Share

Berondong Kampus
Berondong Kampus
Author: Andeski

Maaf, Tante.

Author: Andeski
last update Last Updated: 2025-03-23 01:37:23

"Bagi mahasiswa yang belum membayar uang kuliah untuk semester ini, terancam tidak bisa mengikuti ujian."

Kata-kata itu selalu terngiang di telinga Roy, saat ia menghadap ke salah satu ruangan di lingkungan kampusnya.

Kepala Roy berdenyut sambil berjalan linglung keluar dari ruangan tersebut, otaknya berpikir keras dari mana harus mendapatkan uang dengan cepat supaya bisa segera membayar uang semester sebagai syarat untuk bisa mengikuti ujian.

"Apakah aku harus pinjam uang lagi sama Mella? Ihh, malu. Yang kemarin aja belum aku bayar," Roy nyengir sendiri sambil tetap melangkah menyusuri trotoar jalan pulang ke tempat kostnya.

Roy teringat pada sang kekasih, Amella Elvara yang berasal dari keluarga mampu. Roy sering minta bantuan dengan meminjam uang sampai kiriman dari orang tuanya di kampung tiba, namun kali ini Roy tidak berani untuk meminjam lagi, karena yang ia pinjam pada Amella beberapa hari yang lalu belum di kembalikan karena kiriman dari orang tuanya belum kunjung tiba.

"Jangan sungkan, aku akan selalu ada buat kamu. Yang penting kita bisa sama-sama wisuda nanti, awas aja kalau kamu sempat putus kuliah karena alasan biaya! Ingat janji kamu, Roy. Kamu sudah berjanji untuk mendampingiku untuk meneruskan bisnis Papa," Kata-kata Amella selalu di ingat Roy, sehingga ia bertekad akan menyelesaikan kuliahnya walaupun dengan segala keterbatasannya.

"Gak mungkin aku terus-terusan mengandalkan kamu, Mel. Aku harus mencari pekerjaan sampingan, tapi harus kerja apa?" Sambil berjalan linglung, Roy membatin.

Memang, setiap kiriman uang dari orang tuanya terlambat datang, Amella selalu memberikan pinjaman pada Roy. Terkadang Amella tidak menerima kembalian dari Roy jika uang yang di pinjam dalam jumlah kecil.

"Simpan saja, mana tau nanti kamu kepepet lagi," Begitu ucapan Amella waktu itu. Hal tersebut semakin membuat Roy merasa tidak enak hati pada sang kekasih.

Dalam lamunannya sembari menyusuri trotoar jalan, Roy memutar otak, berpikir untuk bekerja di luar jam kuliah untuk membantu meringankan beban orang tuanya di kampung yang hanya seorang petani. Jika terus-terusan mengandalkan kiriman dari kampung, atau terus-terusan mengandalkan Amella, bisa-bisa Roy tidak dapat mengikuti ujian.

"Duukk!"

"Sreett!"

"Jalan itu jangan melamun, untung saja yang kamu tabrak itu saya. Coba kalau mobil yang sedang melaju, bisa game over kamu!" Roy melongo memandangi seorang wanita cantik yang melotot ke arahnya, setelah tanpa sengaja Roy menabraknya karena melamun sambil berjalan di trotoar.

"Ma, maaf Tante. Saya tidak sengaja," jawab Roy tergagap ketika menyadari telah menabrak wanita tersebut tanpa sengaja.

"Lagian Tante sih, berdiri di tengah trotoar. Ya, ketabrak dong," imbuh Roy lagi membela diri ketika wanita cantik tersebut menatap wajahnya lekat.

Wanita cantik tersebut tidak menjawab ucapan Roy, ia malah memandangi Roy dari ujung kepala sampai ujung kaki. Terang saja Roy jadi gugup.

"Kamu masih kuliah?" tanya wanita tersebut setelah menatap Roy ketika melihat di tangan Roy tergenggam beberapa buah buku tebal dan sebuah tas ransel tergantung di punggung Roy.

"Iya, Tante. Di kampus itu," jawab Roy sambil berbalik menunjuk kampus yang baru beberapa puluh meter ia tinggalkan.

"Tante ngapain berdiri di sini? Trotoar ini untuk pejalan kaki lho, nanti ketabrak lagi," tanya Roy balik, menatap wanita cantik yang masih berdiri di depannya. Terlihat rok mini yang ia kenakan bergerak tertiup angin dari kendaraan yang melintas di jalanan, Roy mengalihkan pandangannya, tak ingin tertangkap basah karena mencuri pandang ke bagian bawah tubuh wanita tersebut.

Wanita cantik tersebut malah tersenyum, ketika pandangan mata Roy tertuju pada paha mulusnya yang sedikit tersingkap ketika rok mininya tertiup angin. Sebagai pria dewasa tentunya Roy tidak bisa membohongi pikirannya sendiri.

"Mm, itu. Mobil saya bocor, saya tidak bisa ganti ban. Sedangkan saya tidak melihat ada bengkel terdekat dari sini. Kamu bisa bantu saya gak? Atau panggilkan orang bengkel gitu," jawab wanita tersebut sambil menoleh menatap sebuah mobil mungil berwarna merah yang terparkir di badan jalan, tak jauh dari mereka berdiri.

"Boleh, Tante. Punya ban serap kan?" jawab Roy sambil mengalihkan pandangan ke arah mobil milik wanita tersebut.

"Ada sih, tapi itu dia, saya gak bisa buka rodanya," ujar wanita tersebut sembari melangkah mendekati mobilnya, dan Roy mengikutinya dari belakang.

"Itu ban serapnya, dan itu kunci roda dan peralatan lainnya," ujar wanita cantik tersebut sambil menundukkan badannya ketika membuka kabin belakang mobilnya. Dada Roy berdegup ketika melihat dua bukit kembar yang putih mulus seakan ingin menyembul keluar ketika wanita tersebut membungkuk.

Roy meneguk ludah, ketika dua benda kenyal tersebut bergoyang seperti hendak jatuh saat wanita cantik tersebut berusaha menggeser ban serap yang terdapat dalam kabin mobilnya.

"Kamu bisa kan?" ujar wanita tersebut tiba-tiba menoleh pada Roy setelah bersusah payah mencoba untuk mengeluarkan ban serap dari dalam kabin mobil, namun tidak berhasil karena roda mobil tersebut terlalu berat baginya.

"Bi, bisa Tante," jawab Roy kembali tergagap sambil buru-buru mengalihkan pandangannya. Namun terlambat, karena wanita cantik tersebut terlanjur mengetahui saat bukit kembar putih mulus kebanggaannya di jilati pandangan nakal Roy.

"Ya, sudah. Tolong ya," ujar wanita tersebut pura-pura tidak mengetahui pandangan nakal Roy. Ia mundur ketika Roy mengambil roda yang masih tersimpan dalam kabin mobil, wanita tersebut tersenyum di belakang Roy.

Dengan cekatan Roy meletakkan dongkrak di bawah mobil agar posisi roda bisa terangkat dari aspal, dengan merunduk ke bawah kolong mobil.

"Apa yang harus saya bantu, bilang aja," ujar wanita cantik tersebut sambil berjongkok di hadapan Roy yang masih merunduk di bawah kolong mobil memasang dongkrak.

Ketika Roy menoleh, biji matanya seakan ingin loncat keluar dari cangkangnya. Betapa tidak, dari jarak beberapa jengkal saja di depan wajahnya terpampang pemandangan yang membuat jakun Roy turun naik, air ludahnya seakan ingin meleleh ketika sepasang paha putih mulus dengan gundukan kecil padat terjepit di antaranya terbungkus celana dalam berwarna pink.

"Kamu nikmati aja ini dulu, nanti saya kasih yang sebenarnya," bisik wanita cantik tersebut tersenyum dalam hati sambil merenggangkan kedua paha mulusnya berjongkok di hadapan Roy di belakang mobil. Semetara Roy yang masih merunduk di bawah kolong mobil memasang dongkrak makin tak karuan. Tenggorokannya terasa kering ketika hendak menelan ludah ketika menyaksikan pemandangan indah di antara kedua paha putih mulus wanita cantik tersebut yang dengan sengaja mempertontonkan pada Roy.

Tak ingin tersiksa lebih lama, Roy tidak membutuhkan waktu lama untuk mengganti roda mobil dengan yang baru.

"Uhh, ternyata kamu lebih mempesona ketika sedang berkeringat begitu," bisik wanita cantik tersebut dalam hati ketika memandangi wajah Roy yang berkeringat.

"Sudah, Tante. Sekarang Tante sudah bisa melanjutkan perjalanan," ujar Roy sambil menyusup keringatnya setelah mengganti roda mobil.

"Terimakasih. Emm, sekarang kamu mau kemana?" jawab wanita cantik tersebut menatap Roy yang menyusup keringat di keningnya.

"Mau pulang, Tante," jawab Roy singkat.

"Yuk, saya antar. Sekalian ke arah sana kan?" ujar wanita tersebut sembari menoleh ke ujung jalan yang akan di lewati Roy.

"Yuk, ahh," ajak wanita itu lagi ketika Roy masih ragu. Namun akhirnya Roy mengikuti wanita yang baru ia kenal tersebut masuk mobil.

Wanita cantik tersebut tersenyum duduk di balik kemudi mobil sembari menoleh pada Roy yang duduk di sebelahnya. Mobil melaju di jalanan berbaur dengan kendaraan lain, namun Roy melihat mobil yang di kendarai wanita cantik yang duduk di balik kemudi di sampingnya tidak menempuh jalan yang mengarah pada tempat kostnya, justru mobil mengarah ke jalan lain.

Bersambung ...

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Andeski
cakep banget ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Berondong Kampus   Hasrat Hamil Muda

    Lonjakan hormon estrogen dan progesteron saat kehamilan Arumi memasuki trimester kedua membuat hasratnya seakan meledak-ledak, terlebih Arumi sering ditinggal Roy sendirian. Saat Roy pulang, masih dalam keadaan berdiri di ruang tengah rumah sederhananya, Arumi bergelayut manja di leher Roy, seolah hasrat yang sering tertahan minta untuk disalurkan tanpa bisa dibendung lagi."Mas, aku kangen ..." Arumi mendesis lirih, tatapannya sayu, menengadah dengan bibir setengah terbuka. Ia telusuri dada bidang Roy dengan telapak tangannya, meraba dari atas hingga kebawah pusar Roy. Lain lagi yang dirasakan Roy, dalam kondisi terserang sindrom cauvade, ia harus sekuat hati agar tidak muntah karena rasa mual. Morning sicnkness dalam istilah kedokteran tersebut begitu menyiksa bagi Roy."Mas juga kangen, Arumi. Kangen pengen kasih susu kental buat bayi kita," jawab Roy tersenyum balas menatap sang istri kecilnya. Jawaban Roy membuat hasrat Arumi semakin tak tertahankan, istrilah yang diucapkan Roy k

  • Berondong Kampus   Kontak Batin

    "Perasaanku kok mencium aroma gak enak gini ya? Aneh ..." Sembari mengenakan pakaian sehabis mandi, Roy bergumam sendiri dalam kamarnya. Rumah sebesar ini terasa begitu sepi, Sandra pergi dengan suaminya entah kemana. Roy gak akan menghubungi wanita tersebut, kecuali Sandra menghubunginya terlebih dulu. Kalau sempat suami Sandra mengetahui mereka sering berbagi kehangatan, bisa berabe urusannya."Bau apaan sih? Perasaan di rumah ini gak ada tikusnya, kok perasaan bau bangkai gitu." Lagi-lagi Roy bergumam sendiri, hidungnya kembang-kempis mengendus aroma tak sedap dalam kamar. Kolong ranjang, di balik lemari, bahkan Roy mencium aroma ketiaknya sendiri. Namun sumber bau tak sedap yang membuat perutnya mual tak kunjung ditemukan.Sebenarnya sudah hampir seminggu yang lalu Roy merasakan hal aneh, mencium aroma tak sedap yang tak jarang membuatnya nyaris muntah. Namun ia tidak menghiraukan, mungkin hanya kebetulan ada bangkai tikus, entah apa di sekitarnya. Namun semakin hari, indra penciu

  • Berondong Kampus   Analyst Muda

    "Aku gak bisa dampingi kamu, mama barusan telpon minta ditemani untuk menghadiri acara arisannya. Kamu datang aja sendiri ke kantor papa, gak apa-apa kan?""Semangat Roy, anggap aja menghadap calon papa mertua. Tapi ingat, papa itu galak kalau urusan soal bisnis, kalau perlu kamu pakai pempes aja, biar gak ngompol di celana."Roy meringis, sembari menengadah menatap gedung pencakar langit di hadapannya. Obrolan singkat bersama Amella sebelum ia datang sendiri ke kantor perusahaan milik keluarga Amella, masih terngiang di telinganya. Tadinya Roy berharap sang kekasih menemaninya untuk menghadap papa Amella yang meminta Roy untuk datang ke kantornya yang berada di lantai tujuh gedung pusat perkantoran tersebut, namun akhirnya Roy harus berangkat sendirian, karena Amella punya acara lain bersama sang mama. Paling tidak begitulah yang diketahui Roy."Aku harus siap, apapun itu. Ya Tuhan, tolong tenangkan gemuruh hatiku ini," bisik Roy dalam hati. "Benar kata orang-orang, menghadap calon

  • Berondong Kampus   Bahasa Kalbu Amella

    Pagi-pagi sekali Roy sudah berada di kampus, pelajaran dan tugas di hari kemarin yang sempat tertinggal harus ia kejar hari ini. "Wahhh, aku kira bakalan menggantikan security untuk membuka gerbang. Ternyata Amella datang lebih dulu, tapi mana dia?" Roy bergumam, sembari melepas helm yang menutupi kepalanya, sesaat setelah baru saja memarkir motornya. Roy mengitari pandangannya ke sekitar tempat parkir, mobil mungil warna merah milik Amella sudah terparkir, namun pemiliknya tidak kelihatan.Karena datang ke kampus masih terlalu pagi dari biasanya, Roy mengira dirinya lah yang akan membuka gerbang kampus sebelum security datang. Tapi Amella datang lebih dulu, hanya mobilnya yang terlihat di parkiran. "Mungkin tugas Amella juga udah numpuk, kebiasaan sih ngerjain tugas borongan. Mendekati deadline kocar-kacir," bisik Roy tersenyum sendiri, karena kebiasaannya pun begitu."Pagi, mas Roy." Pagi, Dinda. Segar banget pagi ini," jawab Roy, saat membalas sapaan adik letingannya. Ketika baru

  • Berondong Kampus   Setulus Cinta, Sebesar Dendam

    "Brengsek kamu!"Roy melotot, spontan ia mendorong Shinta hingga terlepas dari pelukannya. Wanita yang telah ia gempur habis-habisan dalam pengaruh obat perangsang tersebut kaget, ia tidak menyangka Roy berbuat kasar setelah lepas dari pengaruh obat perangsang."Untuk apa kamu melakukan ini semua, haaa?! Hingga berani kamu mengirim orang untuk mencelakai aku, bahkan kamu meracuni aku dengan obat sialan itu!" Bentak Roy lagi, sembari menyambar pakaian yang berserakan di lantai kamar. Sekilas Roy melirik pada jarum suntik yang masih tergeletak di lantai, ia tau bahwa Shinta telah berbuat curang dengan menyuntikkan obat perangsang ke tubuhnya."Dengarkan aku dulu, Roy. Aku hanya ingin mencintai kamu, aku akui caraku salah. Tapi percayalah, aku telah jatuh cinta saat pertama kali Tante Mirna memperkenalkan kamu padaku," jawab Shinta, ia beringsut ke sisi ranjang menatap Roy yang sedang bergegas kembali mengenakan pakaiannya. Shinta menutupi tubuh polosnya dengan selimut."Ooo, jadi Tante

  • Berondong Kampus   Terpenjara Gairah Janda Muda

    "Arumi?"Roy bergumam lirih nyaris tanpa suara, ia terpana sesaat. Di saat kesadarannya belum sepenuhnya pulih, setelah napasnya terasa sesak saat wajahnya tertutup dua gundukan kenyal dengan aroma parfum yang khas. Di antara setengah sadar tersebut Roy hanya ingat dan menyebut satu nama, Arumi."Hisap Roy, hisap yang kenceng sayang. Hoeuuhh!" Shinta yang tengah menindih Roy kembali menyumpal mulut Roy dengan tonjolan kecil hitam kecoklatan yang sudah mengkal, tonjolan kecil itulah yang menjadi titik paling sensitif pada kedua gundukan kembar milik Shinta.Dalam kondisi yang baru setengah sadar, dalam pengaruh obat perangsang dan bayangan Arumi yang tiba-tiba hadir, Roy melahap gundukan daging kenyal milik Shinta yang menantang di depan matanya. Dengan rakusnya Roy menghisap, meremas daging kenyal putih mulus milik Shinta."Oouuhh Roy!" Shinta melenguh meresapi kenikmatan, saat Roy menghisap puting daging kenyal tersebut, ia menengadah dengan mata terpejam. Kemudian Shinta memegang gu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status