FAZER LOGINAlma berencana membalas perbuatan suami dan selingkuhannya. Ia kembali datang setelah terpuruk akibat kegagalan rumah tangganya di masa lalu. Ia memutuskan untuk tinggal di depan rumah mantan suaminya. Lalu, bagaimana reaksi mantan suami dan keluarganya melihat kehadiran Alma?
Ver maisThe rain began at exactly 8:17 p.m.
Years later, Vanessa Williams would remember that detail more clearly than her own birthday.
She was ten years old, sitting cross-legged on the living room floor of their small Atlanta home, helping her younger sister Brianna with a school project. The television played softly in the background while their mother and father were on their way home from a business dinner.
"Do you think Mommy will bring us dessert?" Brianna asked, gluing pieces of colored paper together.
Vanessa laughed.
"She always does."
The sisters exchanged smiles. Their parents never returned from a trip without bringing them something.
Outside, thunder rumbled across the sky.
A few miles away, their parents' SUV sped through the storm.
Then everything changed.
---
At first, it was only a phone call.
A call that their grandmother, Margaret Williams, would later describe as the most terrifying moment of her life.
Margaret had been reading a book in her apartment when her phone rang.
Unknown Number.
She almost ignored it.
Almost.
"Hello?" she answered.
There was silence.
Then a shaky voice spoke.
"Ma'am... are you related to Michael and Sarah Williams?"
Margaret's heart stopped.
"Yes."
The next few words shattered her world.
"There has been an accident."
The book slipped from her hands.
"No..."
"I'm sorry. You need to come to Grady Memorial Hospital immediately."
Margaret didn't remember hanging up.
She only remembered praying.
Praying harder than she had ever prayed before.
---
Two hours later, Vanessa woke up to loud knocking.
She rubbed her eyes.
The house was dark.
Brianna was asleep beside her on the couch.
The knocking continued.
Boom.
Boom.
Boom.
Vanessa opened the door.
Standing outside was Grandma Margaret.
She looked different.
Her eyes were red.
Her hands trembled.
And for the first time in Vanessa's life, her grandmother looked afraid.
"Grandma?"
Margaret forced a smile.
"Come here, baby."
Something was wrong.
Very wrong.
Vanessa felt it instantly.
"Where's Mom and Dad?"
Margaret didn't answer.
Instead, she pulled both girls into a tight embrace.
The kind of embrace people give when they're trying to stop someone from falling apart.
"Grandma?" Brianna whispered.
Margaret's lips trembled.
Then tears spilled down her face.
And Vanessa knew.
Before a single word was spoken, she knew.
"No..." she whispered.
"Grandma..."
"No."
Margaret's voice broke.
"There was an accident."
The room became silent.
A silence so heavy it felt impossible to breathe.
Vanessa stared.
Brianna stared.
Neither girl understood.
Not fully.
Not yet.
"Are they hurt?" Brianna asked.
Margaret closed her eyes.
The answer took forever.
"They're gone."
Gone.
One small word.
One word powerful enough to destroy an entire childhood.
Brianna blinked.
"What do you mean gone?"
Margaret began crying openly.
Vanessa felt the floor disappear beneath her.
"No."
"Vanessa—"
"No!"
The scream exploded from her chest.
"No! No! No!"
She grabbed her grandmother's arms.
"They promised they'd come home!"
"They promised!"
"They promised!"
Her voice cracked.
Margaret could only hold her as she cried.
For the first time since losing her own daughter, Margaret felt completely helpless.
---
The funeral was held five days later.
Hundreds attended.
Friends.
Family.
Business associates.
Neighbors.
Everyone came to pay their respects.
The church overflowed with grief.
But nothing shocked Vanessa more than what she overheard.
Two women sitting behind her whispered quietly.
"The accident was terrible."
"I heard the truck crossed into their lane."
"They said Michael didn't survive the impact."
The second woman lowered her voice.
"They said his injuries were so severe that the funeral home had to do extensive restoration work."
Vanessa didn't understand every detail.
But she understood enough.
Her father had died instantly.
The realization hit her like another loss.
The strong man who carried her on his shoulders.
The man who taught her how to ride a bicycle.
Gone.
Forever.
Beside her, Brianna squeezed her hand.
Vanessa squeezed back.
At that moment, neither sister knew they were making a silent promise.
A promise stronger than words.
A promise stronger than blood.
They only had each other now.
---
After the funeral, Margaret took the girls home with her.
Her modest house became their sanctuary.
Their safe place.
Their new beginning.
Life wasn't easy.
There were nights when Brianna cried herself to sleep.
Nights when Vanessa secretly stared at family photographs.
Nights when Margaret sat alone in the kitchen, mourning her daughter.
But somehow they survived.
Together.
One evening, several months later, Margaret gathered the girls in the living room.
"You two are all the family you've got left," she said softly.
The sisters looked at each other.
"You'll face hardships."
"You'll face temptations."
"You'll face people who try to divide you."
Margaret's eyes filled with emotion.
"But promise me one thing."
Vanessa nodded.
Brianna nodded.
"Anything."
Margaret smiled sadly.
"Never let money, power, or pride come between you."
The sisters immediately joined hands.
"We promise," Vanessa said.
"We promise," Brianna echoed.
Margaret hugged them tightly.
For the first time in months, hope returned to her heart.
She believed the girls would always protect each other.
She believed their bond would survive anything.
She was wrong.
Because twenty years later, the same sisters who swore eternal loyalty would stand on opposite sides of a courtroom, fighting over a fortune worth millions.
And before the battle was over, one of them would commit a betrayal so devastating that it would destroy everything their grandmother had spent a lifetime building.
The war between the Williams sisters had not begun yet.
But fate had already set it in motion.
And neither of them saw it coming.
"Permisi, Mas, maaf numpang tanya," kataku pada seorang pria yang baru turun dari motor yang ia kendarai. Pria itu memarkirkan motornya di depan kost-kostan ini."Iya, Mas, tanya apa ya?""Apa Mas tinggal di kostan ini?""Iya, Mas, saya tinggal di sini," jawabnya."Saya mau tanya, siapa yang menghuni kost-an lantai dua yang pintunya nomor empat itu?" tunjukku ke atas."Oh, nomor 4 ya? Kamar itu sih dihuni sama Ferdy, Mas. Kebetulan dia teman kuliah saya," jawabnya."Teman kuliah?""Iya, Mas, dia kuliah bareng saya. Tapi beda jurusan. Mas ada urusan apa sama Ferdy?" tanyanya seolah penasaran."Gak ada, Mas. Kebetulan dia mirip saudara saya. Namanya juga sama. Kalau boleh tahu, dia tinggal sama siapa ya, Mas?" jawabku beralasan dan bertanya."Dia tinggal sendiri kok. Tapi ... sekarang dia lagi sama pacarnya, Mas," jawabnya sambil menggaruk kepala yang sepertinya tak gatal."Pacar?""Iya, Mas. Jadi kalau nanti Mas ketemu Ferdy jangan kaget. Ya udah ya, Mas, saya mau masuk dulu. Masih ada
Aku masih memperhatikan Lastri dan pria yang naik motor bersamanya. Terlihat mereka begitu akrab. Seperti orang yang sudah kenal sangat lama. Anak kami Zea juga sepertinya begitu mengenal pria itu. Terlihat saat ini Zea berganti posisi dari duduk lalu berdiri dan berpegangan pada pundak pria itu. Sedangkan Lastri memegangi tubuh Zea. Jika dipikir, tak mungkin juga pria itu saudara Lastri. Sebab, aku tak pernah melihat pria itu sebelumnya.Ketika lampu hijau mulai menyala, semua kendaraan mulai melaju ke arah lurus. Begitu juga motor yang dikendarai oleh Lastri dan pria asing itu. Aku sendiri langsung tancap gas untuk mengikuti mereka. Aku tak ingin kehilangan jejak mereka. Apa lagi, mereka pergi membawa anakku Zea. Aku ingin tahu, siapa pria itu sebenarnya. Berbagai pikiran buruk langsung melintas di kepalaku.Untung saja, pria itu mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang. Dengan begitu, aku bisa mengikuti mereka dengan mudah. Apa lagi, melihat arus lalu lintas yang cukup padat s
Pagi ini, aku terbangun dengan kepala sedikit berat. Sebab, aku hampir tak bisa tidur semalaman. Mbak Rossi semalam kembali mengamuk. Hingga membuat aku dan Ibu tak bisa beristirahat dengan tenang. Setelah Mbak Rossi diberi obat penenang, ia akhirnya tertidur. Tetapi setelah Mbak Rossi tertidur, justru malah Ibu yang tak tidur karena menangis semalaman. Berulangkali aku mencoba menenangkan Ibu, tapi Ibu tetap saja menangis.Aku merasa keadaan Mbak Rossi benar-benar sudah parah. Jiwa Mbak Rossi benar-benar sudah terguncang. Semalam, Mbak Rossi berteriak-teriak menyebut nama Adit. Seolah Mbak Rossi ingin Adit ada di sini bersamanya. Jujur saja, aku sangat muak ketika mendengar Mbak Rossi menyebut Nama Adit. Entah apa lagi yang Mbak Rossi harapkan dari pria brengsek itu.Ketika aku telah selesai mandi dan berganti pakaian, aku mendapatkan sebuah pesan dari Alma. Pucuk dicinta, tanpa perlu aku mendekati Alma, ia malah lebih dulu mengirim pesan padaku. Tetapi, aku sedikit terkejut ketika m
POV WijayaAku mencoba menghubungi nomor Lastri. Tapi sialnya, nomor ponsel Lastri tak aktif dan tak bisa dihubungi. Entah kemana perginya istri tak berguna itu. Aku benar-benar sangat kesal padanya. Lihat saja, jika sampai ia pulang nanti, aku akan memberinya pelajaran. Selama ini, aku terlalu memberikan kebebasan untuk Lastri. Hingga ia bisa bertingkah sesuka hatinya. Dan kini, aku tak akan membiarkan Lastri bersikap semaunya sendiri. Sudah cukup rasa sabarku padanya! Lihat saja, jika aku bertemu dengannya nanti, aku akan memarahinya habis-habisan. Bila perlu, aku akan menceraikannya secara langsung. Agar ia sadar, hidupnya tak akan ada artinya tanpa diriku. Jika dipikir, memiliki seorang istri seperti Lastri tak ada untungnya untukku. Yang ada, uangku semakin habis terkuras untuk memenuhi keinginannya yang entah untuk apa. Rasanya, aku benar-benar menyesal menikah dengannya."Bu, Aminah. Saya minta tolong sama Ibu. Saya titip keponakan saya —Vira di rumah Ibu dulu. Soalnya, di rum
"Mbak, kenapa kamu jadi menyalahkan aku? Mbak Rosi gak ingat, bukankah dulu, Mbak Rosi juga ikut mendukung perselingkuhanku dengan Lastri? Apa Mbak Rosi sudah lupa?" tanyaku penuh penekanan.Aku tak terima jika Mbak Rosi hanya menyalahkan aku semata. Seolah hanya aku saja yang bersalah. Padahal jelas
Setelah sampai di parkiran rumah sakit, aku bergegas menuju ruangan tempat Mbak Rosi dirawat. Setelah sampai, ake segera masuk dan menemui Ibu dan Mbak Rosi. Aku merasa terkejut ketika melihat keadaan Mbak Rosi. Terlihat banyak memar dan lebam di wajahnya. Di keningnya juga tertempel perban kecil me
["Mas, mana uangnya? Kok belum ditransfer?"] Sebuah pesan masuk dari Lastri.Aku hanya membaca pesan dari Lastri tanpa ada niat untuk membalasnya. Aku sendiri sedang pusing memikirkan keuanganku yang mulai menipis, tetapi Lastri tahunya hanya minta uang saja. Aku heran dengannya, jika dihitung-hitung
Pagi ini, aku melakukan aktivitas seperti biasa. Membuka toko milikku yang sempat aku tutup kemarin. Aku membuka toko lebih pagi dari biasanya. Jika biasanya aku membantu Nana memasak di dapur, tapi tidak dengan hari ini. Aku memutuskan untuk lebih menjaga jarak dengan Nana. Entahlah, aku merasa tak


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.