LOGINAirin demi bisa bercerai dari suaminya yang tukang selingkuh terpaksa menerima tawaran suaminya. Yaitu hamil dengan pria pilihan suaminya agar bisa punya anak. Anak itu akan di jadikan senjata bagi suaminya untuk mendapatkan warisan kakeknya. Suaminya tidak pernah mau menyentuh Airin karena selama ini dia selingkuh dengan wanita simpanannya. Tak di sangka pria pilihan suaminya itu ternyata mahasiswanya sendiri. Perhatian Fikar lama-lama membuat Airin terjebak dalam dilema cinta segitiga.
View MoreMy name was never on the building, but my fingerprints were everywhere.
Oscar and I met in college, when ambition tasted like cheap coffee and borrowed textbooks. We were twenty—dreaming recklessly, believing love and hard work could carry us anywhere. He had vision. Big, dazzling ideas. I had precision. I knew how to turn those ideas into something banks, investors, and city councils would trust. We grew together. Or so I believed. Seven years later, we were twenty-seven, billionaires in the headlines, engaged in theory—and still waiting on a wedding Oscar kept postponing. There was always a reason. After the next funding round. After the next acquisition. After the market stabilizes. I told myself patience was love. That timing mattered. That my future wasn’t being delayed—it was being protected. While Oscar sold dreams, I built foundations. When the company was young and desperate for cash, banks wouldn’t lend and investors laughed us out of rooms. That was when I stepped in. I used my own savings. My inheritances. Every dollar I had. I bought distressed properties when the market was low, quietly, strategically. The contracts went under my name. Not the company’s. Not Oscar’s. Mine. I told myself it didn’t matter. We were building a life together. What was mine was his. What was his was ours. Those properties became the backbone of the real estate empire. Entire developments grew from assets I personally financed. Oscar knew this. He signed off on it. He thanked me—privately. Publicly, the credit was always his. I didn’t fight it. I loved him. That belief cracked the day he congratulated Amelie for my work. She stood beside him in the boardroom, polished and perfectly composed, accepting praise for an acquisition model I had finished at three in the morning—one tied to properties legally owned by me. I waited for Oscar to correct it. He didn’t. “I built that model,” I said calmly when the room fell silent. “The expansion strategy too.” Oscar smiled, but something behind his eyes shut down. “Let’s talk later,” he said. Later never meant resolution. It meant avoidance. That afternoon, he summoned me to his office. Amelie was already there, seated comfortably—too comfortably. “She’s been doing your work,” Oscar said, folding his arms. “While you’ve been… distracted.” My chest tightened. “What are you talking about?” I asked. Amelie tilted her head, wearing concern like perfume. “I didn’t want to say anything,” she said softly. “But I’ve been covering for Amber for weeks. She’s been leaving early. Taking calls. Meeting someone.” I looked at Oscar. “You know that’s not true,” I said. “You know who built this company. You know whose money kept it alive when it couldn’t afford its own properties.” His jaw clenched. “I know what I’ve been told.” Seven years. Seven years, and he chose the easiest lie. “I want you to apologize,” he said. “Publicly. Tomorrow. Admit you lied and thank Amelie for stepping up.” “And if I don’t?” I asked quietly. His eyes hardened. “Then you’re fired.” Fired. From a company standing on properties legally owned by me. By the man who had delayed marrying me while standing on my investments. I waited for panic. For the urge to fix things—like I always did. Instead, clarity settled in. “No,” I said. Oscar frowned. “No?” “I won’t apologize for work I did. I won’t give credit for assets I paid for. And I won’t stay engaged to a man who spent seven years postponing a future while taking credit for my sacrifices.” Slowly, deliberately, I removed the ring from my finger. I placed it on his desk. “It’s over,” I said. “The job. The engagement. All of it.” “Amber,” he warned. “You’re making a mistake.” I turned at the door, calm and certain. “No,” I said softly. “You already did.” And I walked out—twenty-seven years old, my name on the contracts, my money in the foundations, and my future finally my own.Saat Airin pamit ke toilet dia tidak tahu letak toiletnya. Monika pura-pura baik mengantarkan Airin ke toilet. Namun begitu mereka berhenti tepat di depan pintu toilet, langkah Monika mendadak terhenti. Senyum di wajahnya memudar, digantikan sorot mata dingin yang tak lagi berusaha disembunyikan."Kamu pikir dengan punya anak dari Fikar kamu bisa jadi Nyonya di sini!" sindir Monika.Monika melangkah lebih dekat, suaranya direndahkan namun justru semakin menusuk.“Jangan bermimpi terlalu tinggi. Kamu cuma perempuan yang datang membawa masa lalu. Istana ini bukan tempatmu.”Airin menelan ludah. Ia menatap Monika dengan tajam. "Kupikir kau nenjadi istri Tuan Ghani itu tulus. Nyatanya yang kau ributkan hanya posisimu. Aku jadi sanksi apakah kamu mencintai Tuan Ghani atau tidak."Monika tidak menyangka Airin berani menjawabnya dengan perkataan yang pedas. Airin orang baru, tapi berani mengatainya.Amarah Monika bergejolak. Rahangnya mengeras, matanya menyipit penuh kebencian.“Berani sekal
"Kita mau kemana Ma?" tanya Varo yang sudah berpakaian rapi."Mama juga tidak tahu Sayang. Kata Papa ini kejutan," ucap Airin melirik suaminya di samping. Sementara sopir pribadinya fokus menyetir.Varo terpesona ketika mobilnya memasuki halaman yang luas dan taman indah.Matanya langsung disuguhi hamparan taman indah dengan pepohonan rindang dan bunga-bunga berwarna cerah yang tertata rapi. Ia menoleh ke kanan dan kiri, tak mampu menyembunyikan rasa kagumnya."Rumah ini seperti istana. Memangnya ini rumah siapa Pa?" tanya Varo.Fikar tersenyum tipis. "Rumah ini rumah kakeknya Varo. Dulu Papa besar di sini."Airin terkesiap mendengar pernyataan Fikar. Berarti Fikar sudah jadi anak orang kaya sejak dulu. Lalu kenapa dia memilih hidup di luar sebagai mahasiswa biasa waktu itu? Berbagai pertanyaan muncul di benaknya.Fikar menggenggam tangan Airin. Pelan tapi cukup membuyarkan lamunannya. "Bersiaplah, kita sudah sampai," ucap Fikar.Airin bingung, Fikar tidak mengatakan dari awal kalau ak
Kejadian yang menimpa Airin membuat Fikar gerah. Kalau di biarkan berlanjut terus-terusan Airin yang akan jadi korban gosip. Fikar tidak mau terkena musibah lagi."Umumkan semua divisi berkumpul di ruang utama!" perintah Fikar."Baik Pak."Tak lama kemudian, sebuah pengumuman mendadak tersebar ke seluruh divisi. Seluruh karyawan diminta berkumpul di aula utama. Suasana kantor yang biasanya sibuk berubah tegang dan penuh tanda tanya.Fikar berdiri di depan, wajahnya dingin dan berwibawa. Airin berdiri di sampingnya, sedikit menunduk, tangannya masih dibalut kompres dingin.“Saya minta perhatian semuanya,” ucap Fikar tegas, suaranya menggema di ruangan. “Hari ini saya perlu meluruskan satu hal penting.”Ia menoleh sekilas ke arah Airin, lalu kembali menatap para karyawan.“Airin bukan hanya karyawan di perusahaan ini. Dia adalah istri saya.”Ruangan langsung riuh. Bisik-bisik terdengar dari berbagai sudut. Wajah-wajah terkejut saling berpandangan, sebagian menoleh ke arah Airin dengan e
"Mas, pintunya belum di tutup, gimana kalau ada orang lewat?" ucap Airin merengsek turun dari pangkuan suaminya. “Tenang saja, Sayang. Ini masih jam istirahat. Lagipula siapa juga yang berani masuk tanpa mengetuk,” ujarnya santai. Airin menghela napas, tetap menarik tangannya hingga lepas. Ia merapikan kerah bajunya yang sedikit kusut, wajahnya memerah. “Aku cuma nggak mau jadi bahan omongan orang kantor,” katanya lirih. Mereka tidak tahu kalau ada satu orang karyawan yang tadinya mau masuk, tidak jadi karena melihat adegan ciuman. "Tidak ku sangka Airin yang kelihatannya polos dan baik itu berani menggoda Pak Fikar," ucap Hilda geleng-geleng kepala dan berbalik pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan kecewa. Ia sudah membayangkan cerita apa yang akan beredar di kantor nantinya. Sekilas ia tersenyum licik. Sementara di dalam ruangan, Fikar berdiri dan menutup pintu rapat-rapat. Ia menatap Airin dengan sorot mata lembut. “Kamu terlalu memikirkan orang lain, Rin. Yang penti
"Papa dari luar sebentar tadi ada pesan dari kantor jadi Papa keluar untuk telepon," jawab Fikar.Tak tega rasanya berbohong pada bocah sekecil Varo. Bocah tampan yang ternyata adalah putra kandungnya sendiri. Fikar menghampiri Varo dan tiba-tiba memeluknya erat.Airin merasa sikap Fikar jadi lebih
Varo sudah sadar, tapi tubuhnya masih tampak lemas. Wajah kecil itu pucat, matanya terbuka setengah, seolah masih berjuang mengembalikan kesadarannya sepenuhnya. Selang infus masih menempel di punggung tangannya. Airin berdiri di sisi ranjang, mengusap lembut rambut Varo sambil menahan haru.“Sayan
“Maaf, Pak… golongan darah Bapak tidak cocok untuk Varo.” Azzam terdiam. “Maksudnya… tidak cocok bagaimana?” nada suaranya berubah. “Tidak bisa menjadi donor langsung, Pak.” Airin ikut diperiksa. Ia mencoba menenangkan diri, berusaha percaya semuanya akan baik-baik saja. Namun saat perawat
Seperti biasa Airin dan Fikar mengantar Varo di sekolah barunya. Sebelum berpamitan Varo sempat cipika cipiki dulu pada papa dan mamanya. Airin tersenyum bahagia sambil mengusap rambut anaknya.“Hati-hati ya, Nak. Jangan lari-lari di halaman sekolah. Dengar kata Bu Guru.”“Iya, Mama.”Lalu Varo be












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.