Share

33. Surat Perintah

Hampir tengah malam. Langit di atas laut tak ada bulan dan bintang. Awan gelap telah menutupinya. Laut tampak tenang. Ki Walang dan Bimantara memperhatikan apa yang ada di hadapan mereka dengan heran. Di hadapan mereka terlihat begitu gelap. Tak lama kemudian ombak perlahan membesar.  Perahu yang mereka naiki mulai bergoyang. Bimantara ketakutan. Dia memiliki firasat buruk.

“Apa yang ada di hadapan kita, Tuan Guru?” tanya Bimantara pada Ki Walang dengan khawatir.

Ki Walang malah tertawa. “Di hadapan kita adalah hujan badai. Sebentar lagi perahu ini akan menembusnya. Di balik hujan badai itu adalah pulau yang akan kita tuju. Kita sudah hampir sampai, Bimantara. Kau jangan takut!”

Bimantara mengangguk. Tak lama kemudian ombak semakin besar. Perahu yang mereka naiki semakin bergoyang. Ki Walang memainkan dayungnya untuk mendapatkan keseimbangan agar perahunya tidak terbalik. Bimantara berpengangan erat pada perahunya. Jantungnya memompa

Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Ar_key
ternyata adji darma menyesal juga sudah dia gak sadar sudah membunuh
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status