Home / Romansa / Berakhir Di Atas Ranjang Mafia. / Bab 7. Semoga iblis itu tidak pernah kembali.

Share

Bab 7. Semoga iblis itu tidak pernah kembali.

Author: Tetesan air
last update Huling Na-update: 2026-01-29 19:22:49

Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, saat ini benda bulat yang terletak di atas meja kecil, sudah menunjukkan angka sebelas. 

Mita yang sejak tadi resah, seketika bernapas lega saat Hanna menyampaikan pesan dari Tuannya Alex. 

Ia meminta Mita untuk istirahat, karena malam ini Alex ada urusan dan tidak pulang ke kediaman Branson. 

"Baguslah, semoga dia tidak pernah kembali lagi," ucap Mita dengan lembut dan nyaris tak terdengar. 

"Kalau begitu, saya permisi dulu Nyonya." Pamit Hanna yang langsung 

Pergi. 

Mita pun menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Kaki mungilnya melangkah menuju balkon, namun matanya tak sengaja melihat segerombolan orang di bawah sana.

Mita menyipitkan mata untuk memperjelas penglihatannya, pria bertubuh tinggi itu benar-benar Alex bersama ajudannya. 

"Bukannya iblis itu sedang ada urusan dan tidak pulang? Kenapa dia ada di sana?" bisik dalam hati Mita.

Seketika jiwa penasarannya tumbuh, ia memperhatikan Alex melangkah menuju pintu samping mansion itu, Mita pun bergegas ke luar dari kamar. Kaki mungilnya dengan lembut menuruni anak tangga.

Setibanya di lantai satu, ia melihat Alex dan yang lainnya masuk ke sebuah ruangan. Dengan hati-hati Mita mendekati pintu ruangan itu.

"Aku akan mengirimmu ke neraka." Kata-kata itu terdengar jelas di telinga Mita, dan diikuti suara tembakan.

Mita terkejut, tubuhnya seketika bergetar. Dalam ketakutan ia memberanikan diri untuk melihat dari sela pintu yang tidak tertutup rapat. 

Mita melihat seorang pria tergeletak di lantai, sedangkan Alex duduk di atas kursi dengan posisi kedua kakinya diangkat di atas meja. 

Pria kejam itu terlihat santai sambil menghisap rokok. Ia menatap pria itu dengan senyum getir. 

"Lempar dia ke kandang buaya," perintah Alex, yang langsung dilaksanakan oleh ajudannya. 

Mita pun segera meninggalkan pintu dan kembali ke kamar. Ia naik ke atas tempat tidur, berbaring lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. 

Kejadian malam ini benar-benar membuat Mita takut, otaknya seketika mengingat ancaman Alex terhadap keluarganya. 

"Hem..." Suara itu terdengar seiring dengan terbukanya pintu.

Mita refleks memejamkan mata, berpura-pura tidur untuk menghindari Alex. Namun seluruh bulu kuduknya berdiri, karena mendengar langkah pria kejam itu ke arahnya. 

"Kamu sudah tidur?" tanya Alex sambil membuka jam tangan, lalu menaruhnya di atas meja kecil di samping tempat tidur. 

"Hum, apa kamu tidak mendengarku?" Alex kembali membuka mulut karena tak ada jawaban dari Mita. 

Ia menghela napas sambil membuka dua kancing bajunya, lalu menjatuhkan bokongnya di sisi ranjang. Satu tangannya membuka selimut, memastikan Mita sudah tidur. 

Tentu hal itu membuat Mita semakin takut, sehingga memaksanya membuka mata berpura-pura bangun. 

"Kamu," ucap Mita, refleks bangkit dari tidurnya. 

"Kenapa kamu bisa masuk?" lanjutnya. 

"Apa kamu lupa, ini adalah kamarku?" Alex menatap Mita dengan tatapan serius.

Mita terdiam, ia mengangguk sambil memalingkan wajah. Berusaha untuk menjauh dari Alex, namun pria kejam itu justru mencengkram tangannya. 

Mendekatkan wajahnya ke wajah Mita, sehingga keduanya saling beradu pandang. 

"Jangan menjauh, aku tidak suka itu," ucap Alex dengan lembut namun penuh penekanan. 

"Aku, aku, aku mau ke kamar mandi," dalih Mita dengan gugup. 

Ia berusaha melepaskan cengkraman Alex dari tangannya, lalu bergegas ke kamar mandi. Di sana Mita membasuh wajahnya dengan air.

Menarik napas dalam-dalam sambil menutup kedua mata. Saat ia membuka mata, Mita benar-benar terkejut melihat Alex berdiri di belakangnya melalui pantulan kaca.

"Apa kamu begitu takut denganku?" tanya Alex karena melihat raut wajah Mita yang begitu pucat. 

Tentu Mita takut, ia sudah dua kali melihat Alex menghabisi nyawa orang lain. Entah sudah berapa orang yang ia habisi selama ini.

"Tidak, aku hanya terkejut." Mita berusaha untuk pergi, tapi Alex lagi-lagi menarik tangannya. 

Ia menyandarkan punggung Mita ke tembok, mencekik lehernya dengan lembut dan mendekatkan wajahnya. Bahkan hidungnya sampai menyentuh ujung hidung Mita. 

"Tidak semudah itu untuk membohongiku Mita," bisik Alex. 

Mita menarik napas, ia menutup kedua matanya. Hembusan napas pria itu menerobos hidungnya hingga menembus jantung, sehingga membuat seluruh bulu kuduknya berdiri. 

"Tapi aku tidak berbohong," sahut Mita tanpa membuka mata. 

Alex tersenyum getir, ia melepaskan leher Mita lalu membawanya ke luar dari kamar mandi. Dengan kasar ia melemparkan Mita ke atas tempat tidur dan menindihnya. 

"Lepaskan aku." Mita berontak, ia mendorong dada bidang Alex sekuat tenaga hingga terjatuh di atas tempat tidur. 

"Bukankah seorang istri harus melayani suami?" tanya Alex.

"Kamu bukan suamiku, kita menikah karena terpaksa." Mita bangkit dari tempat tidur, berlari ringan menuju pintu lalu pergi. 

Alex hanya menatapnya sambil tersenyum seribu arti. Ia bangkit dan duduk di sisi ranjang, tangan kekarnya meraih sesuatu dari balik vas bunga yang terletak di atas meja kecil. 

Iya, Alex menaruh ponselnya di sana. Menghidupkan kameranya dan mengarahkannya ke arah tempat tidur. Dengan santai ia mengirimkan rekaman itu kepada seseorang. 

"Aku tidak menyukainya, dan aku tidak mencintainya. Aku hanya ingin menjadikannya boneka." Alex bicara sambil menatap layar ponselnya. 

Hanya dalam hitungan detik, sebuah pesan masuk ke ponsel Alex. 

"Jangan ganggu Mita, dia tidak ada hubungannya dengan masalah antara kau dan aku." Alex membaca pesan di ponselnya. 

Ia tersenyum puas sambil mematikan benda canggih itu tanpa membalas pesannya. Alex bangkit dari tempatnya, meraih jas dari atas sofa lalu bergegas menuju ruang kerjanya di lantai tiga. 

Saat Alex menaiki tangga, Mita tiba-tiba ke luar dari kamarnya. Ia mengendap-endap masuk ke kamar Hanna seperti maling. 

"Bi, Bi Hanna." Mita berusaha membangunkan Hanna dengan menepuk lengannya. 

Sentuhan itu membuat Hanna membuka mata. Ia terkejut melihat Mita dan refleks berteriak, untung saja Mita dengan sigap menutup mulut Hanna dengan telapak tangannya. 

"Ini aku Mita, Bi," ucap Mita menunjukkan wajahnya. 

Hanna menghela napas, "Nyonya membuatku terkejut."

"Maaf, aku tidak bermaksud begitu." Mita menjatuhkan bokongnya di sisi ranjang di samping Hanna. 

"Tidak apa-apa Nyonya. Tapi untuk apa Nyonya datang kemari?" Tentu Hanna bertanya! Karena waktu sudah menunjukkan pukul 2 malam.

"Bi, boleh aku pinjam ponselmu? Sekali ini saja." Mita memohon dengan menyatukan kedua telapak tangannya. 

Hanna terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Jika ia berikan Alex pasti marah, untuk menolak Mita pun ia tidak tega. 

"Percayalah padaku Bi, Tuan tidak akan tahu." Mita berusaha meyakinkan Hanna. 

Sehingga wanita paruh baya itu dengan berat hati memberikan ponselnya. Hanna pasrah dan berdoa semoga hal ini tidak diketahui oleh Alex.

Hanna pun terharu melihat Mita menangis bahagia saat bicara dengan Pamannya melalui sambungan telepon. Wanita polos itu benar-benar merindukan keluarganya. 

"Paman jangan khawatir, aku di sini baik-baik saja." Kata-kata terakhir Mita sebelum memutuskan sambungan teleponnya. 

Saat itu juga suara Alex terdengar dari luar seiring dengan ketukan pintu. Hanna segera menyembunyikan Mita ke dalam lemari pakaian.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Berakhir Di Atas Ranjang Mafia.    Bab 24. Jangan katakan bahwa aku adalah suamimu.

    "Roy adalah saudara tiri Alex."Mata Mita membulat mendengar kata-kata yang ke luar dari mulut Pamannya. Ia benar-benar terkejut dan tidak percaya."Bagaimana mungkin?" ucap Mita. "Iya, memang sulit untuk dipercaya tapi itulah kenyataannya.""Itu tidak mungkin. Paman pasti salah." Mita masih belum percaya."Ibunya bercerai karena selingkuh dengan Baskoro ayah Roy. Tetapi baru beberapa tahun menikah, Ibunya meninggal dunia." Handoko menceritakan semuanya kepada Mita. Baskoro ayah Roy menikahi Ibunya Alex bukan karena cinta, melainkan karena harta. Perusahaan Roy Eldan sudah 90 persen bangkrut, demi bangkit kembali Baskoro mengambil hati ibunya Alex, sebab ia memiliki kekayaan puluhan triliun dan menguasai 50 persen saham perusahaan Branson Grup. Namun setelah menikah, Baskoro meminta istrinya untuk mengalihkan perusahaan menjadi atas namanya. Demi cinta, ibunya Alex tanpa ragu mengikuti permintaan suaminya. Setelah semuanya atas nama Baskoro, ia pun menikah lagi dengan wanita yang

  • Berakhir Di Atas Ranjang Mafia.    Bab 23. Alex, aku sangat merindukanmu.

    Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, mata Mita masih terbuka lebar. Kejadian tadi siang menghantui hati dan pikirannya, sehingga membuatnya tidak bisa tidur. Mita merasa malu dengan sikapnya, bisa-bisanya ia agresif seperti itu. Bahkan Mita menghindari Alex saat makan malam. Ia meminta Hanna untuk mengantar makanan ke kamarnya, dengan alasan tidak enak badan. Mita yang resah, lantas turun dari tempat tidur melangkah menuju balkon. Seketika matanya melihat sebuah mobil memasuki gerbang istana Branson. Mita memperhatikan mobil itu hingga berhenti, ia melihat seorang wanita turun dari sana. "Apa dia wanita simpanan Alex yang baru?" Mita bertanya pada dirinya sendiri. Ia berpikir demikian, karena Alex hobi memelihara wanita. Dia laki-laki yang tak bisa hidup tanpa wanita, dan bodohnya lagi! Mita bisa bergairah saat bercumbu dengannya. Mita yang penasaran, bergegas ke luar dari kamar. Ia menuruni anak tangga menuju lantai satu, dan berpura-pura ke dapur untuk mengambil air hangat.

  • Berakhir Di Atas Ranjang Mafia.    Bab 22. Aw...hm...

    Suasana pagi menjadi lebih hidup, dengan iringan suara merdu burung dari hutan lindung. Mita yang berdiri di balkon, sengaja membentang kedua tangan untuk merilekskan diri.Rintik-tintik embun membuat suasana semakin sejuk. Mita menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya dari mulut dengan lembut. Selama tinggal di kediaman Branson, balkon adalah tempat ternyaman bagi Mita. "Permisi Nyonya."Suara itu mengejutkan Mita, ia refleks membuka mata dan memutar kepala. "Bibi," ucap Mita, setelah melihat Hanna berdiri di pintu balkon. "Maaf Nyonya, tadi saya sudah mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban. Jadi saya terpaksa masuk." "Tidak apa-apa Bi. Oh iya, apa ada yang ingin Bibi sampaikan?" Tentu Mita bertanya, karena tak biasanya Hanna datang ke sana sepagi ini."Tuan, Nyonya."Mita mengerutkan kening, "Tuan, maksud Bibi?"Tuan terluka Nyonya, seseorang kembali menyerang Tuan." Hanna menjelaskan yang sebenarnya kepada Mita.Berapa nyawa yang telah dihabisi oleh Alex, sehingga musuhnya b

  • Berakhir Di Atas Ranjang Mafia.    Bab 21. Aku ini adalah istri Alex.

    Satu minggu telah berlalu, selama ini Mita dan Alex jarang bertemu, walaupun tinggal dibawah atap yang sama. "Permisi Nyonya, Tuan menunggu anda di ruang kerja," ucap salah satu ajudan. "Hum, baiklah." Mita yang tadinya sedang menyiapkan makan malam, segera membuka celemek dan mencuci tangan. Ia bergegas menaiki anak tangga menuju lantai tiga, setibanya di depan pintu, Mita refleks menghentikan langkahnya dan mengurungkan niat untuk mengetuk pintu. "Apa keluarga Eldan belum menghubungi?""Belum Tuan, sepertinya mereka sedang berusaha mencari bantuan." "Roy, Roy, aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang, dan aku tidak akan membiarkanmu mati terlalu cepat. Aku akan membuatmu paham, sesakit apa yang dirasakan ibuku saat kamu dan ayahmu menyiksanya."Perbincangan itu terdengar jelas di telinga Mita. Ia melihat Alex dari sela pintu yang tidak tertutup rapat, pria tampan itu duduk di atas kursi sambil menatap selembar poto di tangannya. "Mungkinkah Roy dan almarhum ayahnya membunuh ib

  • Berakhir Di Atas Ranjang Mafia.    Bab 20. Aku tidak sengaja melakukannya.

    Seperti biasa, setiap pukul 5 pagi Mita sudah bangun dari tidurnya. Ia selalu ke balkon untuk menghirup udara segar dan menikmati rintik-tintik embun.Namun kali ini berbeda, Mita justru ke dapur. Ia membantu Hanna menyiapkan sarapan untuk Alex. Saat Mita menata makanan di atas meja, Alex tiba-tiba muncul. Pria berdarah dingin itu sudah terlihat rapi, ia mengenakan pakaian formal serba hitam."Aku akan mengambilkan air hangat," ucap Mita yang langsung pergi. Iya, setiap pagi sebelum makan, Alex terlebih dahulu minum air hangat. Hal itu sudah kebiasaan Alex sejak kecil. "Silahkan di minum." Mita menaruh gelas berisi air hangat di hadapan Alex. "Tunggu."Kata-kata itu membuat Mita berhenti melangkah, ia kembali memutar tubuh menghadap Alex. "Sejak kapan kamu jadi pelayan di rumah ini?" lanjut Alex dengan bertanya, namun kedua matanya fokus menatap gelas dihadapannya. "Sejak hari ini," jawab singkat Mita. Alex memutar kepala, ditatapnya Mita dengan tatapan yang sulit untuk dimenge

  • Berakhir Di Atas Ranjang Mafia.    Bab 19. Iya, aku menggugurkan anakmu.

    "Kau sengaja menggugurkan anakku," ucap Alex. Mata keduanya saling beradu, bahkan ujung hidungnya saling bersentuhan. Sebelum membuka mulut, Mita terlebih dahulu menghela napas, "Aku tidak mengandung anakmu."Alex refleks mengangkat tangan, ia mencekik Mita hingga membuatnya sulit bernapas. Untung saja Nathan tiba-tiba muncul dari balik pintu. "Permisi Tuan," ucap Nathan, ia refleks memutar tubuh karena melihat keduanya dalam posisi intim. Otak Nathan seketika negatif, ia berpikir bosnya itu sedang melakukan hubungan suami istri. "Tuan, Roy ingin bertemu dengan anda." Nathan berbicara dengan posisi memunggungi. Alex tersenyum getir, ia bangkit dari tubuh Mita. Dengan kasar ia melepaskan jarum infus dari tangan wanita malang itu, lalu menariknya dengan kasar. Alex sengaja membawa Mita ke ruang tamu untuk bertemu dengan Roy. Dalam kondisi lemah tak berdaya, akan membuat Roy sakit hati. Momen ini lah yang ditunggu-tunggu oleh Alex selama ini.Saat keduanya menuruni anak tangga menu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status