Chapter: Bab 194Sepanjang perjalanan, Alya lebih banyak diam sambil memandang keluar jendela. Deretan bangunan, kendaraan, dan orang-orang yang berlalu lalang di luar sana terasa seperti bayangan yang bergerak cepat, sementara pikirannya justru berjalan mundur ke masa lalu.Ia teringat bagaimana dulu kedua orang tuanya sempat mendekam di Nusakambangan atas perintah Reihan.Saat itu amarah Reihan benar-benar tak terbendung setelah semua kekacauan yang menyeret nama Alya dan dirinya sendiri terbongkar.Namun, ketika mereka tidak terbukti melakukan pencemaran nama baik, Reihan meminta agar mereka dipindahkan ke lapas yang lebih dekat agar lebih manusiawi.Mobil taksi online itu akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan dengan tembok tinggi dan kawat berduri yang melilit di bagian atasnya."Sudah sampai, Mbak," ucap sopir taksi membuyarkan lamunan Alya.Ia mengangguk pelan, membayar ongkos perjalanan, lalu turun dari mobil. Sesaat setelah pintu mobil tertutup, Alya berdiri diam di depan bangunan besar i
Last Updated: 2026-04-26
Chapter: Bab 193Karin menyambar tasnya yang tergeletak di kursi dengan gerakan kasar, lalu melangkah lebar meninggalkan kamar tanpa menoleh sedikit pun.Lidya yang sedang berada di dapur sempat menangkap bayangan Karin yang menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Merasa ada yang tidak beres, Lidya segera melangkah menuju kamar putranya itu.Brak!Pintu kamar Bima terbuka dengan sentakan keras, menghantam dinding hingga suaranya menggema."Apa yang kamu lakukan pada Karin, Bima?!" tanya Lidya dengan suara meninggi, sorot matanya berkilat penuh amarah.Bima yang sedang asyik bermain ponsel di ranjangnya tersentak kaget. Jantungnya nyaris melompat keluar melihat sang ibu berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam."Aku tidak melakukan apa pun," sahutnya santai, mencoba kembali fokus pada layar ponsel meski jemarinya sedikit kaku."Tidak melakukan apa pun? Lalu kenapa Karin keluar dari sini sambil menangis?" tanya Lidya lagi.Bima hanya mengangkat bahunya santai, mencoba terlihat tidak peduli mes
Last Updated: 2026-04-26
Chapter: Bab 192"Kelihatannya aku sedang melawak?" balas Bima tajam."Tanganku harus memegang besi ini agar tidak jatuh karena kakiku mati rasa. Jadi, siapa lagi yang akan membantuku? Setan?"Karin mematung. Tangannya menggantung di udara, terasa sangat dingin meski hatinya sedang membara karena malu.Ia merasa ini adalah ujian terberat dalam hidupnya. Apakah ini benar-benar bagian dari 'tanggung jawab' yang ia janjikan?"Bim, aku... aku panggilkan Tante Lidya saja ya?" tawar Karin dengan suara memelas."Mama sedang di dapur. Dan aku tidak mau dia melihat putranya yang malang ini kesulitan hanya untuk urusan begini," desis Bima, matanya mengunci pandangan Karin."Kenapa? Kamu takut? Katanya mau melakukan apa saja untuk menebus kesalahanmu?"Karin menelan ludah dengan susah payah. Kata-kata Bima barusan benar-benar mengunci langkahnya. Ia tahu Bima sengaja memojokkannya menggunakan rasa bersalah yang selama ini ia pikul.Dengan napas yang tertahan di tenggorokan, Karin perlahan mengulurkan tangannya y
Last Updated: 2026-04-26
Chapter: Bab 191Lidya tertegun menatap Karin. Sorot matanya dipenuhi rasa iba sekaligus kagum pada ketabahan gadis di depannya."Kamu tidak perlu memaksakan diri seperti ini, Karin. Biar Tante saja yang urus kalau dia sedang kumat galaknya," ucap Lidya tulus.Karin tersenyum tipis lalu menggeleng pelan. "Karin tidak apa-apa, Tante. Ini sudah jadi tugas Karin," sahutnya menenangkan.Karin segera kembali ke dapur untuk membuat sarapan baru. Ia memutuskan untuk tidak menyerah. Setelah mencari inspirasi sejenak, pilihan menunya jatuh pada nasi goreng kampung, menu simpel yang mudah dibuat namun aromanya selalu berhasil menggoda selera.Setelah beberapa saat berkutat dengan penggorengan, Karin kembali ke kamar Bima. Bau harum bumbu bawang dan aroma gurih seketika memenuhi ruangan.Bima melirik piring yang diletakkan Karin di hadapannya. Perutnya yang sedari tadi kosong tak bisa berbohong saat mencium aroma masakan itu."Aku bisa makan sendiri," ucapnya ketus, sembari menepis tangan Karin yang hendak memba
Last Updated: 2026-04-26
Chapter: Bab 190Sinar matahari pagi mulai menyelinap melalui celah gorden, mencoba menyapa dua insan yang masih bergelut di balik selimut tebal. Alya terbangun lebih dulu, merasakan beban berat yang melingkar posesif di pinggangnya.Ia melirik ke samping, melihat wajah Reihan yang tampak begitu tenang saat tertidur, sangat kontras dengan wajah datarnya yang biasanya terlihat mengintimidasi di kampus.Alya mencoba bergerak, jemarinya menyentuh kulit tangan suaminya, berusaha menyingkirkannya dengan gerakan yang sangat perlahan agar tidak mengusik tidur sang empunya.Namun, alih-alih terlepas, Reihan justru memberikan respons yang mengejutkan. Pria itu mengerang rendah dan justru semakin mengeratkan pelukannya, menarik tubuh Alya hingga tak ada lagi jarak di antara mereka."Jangan ke mana-mana. Biarkan seperti ini sebentar lagi," ucap Reihan dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.Tanpa menunggu jawaban, ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Alya, menghirup aroma wangi alami kulit istrinya ya
Last Updated: 2026-04-26
Chapter: Bab 189Alya yang menyadari perubahan nada suara suaminya seketika tersadar. Membuat ia segera melepaskan cekalannya pada lengan Reihan.Ia mencoba mengatur napas yang mendadak tidak beraturan, lalu berjalan pelan menuju sofa di sudut kamar, berniat untuk duduk di sana dan melanjutkan aksi perang dingin mereka yang sempat terinterupsi oleh padamnya listrik.Namun, belum sempat ia menjauh, Reihan bergerak lebih cepat. Dengan satu gerakan tangkas, lengan kokoh pria itu merengkuh pinggang ramping Alya, dan mengangkatnya dengan mudah, lalu membawanya menuju ranjang."Turunkan aku, Mas!" protes Alya, kaki kecilnya menendang udara dengan gerakan pelan.Reihan sama sekali tidak menjawab. Ia membaringkan tubuh Alya di atas ranjang, lalu segera mengungkungnya, mengunci pergerakan Alya dengan kedua lengan kuat di sisi tubuhnya."Mau ke mana? Katanya tadi takut," bisik Reihan dengan suara rendah yang bergetar di telinga Alya."Aku... aku tidak pernah bilang begitu," sanggah Alya, mencoba memalingkan waj
Last Updated: 2026-04-26
Madu untuk suamiku
Sepuluh tahun sudah pernikahan Arumi dan Raka berjalan tanpa kehadiran seorang anak. Berbagai cara telah mereka tempuh, pengobatan, doa, hingga pengorbanan yang nyaris menghabiskan harapan. Namun takdir seolah tak berpihak pada Arumi. Ia mulai dianggap mandul oleh mertuanya, yang tak lagi mampu menutupi rasa kecewa dan malu karena sang menantu tak kunjung memberi cucu.
Meski Raka selalu berkata bahwa cinta mereka lebih berharga dari segalanya, tekanan keluarga mulai menghancurkan ketenangan rumah tangga yang selama ini mereka jaga. Hingga suatu hari, sang mertua datang dengan permintaan yang menghancurkan hati Arumi, memintanya agar mengijinkan Raka menikah lagi, demi masa depan dan kelangsungan nama keluarga.
Di antara cinta dan luka, Arumi dihadapkan pada pilihan terberat. mempertahankan rumah tangga yang kian rapuh, atau melepaskan lelaki yang ia cintai untuk wanita lain, demi hadirnya seorang anak.
Read
Chapter: bab 14Arumi memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan napasnya yang masih naik turun. Dadanya terasa sesak, bukan hanya karena luka lama yang terus diungkit, tetapi juga karena firasat buruk yang tiba-tiba menggerogoti pikirannya. Selama ini ia selalu menelan hinaan dengan diam, tapi percakapan barusan jelas bukan hal sepele.Ia meluruskan tubuhnya, menatap sekeliling ruang kerja Raka yang rapi dan sunyi. Meja kayu besar itu masih dipenuhi berkas-berkas perusahaan, foto pernikahan mereka sepuluh tahun lalu berdiri di sudut meja, foto yang kini terasa seperti kenangan dari kehidupan orang lain. Arumi menghela napas panjang, lalu mulai membereskan beberapa dokumen yang berserakan, mencoba kembali pada rutinitasnya.Namun pikirannya tak lagi bisa diajak bekerja sama. Kata-kata Maya terus terngiang, berputar-putar seperti gema yang tak mau pergi. Tangan Arumi yang sedang merapikan map tiba-tiba berhenti. Perlahan, ia duduk di kursi kerja Raka, menatap kosong ke arah jendela.Selama ini, May
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: bab 13Pernyataan Arumi membuat ketegangan di meja makan itu mencair begitu saja, menyisakan aura kemenangan yang pekat. Raka mengembuskan napas panjang, sebuah desah lega yang terdengar sangat egois di telinga Arumi."Bagus kalau kamu mengerti," ucap Raka dingin, seraya melepaskan tatapannya dari Arumi dan kembali duduk.Di meja makan, Arumi hanya bisa menyantap makanan dalam diam. Setiap suapan yang masuk ke dalam mulutnya terasa hambar, seolah lidahnya pun sudah ikut mati rasa bersama hatinya. Di seberang meja, pemandangan yang tersaji jauh lebih berwarna, setidaknya bagi mereka.Raka tampak sibuk menyuapi Maya dengan penuh kesabaran. Sesekali, tangannya bergerak lembut, mengelus perut istri mudanya itu seolah di sana terdapat harta karun yang paling berharga di dunia."Makan yang banyak, sayang. Biar bayinya sehat," bisik Raka dengan suara yang begitu lembut, suara yang dulu hanya menjadi milik Arumi.Meskipun Arumi merasa sakit melihat itu, ia mencoba untuk tetap tegar. Ia tahu Raka pas
Last Updated: 2026-01-02
Chapter: bab 12Arumi bergerak di dapur seperti robot yang kehilangan baterai. Tangannya secara otomatis mengupas apel dan memotong melon, meski matanya masih terasa panas dan kepalanya berdenyut hebat. Di ruang makan, sayup-sayup terdengar tawa renyah Ratih yang sedang memuji kecantikan Maya pagi ini."Mbak Arum," suara Maya tiba-tiba terdengar di ambang pintu dapur.Arumi tidak menoleh. Ia terus mengiris buah dengan ritme yang konstan."Mbak jangan marah ya sama Ibu. Ibu cuma terlalu senang karena akhirnya rumah ini bakal ada suara bayi," Maya mendekat, berdiri tepat di samping Arumi. Suaranya dipelankan, hanya cukup untuk didengar mereka berdua. "Dan soal kejadian semalam... terima kasih ya, Mbak. Gara-gara insiden bubur itu, Mas Raka jadi makin sayang sama aku."Pisau di tangan Arumi terhenti. Ia menatap potongan apel di depannya dengan tatapan kosong. "Kamu sengaja menjegal kakiku, kan?"Maya tertawa kecil, sangat pelan hingga terdengar seperti desiran angin. "Sengaja atau tidak, hasilnya tetap
Last Updated: 2025-12-28
Chapter: bab 11Kesunyian di meja makan itu terasa mencekik. Arumi perlahan berlutut, mengabaikan rasa perih di hatinya yang jauh lebih menyakitkan daripada bentakan Raka. Dengan tangan gemetar, ia mulai memunguti pecahan mangkuk satu per satu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh, jatuh tepat di atas ceceran bubur putih yang kini tampak seperti reruntuhan martabatnya sebagai seorang istri."Sengaja atau tidak, hasilnya tetap sama. Aku yang salah di mata mereka," bisiknya lirih.Pikirannya melayang pada Maya. Ia yakin merasakan ada sentuhan kaki yang menjegal langkahnya tadi. Namun, siapa yang akan percaya? Di rumah ini, Maya adalah porselen indah yang sedang menyimpan permata keluarga, sedangkan dirinya hanyalah bejana retak yang tak berguna.Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.Ia menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak agar tak terdengar ke luar. Bahunya terguncang hebat, napasnya tersengal. Ia bukan menangis karena bubur yang tumpah, bukan pula karena dimarahi Raka. Ia
Last Updated: 2025-12-28
Chapter: bab 10"Arumi." panggil Raka dari arah pintu.Arumi baru saja ingin membaringkan tubuhnya di atas kasur untuk beristirahat ketika ia terkejut melihat Raka sudah berdiri di ambang pintu kamar. Wajahnya yang tadi tampak lelah mendadak berbinar, ia sempat mengira bahwa malam ini suaminya akan tidur bersamanya.“Iya, Mas?” ucap Arumi pelan, tersenyum kecil.“Bisakah kamu buatkan Maya bubur sumsum? Dia ngidam dan ingin sekali memakannya,” ujar Raka langsung ke tujuan.Senyum Arumi sontak menghilang. Wajahnya berubah lesu dan kecewa.“Mas… aku capek. Aku baru saja menyelesaikan semua pekerjaan, dan aku ingin beristirahat,” katanya lirih.“Mas bisa beli di luar, kan?” tambahnya, menolak pelan karena benar-benar lelah setelah mengerjakan segalanya seorang diri.“Ini sudah malam, Arumi. Mana ada yang jual bubur sumsum jam segini?” jawab Raka. Jam dinding menunjukkan pukul 11.30 malam.“Tidak bisa besok saja, Mas?” tanya Arumi, suaranya semakin pelan.Suara Maya tiba-tiba terdengar dari belakang.“Mba
Last Updated: 2025-11-17
Chapter: bab 09“Arumi, cepat kamu belanja beberapa bahan makanan. Kita harus mengadakan syukuran untuk kehadiran cucu pertama di keluarga ini,” ucap Ratih penuh antusias.Raka yang sejak tadi duduk di samping Maya hanya bisa menatap Arumi yang diam tanpa banyak berkata-kata.“Bu, tidak perlu terburu-buru. Kita bisa lakukan ini lain waktu,” tegur Raka pelan pada ibunya.“Tidak bisa,” balas Ratih cepat, nada suaranya tak memberi ruang untuk bantahan. “Ibu juga ingin memberi tahu teman-teman sosialita Ibu bahwa sebentar lagi Ibu akan punya cucu.”Ratih kemudian melirik Arumi. “Lagi pula Arumi juga tidak keberatan, kan? Bukankah anak yang ada di kandungan Maya itu juga anakmu? Begitu, kan, Arumi?”Arumi tersenyum kaku. Hanya itu yang bisa ia lakukan. kemudian ia mengangguk pelan.Raka menghela napas panjang. “Kalau begitu, biar aku saja yang pergi bersama Arumi.”“Jangan,” dengan cepat Ratih menolak. “Kamu kan baru pulang, pasti lelah. Istirahatlah di rumah. Temani Maya, dia sedang mengandung anakmu.
Last Updated: 2025-11-15