Billionaire's Admirable Bride

Billionaire's Admirable Bride

last updateLast Updated : 2024-01-24
By:  Goodness Chiamaka Completed
Language: English
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
88Chapters
6.8Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

“What's a beautiful girl like you doing on the roadside at this late hour of the night?” Justin asked, his eyes watching Olima's face intently as she ran away from him and fell to the ground. "Come with me. I won't hurt you," he promised, extending his right hand to her. Olima hesitated, before accepting Justin's hand and standing up from the ground. Will she trust him? Will he protect her and not take advantage of her? *** Olima Adams was a 17-year-old girl and lost her parents. However, her wicked stepmother sent her away. Olima ran into Justin Robert, and he took her home to his parents' house. Will Justin's mother accept Olima as her son's wife? What if she wanted her best friend's daughter as her daughter-in-law? Will Olima be able to over her evil stepmother and Justin's family? Find out what happened to her.

View More

Chapter 1

Chapter 1: Wicked Stepmother

Aku mengidap glioma otak. Hidupku sudah berada di ujung tanduk.

Namun untungnya, suamiku sendiri, Rey, adalah seorang ahli bedah saraf yang jenius. Di seluruh negeri, hanya dia satu-satunya dokter yang berani mengambil tindakan untuk operasi ini.

Sayangnya, pria itu justru tega menunda operasiku sebanyak sembilan puluh sembilan kali.

Setiap kali prosesnya akan dimulai, semuanya harus terhenti hanya karena Adira mengeluh sakit kepala.

Kecepatan pertumbuhan tumor di kepalaku jauh di luar perkiraan. Pada penundaan yang ke-99, rasa sakit yang kurasakan begitu menusuk hingga ke tulang.

Aku berlutut di hadapannya, memohon dengan suara gemetar.

“Rey… jangan ditunda lagi. Aku benar-benar nggak sanggup lagi...”

Namun Rey bahkan tak melirikku.

Dia berbalik dan melangkah pergi.

“Jaga sikapmu, Lana. Aku dokter. Aku harus bertanggung jawab pada setiap pasien.”

Rasa sakit seketika menelanku. Aku memeluk kepala yang terasa seperti akan pecah sambil menangis histeris.

Sementara itu, seorang perawat yang memegang hasil pemeriksaanku hanya bisa menggeleng pelan sambil menghela napas berat.

“Ini sudah nggak bisa ditunda lagi. Kalau minggu ini belum juga dilakukan operasi, pasien hanya tinggal menunggu ajal.”

Tangisku mendadak tercekat di tenggorokan.

Aku terkulai lemas di atas lantai yang dingin.

Namun tanpa sadar, sudut bibirku justru terangkat membentuk senyum getir yang menyedihkan.

Bagaimana bisa aku sebodoh ini?

Aku tahu di mata Rey hanya ada Adira.

Aku tahu hidup dan matiku sama sekali tak berarti baginya.

Namun, aku masih saja menggenggam harapan semu yang menyedihkan itu. Bahkan rela mempertaruhkan nyawaku sendiri demi memercayainya.

Kali ini, aku benar-benar tak bisa menunggu lagi.

Dengan tangan yang gemetar, aku menghubungi seseorang.

Sambil terisak, aku berkata, “Aku setuju bergabung dengan tim eksperimen itu. Tiga hari lagi, kirim orang untuk menjemputku.”

Setelah sambungan telepon terputus, aku menahan rasa sakit dan merangkak naik ke ranjang pasien dengan tubuh gontai.

Apa aku harus menunggu lagi?

Sama seperti sembilan puluh delapan kali sebelumnya?

Menunggu sampai Rey selesai menenangkan Adira.

Menunggu sampai dia datang dengan santai, membawa aroma parfum asing yang menyengat di tubuhnya. Lalu berkata dengan nada meremehkan, “Lagi-lagi kamu merajuk, Lana.”

Seolah dari awal sampai akhir, akulah satu-satunya orang yang membuat masalah tanpa alasan.

Aku menatap tajam langit-langit kamar.

Teringat akan ekspresi wajah Rey yang selalu dingin dan acuh setiap kali menunda operasiku.

Padahal dulu, dia tak seperti ini.

Saat pertama kali mengetahui aku mengidap glioma, Rey memelukku dan menangis semalaman.

“Lana… apa pun taruhannya, aku pasti akan menyembuhkanmu.”

Setelah itu, dia menjual perusahaan yang telah dibangunnya dengan susah payah, tanpa ragu beralih mempelajari ilmu kedokteran.

Untuk meneliti dan mengembangkan obat khusus itu, dia bahkan hampir menghabiskan seluruh asetnya.

Lalu bagaimana mungkin…

Rey yang dulu rela bangkrut demi menyelamatkanku kini berubah menjadi pria seperti sekarang?

Hanya karena satu kalimat dari Adira, dia tega membiarkanku tersiksa perlahan hingga mati.

Kenangan masa lalu dan kenyataan saat ini saling berbenturan liar dalam benakku.

Rey yang memelukku sambil menangis tersedu.

Atau Rey yang mencampakkanku di ruang operasi?

Sebenarnya…

Yang mana dirimu sesungguhnya?

Tiba-tiba rasa sakit di kepalaku kembali memuncak.

Rasanya seperti jutaan semut sedang melubangi dan menggerogoti tengkorakku.

Tubuhku langsung kejang-kejang.

“Suster!”

“Suster!”

“Obat Pereda nyeri! Cepat kasih aku obat pereda nyeri!”

Aku berteriak sekuat tenaga hingga suaraku nyaris serak.

Keringat dingin bercampur air mata mengalir tanpa henti, sementara pandanganku perlahan menggelap.

Perawat yang mendengar teriakanku segera berlari masuk.

Namun tatapannya tampak menghindar, tak berani menatapku. Ucapannya pun terbata-bata.

“Nona Lana… stok obat pereda nyeri… sudah nggak cukup lagi.”

“Nggak cukup?”

Aku langsung menopang tubuhku dan berdiri.

Dalam penglihatan yang masih kabur, aku menatapnya tajam.

Perawat itu hanya menundukkan kepala dengan wajah penuh rasa bersalah.

Detik berikutnya, amarahku yang meluap membuat tubuhku gemetar hebat.

Bahkan obat pereda nyeri pun harus dihemat?

Rupanya, Rey memang ingin melihatku mati kesakitan!

Dalam keputusasaan, aku membenturkan kepalaku ke sudut dinding sekuat tenaga.

Brak!

Suara benturan keras bergema di ruangan, meredam jeritan histeris perawat.

“Rey! Kalau kamu punya nyali, biarkan aku mati di depanmu!”

Perawat itu langsung panik. Dia buru-buru maju mendekap pinggangku erat-erat.

“Nona Lana! Jangan begini!”

“Aku akan cari obatnya sekarang juga! Aku pasti menemukannya!”

Bahkan apotek rumah sakit saja sudah kehabisan.

Memangnya dia bisa mencarinya ke mana?

Aku kembali meronta, berusaha membenturkan diri sekali lagi.

Namun tiba-tiba…

Brak!

Pintu bangsal didobrak dengan keras.

Rey muncul dari balik pintu.

Melihat pemandangan di depannya, pupil matanya langsung menyusut tajam.

Dia bergegas menghampiriku dan mencengkeram pergelangan tanganku.

“Lana! Hentikan!”

Aroma parfum yang tak kukenal menusuk hidungku.

Aku terus meronta, berusaha melepaskan cengkeraman tangannya.

“Lepasin aku!”

“Kamu mau lihat aku mati, ‘kan? Jadi buat apa sekarang pura-pura peduli?”

Semua kebencian yang selama ini kupendam akhirnya meledak keluar.

Rasanya aku ingin merobek topeng munafik di wajahnya.

Rey menarikku ke dalam pelukannya.

Tubuhnya gemetar saat bibirnya berulang kali mengecup air mata di wajahku.

“Lana, jangan lakuin hal bodoh!”

“Mana mungkin aku tega melihatmu mati, hah!”

Sorot matanya dipenuhi kelembutan.

Seluruh wajahnya memancarkan kecemasan yang mendalam.

Sayangnya, tumor ini sudah menekan saraf retinaku, membuatku berada di ambang kebutaan.

Sudah lama memang aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

“Kalau terlalu banyak pakai obat pereda nyeri, tubuhmu bisa kesulitan menghadapi operasi.”

“Aku sudah menyuruh asistenku mengurus obat impor secepat mungkin. Obatnya akan sampai malam ini.”

Melihatku mulai sedikit tenang, Rey menempelkan dagunya di atas kepalaku.

Nada suaranya rendah dan serak.

Terdengar begitu lembut.

“Tenang, jangan sakiti diri sendiri lagi.”

“Kalau sampai kamu kenapa-kenapa, aku gimana?”

“Tahan sebentar lagi, ya. Setelah obat impornya sampai, sakitnya pasti hilang.”

“Dengerin aku, ya?”

Hembusan napas hangatnya menyapu telingaku.

Aku menggunakan sisa pendengaranku yang ada untuk mencerna kata-katanya.

Setiap kali.

Selalu seperti ini.

Setelah melukaiku begitu dalam, dia akan kembali berpura-pura peduli.

Melihatku perlahan berhenti meronta, Rey akhirnya membuka mulut.

Nada suaranya tampak hati-hati.

“Adira mendadak sakit kepala lagi.”

“Kamu masih punya satu dosis obat pereda nyeri cadangan, ‘kan?”

“Kasih dia dulu untuk keadaan darurat… boleh?”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
88 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status