LOGINBab 6
Zayden melucuti satu persatu kain yang menempel di tubuh Senandung. Tatapannya sama sekali tidak beralih dari tubuh yang ada di hadapannya itu. Tatapan kekaguman tampak tersirat di sorot mata Zayden. Senandung tersenyum menatap wajah tampan Zayden. "Kamu tampan sekali." Zayden menyeringai. Ia akui, jika dirinya sangat tampan dan tak ada satu pun perempuan yang tidak terpesona olehnya. "Aku tahu," ucap Zayden serak lalu langsung menyerang Senandung. Erangan dan desahan saling bersahutan memecah keheningan kamar presidential itu. Tubuh Zayden bergerak dengan lembut namun pasti di atas tubuh Senandung. Kedua tangannya saling bertaut, tatapan mereka saling mengunci seolah tengah merekam apa yang mereka lakukan saat ini. Zayden memutar tubuhnya dan membiarkan Senandung berada di atas tubuhnya. Rambut panjang Senandung sudah basah oleh peluh, tubuh mungil Senandung menari indah di atas tubuh Zayden. "Ssshhh," desah Senandung. Ia memejamkan kedua matanya merasakan hujaman dari bawah sana. Zayden memegang pinggul Senandung, dan semakin mempercepat ritme permainannya hingga akhirnya mereka berdua mencapai kenikmatannya. Senandung langsung terkulai lemas di atas tubuh Zayden, lelaki itu tak langsung melepaskan penyatuan mereka. Ia mengelus lembut punggung Senandung, tubuh keduanya sudah basah oleh peluh. "Aku lelah," lirih Senandung. Tubuhnya yang tadi demam akibat kehujanan kini berganti. Ia kepanasan akibat melakukan hal yang indah bersama dengan Zayden. Senandung memejamkan kedua matanya, sementara Zayden tersenyum ia masih mengelus punggung Senandung hingga nafas yang teratur mulai keluar dari bibirnya. Zayden merebahkan tubuh Senandung di ranjangnya, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Sesaat dia tersenyum, kala melihat tanda merah di atas sprei yang berwarna putih itu. Zayden tersenyum, mengusap lembut puncak kepala Senandung merapikan anak rambut yang menutupi wajahnya. Zayden beranjak, memakai celana pendeknya lalu keluar menuju balkon hotel. Sebatang tembakau ia nyalakan. Tatapannya lurus menatap ke bawah hotel. Zayden meraih ponselnya dan menghubungi Alvino yang tak lain orang kepercayaannya sekaligus sahabatnya itu. Alvino tak langsung mengangkat sambungan telepon itu, membuat Zayden berdecak kesal. Ia pun mengirimkan sebuah pesan pada Alvino. [Angkat sialan!] Alvino yang tengah menikmati waktu santainya pun berdecak kesal. "Padahal baru kali ini gue bisa pulang cepat. Kanebo kering ni tidak bisa tidak menganggu waktuku sehari saja. Sialan." [Apa?!] [Angkat teleponku sialan! Telat sedikit, gua pecat lo, Al.] [Pecat saja jika bisa.] Zayden berdecak kesal. [Dengarkan, gue mau lo cari informasi soal perempuan tadi. Semua informasi ingin aku dapatkan ,jangan sampai ada satu pun yang terlewat tentangnya. Secepatnya.] Zayden menekankan kata secepatnya, karena ia tidak suka menunggu. Sementara Alvino hanya bisa diam-diam mengumpat. [Jangan mengumpatku, Al.] [Gue nggak mengumpat.] [Come on, i know you very much.] Terdengar dengusan kasar dari seberang telepon, membuat Zayden terkekeh. [Jika kau bisa mendapatkan semua informasi tentangnya. Bonus besar menunggumu.] Tanpa menunggu jawaban Alvino, Zayden memutuskan sambungan telepon. Ia tersenyum kala mengingat bagaimana liarnya kejadian barusa. Ini pertama kalinya untuk Zayden begitu juga untuk Senandung. Zayden menunduk, menatap sesuatu yang kembali bangun hanya karena ia membayangkan apa yang sudah ia lalui barusan. Zayden tersenyum, lalu mengusap lembut kejantanannya. "Sabar boy, aku tidak mau menyakitinya. Untuk hari ini, cukup saja. Tapi jika dia terbangun dari tidurnya, kita gas lagi sampai kita benar-benar puas. Benar-benar mencapai kenikmatan, dan sepertinya aku sudah mulai candu padanya."Bab 12 Suara tamparan itu menggema di dalam ruangan sempit itu. Ujung bibir Senandung robek dan mengeluarkan cairan kental berwarna merah. Senandung menyeringai, lalu mengusap darah yang keluar dari ujung bibirnya. Senandung terkekeh kecil. "Kamu mau apalagi dariku, Allora? Apa tidak cukup kau merebut Adrian? Sekarang kau mau apalagi dariku, hmm?" Suara Senandung terdengar datar dan dingin. Allora menatap Senandung, ia dapat melihat kilatan kemarahan di dalam binar mata Senandung. Di belakang wanita itu terlihat ada ember yang berisikan air. Allora menyeringai, lalu ia meraih ember itu dan menyiramkannya pada tubuh Senandung. Byur Tubuh Senandung seketika basah oleh air bekas pel an. Senandung tersenyum miris, ia benar-benar tidak menyangka jika sifat dan sikap asli Allora begitu buruk. "Hah, aku baru sadar ternyata selama ini kamu hanya memakai topengmu saja. Dan ini lah sifat aslimu, Allora," ucap Senandung pelan dan dalam.
Bab 11 Zayden meremat berkas yang ada di tangannya, rahangnya mengeras, sorot matanya menggelap. Alvino yang berada tepat di depan Zayden dan ia tentu saja dapat melihat kemarahan pria itu. "Bagaimana bisa ada orang sejahat mereka," desis Zayden. Alvino mengedikkan bahunya cuek. "Aku rasa pria bernama Adrian ini memang hanya memanfaatkan kebaikan Senandung. Begitu juga dengan sahabatnya, Allora." Zayden terdiam mendengar perkataan Alvino. "Aku lihat dia berkerja di berbagai tempat hanya untuk memenuhi kebutuhan pria itu, dan juga aku dengar dia bisa masuk kemari pun karena ada campur tangan Senandung. Meski ya mungkin perempuan bernama Allora itu pun ikut andil dalam membantu pria sialan itu," ujar Alvino datar. Zayden mengepalkan kedua tangannya, jangan tanyakan keadaan berkas yang berada di tangannya. Sudah remuk. "Awasi terus Senandung, aku tidak mau terjadi sesuatu padanya. Apalagi semalam kami sudah melakukannya, aku
Bab 10 Zayden terdiam beberapa saat. Tatapannya masih tertuju pada wajah Senandung yang terlihat begitu polos. Ada sesuatu dari perempuan itu yang membuat hatinya sulit untuk bersikap dingin. "Jadi, kau benar-benar tidak mengingat apa yang terjadi semalam?" tanyanya pelan. Senandung mengangngguk cepat. "Aku ingat aku sangat marah karena dengan mata kepalaku sendiri dan di kamarku serta di rumahku aku melihat dia bercinta. Setelah itu aku pun pergi, dan ternyata di luar hujan. Aku tidak sadar, terus berjalan sampai akhirnya aku berada denganmu," lirih Senandung. Zayden menghela napas. Tangannya yang semula berada di pipi Senandung perlahan turun. Ia kemudian mundur selangkah, memberikan jarak di antara mereka. "Kalau begitu, apa kamu ingat apa yang sudah kita lakukan semalam?" tanya Zayden serius. Senandung mengangkat wajahnya. Ia menatap Zayden dengan wajah polosnya yang kemerahan, membuat Zayden gemas. "Tapi aku takut Tuan marah."
Bab 9 Adrian meradang, dia hendak menyusul Senandung yang sudah di tarik oleh Zayden. Tapi, langkahnya terhenti oleh Alvino. Lelaki tampan itu menatap datar pada Adrian. "Mau apa kau?!" tanya Alvino datar menatap Adrian. Adrian langsung terdiam, ia tentu saja tahu siapa lelaki yang ada di hadapannya itu. Adrian memaksakan senyumnya, namun hanya di balas dengan ekspresi datar dan dingin. "Ah, maafkan saya Tuan Alvino. Saya hanya ingin mengejar kekasih saya," ujar Adrian. Alvino menyeringai. "Benarkah perempuan itu adalah kekasihmu? Bukankah kekasihmu adalah perempuan yang berada tepat di belakangmu?" Glek Adrian menelan salivanya kasar. "Bu-kan, Tuan. Kekasih saya adalah perempuan yang di tarik oleh tuan CEO barusan." Alvino terkekeh, sementara Allora meradang. Ia menepuk keras punggung Adrian, membuat lelaki itu terbatuk. "Apa maksudmu?!" ucapnya marah. Alvino menggelengkan kepalanya, lalu memilih pe
Bab 8 Hari ini, adalah hari pertama Senandung bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah perusahaan. Karena telat bangun, Senandung pun harus cepat sampai ke perusahaan. "Oh Tuhan, padahal baru hari pertama tapi aku sudah telat datang," gerutu Senandung di sepanjang jalan. Senandung turun dari bis ia berjalan dengan cepat. Peluh sudah membasahi pelipisnya, namun tidak mengurangi kecantikannya. Beruntung halte bus tak jauh dari perusahaan sehingga Senandung tidak perlu berjalan jauh. Tak jauh dari Senandung, sebuah mobil mewah datang. Pria yang berada di dalam mobil tersenyum kala melihat Senandung berjalan dengan cepat. Tentu saja ia sudah tahu siapa perempuan itu, karena sosoknya sudah terukir abadi di ingatan Zayden. "Dia," gumam Zayden tersenyum tipis. "Al, bagaimana kau sudah mendapatkan informasi mengenai perempuan tadi malam?" Alvino yang tengah fokus dengan kemudinya pun sedikit menoleh. "Baru sebagian." Zayden menganggukkan kep
Bab 7 Perlahan kedua mata Senandung terbuka, ia merasakan tubuhnya sangat sakit. Senandung hendak menggerakkan tubuhnya, namun terhenti karena sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Senandung langsung terdiam. Nafasnya tercekat, ia bisa merasakan pelukan Zayden di belakang tubuhnya. "Siapa dia?" gumamnya. Perlahan Senandung bergerak pelan sangat pelan, lalu ia menyingkirkan tangan milik Zayden. Perempuan itu turun dari atas ranjang hotel dengan gerakan slow motion. Ia sedikit mengaduh, kala merasakan tubuhnya yang remuk. "Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan?" Senandung mendadak lupa ingata. Ia berbalik, lalu menatap wajah tampan Zayden yang tenang di dalam tidurnya. "Tampan, Adrian pun kalah," lirih Senandung. Perempuan itu berjalan pelan dan tertatih. Merasakan nyeri di sekitar area kewanitaannya. "Ssh, sakit sekali," lirihnya. "Gila, seberapa hebat dia, sampai berjalan pun aku kesusahan seperti ini." Senandu







