LOGINSepanjang perjalanan, Alya lebih banyak diam sambil memandang keluar jendela. Deretan bangunan, kendaraan, dan orang-orang yang berlalu lalang di luar sana terasa seperti bayangan yang bergerak cepat, sementara pikirannya justru berjalan mundur ke masa lalu.Ia teringat bagaimana dulu kedua orang tuanya sempat mendekam di Nusakambangan atas perintah Reihan.Saat itu amarah Reihan benar-benar tak terbendung setelah semua kekacauan yang menyeret nama Alya dan dirinya sendiri terbongkar.Namun, ketika mereka tidak terbukti melakukan pencemaran nama baik, Reihan meminta agar mereka dipindahkan ke lapas yang lebih dekat agar lebih manusiawi.Mobil taksi online itu akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan dengan tembok tinggi dan kawat berduri yang melilit di bagian atasnya."Sudah sampai, Mbak," ucap sopir taksi membuyarkan lamunan Alya.Ia mengangguk pelan, membayar ongkos perjalanan, lalu turun dari mobil. Sesaat setelah pintu mobil tertutup, Alya berdiri diam di depan bangunan besar i
Karin menyambar tasnya yang tergeletak di kursi dengan gerakan kasar, lalu melangkah lebar meninggalkan kamar tanpa menoleh sedikit pun.Lidya yang sedang berada di dapur sempat menangkap bayangan Karin yang menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Merasa ada yang tidak beres, Lidya segera melangkah menuju kamar putranya itu.Brak!Pintu kamar Bima terbuka dengan sentakan keras, menghantam dinding hingga suaranya menggema."Apa yang kamu lakukan pada Karin, Bima?!" tanya Lidya dengan suara meninggi, sorot matanya berkilat penuh amarah.Bima yang sedang asyik bermain ponsel di ranjangnya tersentak kaget. Jantungnya nyaris melompat keluar melihat sang ibu berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam."Aku tidak melakukan apa pun," sahutnya santai, mencoba kembali fokus pada layar ponsel meski jemarinya sedikit kaku."Tidak melakukan apa pun? Lalu kenapa Karin keluar dari sini sambil menangis?" tanya Lidya lagi.Bima hanya mengangkat bahunya santai, mencoba terlihat tidak peduli mes
"Kelihatannya aku sedang melawak?" balas Bima tajam. "Tanganku harus memegang besi ini agar tidak jatuh karena kakiku mati rasa. Jadi, siapa lagi yang akan membantuku? Setan?" Karin mematung. Tangannya menggantung di udara, terasa sangat dingin meski hatinya sedang membara karena malu. Ia merasa ini adalah ujian terberat dalam hidupnya. Apakah ini benar-benar bagian dari 'tanggung jawab' yang ia janjikan? "Bim, aku... aku panggilkan Tante Lidya saja ya?" tawar Karin dengan suara memelas. "Mama sedang di dapur. Dan aku tidak mau dia melihat putranya yang malang ini kesulitan hanya untuk urusan begini," desis Bima, matanya mengunci pandangan Karin. "Kenapa? Kamu takut? Katanya mau melakukan apa saja untuk menebus kesalahanmu?" Karin menelan ludah dengan susah payah. Kata-kata Bima barusan benar-benar mengunci langkahnya. Ia tahu Bima sengaja memojokkannya menggunakan rasa bersalah yang selama ini ia pikul. Dengan napas yang tertahan di tenggorokan, Karin perlahan mengulurkan tang
Lidya tertegun menatap Karin. Sorot matanya dipenuhi rasa iba sekaligus kagum pada ketabahan gadis di depannya."Kamu tidak perlu memaksakan diri seperti ini, Karin. Biar Tante saja yang urus kalau dia sedang kumat galaknya," ucap Lidya tulus.Karin tersenyum tipis lalu menggeleng pelan. "Karin tidak apa-apa, Tante. Ini sudah jadi tugas Karin," sahutnya menenangkan.Karin segera kembali ke dapur untuk membuat sarapan baru. Ia memutuskan untuk tidak menyerah. Setelah mencari inspirasi sejenak, pilihan menunya jatuh pada nasi goreng kampung, menu simpel yang mudah dibuat namun aromanya selalu berhasil menggoda selera.Setelah beberapa saat berkutat dengan penggorengan, Karin kembali ke kamar Bima. Bau harum bumbu bawang dan aroma gurih seketika memenuhi ruangan.Bima melirik piring yang diletakkan Karin di hadapannya. Perutnya yang sedari tadi kosong tak bisa berbohong saat mencium aroma masakan itu."Aku bisa makan sendiri," ucapnya ketus, sembari menepis tangan Karin yang hendak memba
Sinar matahari pagi mulai menyelinap melalui celah gorden, mencoba menyapa dua insan yang masih bergelut di balik selimut tebal. Alya terbangun lebih dulu, merasakan beban berat yang melingkar posesif di pinggangnya.Ia melirik ke samping, melihat wajah Reihan yang tampak begitu tenang saat tertidur, sangat kontras dengan wajah datarnya yang biasanya terlihat mengintimidasi di kampus.Alya mencoba bergerak, jemarinya menyentuh kulit tangan suaminya, berusaha menyingkirkannya dengan gerakan yang sangat perlahan agar tidak mengusik tidur sang empunya.Namun, alih-alih terlepas, Reihan justru memberikan respons yang mengejutkan. Pria itu mengerang rendah dan justru semakin mengeratkan pelukannya, menarik tubuh Alya hingga tak ada lagi jarak di antara mereka."Jangan ke mana-mana. Biarkan seperti ini sebentar lagi," ucap Reihan dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.Tanpa menunggu jawaban, ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Alya, menghirup aroma wangi alami kulit istrinya ya
Alya yang menyadari perubahan nada suara suaminya seketika tersadar. Membuat ia segera melepaskan cekalannya pada lengan Reihan.Ia mencoba mengatur napas yang mendadak tidak beraturan, lalu berjalan pelan menuju sofa di sudut kamar, berniat untuk duduk di sana dan melanjutkan aksi perang dingin mereka yang sempat terinterupsi oleh padamnya listrik.Namun, belum sempat ia menjauh, Reihan bergerak lebih cepat. Dengan satu gerakan tangkas, lengan kokoh pria itu merengkuh pinggang ramping Alya, dan mengangkatnya dengan mudah, lalu membawanya menuju ranjang."Turunkan aku, Mas!" protes Alya, kaki kecilnya menendang udara dengan gerakan pelan.Reihan sama sekali tidak menjawab. Ia membaringkan tubuh Alya di atas ranjang, lalu segera mengungkungnya, mengunci pergerakan Alya dengan kedua lengan kuat di sisi tubuhnya."Mau ke mana? Katanya tadi takut," bisik Reihan dengan suara rendah yang bergetar di telinga Alya."Aku... aku tidak pernah bilang begitu," sanggah Alya, mencoba memalingkan waj
Sebuah langkah kaki yang berat dan berirama tegas terdengar mendekat. Alya dan Dina refleks melepaskan pelukan mereka. Di ujung lorong, sosok Reihan berdiri dengan ekspresi yang sulit dibaca, dingin, namun ada kilat kelelahan di matanya."Bisa tinggalkan kami sebentar?" suara Reihan terdengar renda
Alya mematung di depan pintu kayu yang kokoh itu. Kepalanya menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang kini basah kuyup. Bahunya berguncang hebat, beradu dengan napas yang tersengal karena tangis yang berusaha ia redam agar tidak pecah menjadi raungan.Ia benar-benar tidak menyangka Reihan akan s
Suasana di lobi yang tadinya bising mendadak senyap, seolah oksigen di sana tersedot habis. Berpasang-pasang mata mahasiswa kini tertuju pada noda cokelat yang merembes di kemeja mahal Mirna."M-maaf, Nyonya... Saya benar-benar tidak sengaja," bisik Alya. Tubuhnya bergetar hebat, dan ia merasa bumi
Alya membalikkan badan dengan cepat, nyaris setengah berlari menaiki satu per satu anak tangga. Ia tak sanggup lagi berada di ruangan itu, di mana setiap embusan napasnya terasa seperti kesalahan di mata orang tua suaminya.Begitu sampai di lantai atas, ia segera masuk ke kamar tamu. Alya berdiri m







