Share

71

Penulis: Rasyidfatir
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-20 08:03:53

"Ma, aku kangen Papa Azzam? Sudah seminggu kita di rumah Om Fikar. Tapi Papa tidak pernah telepon kita," ucap Alvaro suatu hari.

Mendengar pertanyaan putraku hatiku pun resah. Aku bingung harus memberi jawaban apa. Anak sekecil ini harus merasakan kegagalan rumah tangga kami.

"Sayang ... mungkin Papa sibuk. Varo yang sabar ya ..." ucapku berusaha nenghiburnya sembari mengelus rambut.

"Kalau Papa yang sibuk kenapa kita tidak yang telepon saja, Ma?" tanya Varo .

Aku bertambah bingung menghadapi sikap kritis putraku. Tidak mungkin aku menelepon Mas Azzam, hubunhan kami sudah selesai.

"Ma ... mama kok diam," kata Varo menyentuh jemariku.

"Hape mama belum mama cas Sayang ...nanti ya kalau hape mama udah penuh lagi batereinya," ucapku beralasan.

"Iya Ma, tapi janji nanti setelah baterai hape mama udah full. Kasih tau aku ya ..." kata Varo menatapku penuh permohonan.

Sorot matanya yang bening rasanya membuatku tidak tega untuk membohonginya.

Aku pun mengangguk pelan meski hati ini menolak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Berondong Sewaan Pilihan Suamiku   82

    “Maaf, Pak… golongan darah Bapak tidak cocok untuk Varo.”Azzam terdiam.“Maksudnya… tidak cocok bagaimana?” nada suaranya berubah.“Tidak bisa menjadi donor langsung, Pak.”Airin ikut diperiksa. Ia mencoba menenangkan diri, berusaha percaya semuanya akan baik-baik saja.Namun saat perawat kembali untuk kedua kalinya…“Maaf, Bu. Golongan darah Ibu juga tidak cocok.”Airin terpaku.Dunia seakan berhenti sesaat.Azzam menoleh… memandang Airin lama.Tatapan itu bukan sekadar kaget. Ada luka. Ada pertanyaan.“Tidak cocok…? Tapi… aku ayah kandungnya,” ucapnya pelan namun tegas.Airin membuka mulut, namun tak ada kata yang keluar.Perawat mencoba menenangkan,“Belum tentu berarti bukan keluarga kandung ya, Pak. Ini bisa dipengaruhi beberapa faktor medis. Tapi—”Azzam seperti tidak mendengar lagi. Pandangannya kosong.Rahangnya mengeras.Airin menunduk semakin dalam. Tangannya bergetar.Ia ingin menjelaskan tapi lidahnya kelu.Di saat suasana semakin kaku, suara bariton yang hangat namun man

  • Berondong Sewaan Pilihan Suamiku   81

    Seperti biasa Airin dan Fikar mengantar Varo di sekolah barunya. Sebelum berpamitan Varo sempat cipika cipiki dulu pada papa dan mamanya. Airin tersenyum bahagia sambil mengusap rambut anaknya.“Hati-hati ya, Nak. Jangan lari-lari di halaman sekolah. Dengar kata Bu Guru.”“Iya, Mama.”Lalu Varo beralih pada Fikar. Ia harus sedikit berjinjit untuk mencapai pipi papanya.Fikar menunduk sambil memejam sebentar, menikmati momen kecil yang selalu ia tunggu tiap pagi.“Papa jemput sore ya?” tanya Varo memastikan.“Tentu,” jawab Fikar pelan. “Kalau Papa terlambat sedikit, tunggu di dalam gerbang. Jangan keluar sendirian.”“Siap!” jawab Varo sambil memberi hormat kecil.Airin dan Fikar saling berpandangan senyum hangat merekah di wajah mereka. Ada rasa syukur yang tidak bisa diucapkan kata-kata. Kehadiran Varo membuat rumah mereka selalu terasa hidup.“Varo masuk dulu ya…” ujar anak itu sebelum akhirnya berlari kecil menuju kelasnya.Namun sebelum benar-benar jauh, ia kembali menoleh dan mel

  • Berondong Sewaan Pilihan Suamiku   80

    Rambut Airin basah, dan banyak bekaa tanda merah di area tubuhnya yang rak terlihat dari luar. Hari ini Fikar s7ngguh ganas, melampiaskan hasratnya menggebu-gebu. Sekarang dirinya berdiri di depan cermin membantu Airin mengeringkan rambutnya pakai hair dryer.Fikar memegang hair dryer, mengarahkan angin hangat ke rambut Airin. Gerakannya hati-hati, telaten, bahkan cenderung pelan seperti takut menyakiti. Wajahnya serius, namun matanya penuh kelembutan.“Biar aku lakukan sendiri, kamu ganti baju dulu," ucap Airin."Kenapa ... kamu takut aku menerkammu lagi," goda Fikar."Bu ... bukan begitu. Hanya saja apa kamu tidak lelah juga," balas Airin malu-malu.Sesekali jemari Fikar menyibakkan rambut Airin yang menutupi wajahnya. Sentuhannya ringan, penuh perhatian.“Apa aku perlu memijitmu? Aku tahu kamu pasti lelah melayaniku,” ucap Fikar sok bersalah.“Tidak usah. Yang ada nanti bukan Mas mijitin aku… tapi mijit yang lain-lain,” jawab Airin dengan pipi memerah.Fikar terkekeh pelan.“Kamu

  • Berondong Sewaan Pilihan Suamiku   79

    Azzam berniat menghampiri Airin yang tengah memandangi Fikar tengah berpiday9 di podium. Rasanya dia tidak tenang kalau tidak dengar langsung dari Airin."Mas mau kemana?" tanya Lidya. Azzam tidak menjawab, langkahnya mantap menuju ke arah Airin."Rin ... aku tidak menyangka kamu meninggalkan aku karena gila harta," tuduh Azzam.Airin sempat kaget mendengar tuduhan Azzam. Namun dia tetap berusaha untuk tidak terpancing amarah."Mas ngomong apapun sekarang nggak ngaruh buat aku. Lagian sekarang aku sudah tidak ada urusannya dengan Mas," jawab Airin tegas.Azzam hendak melanjutkan kata-katanya. Tapi tiba-tiba pandangannya beralih pada seorang wanita cantik yang menyerahkan buket bunga segar pada Fikar."Kamu lihat kan, Rin. Fikar itu masih muda, tampan dan kaya raya. Kamu jangan berharap dia hanya milikmu seorang. Bisa jadi, dia juga seperti aku punya wanita lain di belakang layar," sindir Azzam.Airin menatap ke arah panggung. Wanita itu berpenampilan elegan, yang jelas dari kalangan a

  • Berondong Sewaan Pilihan Suamiku   78

    Airin touch up lagi make upnya. Setelah melakukan percintaan kilat di ranjang. Fikar membantu Airin merapikan gaunnya."Makasih Sayang, maaf ya kamu harus capek menghadapi kenakalanku hari ini," kata Fikar. "Di leherku tidak ada bekas merahnya kan?" tanya Airin panik."Tidak ada, tapi di dadamu yang bagian dalam penuh tandaku. He ... he ... he," kekeh Fikar."Lain kali jangan pas pesta begini. Aku sedikit takut," ungkap Airin."Malahan menurutku seru Sayang. Dalam rasa panikmu kamu dapat kenikmatan dariku," goda Fikar. Usianya yang masih muda membuat Fikar menggebu-gebu dalam bercinta."Ya sudah kita turun, semua tamu sudah menunggu di bawah." Fikar mengulurkan lengannya. Dan Airin pun merangkul lengan kekar tersebut. Sebelum mereka membuka pintu, Fikar tiba-tiba memeluk perut Airin erat."Aku harap kamu tidak luluh dengan mantan suamimu. Aku tidak sanggup jika kehilanganmu sekali lagi," lirih Fikar. Airin tidak menyangka merasa begitu di cintai oleh Fikar. Ia menjawab perkataan Fik

  • Berondong Sewaan Pilihan Suamiku   77

    "Kamu ... bisa-bisanya menggoda istriku," ucap Azzam."Bukan istrimu ... tepatnya mantan istri," balas Fikar. Tangan Azzam mengepal mendengar perkataan Fikar. Ia berusaha menahan diri, karena menyadari situasinya sedang di tempat umum."Rin, aku ingin bicara ..." kata Azzam menatap rindu pada mantan istrinya."Mas, semua sudah jelas. Tak ada yang perlu kita bicarakan lagi," jawab Airin tegas."Kamu memilih berondong tengil ini. Dia tidak akan bisa menjamin hidupmu. Dia hanya memanfaatkanmu. Numpang hidup sama kamu!" Sinis Azzam.Airin hendak membuka mulut untuk membela Fikar. Namun Fikar memberi isyarat agar Airin membiarkan Azzam berbicara seenaknya."Kamu diam kan, Rin. Berarti benar dugaanku. Kalau bocah ini cuman numpang hidup sama kamu. Mendingan kamu balik sama aku, Rin," ucap Azzam penuh percaya diri. Malam ini penampilan Airin begitu memukau, Azzam tak ingin melepaskannya.Dalam hati Airin berteriak, semua yang di katakan Azzam tidak benar. Bukan Fikar yang numpang tapi dia la

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status