Short
Kematian Putranya, Akhir Pernikahannya

Kematian Putranya, Akhir Pernikahannya

By:  WhittyCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9.23
33 ratings. 33 reviews
21Chapters
77.8Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Setelah putranya meninggal, Laras mengubah semua kebiasaannya yang dibenci Benny. Laras tidak mengawasi keberadaan Benny lagi. Saat Benny tidak pulang semalaman, dia juga tidak menangis atau membuat keributan lagi. Bahkan saat mengalami kecelakaan mobil dan dokter memintanya menghubungi keluarganya, dia juga hanya menjawab dengan tenang, "Aku yatim piatu, nggak punya keluarga."

View More

Chapter 1

Bab 1

Setelah putranya meninggal, Laras mengubah semua kebiasaannya yang dibenci Benny.

Laras tidak mengawasi keberadaan Benny lagi. Saat Benny tidak pulang semalaman, dia juga tidak menangis atau membuat keributan lagi. Bahkan saat mengalami kecelakaan mobil dan dokter memintanya menghubungi keluarganya, dia juga hanya menjawab dengan tenang, "Aku yatim piatu, nggak punya keluarga."

Namun, perawat itu tetap mengenali Laras. "Kamu Nyonya Laras, 'kan? Pak Benny ada di lantai atas, perlu aku panggilkan dia turun?"

Saat itu, Laras baru sadar rumah sakit ini milik Keluarga Nugroho. Dia menggelengkan kepala, lalu berkata dengan pelan bahwa itu tidak perlu.

Namun, setengah jam kemudian, Benny tetap turun dari lantai atas. Dia hanya mengernyitkan alisnya sedikit dengan dingin, tetapi itu sudah membuat orang merasa tertekan sampai sulit bernapas. "Kamu kecelakaan mobil, kenapa nggak menghubungiku?"

Laras menundukkan kepala. "Cuma patah kaki saja, bukan masalah besar."

Nada bicara yang santai itu membuat Benny tiba-tiba merasa gelisah. Di benaknya, jelas-jelas Laras adalah orang yang sangat manja. Saat dulu mereka berpacaran, Laras sudah akan meringkuk di pelukannya untuk minta dibujuk, dicium, dan dipeluknya padahal hanya terkena flu ringan. Namun sekarang, kaki Laras sudah patah, Laras malah tidak mengernyitkan alis sedikit pun.

Benny baru saja ingin mengatakan sesuatu, tetapi tiba-tiba terdengar bisikan perawat dari luar pintu. "Pak Benny benar-benar memanjakan Bu Yanti. Lututnya hanya lecet sedikit, tapi Pak Benny sudah sangat panik. Bukan hanya panggil banyak ahli untuk memeriksanya, dia juga terus menemani di sisinya. Ke mana pun Bu Yanti pergi, dia akan menggendongnya. Nggak biarkan kakinya menyentuh lantai."

Dia langsung merasa tegang dan ekspresinya terlihat marah. Namun, dia secara refleks melirik ke arah Laras dengan sudut matanya, seolah-olah menunggu Laras merasa cemburu dan marah.

Namun, Laras bahkan tidak mengangkat kelopak matanya, hanya tetap menundukkan kepala dan berbaring di ranjang rumah sakit untuk beristirahat.

Suasana hati Benny menjadi makin buruk. Dengan ekspresi muram, dia menjelaskan, "Jangan dengarkan omongan mereka. Yanti terbentur lututnya saat syuting, aku hanya kebetulan mengantarnya ke rumah sakit."

Laras hanya mengiakan dengan tenang, lalu tidak berkata apa-apa lagi.

Melihat itu, Benny tiba-tiba merasa kesal, "Kamu nggak percaya padaku ya?"

Laras tetap menjawab Benny, hanya saja jawabannya itu tidak berasal dari hatinya lagi. "Aku percaya padamu. Yanti itu adik angkatmu. Kalian punya hubungan saudara, wajar saja kalau kamu peduli padanya."

Dulu, Benny selalu menegur Laras dengan ekspresi dingin, "Yanti itu adikku, aku nggak mungkin nggak mengurusnya. Kami ini saudara, bisa nggak kamu berhenti membuat masalah?"

Kini, Laras benar-benar bertindak seperti yang diinginkan Benny, tidak menangis lagi dan tidak membuat keributan juga. Dia seharusnya merasa senang, tetapi hatinya malah terasa sesak. Tidak benar, semua ini tidak benar ....

Saat itu, seorang perawat tiba-tiba mendorong pintu dan masuk. "Pak Benny, Bu Yanti bilang lututnya sakit. Kamu cepat naik dan lihatlah."

Benny yang sedang merasa kesal langsung membentak, "Kalau lututnya sakit, ya cari dokter. Aku juga bukan dokter, untuk apa suruh aku naik."

Perawat itu pun mundur keluar.

Benny menatap Laras dengan tatapan penuh rasa bersalah. "Laras, kamu masih sedih karena urusan anak kita ya? Soal itu, Yanti memang salah. Aku sudah menghukumnya."

Dia terdiam sejenak, lalu berjalan perlahan-lahan dan duduk di samping tempat tidurnya Laras. Dia menggenggam tangan Laras dan berkata, "Nanti kita masih bisa punya anak lagi. Bagaimana kalau begini? Minggu ini aku akan selalu menemanimu."

Namun, Laras diam-diam menarik tangannya kembali dari genggaman Benny.

Benny mengernyitkan alis dan baru saja hendak marah, tetapi tiba-tiba terdengar suara gaduh dari arah pintu. Ternyata Yanti yang bertumpu pada tongkat terjatuh di depan pintu kamar Laras.

Dia segera berlari menghampiri dan mengangkat Yanti. "Kenapa kamu berkeliaran lagi? Bukannya aku sudah menyuruhmu istirahat di tempat tidur?"

"Aku dengar Kakak Ipar kecelakaan mobil. Aku datang menjenguknya," kata Yanti dengan menyedihkan.

Setelah itu, Yanti tiba-tiba meringkuk ke dalam pelukan Benny seolah-olah Laras telah menindasnya. Dia menatap Laras dan berkata dengan suara tersekat, "Kakak Ipar, jangan marah padaku. Aku nggak sengaja buat Jack meninggal."

Jika ini terjadi di masa lalu, Laras pasti akan hancur dan berteriak. Bahkan menangis sambil mempertanyakan mengapa Benny melindungi wanita yang sudah menyebabkan kematian anak mereka.

Namun sekarang, Laras malah tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya memejamkan mata dan berbaring di ranjang, seolah-olah sudah tertidur. Wajahnya pucat dan tubuhnya juga sangat kurus. Dari kejauhan, dia terlihat sangat rapuh.

Melihat itu, hati Benny tiba-tiba terasa sakit. Dia pun menurunkan volume suaranya. "Aku antar Yanti ke atas dulu, nanti aku kembali menemanimu."

Setelah itu, Benny menggendong Yanti dan pergi. Sampai larut malam pun, dia tidak kembali ke kamar pasiennya Laras lagi.

Sebaliknya, pihak biro penerbangan menelepon Laras, "Profesor Laras, kamu yakin mau bergabung dalam Proyek Tangga Menuju Bulan milik Biro Penerbangan? Ini adalah proyek rahasia tingkat negara. Begitu bergabung, kamu harus tinggal di Pangkalan Penerbangan selama puluhan tahun. Selama itu, kamu harus terputus sepenuhnya dari dunia luar. Kamu bahkan nggak boleh menghubungi suamimu."

Laras berkata dengan tenang, "Yakin. Tenang saja, aku sudah mengajukan perceraian. Seminggu lagi masa tenang perceraian akan berakhir, aku akan mendapatkan surat cerai dan jadi orang bebas tanpa ikatan. Proyek yang terisolasi dari dunia luar ini sangat cocok untukku."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ratings

10
88%(29)
9
0%(0)
8
3%(1)
7
0%(0)
6
3%(1)
5
0%(0)
4
0%(0)
3
0%(0)
2
0%(0)
1
6%(2)
9.23 / 10.0
33 ratings · 33 reviews
Write a review

reviewsMore

gabie
gabie
wowowowowowowow
2026-07-19 06:46:51
0
0
Caca Asmara
Caca Asmara
ceritanya bagus, gak terlalu panjang, jadi gak gampang bosen
2026-06-19 11:13:13
1
0
Nur Aisa
Nur Aisa
kenapa tdk bisa pakai koin ya untuk buka cerita cerpen ini, tapi klo saya baca novel lain ada buka kunci pakai koin tapi klo disini tdk. kenapa ya?
2026-06-17 11:34:40
5
1
Sri Ayu Wahyuni
Sri Ayu Wahyuni
akun kok agak lain ya.. kenapa ga bsbaca episode lanjutn̈ya. padahal uda aq isi ulang dan uda langganan. tp khusus cerita ini aja
2026-06-15 01:42:05
6
0
Hasrat Haratiyanti Meha
Hasrat Haratiyanti Meha
suka alur ceritanya
2026-06-13 23:13:29
1
0
21 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status