LOGINAlina pulang dengan hati berbunga, mengira kekasihnya datang membawa kejutan. Tapi yang menunggunya bukan lamaran, melainkan pengkhianatan terbesar dalam hidupnya. Di depan keluarga besar, Daren—lelaki yang selama ini ia cintai, diam-diam melamar kakaknya sendiri. Kakak yang tahu hubungan mereka. Kakak yang selalu mendapatkan segalanya. Seketika, dunia Alina runtuh. Di rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang, ia justru merasa menjadi orang asing. Terluka, terbuang, dan dikhianati oleh dua orang yang paling ia percayai. Ketika keluarga bersorak merayakan kebahagiaan yang seharusnya menjadi miliknya, Alina hanya ingin satu hal—menemukan alasan di balik penghianatan itu… atau pergi sebelum dirinya benar-benar hancur.
View More"Alina... bangun, Nak!"Suara Nenek terdengar dari balik pintu, memecah keheningan kamarku. Aku mengerjap, perlahan membuka mata yang masih terasa berat. Aku bertumpu pada sisi kasur, lalu duduk diam sebentar untuk mengumpulkan nyawa. Begitu tanganku meraih ponsel, layarnya menunjukkan sudah jam delapan pagi."Alina, kamu sudah bangun, kan?" panggil Nenek lagi, memastikan.Aku menoleh ke arah pintu. "Sudah, Nek..." sahutku dengan suara agak serak khas orang baru bangun tidur."Ya sudah, ayo sarapan. Nenek sudah masak di bawah.""Iya, Nek. Aku mandi dulu sebentar, Nenek duluan saja," ucapku sambil beranjak dari kasur dan mengambil handuk bersih di lemari."Nenek tunggu di bawah, ya."Kudengar langkah kaki Nenek menjauh dan menuruni tangga. Aku pun segera masuk ke kamar mandi. Tak terasa, sudah dua minggu aku tinggal di rumah Nenek. Suasana tenang di sini perlahan membantuku mulai melupakan sedikit demi sedikit masalah yang terjadi di rumah.Namun, saat aku bercermin, pikiranku mendadak
Tepat saat aku melangkah keluar rumah bersama Ayah, sebuah mobil berhenti di depan gerbang. Itu Mas Daren. Ia keluar dari mobil sambil membawa sebuah tas pakaian besar, sepertinya seragam keluarga yang lupa ia ambil kemarin.Wajah Mas Daren terlihat bingung melihatku berdiri di samping dua koper besar. Ia tampak ingin bertanya, tetapi aku berusaha mengabaikannya. Ayah kemudian datang menghampiriku, ia mengambil kedua koper itu, lalu memasukkannya ke dalam bagasiAku berjalan cepat mengikuti ayah menuju mobil."Ayo, Yah," kataku buru-buru.Aku segera masuk ke dalam mobil. Aku memperhatikan Mas Daren dari jendela. Ia masih berdiri mematung di depan rumah, menatapku dengan tatapan heran.Tidak lama kemudian, mobil yang kunaiki meninggalkan rumah. Mas Daren masih berdiri di sana, melihat mobil kami menjauh.Perjalanan ke bandara terasa cepat. Setelah check-in, aku duduk menunggu pesawat. Sekitar tiga puluh menit kemudian, saat aku sudah berada di ruang tunggu yang cukup ramai, mataku menan
Mendengar keputusan Ibu, tubuhku menegang. Aku diusir dan dianggap sebagai pengacau di rumah sendiri."Bu, itu tidak adil!" protes Ayah, terkejut. "Alina tidak melakukan kesalahan apa-apa!""Ini demi kebaikan semua, Yah," balas Ibu, tak ingin dibantah. "Jika dia tetap di sini, dia hanya akan menjadi gangguan. Biarkan dia menenangkan diri sampai pernikahannya selesai."Aku mendongak, menatap ibu. Menatapnya dengan tatapan nanar. "Baik, Bu," kataku, suaraku rendah. Aku menatap Kak Alda sejenak, yang kini tampak puas. "Aku akan pergi ke rumah Nenek."Ayah menoleh padaku dengan ekspresi kecewa dan marah pada Ibu. "Alina, kamu tidak perlu...""Tidak apa-apa, Yah," potongku. "Aku akan pergi." Aku berbalik tanpa menunggu persetujuan lain, meninggalkan ruang tengah dan berjalan cepat menuju kamar.Aku berbalik, meninggalkan ruang tengah yang panas. Yang kubutuhkan hanya tempat untuk sendiri. Aku berjalan cepat ke kamar, mengunci pintu, lalu menjatuhkan tubuhku di atas kasur.Tangis yang kutaha
Setelah selesai diobati di klinik terdekat dan sikuku diperban, Mas Daren membawaku ke mobil. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak meninggalkan Kak Alda di restoran. Suasana di dalam mobil kini terasa sangat canggung dan tegang. Hanya suara deru mobil yang mendominasi keheningan.Aku menyandarkan kepala di jendela, berusaha terlihat santai, meskipun aku tahu Mas Daren beberapa kali melirik ke arahku. Aku bisa merasakan tatapannya.Mas Daren menyalakan lampu sein, bersiap berbelok, lalu ia memecah keheningan."Aku tidak suka suasana ini, Lin," katanya, suaranya pelan dan berat. "Kenapa kamu kabur setelah malam itu? Setelah malam terakhir kita."Jantungku berdebar kencang. Aku menoleh. "Mas Daren, jangan bahas itu.""Aku harus bahas. Kenapa kamu tidak membalas pesanku? Kenapa kamu memblokir nomor teleponku? Aku bahkan tidak bisa menghubungimu lagi," desaknya, suaranya sedikit meninggi.Aku menelan ludah, berusaha menjaga ketenangan. "Hubungan kita sudah selesai, Mas Daren. Jelas,
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.