memastikan Mita sudah tidur.
Tentu hal itu membuat Mita semakin takut, sehingga memaksanya membuka mata berpura-pura bangun.
"Kamu," ucap Mita, refleks bangkit dari tidurnya.
"Kenapa kamu bisa masuk?" lanjutnya.
"Apa kamu lupa, ini adalah kamarku?" Alex menatap Mita dengan tatapan serius.
Mita terdiam, ia mengangguk sambil memalingkan wajah. Berusaha untuk menjauh dari Alex, namun pria kejam itu justru mencengkram tangannya.
Mendekatkan wajahnya ke wajah Mita, sehingga keduanya saling beradu pandang.
"Jangan menjauh, aku tidak suka itu," ucap Alex dengan lembut namun penuh penekanan.
"Aku, aku, aku mau ke kamar mandi," dalih Mita dengan gugup.
Ia berusaha melepaskan cengkraman Alex dari tangannya, lalu bergegas ke kamar mandi. Di sana Mita membasuh wajahnya dengan air.
Menarik napas dalam-dalam sambil menutup kedua mata. Saat ia membuka mata, Mita benar-benar terkejut melihat Alex berdiri di belakangnya melalui pantulan kaca.
"Apa kamu begitu takut denganku?" tanya Alex karena melihat raut wajah Mita yang begitu pucat.
Tentu Mita takut, ia sudah dua kali melihat Alex menghabisi nyawa orang lain. Entah sudah berapa orang yang ia habisi selama ini.
"Tidak, aku hanya terkejut." Mita berusaha untuk pergi, tapi Alex lagi-lagi menarik tangannya.
Ia menyandarkan punggung Mita ke tembok, mencekik lehernya dengan lembut dan mendekatkan wajahnya. Bahkan hidungnya sampai menyentuh ujung hidung Mita.
"Tidak semudah itu untuk membohongiku Mita," bisik Alex.
Mita menarik napas, ia menutup kedua matanya. Hembusan napas pria itu menerobos hidungnya hingga menembus jantung, sehingga membuat seluruh bulu kuduknya berdiri.
"Tapi aku tidak berbohong," sahut Mita tanpa membuka mata.
Alex tersenyum getir, ia melepaskan leher Mita lalu membawanya ke luar dari kamar mandi. Dengan kasar ia melemparkan Mita ke atas tempat tidur dan menindihnya.
"Lepaskan aku." Mita berontak, ia mendorong dada bidang Alex sekuat tenaga hingga terjatuh di atas tempat tidur.
"Bukankah seorang istri harus melayani suami?" tanya Alex.
"Kamu bukan suamiku, kita menikah karena terpaksa." Mita bangkit dari tempat tidur, berlari ringan menuju pintu lalu pergi.
Alex hanya menatapnya sambil tersenyum seribu arti. Ia bangkit dan duduk di sisi ranjang, tangan kekarnya meraih sesuatu dari balik vas bunga yang terletak di atas meja kecil.
Iya, Alex menaruh ponselnya di sana. Menghidupkan kameranya dan mengarahkannya ke arah tempat tidur. Dengan santai ia mengirimkan rekaman itu kepada seseorang.
"Aku tidak menyukainya, dan aku tidak mencintainya. Aku hanya ingin menjadikannya boneka." Alex bicara sambil menatap layar ponselnya.
Hanya dalam hitungan detik, sebuah pesan masuk ke ponsel Alex.
"Jangan ganggu Mita, dia tidak ada hubungannya dengan masalah antara kau dan aku." Alex membaca pesan di ponselnya.
Ia tersenyum puas sambil mematikan benda canggih itu tanpa membalas pesannya. Alex bangkit dari tempatnya, meraih jas dari atas sofa lalu bergegas menuju ruang kerjanya di lantai tiga.
Saat Alex menaiki tangga, Mita tiba-tiba ke luar dari kamarnya. Ia mengendap-endap masuk ke kamar Hanna seperti maling.
"Bi, Bi Hanna." Mita berusaha membangunkan Hanna dengan menepuk lengannya.
Sentuhan itu membuat Hanna membuka mata. Ia terkejut melihat Mita dan refleks berteriak, untung saja Mita dengan sigap menutup mulut Hanna dengan telapak tangannya.
"Ini aku Mita, Bi," ucap Mita menunjukkan wajahnya.
Hanna menghela napas, "Nyonya membuatku terkejut."
"Maaf, aku tidak bermaksud begitu." Mita menjatuhkan bokongnya di sisi ranjang di samping Hanna.
"Tidak apa-apa Nyonya. Tapi untuk apa Nyonya datang kemari?" Tentu Hanna bertanya! Karena waktu sudah menunjukkan pukul 2 malam.
"Bi, boleh aku pinjam ponselmu? Sekali ini saja." Mita memohon dengan menyatukan kedua telapak tangannya.
Hanna terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Jika ia berikan Alex pasti marah, untuk menolak Mita pun ia tidak tega.
"Percayalah padaku Bi, Tuan tidak akan tahu." Mita berusaha meyakinkan Hanna.
Sehingga wanita paruh baya itu dengan berat hati memberikan ponselnya. Hanna pasrah dan berdoa semoga hal ini tidak diketahui oleh Alex.
Hanna pun terharu melihat Mita menangis bahagia saat bicara dengan Pamannya melalui sambungan telepon. Wanita polos itu benar-benar merindukan keluarganya.
"Paman jangan khawatir, aku di sini baik-baik saja." Kata-kata terakhir Mita sebelum memutuskan sambungan teleponnya.
Saat itu juga suara Alex terdengar dari luar seiring dengan ketukan pintu. Hanna segera menyembunyikan Mita ke dalam lemari pakaian.
"Iya Tuan," ucap Hanna setelah membuka pintu. Alex diam, ditatapnya Hanna yang terlihat gugup. "Apa Tuan butuh sesuatu?" Hanna kembali membuka mulut. "Di mana Mita?" Jawab Alex dengan balik bertanya. Hanna semakin gugup, "Aku tidak tahu Tuan, bukannya Nyonya di kamar Tuan?"Jelas Hanna berpura-pura, ia pun hanya bisa mematung saat Alex melewatinya di pintu. Pria bertubuh tinggi itu masuk ke dalam kamar, matanya berputar menyapu setiap sudut dari ruangan itu dan berhenti tepat di lemari. Alex melangkah, tangannya bergerak untuk membuka pintu lemari. Dan benar saja, Mita ada di sana. Tanpa bicara Alex langsung menarik tangannya dengan kasar. "Lepaskan aku." Mita berontak saat Alex menyeretnya ke luar dari kamar."Bi tolong aku," lanjutnya.Bagaimana Hanna bisa menolongnya! Wanita paruh baya itupun sudah ketakutan dan hampir pingsan. Alex pasti melemparkannya ke penangkaran buaya, siapapun yang melanggar peraturan! Pasti akan mendapat hukuman, dan hal itupun berlaku untuk Mita. "
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, saat ini benda bulat yang terletak di atas meja kecil, sudah menunjukkan angka sebelas. Mita yang sejak tadi resah, seketika bernapas lega saat Hanna menyampaikan pesan dari Tuannya Alex. Ia meminta Mita untuk istirahat, karena malam ini Alex ada urusan dan tidak pulang ke kediaman Branson. "Baguslah, semoga dia tidak pernah kembali lagi," ucap Mita dengan lembut dan nyaris tak terdengar. "Kalau begitu, saya permisi dulu Nyonya." Pamit Hanna yang langsung Pergi. Mita pun menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Kaki mungilnya melangkah menuju balkon, namun matanya tak sengaja melihat segerombolan orang di bawah sana.Mita menyipitkan mata untuk memperjelas penglihatannya, pria bertubuh tinggi itu benar-benar Alex bersama ajudannya. "Bukannya iblis itu sedang ada urusan dan tidak pulang? Kenapa dia ada di sana?" bisik dalam hati Mita.Seketika jiwa penasarannya tumbuh, ia memperhatikan Alex melangkah menuju pintu samping mansion itu, Mit
Dengan terpaksa Mita memakai gaun pengantinnya, ia tidak punya pilihan selain menuruti semua kemauan Alex. Pria kejam itu benar-benar licik dan berkuasa, ia memperalat Roy untuk menekan Mita. "Non Mita sangat cantik," puji Hanna, ditatapnya dari pantulan kaca sambil tersenyum. "Percuma saja Bi." Mita tersenyum getir. Keduanya pun ke luar dari kamar, Hanna menuntun Mita masuk ke dalam mobil. Meninggalkan kediaman Branson menuju tempat pernikahan. Setibanya di parkiran, Mita mengusap air mata dari kedua pipinya. Menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya dengan lembut."Ayo Nona," ajak Hanna yang sudah membuka pintu mobil. Keduanya melangkah menuju pintu gereja, dari sana Mita sudah melihat Alex berdiri di altar. Pria kejam itu terlihat rapi, ia mengenakan jas hitam senada dengan celanyan. Sepatu kulit dengan harga fantastis terpasang rapi di kakinya.Dengan perasaan hancur, Mita melangkah menghampiri Alex. Senyuman tak sedikitpun terlihat di wajahnya, bahkan sorot matanya menunju
"Apa Bibi sudah lama bekerja di sini?" tanya Mita."Sudah 20 tahun Non, sejak umur Tuan 17 tahun," jawab Hanna dengan jujur. "Oh ya? Bibi hebat, bisa beradaptasi dengan iblis." Kebencian Mita sudah menjalar hingga ke ubun-ubun. Hanna hanya tersenyum, ia tidak berani merespon ucapan Mita. Lagipula selama ini Alex tidak pernah bersikap kasar padanya, Tuannya itu selalu baik."Oh iya Bi, apa itu toilet?" tanya Mita tiba-tiba. Matanya tak sengaja tertuju pada sebuah bagunan kecil, yang berada di ujung taman."Iya Non." Seiring dengan anggukan kepala. "Aku ke toilet dulu Bi, perutku sedikit tidak enak," ucap Mita yang langsung bergegas menuju toilet. Sambil menunggu Mita, Hanna dan kedua pengawal duduk di gazebo yang ada di taman. Mereka tak sedikitpun merasa curiga. "Kenapa lama ya? Apa dia....," ucap salah satu pengawal. Hanna tercengang, matanya melotot, otaknya seketika memikirkan hal negatif. Wanita malang itu pasti mencoba untuk kabur, karena di belakang toilet ada tangga besi
Mita melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga, setibanya di lantai tiga ia disambut dengan pemandangan yang tak wajar.Bagaimana tidak! Di sana ia melihat Alex duduk di atas sofa bersama 3 wanita cantik. Mereka terlihat menempel pada dada Alex yang bertelanjang dada. Pria kejam itu sama sekali tidak mengenakan baju, ia hanya memakai celana formal berwarna hitam.Mita seketika bergidik karena jijik. Selain kejam, Alex juga pemburu wanita, ia bahkan memakai 3 wanita sekaligus. Sementara Alex hanya diam, ditatapnya Mita dengan tatapan licik. Ia sama sekali tidak terganggu dengan kedatangan Mita, justru para wanita itu yang merasa terusik. Ketiganya menatap Mita dengan tatapan sinis, raut wajahnya menunjukkan rasa tidak suka.Mita memalingkan wajah dan kembali melanjutkan langkahnya. Ia sengaja menjelajahi bagunan tinggi itu, mencari celah agar bisa kabur dari sana."Oh iya, apa rumah ini hanya memiliki dua tangga saja? Maksudku, aku ingin ke taman belakang, apa tidak ada tangga menuju
Informasi yang disampaikan oleh ajudannya begitu menarik. Pantas saja Mita menantangnya, ternyata dia calon menantu pria yang ia tembak. Alex meraih ponsel dari atas meja lalu menghubungi Nathan, memintanya agar segera membawa Mita ke ruang kerjanya. Tetapi wanita malang itu menolak, bahkan menggigit tangan Nathan. Akhirnya Alex kembali menghampiri Mita, "Aku akan memberimu 2 pilihan. Yang pertama, kamu bisa ke luar dari rumah ini dan hidup bebas, tapi kamu akan kehilangan Pamam, Bibi dan adikmu Naurah. Yang kedua, tetap tinggal di rumah ini dan mematuhi perintahku, dengan jaminan! Mereka akan hidup bahagia.""Aku tidak akan pernah memilihnya," bantah Mita dengan tegas.Alex tersenyum seribu arti, ia menunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Mita, "Pikirkan baik-baik, aku beri waktu 1 kali 24 jam."Mita menarik napas dalam-dalam sambil menutup mata, Tuhan benar-benar tidak adil baginya. Sejak kecil ia sudah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya, setelah dewasa ia menemukan pria yang t







