LOGINMendengar kalimat itu, pipi Alya seketika bersemu merah.Bukan hanya dirinya yang mendengar ucapan Reihan, tetapi seluruh tamu undangan yang memenuhi aula pernikahan itu juga mendengarnya dengan jelas.Sontak suara sorak-sorai dan tepuk tangan meriah menggema di seluruh ruangan."Cium...!""Cium...!""Cium...!"Seruan itu terdengar bersahut-sahutan dari berbagai sudut aula.Alya yang menjadi pusat perhatian langsung menundukkan wajahnya. Jantungnya berdegup kencang, sementara rasa malu membuat kedua pipinya semakin memanas.Ia sama sekali tidak menyangka para tamu akan bereaksi seperti itu.Yang benar saja?! Tidak mungkin mereka berciuman di depan umum, apalagi tepat di hadapan penghulu yang saat ini tengah tersenyum simpul sambil merapikan berkas-berkas nikah!Reihan yang menyadari kepanikan sang istri hanya bisa tersenyum tipis. Sudut bibirnya terangkat, merasa gemas melihat wajah Alya yang sudah semerah kepiting rebus.Ia sedikit membungkukkan tubuhnya yang tegap, lalu dengan gerak
"Ayo, semua orang sudah menunggu kita."Suara Rehan terdengar lembut, namun penuh kehangatan.Alya mengangguk pelan, tetapi sebelum melangkah, ia sempat menoleh ke arah kedua orang tuanya.Matanya berkaca-kaca, seolah meminta restu sekali lagi untuk melangkah menuju babak baru dalam hidupnya.Sari dan Salim memahami tatapan itu. Keduanya tersenyum haru sambil menganggukkan kepala."Pergilah, Nak," ucap sari.Salim yang berdiri di samping istrinya ikut mengangguk. Meski matanya memerah karena menahan tangis, senyum bangga tetap terukir di wajahnya."Ayah dan ibu merestui kalian, kamu pantas bahagia Alya."Mendengar itu, senyum Alya perlahan mengembang. Reihan kemudian menggenggam tangan istrinya dengan lembut.Jemarinya menyelip di antara jari-jari Alya, memberikan ketenangan yang selama ini selalu mampu ia berikan.Bersama-sama mereka melangkah keluar dari ruangan menuju aula pernikahan.Begitu pintu aula terbuka, pemandangan indah langsung menyambut mereka.Ruangan itu dihias dengan
"Ibu... Ayah..."Suara Alya bergetar pelan. Matanya langsung berkaca-kaca saat melihat sosok Sari dan Salim berdiri di ambang pintu.Hari ini keduanya tampak berbeda. Bukan hanya karena pakaian rapi yang mereka kenakan untuk menghadiri pernikahan putri mereka, melainkan karena sorot mata yang kini dipenuhi penyesalan dan kasih sayang yang selama ini tak pernah benar-benar Alya rasakan.Sari tersenyum tipis, meski air mata telah lebih dulu menggenang di pelupuk matanya."Aduh..." gumamnya lirih sambil menatap Alya dari ujung kepala hingga kaki. "Anak Ibu cantik sekali."Kalimat sederhana itu membuat dada Alya terasa sesak. Seumur hidupnya, ia begitu mendambakan pujian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya.Dan kini, ketika akhirnya mendengarnya, air mata yang sedari tadi ia tahan pun jatuh membasahi pipi.Sari berjalan mendekat. Dengan tangan gemetar, Sari menggenggam kedua tangan putrinya."Ibu minta maaf, Nak."Seketika ruangan itu menjadi sunyi."Ibu sudah terlalu banyak menyakit
Suasana di lokasi kejadian mendadak berubah riuh. Orang-orang berkerumun mengelilingi tubuh Siska yang terbaring tak bergerak di lantai.Bisik-bisik terdengar dari berbagai arah, bercampur dengan tatapan prihatin yang tertuju pada kondisi wanita itu.Beberapa orang bahkan menutup mulut mereka, tak sanggup melihat pemandangan yang begitu tragis.Tak lama kemudian, sejumlah petugas kepolisian tiba di lokasi dan segera mengamankan area.Reihan dan Robi yang berada di tempat kejadian dimintai keterangan sebagai saksi.Proses pemeriksaan berlangsung hingga larut malam. Polisi memeriksa setiap bukti yang ada, termasuk rekaman kamera pengawas yang terpasang di ruangan tersebut.Setelah melalui penyelidikan menyeluruh, pihak berwenang menyimpulkan bahwa Siska sengaja mengakhiri hidupnya sendiri saat hendak diserahkan kepada polisi atas berbagai tindakan kriminal yang telah dilakukannya.Malam itu terasa begitu panjang dan melelahkan. Namun pada akhirnya, Reihan dan Robi dinyatakan tidak terli
Malam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh ketika Reihan akhirnya meninggalkan rumah sakit.Sebelumnya, ia sengaja menunggu hingga Alya tertidur lebih dulu.Ia tidak ingin istrinya mengetahui ke mana ia akan pergi malam ini. Setelah semua yang terjadi, Alya sudah terlalu banyak memikul ketakutan dan tekanan.Reihan tidak mau menambah beban pikiran wanita yang sedang mengandung anaknya itu.Karena itulah, begitu memastikan Alya terlelap dengan tenang, ia diam-diam meninggalkan rumah sakit dan langsung menuju apartemen tempat Siska bersembunyi.Perjalanan malam itu terasa begitu sunyi. Namun di balik kesunyian tersebut, amarah yang selama ini ditahannya terus bergolak di dalam dada.Tak lama kemudian, mobil Reihan memasuki area parkir apartemen.Begitu melihat mobil sang atasan, Robi yang sejak tadi melakukan pengawasan segera menghampiri. Ia membuka pintu mobil untuk Reihan."Masih tidak ada pergerakan?" tanya Reihan tanpa basa-basi."Belum ada, Pak," jawab Robi cepat. "Dia
Reihan berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit yang cukup ramai. Langkahnya panjang dan tergesa, sementara pikirannya hanya tertuju pada satu orang.Sejak menerima kabar bahwa istrinya telah bangun, ia bahkan nyaris tidak bisa menunggu lebih lama untuk melihatnya secara langsung.Begitu tiba di depan ruang perawatan, Reihan segera membuka pintu kamar itu.Ceklek.Pintu terbuka perlahan. Seketika pandangannya langsung tertuju pada sosok yang sejak tadi memenuhi pikirannya.Alya tampak duduk bersandar di ranjang rumah sakit dengan beberapa bantal menopang punggungnya. Wajahnya masih terlihat sedikit pucat, tetapi kondisinya jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.Di samping ranjang, Mirna sedang duduk sambil menyuapkan bubur hangat kepada menantunya dengan penuh perhatian.Melihat kondisi Alya yang semakin membaik membuat dada Reihan yang sejak tadi dipenuhi kecemasan akhirnya sedikit lega."Alya, kamu sudah bangun," ucapnya dengan nada lega yang tak bisa disembunyikan.Mendengar s
Reihan memainkan jemarinya di permukaan air bathtub, menciptakan riak-riak kecil yang seolah sengaja mengusik ketenangan Alya. "Aku sudah menunggumu, Alya," ucapnya dengan nada datar yang sulit ditebak."Kamu tahu sudah berapa lama kamu berada di dalam kamar mandi ini?" tanya Reihan lagi tanpa meng
Reihan melangkah menghampiri ibunya dengan wajah yang tampak kaku. Rahangnya mengeras, menciptakan garis tegas yang menunjukkan bahwa ia sedang berada di puncak batas kesabarannya. Setiap langkah yang ia ambil seolah membawa beban amarah yang siap meledak kapan saja."Kamu ngapain saja sih, Rei? Di
Alya terduduk lesu di kursi makan yang dingin. Ia menyadari posisinya dengan sangat jelas sekarang. Pernikahan mereka berlangsung tanpa adanya rasa suka di awal, sebuah ikatan yang terjalin karena situasi, bukan karena hati. Selama ini, ia merasa hanya bisa menjadi beban bagi Reihan. Pikirannya me
Alya terbangun dengan sentakan kecil di tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang saat ia teringat akan tenggat waktu pekerjaan sampingannya yang belum selesai. Mengingat kliennya meminta naskah itu harus beres besok pagi, ia tidak boleh membuang waktu."Astaga, aku ketiduran!" ucap Alya lirih sambil b







