Share

Bertemu Lagi Tanpa Tangis
Bertemu Lagi Tanpa Tangis
Penulis: Dadar

Bab 1

Penulis: Dadar
Di kehidupan sebelumnya, Manolia juga begitu. Dia dibujuk orang tua untuk pergi, tetapi dirinya tidak rela. Dia berkali-kali menjelaskan pada Wendrino, orang yang dicintai Wendrino seharusnya adalah Manolia sendiri. Berkali-kali Manolia memohon pada orang tua untuk mengatakan yang sebenarnya, membujuk mereka agar tidak membiarkan kakaknya, Yusvina, menggantikan dirinya. Namun semua itu hanya berakhir dengan kebencian Wendrino yang makin dalam.

Bahkan, saat Manolia hampir meninggal karena kecelakaan mobil, pria itu dengan dingin berkata ke perawat di telepon, "Dia lagi main sandiwara apa sekarang? Katakan padanya, jangan datang mengacaukan pernikahan aku dan Yusvina."

Manolia akhirnya meninggal di meja operasi, menatap di layar TV pernikahan yang disiarkan secara global. Dia melihat Wendrino dengan lembut memasangkan cincin pada Yusvina, menyaksikan mereka menerima restu semua orang ....

Karena Yang Maha Kuasa memberinya kesempatan hidup kembali, kali ini, dia tidak akan lagi bersikap rendah diri.

"Baik, aku pergi." Dia meraih tiket pesawat, suaranya tenang, tak seperti biasanya.

Melihat Manolia setuju dengan begitu tegas, Pak Antonio dan Bu Yuresha tercengang.

"Manolia, kamu benar-benar setuju pergi? Jangan-jangan nanti mau merusak pernikahan kakakmu lagi?!"

Merusak?

Sungguh lucu, Wendrino memang seharusnya miliknya.

Namun orang tua secara paksa merampasnya dan memberikannya pada kakaknya.

Lebih dari dua puluh tahun lalu, Yusvina didiagnosis leukemia. Tanpa rasa bimbang, orang tuanya pun memutuskan untuk punya anak lagi, sehingga dirinya dilahirkan.

Darah tali pusatnya menyelamatkan nyawa kakaknya, tetapi sejak itu dia hidup di bayang-bayang kakaknya.

Karena Yusvina lemah dan sering sakit, orang tuanya memberikan semua kasih sayang padanya.

Sejak kecil, Manolia selalu mengalah. Menyerahkan kamar yang seharusnya miliknya, juga teman bergaul, hingga tempatnya di kompetisi ....

Hanya satu hal yang tidak akan dia relakan, yaitu pemuda yang dicintainya pada pandangan pertama, pewaris Keluarga Sarion, Wendrino.

Dulu Wendrino adalah anak emas yang merupakan kebanggaan keluarga. Namun setelah pesta ulang tahun, dirinya mengalami kecelakaan mobil dan kehilangan penglihatan, sehingga dia ditinggalkan keluarganya di vila pinggiran kota.

Manolia diam-diam mencuri kunci, setiap pulang sekolah memanjat pagar untuk menemaninya.

"Aku akan datang setiap hari."

Dalam kegelapan, suara gadis yang manis itu menjadi satu-satunya penyelamat Wendrino.

Manolia tidak pernah menyebutkan namanya, hanya menulis di telapak tangannya, "Panggil aku Kiki."

Wendrino yang buta meraba-raba untuk menyisir rambut wanita itu, memainkan piano untuknya. Dia bahkan memberikan kehangatan dengan melekatkan tangan dingin gadis itu ke dadanya pada malam badai.

Malam sebelum operasi, pemuda itu mencium ujung jari Manolia sambil berjanji, "Nanti kalau mataku sembuh, yang pertama ingin kulihat adalah kamu, saat itu kita akan bersama, oke?"

Operasi berlangsung selama dua belas jam.

Namun ketika Wendrino bangun, orang pertama yang dilihatnya adalah Yusvina.

Hanya karena Pak Antonio dan Bu Yuresha, setelah mengetahui Yusvina juga menyukai Wendrino, diam-diam menaruh obat tidur di air Manolia, membuatnya tertidur selama satu hari semalam.

Kemudian, mereka berbohong menyatakan bahwa orang yang selama ini menemaninya adalah Yusvina, sehingga Yusvina bisa menggantikan Manolia.

Wendrino tidak curiga, dan dari pacaran hingga bertunangan, mereka sangat mesra.

Selama tiga tahun, Manolia menjelaskan berkali-kali bahwa yang menemaninya adalah dia, yang seharusnya dicintai adalah dia, tetapi si pria tidak percaya.

Hingga kematiannya.

Melihat orang tua kandungnya di depan mata, Manolia merasa semua ini sungguh lucu. "Sebelumnya kalian terus memintaku pergi, sekarang aku setuju, kalian masih tak percaya? Nggak merasa anehkah?"

"Bukan begini maksud kami. Kalau kamu mau pergi, itu yang terbaik. Dua minggu lagi berangkatlah ke Omaria. Selama ini kamu bisa mengemas barang dan menyelesaikan urusanmu."

Khawatir Manolia akan berubah pikiran, Pak Antonio dan Bu Yuresha buru-buru mengingatkan beberapa hal, lalu melangkah pergi dengan gembira.

Manolia kembali ke kamarnya.

Begitu menutup pintu, ponselnya bergetar.

Pesan dari Wendrino:

[Jam delapan malam, datang ke Hotel Celesta, 1808.]

Manolia menatap pesan itu, jari-jarinya sedikit menegang.

Di kehidupan sebelumnya, saat menerima pesan ini, girangnya tak terkira, mengira si pria akhirnya mau mendengar penjelasannya. Namun ternyata Wendrino sengaja memanggilnya untuk melihat dia dan Yusvina tidur bersama, agar dia tidak lagi berharap.

Saat itu dia menangis dengan histeris, sementara Wendrino hanya dengan nada dingin berkata, "Sudah jelas, 'kan? Yang aku suka hanyalah kakakmu."

Sekarang kalau dipikir-pikir, sungguh lucu.

Manolia menarik napas dalam-dalam, membalas: [Baik.]

Jam delapan malam, Manolia tiba tepat waktu di hotel.

Pintu kamar 1808 tidak terkunci, Wendrino memeluk Yusvina, keduanya berhadapan, tanpa sehelai benangpun di tubuh mereka.

Di sekeliling berserakan banyak kondom bekas, kamar dipenuhi gairah.

Melihat Manolia berdiri di luar, Yusvina menjerit.

Wendrino menundukkan kepala dan mengecup tulang selangkanya dengan ciuman kecil bertubi-tubi, suaranya lembut dan dalam.

"Jangan takut, aku sengaja memanggilnya, agar dia tahu orang yang aku suka adalah kamu, jadi dia nggak akan punya pemikiran yang salah tentangku, menyadari aku hanya akan menjadi kakak iparnya."

Manolia yang telah hidup kembali, ketika melihat adegan ini untuk kedua kalinya, hatinya masih terasa seperti ditusuk habis-habisan, darah mengucur, sakit tak tertahankan.

Akan tetapi, dirinya harus terbiasa!

Karena selanjutnya, Wendrino hanya akan menjadi kakak iparnya.

Entah sudah berapa lama, Manolia melepaskan tangan yang dicengkeramnya hingga penuh bekas kuku, dan melihat Wendrino yang sudah berpakaian rapi berjalan ke arahnya.

"Sudah jelas, 'kan? Yang aku suka hanyalah kakakmu. Ingat posisimu, aku kakak iparmu, jangan lagi melakukan hal memalukan seperti sebelumnya!"

Wajah Manolia tak menampilkan emosi sama sekali.

"Sudah jelas, juga sudah mengerti."

Wendrino terkejut, sepertinya tidak menyangka wanita ini akan begitu tenang.

Beberapa saat kemudian, dia mengambil undangan dari sisi tempat tidur, lalu menyerahkannya kepada Manolia. "Bulan depan aku dan Yusvina menikah, kuharap kamu bisa datang."

Sambil menerima undangan Manolia menyahut, "Aku akan hadir tepat waktu. Semoga kalian bahagia selamanya."

Wendrino menatap wajah wanita itu, alisnya sedikit berkerut.

Entah mengapa, hari ini Manolia begitu patuh.

Namun pria itu tidak bertanya apa pun, menggandeng Yusvina keluar dari hotel, sementara Manolia mengikuti dengan langkah berat.

Manolia menunduk dengan pikiran melayang, tiba-tiba terdengar teriakan keras di samping.

Detik berikutnya, papan lampu raksasa di atas kepala jatuh menimpa.

Wendrino secara naluriah melindungi Yusvina dan melangkah mundur, sehingga selamat dari musibah.

Hanya Manolia yang tertinggal di tempat, tertimpa papan, tubuh penuh darah, terkapar di tanah.

Rasa sakit datang seperti gelombang pasang, merobek sarafnya, membuatnya gemetar dalam genangan darah.

Air matanya bercucuran, mengaburkan pandangannya. Dia menatap sosoknya yang melindungi Yusvina, lalu menutup mata.

Pemuda yang hatinya hanya untuk dirinya itu tidak akan kembali lagi.

Dan Manolia ... akhirnya bisa benar-benar melepaskan segalanya.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 24

    Sejak saat itu, Manolia tidak pernah lagi melihat Wendrino.Dia hanya mendengar bahwa pria itu menjual perusahaannya, dan sejak itu tidak ada lagi yang mengetahui keberadaannya.Pak Antonio dan Bu Yuresha kemudian juga pernah mencoba menghubunginya, tetapi Manolia tidak mengatakan apa pun. Dia hanya mengirim kembali surat pemutusan hubungan orang tua–anak yang dulu mereka kirimkan kepadanya.Kalau dibilang tidak tersentuh tentu tidak mungkin, tetapi Manolia juga tidak berniat lagi memiliki hubungan apa pun dengan mereka.Bagaimanapun, bagi dirinya semua itu sudah menjadi hal yang sangat lama sekali.Setahun kemudian, Manolia memiliki sebuah studio kecil miliknya sendiri.Dia juga memiliki beberapa teman baik yang mempunyai cita-cita yang sama.Dibandingkan saat dulu bekerja di perusahaan, dia merasa lebih lelah.Walau begitu, dia telah mewujudkan mimpi yang dulu pernah dia miliki.Di dalam hatinya hanya terasa kepuasan yang tak terbatas.Pada hari pertama studio itu berdiri, seperti bi

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 23

    Setelah kembali dari supermarket, hujan sudah benar-benar berhenti.Manolia dan Levario membawa satu kantong besar bahan makanan dan berjalan santai di jalan.Terasa sangat menyenangkan.Tiba-tiba sebuah sosok yang sangat dikenal muncul di depan mata Manolia di bawah gedung apartemen.Senyum di sudut bibir Manolia perlahan menghilang.Dia sama sekali tidak menyangka itu adalah orang yang paling ingin menemukannyaOrang itu adalah Wendrino.Rupanya Wendrino benar-benar datang mencarinya sampai ke sini.Levario yang berpikiran tajam tentu juga menyadari ada yang tidak beres pada Manolia. Dia melirik Wendrino yang tidak jauh dari sana, lalu secara refleks berdiri di depan Manolia melindunginya.Sebelum melihat Manolia, hati Wendrino sebenarnya penuh harapan.Namun ketika melihat ada seorang pria di sampingnya, wajah Wendrino langsung menjadi suram.Setelah mendekat dan melihat jelas wajah Levario, Wendrino menjadi murka.Dia segera melangkah, dengan cepat mendekat, dan Levario yang menyad

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 22

    Beberapa hari ini Wendrino selain mencari keberadaan Manolia, dia juga kembali dan tinggal di tempat yang dulu pernah dia huni.Karena dia adalah anak yang dibuang oleh Keluarga Sarion, tempat tinggalnya tentu tidak terlalu baik.Bahkan terkadang atap rumah sampai bocor ketika hujan, membuat seluruh ruangan menjadi lembap.Meskipun begitu, Wendrino sangat suka berada di tempat ini, karena ada jejak aroma Manolia.Itu membuat hatinya yang gelisah bisa mendapatkan sedikit ketenangan.Dia memandang perabotan di dalam kamar. Di dalam hatinya ada perasaan yang begitu akrab sekaligus asing. Dia merasa akrab karena keberadaan Manolia membuatnya merasa sangat hangat. Merasa asing karena sebelumnya dia sama sekali tidak bisa melihat.Satu-satunya yang membuatnya bisa merasakan adalah bimbingan sabar Manolia yang terus-menerus.Bisa dikatakan bahwa wanita itu adalah harapan dalam kehidupan gelapnya.Perasaan suka Wendrino terhadapnya bukan hanya sebatas cinta antara pria dan wanita, lebih banyak

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 21

    Setelah menyelesaikan urusan Yusvina dan kedua orang tuanya, Wendrino tampaknya masih belum puas.Bagaimanapun, Manolia sekarang sudah bukan lagi milik keluarga Yanata, tentu saja Wendrino bisa membalas dendam pada Keluarga Yanata sepuasnya.Wendrino memerintahkan orang-orangnya memanfaatkan ketidakhadiran anggota Keluarga Yanata, mulai membeli banyak saham Grup Yanata dan mulai mengontrol jumlah pesanan perusahaan.Karena harga terlalu murah, perusahaan milik Keluarga Yanata akhirnya diboikot oleh banyak perusahaan.Dengan cepat perusahaan itu dijauhi oleh industri ini.Namun itu masih belum cukup, Wendrino juga sengaja memberitahukan kabar ini kepada tiga orang di ruang bawah tanah.Pak Antonio sangat terpukul dan segera pingsan, sementara Bu Yuresha juga sibuk berjalan kian kemari dengan kewalahan.Bagaimanapun, perusahaan Keluarga Yanata sudah menguras banyak tenaga dan usaha dari suami istri itu.Satu-satunya yang tidak peduli adalah Yusvina.Begitu melihat Wendrino, wanita itu te

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 20

    Setibanya mobil di vila Keluarga Sarion, Yusvina masih bingung kenapa hari ini tidak ada yang membantunya membuka pintu mobil.Dia terpaksa melepaskan satu tangan yang memegang tas untuk membuka pintu mobil dan turun.Tiba-tiba sebuah tenaga dari luar menyeretnya begitu saja.Matanya segera ditutup dengan kain hitam tebal.Ketakutan yang luar biasa mencekam hatinya.Yusvina secara naluriah berteriak, "Siapa kalian?! Lepaskan aku!""Aku adalah istri Wendrino, siapa pun yang berani menyentuhku akan menyesal!"Suaranya tinggi dan halus.Pria yang mengikat tangannya tak tahan, menendang betisnya dan berkata dengan kejam, "Diam! Kalau ingin hidup, bersikaplah baik!"Mendengar itu, Yusvina berhenti berteriak dan tidak berani bersuara lagi.Entah sudah berapa lama.Yusvina hanya menyadari dirinya dibawa ke tempat yang kedap udara, bahkan udara di sekitarnya terasa tipis.Wendrino kemudian berjalan mendekat dan menyingkap kain hitam di mata Yusvina.Yusvina secara naluriah mundur."Kenapa? Beg

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 19

    "Pak Wendrino, ini dokumen yang sebelumnya Anda minta aku selidiki."Asistennya meletakkan map dokumen di atas meja.Wendrino membukanya, terlihat lembaran tagihan rumah sakit saat itu.Tercatat dengan jelas bahwa saat Yusvina berusia tiga tahun, dia tiba-tiba sakit parah dan membutuhkan sel darah tali pusat secara darurat agar nyawanya bisa diselamatkan.Kelahiran Manolia tidak lain adalah untuk Yusvina.Wendrino meremas dokumen itu dengan tangan yang sedikit menegang.Dia selalu bingung dengan keberpihakan Pak Antonio dan Bu Yuresha, tetapi tidak pernah terlintas di benaknya tentang hal ini.Di dalam dokumen juga terdapat sebuah ponsel yang tampak sudah agak rusak.Wendrino mengenalinya, itu adalah ponsel yang pernah dipakai oleh Manolia.Asisten melalui catatan panggilan berhasil menemukan lokasi terakhir kartu SIM-nya.Kemudian menyerahkannya ke tim teknisi untuk memulihkan data.Barulah dokumen itu berada di tangan Wendrino.Dia menatap layar kunci dengan empat digit sandi ponsel,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status