INICIAR SESIÓNPada hari jadi pernikahanku yang ketujuh dengan Ivan, aku menunggu di depan satu meja penuh makanan yang sudah dingin hingga fajar. Keesokan harinya, justru kulihat dia yang seharusnya sedang menghadiri jamuan, muncul di berita utama sambil menggandeng cinta lamanya, Isabella. Aku pun membalik meja, membakar ruang kerjanya, dan dengan mata memerah menghancurkan pesta penyambutan Isabella. "Kembali. Jangan temui dia." "Kalau nggak, kita cerai." Namun dia bahkan tidak bereaksi sedikit pun. Sampai Isabella begitu ketakutan sehingga pergelangan kakinya terkilir. Untuk pertama kalinya, kekhawatiran muncul di mata Ivan, dan dia memarahiku, "Sudah cukup belum kamu membuat keributan?" Aku tertegun lama, lalu akhirnya melemparkan selembar perjanjian cerai ke wajahnya. "Kita cerai." Ivan menandatangani dengan asal-asalan, lalu membungkuk memijat pergelangan kaki Isabella. Aku berbalik dan pergi. Ada yang menebak, apakah kali ini aku benar-benar serius. Ivan mencibir dingin. "Bagus kalau benar pergi. Tujuh tahun pakai cara yang sama, dia nggak bosan, aku pun sudah muak." Angin dingin menerpa dada, aku menggenggam erat tiket pesawat. Sesuai keinginannya ... kali ini aku benar-benar melepaskannya.
Ver másMelihat bagaimana Ivan bersumpah dengan penuh keyakinan, aku hanya mengajukan satu pertanyaan."Apa kamu mencintaiku?"Aura di sekitar Bryan terasa makin dingin, dia menatapku dengan sedikit tegang.Aku pelan menyentuh punggung tangannya sebagai penenang.Ivan pun tertegun sejenak, lalu menjawab dengan tegas, "Aku mencintaimu!"Ekspresiku tetap tenang, aku bertanya lagi, "Apa kamu mencintai Isabella?"Ivan ragu, alisnya menunjukkan kebingungan."Linda, aku ditipu olehnya, aku mencintaimu. Terhadap dia ... aku nggak punya perasaan."Aku perlahan tersenyum tipis. "Ivan, kamu berbohong."Sebenarnya, terkadang aku lebih memahami Ivan daripada dirinya sendiri.Dia terlihat dewasa, tetapi dalam hal perasaan, justru sangat berbelit.Aku percaya selama tujuh tahun ini dia punya perasaan padaku.Namun dibandingkan dengan yang dia berikan pada Isabella, terlalu sedikit, terlalu tidak berarti."Aku sudah memberimu kesempatan, tapi kamu yang membuat pilihan."Bibir Ivan bergetar.Dia teringat saat
Ivan mengernyit melihat bubur di atas meja.Namun di kepalanya justru terbayang sosok Melinda di dapur, sibuk membuat bubur penyehat lambung untuknya.Suasana hatinya makin buruk."Aku nggak selera makan."Isabella merasakan sikap dingin Ivan, menggigit bibir bawahnya dengan kesal.Masih tak mau menyerah, dia berkata, "Ivan, kematian Melinda memang pantas. Dia ingin membunuhku, dia memang pantas menerima itu!" Ivan tiba-tiba mencekik lehernya, mengertakkan gigi dan berkata, "Tarik kembali ucapan itu! Melinda nggak mati, dan dia nggak mungkin melakukan hal seperti itu."Isabella kesulitan bernapas. "Jangan-jangan kamu benar-benar jatuh cinta padanya? Jangan lupa! Dulu dia yang mengusirku! Kalau nggak, yang bersama seharusnya kita!"Ivan teringat alasan dia dulu tidak mau menanggapi Melinda.Setelah menikah, sebenarnya dia berniat menjalani kehidupan sebagai pasangan biasa dengan Melinda.Namun saat perjalanan dinas ke luar negeri, dia tanpa sengaja bertemu Isabella dan mengetahui sesua
"Bukankah aku baik-baik saja?"Aku berpura-pura santai, tersenyum untuk meredakan suasana.Bryan tiba-tiba menarikku ke dalam pelukannya, nada suaranya bergetar."Mulai sekarang aku nggak akan membiarkan siapa pun merebutmu lagi."Saat ini, Ivan berdiri dengan wajah dingin seperti es, menatap ke arah laut.Tim penyelamat naik satu demi satu.Namun tak satu pun membawa kabar baik.Wajah Shuman terlihat pucat. "Pak Ivan, sudah satu hari satu malam pencarian dilakukan, tapi tetap nggak ada jejak.""Nyonya seolah menghilang begitu saja ... apa mungkin ...."Meski pertolongan datang tepat waktu, bagaimanapun itu laut sedalam puluhan ribu meter.Apa pun bisa terjadi.Kalau sampai bertemu jenis ikan yang buas di laut ....Dia tak berani melanjutkan pikirannya.Wajah Ivan tanpa ekspresi, tetapi lengan yang sedikit gemetar sudah membocorkan kepanikan di lubuk hatinya."Perluas area pencarian, tambahkan personel.""Hidup atau mati pun harus ditemukan ...."Sudah melewati waktu terbaik untuk peny
"Pak Ivan, tim penyelamat sudah mencari lama, tapi nggak menemukan keberadaan Nyonya!" Mata Ivan sontak membelalak karena marah dan panik. "Apa kamu bilang?"...Dingin.Kedinginan yang menusuk hingga ke tulang.Isabella memelukku dan segera melompat ke laut.Aku hanya sempat mendengar Ivan berteriak memanggil namaku dengan penuh kepedihan.Gendang telinga dipenuhi air laut, lalu yang tersisa hanya detak jantung di tengah kesunyian.Di kejauhan, sebuah sosok berenang ke arahku, naluri untuk hidup membuatku tanpa sadar mengulurkan tangan.Saat ujung jari hampir bersentuhan, terdengar teriakan Isabella dari kejauhan.Ivan terdiam sejenak, lalu dengan tegas berbalik dan berenang ke arah Isabella.Tanganku tidak bisa meraih apapun, dan punggung Ivan seolah bertumpuk dengan bayangan tujuh tahun lalu.Musim dingin itu, saat aku tahu harus menerima perjodohan keluarga dengan seorang bos yang tujuh belas tahun lebih tua dariku.Aku bersembunyi di atap gedung, menangis diam-diam untuk waktu yan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.