LOGINMita diculik seminggu sebelum pesta pernikahan oleh Alex Branson, seorang mafia penguasa dunia bawah yang menyimpan dendam pada calon suami Mita. Pria itu tampaknya bertekad untuk membalas dendam dengan menggunakan Mita. Namun, bagaimana jadinya jika penguasa itu pada akhirnya jatuh cinta?
View MoreMita tersenyum lebar menatap selembar kertas yang ada di tangannya, di sana tertulis dua nama, Mita Rehana dan Roy Eldan.
Iya, kertas itu adalah undagan pernikahan Mita. Satu minggu lagi ia akan menikah dengan Roy, pria yang sudah 3 tahu dekat dengannya.
Selama ini Roy lah yang menjaga dan membantu Mita, pria berusia 35 tahu itu selalu mendukung Mita dan menyayanginya dengan tulus. Hal itulah yang membuat Mita yakin untuk menikah dengan Roy.
Padahal jarak usia mereka cukup jauh, Mita saat ini baru 20 tahun sedangkan Roy 35 tahun.
"Tidak terasa, sebentar lagi putriku akan menikah." Suara serak itu terdengar dari pintu kamar.
Mita yang duduk di sisi tempat tidur, refleks memutar kepala, "Paman."
Mita bangkit, berlari ringan mengejar Pamannya. Ia memeluknya dengan erat, menumpahkan air mata di pundak pria paruh baya itu.
"Jangan menangis sayang." Handoko melepaskan pelukannya, jarinya mengusap butiran bening dari kedua pipi Mita.
"Hum, aku tidak akan menangis." Mita berusaha tersenyum, untuk menutupi kesedihannya.
Sejak kecil Handoko dan istrinya lah yang membesarkan Mita. Gadis malang itu sudah ditinggalkan kedua orang tuanya sejak berusia 5 tahun.Kedua orang tua Mita dibunuh oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka mati sia-sia karena mempertahankan tanah warisan turun temurun keluarganya.
"Oh iya, bukannya hari kamu ingin mengantar undagan ke desa seberang?" Handoko mengingatkan Mita.
"Untung saja Paman mengingatkannya, aku hampir saja lupa."
Mita meraih undagan dari laci meja rias, ia pamit pada Handoko lalu pergi.
"Kakak mau ke mana? Aku ikut."
Pertanyaan itu membuat langkah Mita terhenti."Adikku Naurah, kamu di rumah saja ya? Temani Paman, jangan lupa beri Paman minum obat." Pesan Mita sebelum pergi.
Mita meninggalkan rumah dengan mengendarai motor metik kesayangannya. Dalam perjalanan ia tak sengaja melihat sebuah gereja.
Dengan penuh semangat ia memutar motornya, menaruhnya di parkiran lalu masuk ke dalam gereja.
Mita melangkah menuju altar, menjatuhkan kedua lututnya lalu melipat tangan, memejamkan mata sambil berdoa.
"Ya Tuhan, sebentar lagi aku akan menikah dengan Roy. Jika dia jodoh yang engkau pilih untukku, lancarkanlah pernikahan kami. Tapi jika dia bukan...."
Mita tiba-tiba berhenti berdoa, telinganya mendengar suara petasan dari arah gudang gereja.
"Amin." Mita terpaksa mengakhiri doanya.
Ia bangkit lalu berlari menuju arah suara, tanpa mengetuk terlebih dahulu, Mita langsung mendorong pintu.
Matanya membulat, seluruh tubuhnya bergetar. Bahkan bibirnya seketika kaku dan tak bisa digerakkan. Orang yang ada di ruangan itu pun ikut terkejut dengan kedatangan Mita.
"Apa kamu ingin bernasib sepertinya?" tanya seorang pria bertubuh tinggi, di tangannya tergenggam erat sebuah senjata.
"Aku...aku...aku akan...." Mita tidak sanggup untuk bicara, bahkan tubuhnya ikut terperosok ke lantai.
Bagaimana tidak! Seorang pria tergeletak tak bernyawa di atas lantai dengan penuh darah. Pria itu bukanlah orang asing, melainkan ayah kandung Roy, calon ayah mertua Mita.
"Aku akan menghubungi polisi," lanjut Mita dengan nada bergetar.
Saat ia meraih ponsel dari dalam tas, pria itu menarik paksa lalu membantingnya ke lantai.
"Aku akan membunuhmu jika kamu berani membuka mulut," ancam pria itu sambil menodongkan benda api itu di kening Mita.
"Ayo bunuh, ayo bunuh aku. Jika tidak, aku akan membuatmu membusuk di penjara." Mita berteriak sekuat tenaga, ia memberanikan diri walaupun dalam keadaan takut.
Pria itu mencengkram kedua pipi Mita dengan kasar, "Kamu terlalu percaya diri."
"Dasar iblis, begitu mudahnya kamu menghilangkan nyawa seseorang. Manusia rendahan, tidak punya hati," sahut Mita dengan nada kurang jelas.
Pria itu melepaskan cengkramannya dengan kasar, yang membuat kepala Mita terbentur ke tembok. Seketika itu Mita pingsan dan tak sadarkan diri.
Saat membuka mata, ia sudah berada di ruangan yang berbeda. Mita refleks bangkit dari tempatnya, ia mentap seluruh ruangan dengan wajah bingung.
"Aku di mana? Ini kamar siapa?" tanya Mita pada dirinya sendiri.
Ia berlari menuju pintu, berusaha membukanya sekuat tenaga, "Tolong buka pintunya, tolong, aku mohon buka pintunya."
Mita berteriak sekuat tenaga sambil mendobrak pintu dengan kedua tangannya. Berharap seseorang mendengarnya dan membuka pintu untuknya.
Ia sudah satu jam berteriak tampan henti, bahkan tenaganya sampai habis terkuras. Namun tak satupun yang mendengarnya, Mita hanya bisa duduk di balik pintu sambil berurai air mata.
"Baik Tuan, aku mengerti." Suara itu terdengar samar di telinga Mita.Ia bangkit dari lantai, tangannya baru saja terangkat tetapi pintu sudah terbuka lebih dulu.
"Kamu mau ke mana?" Pria itu menarik lengan Mita dengan kasar.
Membawanya kembali ke kamar, melemparkannya dengan kasar ke atas tempat tidur.
"Dasar iblis, biarkan aku pergi," teriak Mita sambil berusaha lari.
Tetetapi dua ajudan menangkapnya, membawanya ke hadapan pria itu. Memaksanya berlutut dan meminta maaf."Kamu bisa pergi, tapi kamu harus mencium kedua kakiku dan meminta maaf. Satu lagi, kamu harus melupakan kejadian itu, anggap saja tidak pernah terjadi dan tidak pernah kamu lihat."
Mita menegakkan kepala, ditatapnya pria itu dengan tatapan menantang, "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah tunduk dan meminta maaf pada iblis sepertimu. Dan aku tidak akan diam dengan kejahatan yang telah kamu lakukan."
Pria itu bangkit dari kursi, jari kekarnya menjambak rambut panjang Mita. Membuat wanita cantik itu mendongak lebih tinggi.
"Kamu akan membusuk di kamar ini," bisik pria itu dengan lembut."Ikat dia," lanjutnya memerintah ajudan lalu pergi.
"Roy adalah saudara tiri Alex."Mata Mita membulat mendengar kata-kata yang ke luar dari mulut Pamannya. Ia benar-benar terkejut dan tidak percaya."Bagaimana mungkin?" ucap Mita. "Iya, memang sulit untuk dipercaya tapi itulah kenyataannya.""Itu tidak mungkin. Paman pasti salah." Mita masih belum percaya."Ibunya bercerai karena selingkuh dengan Baskoro ayah Roy. Tetapi baru beberapa tahun menikah, Ibunya meninggal dunia." Handoko menceritakan semuanya kepada Mita. Baskoro ayah Roy menikahi Ibunya Alex bukan karena cinta, melainkan karena harta. Perusahaan Roy Eldan sudah 90 persen bangkrut, demi bangkit kembali Baskoro mengambil hati ibunya Alex, sebab ia memiliki kekayaan puluhan triliun dan menguasai 50 persen saham perusahaan Branson Grup. Namun setelah menikah, Baskoro meminta istrinya untuk mengalihkan perusahaan menjadi atas namanya. Demi cinta, ibunya Alex tanpa ragu mengikuti permintaan suaminya. Setelah semuanya atas nama Baskoro, ia pun menikah lagi dengan wanita yang
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, mata Mita masih terbuka lebar. Kejadian tadi siang menghantui hati dan pikirannya, sehingga membuatnya tidak bisa tidur. Mita merasa malu dengan sikapnya, bisa-bisanya ia agresif seperti itu. Bahkan Mita menghindari Alex saat makan malam. Ia meminta Hanna untuk mengantar makanan ke kamarnya, dengan alasan tidak enak badan. Mita yang resah, lantas turun dari tempat tidur melangkah menuju balkon. Seketika matanya melihat sebuah mobil memasuki gerbang istana Branson. Mita memperhatikan mobil itu hingga berhenti, ia melihat seorang wanita turun dari sana. "Apa dia wanita simpanan Alex yang baru?" Mita bertanya pada dirinya sendiri. Ia berpikir demikian, karena Alex hobi memelihara wanita. Dia laki-laki yang tak bisa hidup tanpa wanita, dan bodohnya lagi! Mita bisa bergairah saat bercumbu dengannya. Mita yang penasaran, bergegas ke luar dari kamar. Ia menuruni anak tangga menuju lantai satu, dan berpura-pura ke dapur untuk mengambil air hangat.
Suasana pagi menjadi lebih hidup, dengan iringan suara merdu burung dari hutan lindung. Mita yang berdiri di balkon, sengaja membentang kedua tangan untuk merilekskan diri.Rintik-tintik embun membuat suasana semakin sejuk. Mita menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya dari mulut dengan lembut. Selama tinggal di kediaman Branson, balkon adalah tempat ternyaman bagi Mita. "Permisi Nyonya."Suara itu mengejutkan Mita, ia refleks membuka mata dan memutar kepala. "Bibi," ucap Mita, setelah melihat Hanna berdiri di pintu balkon. "Maaf Nyonya, tadi saya sudah mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban. Jadi saya terpaksa masuk." "Tidak apa-apa Bi. Oh iya, apa ada yang ingin Bibi sampaikan?" Tentu Mita bertanya, karena tak biasanya Hanna datang ke sana sepagi ini."Tuan, Nyonya."Mita mengerutkan kening, "Tuan, maksud Bibi?"Tuan terluka Nyonya, seseorang kembali menyerang Tuan." Hanna menjelaskan yang sebenarnya kepada Mita.Berapa nyawa yang telah dihabisi oleh Alex, sehingga musuhnya b
Satu minggu telah berlalu, selama ini Mita dan Alex jarang bertemu, walaupun tinggal dibawah atap yang sama. "Permisi Nyonya, Tuan menunggu anda di ruang kerja," ucap salah satu ajudan. "Hum, baiklah." Mita yang tadinya sedang menyiapkan makan malam, segera membuka celemek dan mencuci tangan. Ia bergegas menaiki anak tangga menuju lantai tiga, setibanya di depan pintu, Mita refleks menghentikan langkahnya dan mengurungkan niat untuk mengetuk pintu. "Apa keluarga Eldan belum menghubungi?""Belum Tuan, sepertinya mereka sedang berusaha mencari bantuan." "Roy, Roy, aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang, dan aku tidak akan membiarkanmu mati terlalu cepat. Aku akan membuatmu paham, sesakit apa yang dirasakan ibuku saat kamu dan ayahmu menyiksanya."Perbincangan itu terdengar jelas di telinga Mita. Ia melihat Alex dari sela pintu yang tidak tertutup rapat, pria tampan itu duduk di atas kursi sambil menatap selembar poto di tangannya. "Mungkinkah Roy dan almarhum ayahnya membunuh ib


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews