Chapter: Bab 291Alya baru saja hendak membuka mulut untuk menengahi perdebatan yang kembali memanas itu, namun tepat di saat itu, pintu utama terbuka. "Papa pulang...!" ucap Reihan dengan suara baritonnya yang khas sembari melangkah masuk ke dalam rumah. Namun seketika langkahnya terhenti saat melihat pemandangan di ruang tengah. Kedua putranya tampak kacau, duduk berjauhan dengan wajah sembab dan masih sesenggukan, sementara istrinya tampak sangat lelah berdiri di antara mereka. "Ada apa?" tanya Reihan pelan, menatap tiga orang kesayangannya bergantian. Menyadari kehadiran sang ayah, kedua bocah itu langsung menghapus air mata mereka. Bak menemukan pahlawan, Leon dan Liam langsung berlari menghampiri Reihan sembari berebut untuk mengadu. "Abang nakal, Papa!" ucap Liam dengan bibir mengerucut. "Tidak... Aku kan cuma mau pinjam!" bela Leon. Reihan menatap kedua putranya lalu beralih menatap wajah Alya. Mendapat tatapan dari suaminya, Alya hanya bisa menghela napas panjang dan memijat peli
Terakhir Diperbarui: 2026-06-18
Chapter: 290Gunawan mengangguk puas mendengar jawaban putranya."Itu yang harus selalu kamu ingat," ucapnya pelan.Reihan mengangguk mantap. Ia kembali menatap Alya yang sedang tersenyum manis sembari memperhatikan kedua putra kembar mereka. Rasa lega dan bahagia membuncah di rongga dadanya."Rei... Kemari sebentar," panggil Mirna, memecah keheningan di antara mereka."Ada apa, Mah?" ucap Reihan sambil melangkah mendekat."Lihat kedua putra tampanmu ini," ucap Mirna dengan mata berbinar memandangi bayi mungil di gendongannya."Mereka akan kamu beri nama siapa?" lanjutnya.Reihan terdiam sejenak. Ia memandangi kedua wajah mungil yang masih memerah itu, menimbang-nimbang nama terbaik yang sudah lama ia simpan di kepala untuk kedua putranya."Leon dan Liam," ucap Reihan mantap."Yang berarti kuat, sama seperti ibunya," lanjut Reihan, memberikan arti mendalam di balik nama singkat nan gagah itu.Ia lalu menoleh, menatap wajah Alya dengan tatapan yang begitu teduh dan penuh cinta. Di ranjangnya, Alya
Terakhir Diperbarui: 2026-06-18
Chapter: Bab 289"Arghhh...!"Rintihan Alya kembali memenuhi ruang persalinan.Dokter yang melihat tanda-tanda persalinan sudah memasuki tahap akhir segera bersiap."Baik, Bu Alya. Bayinya sudah mau keluar," ucap sang dokter dengan tenang."Tarik napas dalam-dalam, lalu dorong perlahan saat saya hitung, ya."Alya mengangguk lemah. Keringat membasahi seluruh wajahnya. Rambut yang sejak tadi rapi kini sudah berantakan menempel di dahi dan pelipis.Di samping ranjang, Reihan masih setia menggenggam tangannya."Ayo, Sayang. Sedikit lagi," bisiknya penuh semangat.Alya menarik napas panjang, lalu mengejan sekuat tenaga mengikuti arahan dokter."Bagus... sedikit lagi... dorong terus!"Rasa sakit yang luar biasa membuat Alya hampir menjerit. Namun ia terus berusaha mengumpulkan sisa tenaganya.Hingga beberapa saat kemudian...Tangisan nyaring seorang bayi akhirnya terdengar memenuhi ruangan. Alya langsung terkulai lemas di atas ranjang. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat.Air mata haru mengali
Terakhir Diperbarui: 2026-06-18
Chapter: Bab 288"Apa... Kenapa di saat seperti ini?" ucap Reihan panik setengah mati. Matanya melebar menatap genangan air di lantai, lalu beralih ke wajah Alya yang sudah berubah pias. "Sakit banget, Mas..." rintih Alya sambil memegangi pinggangnya yang mulai terasa nyeri. "Tahan... Tahan sebentar ya, Sayang," ucap Reihan gelagapan. Saking paniknya, pria bertubuh tegap itu malah mematung, Otaknya mendadak kosong. Ia bahkan tidak tahu harus melakukan apa terlebih dahulu. "Reihan!" Suara Mirna membuatnya tersentak. "Tunggu apa lagi?! Cepat ambil mobil!" seru Mirna. "A-ah, iya, Ma!" Reihan langsung tersadar, mengambil langkah seribu dan berlari sekencang mungkin menuju area parkiran. Tak butuh waktu lama, mobil sedan hitam milik Reihan sudah berhenti tepat di lobi barat aula. Mirna dengan sigap membantu Alya masuk ke dalam mobil. Setelah Alya duduk di kursi penumpang ditemani oleh Mirna di sampingnya, Reihan langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, memacu kendaraannya membelah jalanan menuju r
Terakhir Diperbarui: 2026-06-16
Chapter: Bab 287Tawa Alya langsung pecah melihat tingkah kocak suaminya. "Mas... kamu ini kenapa sih? Kok malah jadi lebay begini?" ucap Alya di sela tawanya. Reihan tidak langsung menjawab. Pria itu mengembuskan napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih meronta. Ia kemudian bergeser mendekat, membawa jemari tangannya untuk mengelus lembut perut buncit Alya. "Kamu tahu nggak?" ucapnya lembut. "Waktu dengar kamu manggil Mas pakai sebutan Papa, jantung Mas langsung berdebar-debar." Alya tersenyum geli. "Segitunya?" "Iya. Mas jadi nggak sabar nunggu mereka lahir." Tatapan Reihan melembut saat mengelus perut Alya. "Pasti rasanya menyenangkan sekali saat nanti mereka memanggil Mas dengan sebutan Papa." Perlahan ia menundukkan kepala, lalu mengecup perut sang istri dengan penuh kasih sayang. Namun, momen manis itu mendadak terputus saat suara keroncongan perut terdengar cukup jelas di antara mereka. Reihan langsung terdiam seketika di posisinya dengan kening bert
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: Bab 286Ia meraih paper bag tersebut, mengeluarkan isinya, dan seketika sebuah lukisan berukuran sedang terbentang di tangannya.Alya melirik sekilas dari sudut matanya."Itu kado pernikahan dari Arlan," ucap Alya santai, mencoba tetap fokus pada ketikannya."Cantik, kan?" lanjutnya."Istriku memang cantik," sahut Reihan spontan, matanya masih menatap lekat guratan kuas di atas kanvas tersebut.Senyum Alya langsung melebar mendengar pujian tersebut.Namun beberapa saat kemudian, ekspresi Reihan perlahan berubah datar. Alisnya berkerut tipis saat kembali mengamati lukisan itu dari atas hingga bawah."Tapi kenapa cuma ada kamu? Ini kan kado pernikahan, harusnya Mas juga dilukis dong di sini," protes Reihan, nadanya mendadak berubah ketus."Sepertinya dia memberikan ini karena ada maksud lain," gumam Reihan kemudian.Alya menghentikan ketikannya lalu menoleh, menatap suaminya dengan sebelah alis terangkat."Maksud lain gimana?" tanya Alya bingung."Jangan mulai deh, Mas," lanjut Alya cepat sebel
Terakhir Diperbarui: 2026-06-14
Chapter: Bab 62“Dia baru putus dengan Kak Rakka,” kata Bella, masih tak percaya. “Lagi pula, Ayumi sangat mencintainya. Mana mungkin dia berpaling secepat itu, meski sudah dicampakkan?”Selama ini, Bella tahu betul betapa kakak tirinya itu tergila-gila pada Rakka. Ayumi bahkan rela melakukan apa saja demi pria tersebut. Jadi, bagaimana mungkin perempuan itu tiba-tiba menikah dengan pria lain.“Nggak mungkin bagaimana? Ini buktinya ada di tangan Ibu!” seru Desi seraya mengibaskan cek bernilai fantastis itu di depan wajah putrinya.Bella meraih cek tersebut dengan kasar. Matanya menyipit, membaca angka nominal yang tertera di sana. Jemarinya gemetar hebat, antara tidak percaya dan iri setengah mati. Angka nol di kertas itu seolah menampar harga dirinya keras-keras.“Siapa pria bodoh yang mau menikahi cewek udik kayak Ayumi, Bu? Nggak usah ngarang deh!” bentak Bella dengan napas memburu. Rasa dengki yang tiba-tiba menguasai kepalanya itu seketika melenyapkan sisa-sisa efek alkohol yang tadi membuatnya
Terakhir Diperbarui: 2026-10-25
Chapter: Bab 61Ayumi mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia tidak menyangka pria yang biasanya dingin dan tak tersentuh ini ternyata bisa kesal juga hanya karena masalah panggilan.“Baik... saya akan serius,” ucap Ayumi akhirnya.Ia mulai memutar otak, mencari nama panggilan yang kira-kira terdengar pas agar mereka benar-benar terlihat seperti pasangan yang saling mencintai di depan orang lain. Setelah berpikir beberapa saat, sebuah ide mendadak terlintas di kepalanya. Mata Ayumi berbinar cerah, disertai senyum tipis yang terukir di bibirnya. Ia sangat yakin Adrian pasti akan setuju dengan ini.“Saya sudah memikirkan panggilan yang pas untuk kita,” ujar Ayumi dengan senyum penuh arti.Adrian tak membalas ucapan itu. Pria itu hanya mengangkat sebelah alisnya, lalu kembali sibuk melepas kancing kemejanya satu per satu dengan santai.“Bagaimana kalau... Baby?” usul Ayumi penuh percaya diri.Deg!Panggilan itu sukses membuat gerakan tangan Adrian terhenti seketika. Tubuhnya menegang. Jantungnya mendadak b
Terakhir Diperbarui: 2026-10-24
Chapter: Bab 60Adrian tidak menggubris panggilan lirih Ayumi. Ia hanya melirik istrinya sekilas sebelum mengalihkan pandangan kepada orang-orang yang masih duduk di meja makan. “Kami naik dulu,” katanya tenang. “Ayumi perlu membersihkan diri dan beristirahat.” Anita langsung mengangkat alisnya. “Makan malam baru saja dimulai. Kalian mau makan di kamar?” “Iya. Ayumi tadi terjatuh. Kasihan kalau dia harus naik turun tangga,” jawab Adrian santai, tanpa ragu sedikit pun. Ayumi tertegun. Ia mendongak, hendak membantah, karena dirinya baik-baik saja, dan Adrian tak perlu menambahkan kebohongan baru. Tapi sebelum Ayumi sempat bersuara, Adrian sudah mempererat pelukannya di pinggang gadis itu, membuat Ayumi menelan kembali kata-katanya. Lukman, yang sejak tadi memilih diam, akhirnya ikut angkat bicara. Tatapannya tertuju kepada Adrian dengan raut serius. “Apa yang ibumu katakan memang benar, Adrian. Kamu terlalu memanjakan istrimu. Kalau kamu melewatkan makan malam keluarga hanya untuk menemaniny
Terakhir Diperbarui: 2026-10-22
Chapter: Bab 59Hari mulai gelap ketika mobil Adrian melaju membelah jalanan kota. Lampu-lampu kendaraan berderet di sepanjang jalan, sementara para pekerja yang baru pulang membuat lalu lintas semakin padat.Di kursi penumpang, Ayumi hanya diam menatap keluar jendela. Jemarinya mencengkeram sabuk pengaman dengan erat mencoba menekan rasa malu yang masih mengganjal di dadanya. Kini Adrian tahu semuanya, tahu betapa rakusnya keluarganya terhadap uang.Ayumi menarik napas dalam-dalam. Berkali-kali ia menyusun kata-kata di benaknya, tetapi semuanya terasa salah. Namun, setelah beberapa saat bergulat dengan pikirannya, ia akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara."Pak... Adrian," panggilnya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin mobil."Hmm?" sahut Adrian pendek tanpa menoleh."Terima kasih untuk yang tadi. Tapi..." Ayumi menggantungkan kalimatnya. Ia ragu, lidahnya mendadak terasa kelu.Adrian melirik sekilas dari sudut matanya, menyadari keraguan di wajah wanita di sampingnya, sebelum k
Terakhir Diperbarui: 2026-10-21
Chapter: Bab 58Desi menegang seketika. Ia merasa panik, takut kalau Adrian tahu bahwa dialah yang menampar Ayumi tadi, bisa-bisa uang mahar yang ia harapkan tidak akan pernah ia miliki."Itu..." Desi mencari alasan secepat mungkin. "Ibu hanya ingin memberinya pelajaran, agar bersikap sopan kepada orang tua.”Desi menghela napas, lalu memasang wajah sedih. “Sejak menikah dengan keluarga kaya, dia seperti tidak mau mengakui kami lagi. Dia sudah membuang keluarganya sendiri.”Ia menyeka sudut matanya, tampak seperti sedang menahan tangis. “Lihat saja. Ayahnya masuk rumah sakit, tapi dia tidak peduli.”Ardian menatap mata Ayumi yang basah. "Benar begitu, Ayumi?"Ayumi menggeleng lemah. "Tidak... tidak seperti itu," bisiknya hampir tak terdengar.Ardian kembali menatap kedua orang tua di hadapannya. "Apapun yang istri saya lakukan, saya yakin dia punya alasan kuat untuk itu. Tapi sebagai suaminya..." Ardian jeda sejenak, menekankan setiap kata."...saya jelas tidak terima jika istri saya diperlakukan ka
Terakhir Diperbarui: 2026-10-17
Chapter: Bab 57Arman yang sejak tadi terbaring lemah perlahan berusaha bangkit. Dengan susah payah, ia menyandarkan punggung pada bantal. Pandangannya tertuju kepada pria yang berdiri di belakang Ayumi.“Ayumi…” Suaranya lirih. Jari-jarinya yang gemetar menunjuk kearah Adrian. “Siapa pria itu?”Sebelum Ayumi sempat menjawab, Ardian sudah lebih dulu maju satu langkah. Pria itu berdiri tegap tepat di samping Ayumi, membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai tanda hormat.“Perkenalkan, nama saya Adrian. Saya suami Ayumi.”Ruangan itu seketika hening. Arman tertegun. Desi yang duduk di samping ranjang pun tak kalah terkejut, sedangkan Ayumi menoleh cepat ke arah Adrian dengan tatapan tak percaya, jantungnya berdegup kencang mendengar ucapan itu.'Apa yang dia katakan? Suami?'Ayumi tidak pernah menyangka Adrian akan mengungkapkan pernikahan mereka secara langsung seperti ini. Bukankah sejak awal mereka sepakat untuk merahasiakannya?“Apa maksudmu?” Arman menatap Adrian, lalu mengalihkan pandangannya kepada
Terakhir Diperbarui: 2026-10-17
Chapter: bab 14Arumi memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan napasnya yang masih naik turun. Dadanya terasa sesak, bukan hanya karena luka lama yang terus diungkit, tetapi juga karena firasat buruk yang tiba-tiba menggerogoti pikirannya. Selama ini ia selalu menelan hinaan dengan diam, tapi percakapan barusan jelas bukan hal sepele.Ia meluruskan tubuhnya, menatap sekeliling ruang kerja Raka yang rapi dan sunyi. Meja kayu besar itu masih dipenuhi berkas-berkas perusahaan, foto pernikahan mereka sepuluh tahun lalu berdiri di sudut meja, foto yang kini terasa seperti kenangan dari kehidupan orang lain. Arumi menghela napas panjang, lalu mulai membereskan beberapa dokumen yang berserakan, mencoba kembali pada rutinitasnya.Namun pikirannya tak lagi bisa diajak bekerja sama. Kata-kata Maya terus terngiang, berputar-putar seperti gema yang tak mau pergi. Tangan Arumi yang sedang merapikan map tiba-tiba berhenti. Perlahan, ia duduk di kursi kerja Raka, menatap kosong ke arah jendela.Selama ini, May
Terakhir Diperbarui: 2026-01-10
Chapter: bab 13Pernyataan Arumi membuat ketegangan di meja makan itu mencair begitu saja, menyisakan aura kemenangan yang pekat. Raka mengembuskan napas panjang, sebuah desah lega yang terdengar sangat egois di telinga Arumi."Bagus kalau kamu mengerti," ucap Raka dingin, seraya melepaskan tatapannya dari Arumi dan kembali duduk.Di meja makan, Arumi hanya bisa menyantap makanan dalam diam. Setiap suapan yang masuk ke dalam mulutnya terasa hambar, seolah lidahnya pun sudah ikut mati rasa bersama hatinya. Di seberang meja, pemandangan yang tersaji jauh lebih berwarna, setidaknya bagi mereka.Raka tampak sibuk menyuapi Maya dengan penuh kesabaran. Sesekali, tangannya bergerak lembut, mengelus perut istri mudanya itu seolah di sana terdapat harta karun yang paling berharga di dunia."Makan yang banyak, sayang. Biar bayinya sehat," bisik Raka dengan suara yang begitu lembut, suara yang dulu hanya menjadi milik Arumi.Meskipun Arumi merasa sakit melihat itu, ia mencoba untuk tetap tegar. Ia tahu Raka pas
Terakhir Diperbarui: 2026-01-02
Chapter: bab 12Arumi bergerak di dapur seperti robot yang kehilangan baterai. Tangannya secara otomatis mengupas apel dan memotong melon, meski matanya masih terasa panas dan kepalanya berdenyut hebat. Di ruang makan, sayup-sayup terdengar tawa renyah Ratih yang sedang memuji kecantikan Maya pagi ini."Mbak Arum," suara Maya tiba-tiba terdengar di ambang pintu dapur.Arumi tidak menoleh. Ia terus mengiris buah dengan ritme yang konstan."Mbak jangan marah ya sama Ibu. Ibu cuma terlalu senang karena akhirnya rumah ini bakal ada suara bayi," Maya mendekat, berdiri tepat di samping Arumi. Suaranya dipelankan, hanya cukup untuk didengar mereka berdua. "Dan soal kejadian semalam... terima kasih ya, Mbak. Gara-gara insiden bubur itu, Mas Raka jadi makin sayang sama aku."Pisau di tangan Arumi terhenti. Ia menatap potongan apel di depannya dengan tatapan kosong. "Kamu sengaja menjegal kakiku, kan?"Maya tertawa kecil, sangat pelan hingga terdengar seperti desiran angin. "Sengaja atau tidak, hasilnya tetap
Terakhir Diperbarui: 2025-12-28
Chapter: bab 11Kesunyian di meja makan itu terasa mencekik. Arumi perlahan berlutut, mengabaikan rasa perih di hatinya yang jauh lebih menyakitkan daripada bentakan Raka. Dengan tangan gemetar, ia mulai memunguti pecahan mangkuk satu per satu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh, jatuh tepat di atas ceceran bubur putih yang kini tampak seperti reruntuhan martabatnya sebagai seorang istri."Sengaja atau tidak, hasilnya tetap sama. Aku yang salah di mata mereka," bisiknya lirih.Pikirannya melayang pada Maya. Ia yakin merasakan ada sentuhan kaki yang menjegal langkahnya tadi. Namun, siapa yang akan percaya? Di rumah ini, Maya adalah porselen indah yang sedang menyimpan permata keluarga, sedangkan dirinya hanyalah bejana retak yang tak berguna.Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.Ia menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak agar tak terdengar ke luar. Bahunya terguncang hebat, napasnya tersengal. Ia bukan menangis karena bubur yang tumpah, bukan pula karena dimarahi Raka. Ia
Terakhir Diperbarui: 2025-12-28
Chapter: bab 10"Arumi." panggil Raka dari arah pintu.Arumi baru saja ingin membaringkan tubuhnya di atas kasur untuk beristirahat ketika ia terkejut melihat Raka sudah berdiri di ambang pintu kamar. Wajahnya yang tadi tampak lelah mendadak berbinar, ia sempat mengira bahwa malam ini suaminya akan tidur bersamanya.“Iya, Mas?” ucap Arumi pelan, tersenyum kecil.“Bisakah kamu buatkan Maya bubur sumsum? Dia ngidam dan ingin sekali memakannya,” ujar Raka langsung ke tujuan.Senyum Arumi sontak menghilang. Wajahnya berubah lesu dan kecewa.“Mas… aku capek. Aku baru saja menyelesaikan semua pekerjaan, dan aku ingin beristirahat,” katanya lirih.“Mas bisa beli di luar, kan?” tambahnya, menolak pelan karena benar-benar lelah setelah mengerjakan segalanya seorang diri.“Ini sudah malam, Arumi. Mana ada yang jual bubur sumsum jam segini?” jawab Raka. Jam dinding menunjukkan pukul 11.30 malam.“Tidak bisa besok saja, Mas?” tanya Arumi, suaranya semakin pelan.Suara Maya tiba-tiba terdengar dari belakang.“Mba
Terakhir Diperbarui: 2025-11-17
Chapter: bab 09“Arumi, cepat kamu belanja beberapa bahan makanan. Kita harus mengadakan syukuran untuk kehadiran cucu pertama di keluarga ini,” ucap Ratih penuh antusias.Raka yang sejak tadi duduk di samping Maya hanya bisa menatap Arumi yang diam tanpa banyak berkata-kata.“Bu, tidak perlu terburu-buru. Kita bisa lakukan ini lain waktu,” tegur Raka pelan pada ibunya.“Tidak bisa,” balas Ratih cepat, nada suaranya tak memberi ruang untuk bantahan. “Ibu juga ingin memberi tahu teman-teman sosialita Ibu bahwa sebentar lagi Ibu akan punya cucu.”Ratih kemudian melirik Arumi. “Lagi pula Arumi juga tidak keberatan, kan? Bukankah anak yang ada di kandungan Maya itu juga anakmu? Begitu, kan, Arumi?”Arumi tersenyum kaku. Hanya itu yang bisa ia lakukan. kemudian ia mengangguk pelan.Raka menghela napas panjang. “Kalau begitu, biar aku saja yang pergi bersama Arumi.”“Jangan,” dengan cepat Ratih menolak. “Kamu kan baru pulang, pasti lelah. Istirahatlah di rumah. Temani Maya, dia sedang mengandung anakmu.
Terakhir Diperbarui: 2025-11-15