Share

Bab 8

Penulis: Dadar
Manolia tidak menyangka dirinya masih bisa hidup.

Dia mencium bau antiseptik, terdiam cukup lama sebelum perlahan-lahan sadar.

Dokter memeriksa tubuhnya, nada suaranya menyiratkan sedikit kelegaan.

"Kami menyelamatkanmu selama belasan jam, baru berhasil menarikmu kembali dari ambang kematian. Untunglah kamu sudah sadar."

Mendengar kata-kata itu, mata Manolia bergetar, suaranya serak.

"Terima kasih sudah menyelamatkanku."

Dokter mengangguk, menatapnya, ingin berkata tetapi terhenti.

"Waktu itu yang membawa kamu ke rumah sakit ... apa orang tua kandungmu?"

Bibir Manolia bergerak sedikit, lalu terdiam.

Melihat ekspresinya, dokter tak berani bertanya lagi, menghela napas, dan pergi.

Selama dua hari berikutnya, Manolia tinggal sendiri di rumah sakit, tetap tidak ada seorang pun yang menjenguk.

Hingga hari keluar rumah sakit, Pak Antonio dan Bu Yuresha datang, juga bukan untuk menanyakan kondisi kesehatannya, tetapi sekadar mengingatkan, "Besok adalah hari pernikahan kakakmu, karena kamu sudah berjanji akan pergi, sebaiknya besok sebelum pernikahan, tinggalkan tempat ini."

Mendengar nada mereka yang seakan sudah menjadi hal yang wajar, Manolia hanya mengangguk.

Melihat dia begitu patuh, wajah Pak Antonio dan Bu Yuresha barulah sedikit melunak.

"Demi kebahagiaan kakakmu, biarlah. Nanti kalau hubungan mereka stabil, sudah punya anak, kita akan menjemputmu kembali untuk berkumpul. Uang sudah kami transfer ke kartumu, jaga dirimu baik-baik di luar negeri."

Setelah memberi nasihat itu, keduanya sibuk merawat Yusvina, lalu bergegas pergi.

Manolia menatap punggung mereka, dari kantong dia mengeluarkan tiket pesawat ke Iveria, Omaria, lalu merobeknya berkeping-keping.

Kemudian, dia mengambil ponsel, memesan tiket ke benua Averona.

Dia akan memenuhi keinginan mereka, merestui hubungan kedua orang itu.

Hanya saja, dengan meninggalkan dunia mereka, sehingga mereka tidak akan pernah bisa menemukannya.

Setelah keluar dari rumah sakit, Manolia menemui seorang pengacara dan menyusun surat pernyataan pemutusan hubungan orang tua–anak.

Dia pun menandatangani namanya dengan sungguh-sungguh di atasnya, lalu memasukkan perjanjian itu ke dalam kotak.

Bersamaan dengan itu, juga dimasukkan kaset rekaman saat dia diam-diam merekam Wendrino menceritakan cerita untuknya di rumah lama.

Dia pernah berkali-kali mencoba memberikannya kepada pria itu, tetapi Wendrino tidak pernah mau mendengarkan, bahkan tidak memberi waktu satu menit pun.

Kini, karena telah memutuskan untuk pergi, Manolia berencana membuang semua itu.

Apakah pria itu mau mendengar atau tidak, sama sekali tidak ada hubungannya lagi dengan Manolia.

Bagaimanapun, Manolia akan benar-benar menghilang, tak akan pernah ditemukan siapa pun.

Malam itu, di lantai bawah, suasana sibuk persiapan pernikahan tidak berhenti.

Manolia tidak bisa tidur nyenyak.

Dia bangun lebih awal, sarapan, lalu memasukkan koper ke bagasi mobil.

Saat hendak berangkat, rombongan pengantar pengantin juga datang.

Dia melihat Wendrino yang berpakaian rapi, berwibawa, mengangguk memberi salam, memanggilnya "kakak ipar" untuk pertama kalinya.

Dan juga untuk terakhir kalinya.

Wendrino terkejut, menatap mobil di belakang Manolia, mengerutkan alis.

"Kamu nggak perlu menghadiri pernikahan hari ini, tinggal saja di rumah."

Manolia tahu, mereka takut Manolia akan merusak acara jika hadir di pesta pernikahan.

Dia pun menggeleng, menyerahkan hadiah yang sudah dipersiapkan dengan hati-hati, suaranya tenang.

"Aku nggak datang untuk menghadiri pernikahan kalian, juga nggak akan mengganggu kebahagiaan kalian lagi. Selamat menempuh hidup baru, selamat menikah, sampai jumpa."

Setelah berkata itu, dia berbalik naik mobil, menutup pintu.

Wendrino menatap mobil yang mulai berjalan, jantungnya berdegup kencang.

Dia secara naluriah ingin memanggil Manolia, bertanya ke mana sebenarnya dia akan pergi hari ini.

Namun sebelum sempat bicara, Yusvina muncul dari kamar dengan gaun pengantin putih, memanggilnya, "Wendrino, peluk aku!"

Melalui kaca spion, Manolia melihat pria itu melempar kotak itu begitu saja kepada asistennya, lalu berbalik tersenyum memeluk Yusvina.

Mobil perlahan meninggalkan kompleks vila, dia pun menurunkan jendela, membuang ponselnya ke luar.

Mulai saat itu, Manolia yang lama telah mati ....

Dan Manolia yang baru ... akan memiliki masa depan yang benar-benar baru.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 24

    Sejak saat itu, Manolia tidak pernah lagi melihat Wendrino.Dia hanya mendengar bahwa pria itu menjual perusahaannya, dan sejak itu tidak ada lagi yang mengetahui keberadaannya.Pak Antonio dan Bu Yuresha kemudian juga pernah mencoba menghubunginya, tetapi Manolia tidak mengatakan apa pun. Dia hanya mengirim kembali surat pemutusan hubungan orang tua–anak yang dulu mereka kirimkan kepadanya.Kalau dibilang tidak tersentuh tentu tidak mungkin, tetapi Manolia juga tidak berniat lagi memiliki hubungan apa pun dengan mereka.Bagaimanapun, bagi dirinya semua itu sudah menjadi hal yang sangat lama sekali.Setahun kemudian, Manolia memiliki sebuah studio kecil miliknya sendiri.Dia juga memiliki beberapa teman baik yang mempunyai cita-cita yang sama.Dibandingkan saat dulu bekerja di perusahaan, dia merasa lebih lelah.Walau begitu, dia telah mewujudkan mimpi yang dulu pernah dia miliki.Di dalam hatinya hanya terasa kepuasan yang tak terbatas.Pada hari pertama studio itu berdiri, seperti bi

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 23

    Setelah kembali dari supermarket, hujan sudah benar-benar berhenti.Manolia dan Levario membawa satu kantong besar bahan makanan dan berjalan santai di jalan.Terasa sangat menyenangkan.Tiba-tiba sebuah sosok yang sangat dikenal muncul di depan mata Manolia di bawah gedung apartemen.Senyum di sudut bibir Manolia perlahan menghilang.Dia sama sekali tidak menyangka itu adalah orang yang paling ingin menemukannyaOrang itu adalah Wendrino.Rupanya Wendrino benar-benar datang mencarinya sampai ke sini.Levario yang berpikiran tajam tentu juga menyadari ada yang tidak beres pada Manolia. Dia melirik Wendrino yang tidak jauh dari sana, lalu secara refleks berdiri di depan Manolia melindunginya.Sebelum melihat Manolia, hati Wendrino sebenarnya penuh harapan.Namun ketika melihat ada seorang pria di sampingnya, wajah Wendrino langsung menjadi suram.Setelah mendekat dan melihat jelas wajah Levario, Wendrino menjadi murka.Dia segera melangkah, dengan cepat mendekat, dan Levario yang menyad

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 22

    Beberapa hari ini Wendrino selain mencari keberadaan Manolia, dia juga kembali dan tinggal di tempat yang dulu pernah dia huni.Karena dia adalah anak yang dibuang oleh Keluarga Sarion, tempat tinggalnya tentu tidak terlalu baik.Bahkan terkadang atap rumah sampai bocor ketika hujan, membuat seluruh ruangan menjadi lembap.Meskipun begitu, Wendrino sangat suka berada di tempat ini, karena ada jejak aroma Manolia.Itu membuat hatinya yang gelisah bisa mendapatkan sedikit ketenangan.Dia memandang perabotan di dalam kamar. Di dalam hatinya ada perasaan yang begitu akrab sekaligus asing. Dia merasa akrab karena keberadaan Manolia membuatnya merasa sangat hangat. Merasa asing karena sebelumnya dia sama sekali tidak bisa melihat.Satu-satunya yang membuatnya bisa merasakan adalah bimbingan sabar Manolia yang terus-menerus.Bisa dikatakan bahwa wanita itu adalah harapan dalam kehidupan gelapnya.Perasaan suka Wendrino terhadapnya bukan hanya sebatas cinta antara pria dan wanita, lebih banyak

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 21

    Setelah menyelesaikan urusan Yusvina dan kedua orang tuanya, Wendrino tampaknya masih belum puas.Bagaimanapun, Manolia sekarang sudah bukan lagi milik keluarga Yanata, tentu saja Wendrino bisa membalas dendam pada Keluarga Yanata sepuasnya.Wendrino memerintahkan orang-orangnya memanfaatkan ketidakhadiran anggota Keluarga Yanata, mulai membeli banyak saham Grup Yanata dan mulai mengontrol jumlah pesanan perusahaan.Karena harga terlalu murah, perusahaan milik Keluarga Yanata akhirnya diboikot oleh banyak perusahaan.Dengan cepat perusahaan itu dijauhi oleh industri ini.Namun itu masih belum cukup, Wendrino juga sengaja memberitahukan kabar ini kepada tiga orang di ruang bawah tanah.Pak Antonio sangat terpukul dan segera pingsan, sementara Bu Yuresha juga sibuk berjalan kian kemari dengan kewalahan.Bagaimanapun, perusahaan Keluarga Yanata sudah menguras banyak tenaga dan usaha dari suami istri itu.Satu-satunya yang tidak peduli adalah Yusvina.Begitu melihat Wendrino, wanita itu te

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 20

    Setibanya mobil di vila Keluarga Sarion, Yusvina masih bingung kenapa hari ini tidak ada yang membantunya membuka pintu mobil.Dia terpaksa melepaskan satu tangan yang memegang tas untuk membuka pintu mobil dan turun.Tiba-tiba sebuah tenaga dari luar menyeretnya begitu saja.Matanya segera ditutup dengan kain hitam tebal.Ketakutan yang luar biasa mencekam hatinya.Yusvina secara naluriah berteriak, "Siapa kalian?! Lepaskan aku!""Aku adalah istri Wendrino, siapa pun yang berani menyentuhku akan menyesal!"Suaranya tinggi dan halus.Pria yang mengikat tangannya tak tahan, menendang betisnya dan berkata dengan kejam, "Diam! Kalau ingin hidup, bersikaplah baik!"Mendengar itu, Yusvina berhenti berteriak dan tidak berani bersuara lagi.Entah sudah berapa lama.Yusvina hanya menyadari dirinya dibawa ke tempat yang kedap udara, bahkan udara di sekitarnya terasa tipis.Wendrino kemudian berjalan mendekat dan menyingkap kain hitam di mata Yusvina.Yusvina secara naluriah mundur."Kenapa? Beg

  • Bertemu Lagi Tanpa Tangis   Bab 19

    "Pak Wendrino, ini dokumen yang sebelumnya Anda minta aku selidiki."Asistennya meletakkan map dokumen di atas meja.Wendrino membukanya, terlihat lembaran tagihan rumah sakit saat itu.Tercatat dengan jelas bahwa saat Yusvina berusia tiga tahun, dia tiba-tiba sakit parah dan membutuhkan sel darah tali pusat secara darurat agar nyawanya bisa diselamatkan.Kelahiran Manolia tidak lain adalah untuk Yusvina.Wendrino meremas dokumen itu dengan tangan yang sedikit menegang.Dia selalu bingung dengan keberpihakan Pak Antonio dan Bu Yuresha, tetapi tidak pernah terlintas di benaknya tentang hal ini.Di dalam dokumen juga terdapat sebuah ponsel yang tampak sudah agak rusak.Wendrino mengenalinya, itu adalah ponsel yang pernah dipakai oleh Manolia.Asisten melalui catatan panggilan berhasil menemukan lokasi terakhir kartu SIM-nya.Kemudian menyerahkannya ke tim teknisi untuk memulihkan data.Barulah dokumen itu berada di tangan Wendrino.Dia menatap layar kunci dengan empat digit sandi ponsel,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status