Alya memaksakan tawa, meski hatinya mencelos setiap kali harus berbohong pada sahabatnya sendiri. Dengan cepat ia meraih kembali paper bag itu dari tangan Dina. “Sudah, sini! Jangan kamu utak-atik terus, nanti lecet!” serunya sambil menarik paper bag itu ke dadanya. Dina mencebikkan bibirnya kesal, tetapi tetap melepaskan kotak ponsel itu. “Pelit banget kamu! Tapi serius, ini keren banget, Al! Buka dong, aku mau lihat isinya!” "Nanti aja di kosan kamu, ya? udah, ayo.. Keburu kelas mulai," elak Alya sambil mempercepat langkahnya, berharap Dina tak lagi membahas tentang ponsel itu. Untung saja, perhatian Dina dengan cepat beralih ke hal lain. Ingatannya melayang kembali pada kejadian saat Alya menabrak punggung Ketua BEM beberapa menit lalu. “Eh, ngomong-ngomong… tadi kamu nabrak Ketua BEM, ya?” bisik Dina, suaranya lirih seolah takut jika ada yang mendengar. "Gimana rasanya, Al? Deg-degan, nggak. trus kak Bima bilang apa?" tanya Dina tampa jeda, sambil menyenggol bahu Alya menguna
Last Updated : 2025-11-22 Read more