Billionaire Daddy's Little Artist

Billionaire Daddy's Little Artist

last updateLast Updated : 2024-09-19
By:  Scarlett RossiOngoing
Language: English
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
80Chapters
840views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

“You’re mine, Lily. I don’t care about your age or your past. You belong to me now.” William looked deep into my eyes with that smoldering stare, and I melted into his arms as his lips pressed down on my neck. It no longer mattered that he was old enough to be my father, or that he was my friend’s dad. All that mattered was that he was about to consume me. And I would let him. *** In the world of art and love, Lily and William's passionate journey unfolds. As Lily's paintings captivate the globe, their love is tested by a vengeful ex-wife and a dangerous art thief. Together, they navigate fame, deception, and the power of their shared dreams. A gripping tale of resilience and the bond between two hearts, will their love survive the shadows threatening to consume them? Billionaire Daddy’s Little Artist is created by Scarlett Rossi, an eGlobal Creative Publishing author.

View More

Chapter 1

Chapter 1 : Colors of Love

Elena Neivara, wanita yang baru genap memasuki kepala dua itu keluar dari kamarnya. Tubuhnya dibalut piama satin merah, yang menonjolkan bentuk dada dan bokongnya.

Kaki jenjang Elena melangkah ke dapur, dengan satu gelas kosong di tangannya. "Haus sekali," gumamnya.

Dapat Elena lihat, kedua majikannya sedang menonton film di sofa ruang tamu. Saat akan melangkah lebih jauh, suara Riven membuatnya terhenti.

"Elena!"

Sang pemilik nama menoleh, lalu membungkuk sebentar. "Iya, Tuan? Ada yang bisa–"

Decakan Diana memotong ucapannya, wanita itu melirik sinis Elena dan bersedekap dada.

"Pakaianmu, Elena. Apa tidak ada yang lain?" tanya Riven.

Elena menunduk, jantungnya berdegup cepat. "Maaf, Tuan. Semua pakaian besarku dicuci, karena aku harus menggantinya dua kali sehari," sahutnya pelan.

Diana kini berdiri, lalu menghampiri Elena dan menudingnya dengan telunjuk.

"Pekerjaanmu itu pelayan, Elena! Perhatikan caramu berpakaian. Kamu tidak sedang berada di rumahmu, dan Tuanmu sudah memiliki istri!" serunya.

Riven juga menghampiri, majikannya itu terlihat merangkul pinggang Diana.

Matanya tajam menusuk Elena, begitu pun Diana yang meremehkannya. Elena semakin tertunduk, karena aura para majikannya sangat menekan.

"Bahkan jika kau tidak memakai apapun, aku tidak akan tergoda, Elena. Pergilah, dan ganti pakaianmu jika kau masih berkeliaran di luar kamar."

Setelahnya, Elena hanya mengangguk lalu pergi ke dapur. Mengambil segelas air dan kembali ke kamarnya.

Di sana, Elena merenungkan perkataan Diana dan Riven. Ia hanya pelayan di sini, dan harus menghormati keduanya.

Elena tidak bisa lagi memejamkan mata, hingga pagi hari tiba. Ia langsung mandi dan mengganti pakaiannya.

Elena memakai kaus oversize dan celana longgar di bawah lutut. Meski begitu, bagian dadanya yang besar tetap terlihat cukup jelas.

Pagi ini, Elena menyiapkan sarapan dengan mata yang sayu menahan kantuk. Saat akan meraih piring, tubuhnya terhuyung ke depan.

Elena dapat merasakan tangan besar menopang tubuhnya, tepat di bawah dadanya.

Elena segera menyingkirkan tangan Riven, lalu berdiri tegap.

"M-maaf, Tuan," ucapnya gugup.

Riven masih terpaku pada ingatannya, dada Elena terasa sangat kenyal dan besar.

Hingga Diana turun, menghampiri mereka berdua dengan raut marah.

"Apa yang kalian lakukan?! Elena?! Kau menggoda suamiku?!" pekik Diana.

Tangan Diana langsung melingkar posesif di lengan Riven, membuat suaminya tersadar dari lamunan kotor.

"Dia hampir jatuh tadi, Diana. Sepertinya dia mengantuk," jelas Riven.

Elena yang seolah menjadi tersangka, hanya diam dengan wajah menunduk.

"Apa sebenarnya yang ada di dalam pikiranmu, Elena?! Pekerjaanmu sangat buruk!" cerca Diana.

Elena semakin menunduk, matanya fokus menatap pada kaki yang tidak dibalut apapun.

Riven mengikuti arah pandang Elena. Kaki Elena tampak putih, mulus, dan bersih. Terdapat rona merah di setiap lipatan dan ujung jemarinya.

Pikiran kotor lagi-lagi hinggap di pikiran Riven, ia membayangkan sebersih apa tubuh Elena jika tidak memakai apapun.

"Riven!" seru Diana. Dada Riven dipukul olehnya, hingga kembali tersadar.

"Apa yang kau bayangkan?! Kau berniat selingkuh, ya?!" tuding Diana.

Riven gelagapan, ia langsung mendekap Diana. Namun, tatapannya tidak beralih dari Elena yang masih menunduk.

"Tentu tidak, Sayang. Aku mencintaimu, dan kau tau itu. Justru aku harus bertanya, apa kau masih mencintaiku?"

Bukannya mendapat jawaban, Riven malah mendapatkan sebuah tamparan.

Emosinya langsung naik, ia mengangkat tangan untuk mengusir Elena. Lalu, menatap Diana yang memberikannya tatapan tajam.

"Kau!" Diana menuding Riven, telunjuknya berada tepat di depan wajah sang suami.

"Kau menuduhku selingkuh lagi, Riven?!" seru Diana.

Riven hanya menghela napas kasar, ia langsung pergi dan mengabaikan Diana yang berteriak.

Sedangkan Elena, masih mengintip di antara tembok dapur. Lagi-lagi, ia menyaksikan keributan antara Diana dan Riven.

Sebelum pikirannya melayang, kakinya langsung melangkah untuk kembali menyiapkan sarapan dan bekal Jay.

Anak majikannya itu tak lama turun, dengan seragam yang berantakan. Elena bergegas menghampiri, dengan raut wajah sendu.

Mengingat kedua orang tua Jay yang selalu bertengkar, pikirnya, Jay pasti tertekan.

"Tuan Muda, Bibi Elen sudah menyiapkan bekal untuk Tuan Muda," ujarnya. Ia mencoba meraih tangan Jay, namun anak itu menolaknya.

"Kata Mama, kau hanya pelayan. Jangan menyentuhku!" sinisnya.

Jay menaiki kursi untuk meraih bekalnya di atas meja makan, ia memasukkan bekalnya dan pergi begitu saja tanpa berkata apapun pada Elena.

Elena menunduk singkat, kemudian ia kembali fokus pada pekerjaannya. Namun, kedatangan Riven membuatnya sejenak terpaku.

Menatap betapa tampannya pahatan Tuhan. Wajah Riven terkesan dingin dan tegas, siapapun pasti menilainya galak.

Bahu yang lebar dan gagah, dengan urat yang tampak di sepanjang garis tangan dan jemarinya. Elena melihat itu semua, ia merasa semakin kagum dengan majikannya.

"Buatkan aku kopi, Elena."

Perintah Riven membuat Elena tersadar, ia bergegas melaksanakan perintahnya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
80 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status