MasukD'Andre, heir to the Summerfield CEO, embarks on a soul-searching journey and escapes to the serene shores of El Nido for a summer retreat. There, he encounters Maiari, a captivating local, and their instant connection ignites a passionate summer romance. However, D'Andre's past resurfaces when he receives a message from Taylor, an ex-lover, forcing him to confront his emotions. As D'Andre navigates the complexities of his feelings, he also navigates his blossoming relationship with Catalina, a city girl, daughter of the Summerfield's President, his current girlfriend. The secret D'Andre conceals from Maiari and his misstep with Catalina, coupled with Taylor's hopeful desire for a second chance, are a truly dilemma. Amidst breathtaking landscapes and stolen moments, D'Andre's heart is torn between the memories of a passionate summer and the choices that await him back in the city.
Lihat lebih banyak“Saya terima nikah dan kawinnya Bella Ariyanti binti alm. Muhammad Nuh dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Dalam satu tarikan nafas Burhan berhasil menghalalkan gadis muda disampingnya.
Gadis belia yang mengenakan gamis dan khimar putih, wajahnya ditutupi niqab menunjukkan betapa terhormatnya dia. Sedang Burhan mengenakan setelan kemeja senada menambah kesan serasi pada pasangan pengantin baru saja diresmikan. Semua didominasi warna putih, putih melambangkan kesucian. Putih seolah menunjukkan acara ini sangatlah sakral. Putih adalah lambang sebuah ketulusan dan kemurnian. “Bagaimana saksi, sah.” Penghulu bertanya pada seorang wanita yang duduk tepat belakang Burhan. Wanita itu mengangguk dan disambut tepuk tangan meriah dari para undangan. “Sah.” “Sah.” “Sah.” Kata itu menggema di seluruh penjuru ruangan. Semua yang hadir turut merasa bahagia atas momen paling berharga untuk kedua mempelai. Tapi tidak bagi wanita muda yang ditanya tadi, semburat kesedihan terpancar jelas di wajah tirusnya. Wajah cantiknya terlihat suram dan menyedihkan namun dia tetap memaksakan untuk tersenyum pada siapa saja yang menatap padanya. Menyembunyikan kesedihan yang membuncah karena ini semua terjadi atas kehendaknya. Berdiam diri mematung menatap punggung pengantin pria, yang tengah sibuk menandatangani berkas. Pertanda bahwa pernikahan itu sah dimata hukum dan agama. Dia terus meremas ujung kebaya jingga yang melekat pada tubuh langsingnya, dipadukan dengan rok batik khas Jambi. Rambut lurus sebahu miliknya dibiarkan tergerai hanya dijepit bagian samping membuat dia semakin mempesona. Wanita itu bernama Nayla Rahmawati, merupakan istri pertama laki-laki yang baru saja mengikrarkan janji suci pada wanita bercadar di samping sang suami. Dia semakin kuat meremas ujung kebayanya dan, mendadak berdiri hingga kursi plastik yang didudukinya terjatuh kebelakang. Setengah berlari meninggalkan tempat itu. Dia sudah tidak sanggup lagi menyaksikan rentetan acara yang akan merubah dunianya setelah ini. Entah berapa kali dia menabrak tamu undangan membuatnya tersungkur. Terdengar cacian dan makian untuknya. Dia kembali berlari dan terus berlari keluar dari tempat itu dan pergi menjauh. Keadaanya benar-benar kacau saat ini. Entah berapa kali dia jatuh bangun namun, dia tetap tidak menyerah untuk menjauh dari sana. Hatinya hancur tak beraturan, luluh lantak dan takkan pernah bisa pulih sekalipun dia yang menginginkannya. Apalagi saat dia menyaksikan suami yang teramat dicintainya mengecup dahi wanita yang beberapa menit lalu resmi menjadi madunya. Selama ini dialah yang selalu berada di posisi wanita itu. Mendapatkan ribuan kecupan dari si pria setiap harinya kala mereka bersama. Dan kini? Ah, membayangkannya saja tak sanggup. Sungguh dia tak mampu membayangkan harus berbagi kasih sayang dan juga ranjang dengan wanita lain. Berlari dan terus berlari tanpa tujuan. Air matanya tak henti mengalir deras. Jika itu sungai mungkin akan terjadi banjir bandang. Memang pernikahan ini dia yang menginginkannya, tapi tidak terbayang akan sesakit ini. Ternyata kenyataan jauh lebih menyakitkan dari yang dikhayalkan selama ini. Hidup berdampingan bersama adik madu tanpa cemburu. Bersama mengarungi lautan dengan satu kapal dan nahkoda yang sama. Dari jauh hari dia telah menyiapkan mental untuk hari ini namun, tetap tergores perih dan berdarah. Teringat seminggu yang lalu Burhan memohon untuk membatalkan pernikahan yang sama sekali tidak harus terjadi. “Tidak bisakah dibatalkan saja, dik. Abang tidak bisa, abang tidak bisa melihatmu sakit hati,” ujar Burhan memelas. Berharap Nana merubah keinginan gilanya. Mereka duduk di balkon menunggu waktu magrib. Ditemani secangkir teh hangat dan nastar buatan nana sebagai cemilan. “Jangan Bang, Abang harus menikahi Bella,” balas Nana penuh penekanan diikuti tatapan tajam yang kerap membuat Burhan tak mampu membantah lagi. “Lupakan Abang yang tidak menyukai Bella. Abang takut kau terluka, Dik,” bujuk Burhan mengusap pucuk kepala wanita yang telah mendampinginya hampir sewindu. Jantungnya berdegup sangat kencang. “Tidak,” bentak Nana menepis tangan Burhan yang terus mengusap rambut hitam tebalnya. “Kau berani meninggikan suaramu pada suamimu ini, Dik. Atas ambisi gilamu itu.” Burhan sedikit menaikan nada suaranya. “Aku ingin anak, Bang." Nana menundukan wajahnya netranya menatap lantai. Matanya mulai berembun, tidak pernah mendengar nada suara Burhan meninggi membuat hatinya iba. “Tapi tidak seperti ini caranya, Dik," ujar Burhan pelan tahu istrinya tengah ketakutan karna bentakannya. “Tidak ada jalan lain. Aku tidak bisa hamil, Bang. Aku tak memiliki rahim dan sampai kapan pun tak akan pernah ada janin yang tumbuh dalam diri ini.” Nana mulai terisak. “Tapi Abang tidak butuh anak. Kita bisa terus bersama itu sudah cukup, Dik." kedua tangannya mengusap bahu sang istri. “Aku selalu memimpikan tangis bayi di rumah ini, Bang. Rumah ini terlalu sunyi" Nana berhambur dalam dekapan Burhan tangisnya semakin terdengar. “Kita adopsi anak saja." Burhan mengusap punggung nana. Dia juga bersedih tapi tidak bisa untuk meneteskan air mata. “Aku mau anak itu dari benihmu. Dia akan jadi anak yang paling beruntung karna memiliki dua orang ibu." Nana mendongakan wajahnya menatap tajam mata elang milik sang suami. “Kamu wanita, ini sangat tidak mudah. Abang takut menjadi bumerang untuk rumah tangga kita." Burhan mengalihkan pandangan sungguh dia tidak sanggup terlalu lama beradu pandang dengan wanita yang rela menerimanya yang miskin. Wanita yang mengangkatnya dari kubangan lumpur lalu menjadikannya permata yang dihargai. Burhan tidak lupa siapa dia dulu, walau kini bergelimangan harga.Catalina's journey back to her mother's town was like stepping into a world removed from the hustle and bustle of city life. As her train chugged along the tracks, the scenery outside her window transformed from concrete jungles to lush countryside. It was a place that held a special corner in her heart, filled with cherished memories and moments from her childhood.The train rattled over tracks, occasionally crossing over rivers and creeks, the rhythmic clatter lulling her into a sense of tranquility. She gazed out of the window, mesmerized by the scenic beauty that unfolded before her eyes.Vast stretches of green fields swayed gently in the breeze, a vibrant carpet of life adorned with wildflowers. The sun hung low in the sky, casting a golden hue over the landscape. Catalina could see farmers tending to their crops, their labor a testament to their deep connection with the earth.The train slowly made its way through small towns and villages, each with its unique charm. Catalina w
Amidst the calming whispers of the night, Catalina found herself sitting with her father, Mr. Frank, and her brother, Taylor. Their surroundings were peaceful, and the moonlight bathed the world in a soft, silvery glow.Catalina gazed at the two men she cherished the most. With a heartfelt sigh, she couldn't help but express her gratitude. "Dad, Taylor, I just want to say how incredibly lucky and thankful I am to have both of you in my life. I don't know what I'd do without you."Mr. Frank smiled warmly and placed a hand on Catalina's shoulder. "Catalina, sweetheart, the feeling is entirely mutual. We're grateful to have you as well. You're a remarkable woman, and we've always loved and admired you."Taylor, ever the gentle soul, chimed in, "Catalina, you're our family, and we'll always be here for you. No matter what you're going through, we're in this together."Touched by their words, Catalina's eyes glistened with unshed tears. "Thank you both, really. After everything that happen
The sun had gently dipped below the horizon, casting a warm glow over the gathering on the beach. With contented bellies, they had all moved to a circle of colorful woven mats, forming a snug and intimate group.Aunt Daisy and Uncle Mike, the seasoned couple, exchanged knowing glances. Uncle Mike, with a twinkle in his eye, began, "D'Andre, Maiari, there's a recipe for a happy marriage we've followed for years – love, respect, and compromise."Aunt Daisy nodded, her warm smile lighting up her face. "Yes, and laughter, don't forget laughter. It's the secret ingredient that seasons life."Jasmine and Maiari locked eyes for a moment. They knew that their friendship had been a source of joy and support in each other's lives. Jasmine grinned and said, "You know, Maiari, it's important to keep your individuality. Don't lose sight of your passions and dreams. Your relationship should be the icing on the cake, not the entire cake."Maiari nodded, appreciating her friend's wisdom. "You're righ
Amidst the gentle whisper of the ocean waves, D'Andre and Maiari sat on the porch of their cozy beachfront cottage, a sense of tranquility enveloping them. The golden rays of the setting sun cast a warm glow, painting a serene picture for their conversation.Maiari turned to D'Andre, her eyes filled with excitement. "D'Andre, it's been a while since our engagement, and I think it's time to start planning our wedding. I want it to be perfect."D'Andre smiled, a touch of affection in his eyes as he looked at his fiancée. "I couldn't agree more, Mai. I've been waiting to marry you since forever."Maiari laughed softly, taking his hand in hers. "We've both been so busy lately, but we can't keep postponing our wedding. Do you have any ideas for a venue?"D'Andre nodded, his enthusiasm growing. "I was thinking about something intimate, by the beach, just like this place. A small ceremony with our closest friends and family."Maiari's eyes lit up at the suggestion. "That sounds wonderful, D'






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.