LOGINDengan terpaksa Mita memakai gaun pengantinnya, ia tidak punya pilihan selain menuruti semua kemauan Alex.
Pria kejam itu benar-benar licik dan berkuasa, ia memperalat Roy untuk menekan Mita.
"Non Mita sangat cantik," puji Hanna, ditatapnya dari pantulan kaca sambil tersenyum.
"Percuma saja Bi." Mita tersenyum getir.
Keduanya pun ke luar dari kamar, Hanna menuntun Mita masuk ke dalam mobil. Meninggalkan kediaman Branson menuju tempat pernikahan.
Setibanya di parkiran, Mita mengusap air mata dari kedua pipinya. Menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya dengan lembut.
"Ayo Nona," ajak Hanna yang sudah membuka pintu mobil.
Keduanya melangkah menuju pintu gereja, dari sana Mita sudah melihat Alex berdiri di altar. Pria kejam itu terlihat rapi, ia mengenakan jas hitam senada dengan celanyan. Sepatu kulit dengan harga fantastis terpasang rapi di kakinya.
Dengan perasaan hancur, Mita melangkah menghampiri Alex. Senyuman tak sedikitpun terlihat di wajahnya, bahkan sorot matanya menunjukkan rasa benci yang begitu dalam.
Setelah Mita berdiri di hadapan Alex, pendeta pun memulai acara pemberkatan.
"Apakah engkau bersedia menerima Mita Rehana sebagai istrimu yang sah, untuk dicintai, dihormati, dan dipelihara dalam suka dan duka, kaya dan miskin, sakit dan sehat, sampai maut memisahkan kalian?" ucap pendeta dengan bertanya."Iya, saya bersedia." Alex menjawab dengan lantang.
Tanpa terasa butiran bening menetes dari kedua mata Mita. Saat ini ia sudah resmi sebagai istri sah Alex, pria yang sudah membunuh calon mertuanya.
Mita hanya diam mematung saat Alex memasukkan cincin pernikahan di jari manisnya. Pernikahan ini benar-benar momen yang paling menyakitkan bagi Mita.
Tadinya ia berharap Roy akan datang dan membatalkan pernikahannya dengan Alex. Tetapi tunangannya itu sama sekali tidak muncul, padahal tempat itu tidak jauh dari kediaman Roy.
"Bukankah dia calon istri Roy? Tapi kenapa menikah dengan pria lain?" ucap tamu undagan saat Mita akan meninggalkan gereja.
"Mungkin dia mencari pria yang lebih kaya, keluarga Roy sedang berduka, dia malah menikah dengan pria lain," cibir yang satu lagi.
Mita menarik napas dan menutup mulut rapat-rapat. Apa yang dibicarakan mereka, memang benar. Harusnya saat ini ia berada di samping Roy, menguatkan pria itu atas kepergian ayahnya.
"Apa kamu tidak mendengar apa yang mereka bicarakan?" Sambil tersenyum puas Alex bertanya demikian.Mita menghentikan langkahnya, memutar kepala mentap Alex dengan tatapan marah.
"Jangan menatapku seperti itu, aku hanya bertanya, apakah itu salah?"
Mita menggeleng dan langsung pergi tanpa menjawab Alex. Ia masuk ke dalam mobil duduk di bangku penumpang.
Sepanjang perjalanan Mita tas sedikitpun membuka mulut, ia fokus menatap jalan dari balik kaca. Sedangkan Alex sibuk dengan ponselnya,
Setibanya di kediaman Branson, Mita langsung membuka pintu mobil dan turun. Dari kejauhan ia melihat 3 wanita cantik berdiri di depan pintu.
"Selamat datang Nyonya," ucap Felicia.
Bibirnya tersenyum, tetapi sorot matanya begitu tajam. Namun hal itu tidak membuat Mita takut, ia justru menghentikan langkah kakinya dan berdiri tepat di hadapan Felicia.
"Terima kasih Felic," sahut Mita sambil membalas tatapan Felicia.
"Kamu terlihat bahagia, tapi jangan bangga dulu." Felicia mendekatkan wajahnya ke wajah Mita.
"Alex tidak mencintaimu, dia menikahimu hanya untuk balas dendam pada keluarga Eldan. Kamu hanya sebatang rokok, dihisap lalu dibuang." Bisik Felicia.
Mita tersenyum getir, "Setidaknya aku dijadikan Nyonya, bukan simpanan."
Felicia geram mendengar ucapan Mita, ingin rasanya ia menjambak rambutnya lalu menyeretnya keliling taman. Tetapi ia mengurungkan niat karena melihat Alex turun dari mobil.
Felicia tidak akan menunjukkan sifat aslinya di depan Alex, ia harus tetap bersifat elegan untuk mencari perhatian pria tampan itu. Berharap suatu hari nanti Alex menjadikannya istri setelah membuang Mita dari hidupnya.
"Selamat ya Mita, sekarang kita sudah jadi keluarga," ucap Felicia, ia berpura-pura ramah di depan Alex.
"Terima kasih." Mita dengan senyum angkuhnya.
Ia memalingkan wajah dan melanjutkan langkahnya. Mita tak sedikitpun menoleh saat mendengar suara manja Felicia merayu Alex.
Setibanya di lantai dua, Mita mengerutkan kening melihat dua pelayan ke luar dari kamarnya.
"Baju saya mau dibawa ke mana Mbak?" tanya Mita.
"Maaf Nyonya, mulai hari ini Nyonya akan tidur di kamar Tuan."
Mita terkejut mendengar ucapan pelayan, ia menarik napas sambil mengepal kelima jari lentiknya.
"Katakan pada Tuanmu, aku menolak perintah darinya," ucap Mita sambil meraih pakaiannya dari tangan pelayan.
Membawanya kembali ke kamar dan melemparkannya dengan sembarang di atas ranjang.
"Maaf Nyonya...."
"Tidak Bi, aku tidak akan tidur satu ranjang dengan iblis," sela Mita sebelum Hanna selesai bicara.
"Tapi Nyonya..."
"Tidak Bi, jangan bujuk aku." Mita lagi-lagi menyela ucapan Hanna.
"Apa Bibi tahu siapa yang dihabisi Alex satu minggu yang lalu? Dia calon ayah mertuaku Bi! Sanggupkah aku tidur satu ranjang dengannya?" Butiran bening bercucuran dari kedua mata Mita."Kamu harus sanggup, karena aku suamimu. Kita harus tinggal dalam satu kamar dan tidur di atas ranjang yang sama." Suara bariton Alex tiba-tiba terdengar.
Ia berdiri di bibir pintu, dengan posisi kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.
"Aku tidak mau," tolak Mita yang langsung memalingkan wajah.
Alex tersenyum getir, ia melangkah menghampiri Mita yang duduk di sisi ranjang. Sementara Hanna langsung bergegas pergi.
Tanpa bicara, Alex mencengkram lengan Mita dengan kasar, mendekatkan wajahnya ke wajah wanita cantik itu.
"Kamu tidak berhak untuk menolak, mulai hari ini kamu harus melayaniku sebaik mungkin," ucap Alex dengan tegas.
Ia menarik Mita berdiri dari sisi ranjang, memaksanya berjalan lalu membawanya ke kamar utama.
Dengan kasar ia melemparkan wanita malang itu ke atas tempat tidur, lalu menindihnya dari atas dan menekan kedua tangannya agar tidak berontak.
"Kamu sudah gila, aku tidak tahu apa yang ada dalam fikiranmu. Setelah membunuh Om Baskoro, sekarang kamu menyiksa aku," ucap Mita dengan nada berteriak.
Alex tidak menjawab, pria tampan berdarah dingin itu justru mencumbu leher jenjang Mita, membasahinya dengan saliva.
"Berhenti, tolong berhenti," teriak Mita sambil berusaha menghindar.
Tapi apalah daya, tubuh Mita yang mungil tidak sanggup mengalahkan tenaga Alex. Ia hanya bisa berteriak sambil berurai air mata.
Untung saja seseorang menghubungi Alex, sehingga pria kejam itu menghentikan aksinya. Ia meraih ponsel dari saku celana lalu bangkit dari tubuh Mita.
"Bersihkan tubuhmu dan siapkan tenagamu," pesan Alex sebelum pergi."Roy adalah saudara tiri Alex."Mata Mita membulat mendengar kata-kata yang ke luar dari mulut Pamannya. Ia benar-benar terkejut dan tidak percaya."Bagaimana mungkin?" ucap Mita. "Iya, memang sulit untuk dipercaya tapi itulah kenyataannya.""Itu tidak mungkin. Paman pasti salah." Mita masih belum percaya."Ibunya bercerai karena selingkuh dengan Baskoro ayah Roy. Tetapi baru beberapa tahun menikah, Ibunya meninggal dunia." Handoko menceritakan semuanya kepada Mita. Baskoro ayah Roy menikahi Ibunya Alex bukan karena cinta, melainkan karena harta. Perusahaan Roy Eldan sudah 90 persen bangkrut, demi bangkit kembali Baskoro mengambil hati ibunya Alex, sebab ia memiliki kekayaan puluhan triliun dan menguasai 50 persen saham perusahaan Branson Grup. Namun setelah menikah, Baskoro meminta istrinya untuk mengalihkan perusahaan menjadi atas namanya. Demi cinta, ibunya Alex tanpa ragu mengikuti permintaan suaminya. Setelah semuanya atas nama Baskoro, ia pun menikah lagi dengan wanita yang
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, mata Mita masih terbuka lebar. Kejadian tadi siang menghantui hati dan pikirannya, sehingga membuatnya tidak bisa tidur. Mita merasa malu dengan sikapnya, bisa-bisanya ia agresif seperti itu. Bahkan Mita menghindari Alex saat makan malam. Ia meminta Hanna untuk mengantar makanan ke kamarnya, dengan alasan tidak enak badan. Mita yang resah, lantas turun dari tempat tidur melangkah menuju balkon. Seketika matanya melihat sebuah mobil memasuki gerbang istana Branson. Mita memperhatikan mobil itu hingga berhenti, ia melihat seorang wanita turun dari sana. "Apa dia wanita simpanan Alex yang baru?" Mita bertanya pada dirinya sendiri. Ia berpikir demikian, karena Alex hobi memelihara wanita. Dia laki-laki yang tak bisa hidup tanpa wanita, dan bodohnya lagi! Mita bisa bergairah saat bercumbu dengannya. Mita yang penasaran, bergegas ke luar dari kamar. Ia menuruni anak tangga menuju lantai satu, dan berpura-pura ke dapur untuk mengambil air hangat.
Suasana pagi menjadi lebih hidup, dengan iringan suara merdu burung dari hutan lindung. Mita yang berdiri di balkon, sengaja membentang kedua tangan untuk merilekskan diri.Rintik-tintik embun membuat suasana semakin sejuk. Mita menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya dari mulut dengan lembut. Selama tinggal di kediaman Branson, balkon adalah tempat ternyaman bagi Mita. "Permisi Nyonya."Suara itu mengejutkan Mita, ia refleks membuka mata dan memutar kepala. "Bibi," ucap Mita, setelah melihat Hanna berdiri di pintu balkon. "Maaf Nyonya, tadi saya sudah mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban. Jadi saya terpaksa masuk." "Tidak apa-apa Bi. Oh iya, apa ada yang ingin Bibi sampaikan?" Tentu Mita bertanya, karena tak biasanya Hanna datang ke sana sepagi ini."Tuan, Nyonya."Mita mengerutkan kening, "Tuan, maksud Bibi?"Tuan terluka Nyonya, seseorang kembali menyerang Tuan." Hanna menjelaskan yang sebenarnya kepada Mita.Berapa nyawa yang telah dihabisi oleh Alex, sehingga musuhnya b
Satu minggu telah berlalu, selama ini Mita dan Alex jarang bertemu, walaupun tinggal dibawah atap yang sama. "Permisi Nyonya, Tuan menunggu anda di ruang kerja," ucap salah satu ajudan. "Hum, baiklah." Mita yang tadinya sedang menyiapkan makan malam, segera membuka celemek dan mencuci tangan. Ia bergegas menaiki anak tangga menuju lantai tiga, setibanya di depan pintu, Mita refleks menghentikan langkahnya dan mengurungkan niat untuk mengetuk pintu. "Apa keluarga Eldan belum menghubungi?""Belum Tuan, sepertinya mereka sedang berusaha mencari bantuan." "Roy, Roy, aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang, dan aku tidak akan membiarkanmu mati terlalu cepat. Aku akan membuatmu paham, sesakit apa yang dirasakan ibuku saat kamu dan ayahmu menyiksanya."Perbincangan itu terdengar jelas di telinga Mita. Ia melihat Alex dari sela pintu yang tidak tertutup rapat, pria tampan itu duduk di atas kursi sambil menatap selembar poto di tangannya. "Mungkinkah Roy dan almarhum ayahnya membunuh ib
Seperti biasa, setiap pukul 5 pagi Mita sudah bangun dari tidurnya. Ia selalu ke balkon untuk menghirup udara segar dan menikmati rintik-tintik embun.Namun kali ini berbeda, Mita justru ke dapur. Ia membantu Hanna menyiapkan sarapan untuk Alex. Saat Mita menata makanan di atas meja, Alex tiba-tiba muncul. Pria berdarah dingin itu sudah terlihat rapi, ia mengenakan pakaian formal serba hitam."Aku akan mengambilkan air hangat," ucap Mita yang langsung pergi. Iya, setiap pagi sebelum makan, Alex terlebih dahulu minum air hangat. Hal itu sudah kebiasaan Alex sejak kecil. "Silahkan di minum." Mita menaruh gelas berisi air hangat di hadapan Alex. "Tunggu."Kata-kata itu membuat Mita berhenti melangkah, ia kembali memutar tubuh menghadap Alex. "Sejak kapan kamu jadi pelayan di rumah ini?" lanjut Alex dengan bertanya, namun kedua matanya fokus menatap gelas dihadapannya. "Sejak hari ini," jawab singkat Mita. Alex memutar kepala, ditatapnya Mita dengan tatapan yang sulit untuk dimenge
"Kau sengaja menggugurkan anakku," ucap Alex. Mata keduanya saling beradu, bahkan ujung hidungnya saling bersentuhan. Sebelum membuka mulut, Mita terlebih dahulu menghela napas, "Aku tidak mengandung anakmu."Alex refleks mengangkat tangan, ia mencekik Mita hingga membuatnya sulit bernapas. Untung saja Nathan tiba-tiba muncul dari balik pintu. "Permisi Tuan," ucap Nathan, ia refleks memutar tubuh karena melihat keduanya dalam posisi intim. Otak Nathan seketika negatif, ia berpikir bosnya itu sedang melakukan hubungan suami istri. "Tuan, Roy ingin bertemu dengan anda." Nathan berbicara dengan posisi memunggungi. Alex tersenyum getir, ia bangkit dari tubuh Mita. Dengan kasar ia melepaskan jarum infus dari tangan wanita malang itu, lalu menariknya dengan kasar. Alex sengaja membawa Mita ke ruang tamu untuk bertemu dengan Roy. Dalam kondisi lemah tak berdaya, akan membuat Roy sakit hati. Momen ini lah yang ditunggu-tunggu oleh Alex selama ini.Saat keduanya menuruni anak tangga menu







