Chapter: bab 111Alya tersentak, kepalanya menoleh cepat ke arah sumber suara. Di sana, Reihan duduk dengan kaki yang disilangkan dengan santai. Di tangannya, ia memegang sebuah buku yang tampaknya baru saja selesai ia baca.Seketika, tatapan Alya menajam. Dadanya terasa sesak seiring dengan kesadaran yang mulai pulih sepenuhnya. Tangannya tanpa sadar meremas selimut dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih.Sepertinya, ia memang tidak pernah benar-benar bisa menjauh dari Reihan. Bahkan untuk sehari saja.Tanpa menanggapi sindiran suaminya. Alya memilih menyibakkan selimut ke samping, lalu turun dari ranjang dengan gerakan pelan."Kamu mau ke mana?" tanya Reihan saat melihat Alya berjalan ke arah pintu.Namun Alya tetap diam. Ia sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan yang dilontarkan suaminya."Alya!" panggil Reihan lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas.Ia berdiri dan melangkah cepat menyusul istrinya. Tangan Reihan bergerak gesit mencekal pergelangan tangan Alya tepat sebelum jemari
Terakhir Diperbarui: 2026-03-07
Chapter: bab 110Alya hanya terisak, membenamkan wajahnya pada bantal sofa yang sudah lembap. Kalimat Dina memang kejam, tapi Alya tahu itu benar. Mencintai Reihan adalah bentuk kesakitan yang ia pilih sendiri secara sadar."Aku tahu aku bodoh, Din," gumam Alya di balik bantal. "Tapi aku tidak bisa membencinya. Dia punya sisi lembut yang hanya aku yang tahu, meski itu jarang sekali muncul."Dina memijat pelipisnya, merasa kepalanya ikut berdenyut. Ia menyerah menghadapi keras kepalanya sahabatnya itu."Ya sudah... terserah kamu saja, Al. Capek aku kasih tahu kamu kalau ujung-ujungnya kamu balik lagi ke lubang yang sama."Di tempat lain, suasana rumah yang megah itu terasa sunyi. Reihan tiba di rumah tepat pukul setengah enam sore. Wajahnya tampak sangat lelah, guratan stres tercetak jelas di keningnya."Di mana Alya?" tanya Reihan pada Siti yang baru saja membukakan pintu untuknya.Siti tertegun menatap majikannya itu dengan alis berkerut heran. "Nyonya belum pulang, Tuan," ucap Siti jujur."Belum pul
Terakhir Diperbarui: 2026-03-06
Chapter: bab 109"Tentu saja," sahut Karin sambil menyandarkan punggung ke kursi, memutar garpunya dengan anggun."Kami tumbuh besar bersama. Aku tahu apa yang dia suka, apa yang dia benci, dan... apa yang pantas untuknya. Hubungan kami jauh lebih dalam dari sekadar apa yang bisa dipahami orang asing sepertimu."Alya merasakan denyut nyeri di kepalanya kembali hadir. Ia melirik Reihan melalui sudut matanya. Pria itu masih diam, tangannya bergerak tenang memotong daging steak di piringnya. Tidak ada bantahan, tidak ada pembelaan. Diamnya Reihan seolah membenarkan setiap kata yang keluar dari mulut Karin."Begitu ya," ucap Alya lirih, hampir seperti bisikan pada diri sendiri.Hening sejenak menyelimuti ruangan itu. Alya menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-isa harga dirinya yang tercecer. Dengan gerakan perlahan namun pasti, ia bangkit dari sofa."Kalau begitu, sebaiknya saya permisi," ucap Alya. Suaranya bergetar, namun ia berusaha sekuat tenaga agar tidak terdengar cengeng.Karin menatap A
Terakhir Diperbarui: 2026-03-06
Chapter: bab 108Alya tertidur cukup lama di sofa ruang kerja itu. Tubuhnya benar-benar kelelahan setelah semua yang terjadi hari ini.Perlahan kelopak matanya bergerak, lalu terbuka sedikit demi sedikit. Hal pertama yang ia sadari bukanlah ruangan di sekelilingnya, melainkan aroma parfum yang sangat ia kenal.Aroma itu lembut namun kuat, memenuhi indra penciumannya hingga membuat Alya sejenak terdiam. Rasanya aneh, seolah pria itu sedang berada sangat dekat dengannya. Bahkan seperti sedang memeluknya.Alya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya bangun dan duduk perlahan di sofa. Saat itulah ia menyadari sesuatu yang membuatnya tertegun.Sebuah jas abu-abu menyelimuti tubuhnya. Alya menunduk dan memegang kain jas itu dengan pelan. Ia tentu mengenali jas itu, jas milik Reihan.Entah sejak kapan pria itu menyelimutinya. Dadanya seketika terasa hangat sekaligus sedikit sesak.Alya kemudian mengangkat wajahnya dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, berharap menemukan sosok suaminya di sana. Namun
Terakhir Diperbarui: 2026-03-05
Chapter: bab 107Tiba-tiba suasana kelas yang tadinya bising oleh para mahasiswa lain mendadak senyap saat pintu ruangan terbuka dan Reihan melangkah masuk. Rahangnya masih mengeras dan aura mencekam masih menyelimutinya. Tatapan matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan dan berhenti tepat di tempat Alya duduk. Tatapan mereka sempat bertemu sesaat, namun Alya cepat-cepat memalingkan wajahnya.Selama menjelaskan materi, pikiran Reihan bercabang. Fokusnya buyar, matanya terus-menerus mencuri pandang ke arah Alya, namun wanita itu bersikap seolah suaminya tak ada di sana. Di sela-sela penjelasan, Reihan tampak sibuk dengan ponselnya, mencoba menjangkau Alya melalaui pesan singkat.Namun dari podium, ia bisa melihat Alya hanya membaca pesan-pesan itu tanpa niat sedikit pun untuk membalas.Merasa diabaikan membuat hati Reihan terasa panas. Amarah dan kecemburuan yang tadi sempat tertahan kini mendidih kembali. Ia mengetikkan pesan terakhir dengan jemari yang menegang.[Setelah ini datang ke ruanganku. Kal
Terakhir Diperbarui: 2026-03-03
Chapter: bab 106Alya mendongak dengan napas tersenggal. Di sana, Bima sudah berdiri dengan tatapan menghunus tajam ke arah mahasiswa itu.Mahasiswa itu mendecak kesal, menatap Alya sekilas sebelum akhirnya pergi tanpa berkata apa-apa, meninggalkan Alya yang masih terduduk kesakitan."Alya! Kamu nggak apa-apa?" tanya Bima dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan.Dengan sigap, Bima berlutut dan membantu Alya untuk kembali berdiri. Tangan Bima menyangga lengan Alya dengan hati-hati."Aku... aku nggak apa-apa, Kak," bisik Alya lirih, meski keringat dingin mulai tampak di dahinya.Bima tidak percaya begitu saja. Ia menatap Alya penuh selidik, menyadari ada yang salah dengan cara wanita itu mendekap perutnya.Bima mengernyit, tangannya refleks menahan Alya agar tidak kembali limbung. “Kamu yakin?” tanyanya lebih pelan, namun nadanya sarat akan kekhawatiran. “Wajah kamu pucat banget, Al. Kita ke klinik kampus sekarang, ya?"Alya mengangguk kecil, Ia mencoba menarik napas dalam-dalam untuk mengusir r
Terakhir Diperbarui: 2026-03-03
Chapter: bab 14Arumi memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan napasnya yang masih naik turun. Dadanya terasa sesak, bukan hanya karena luka lama yang terus diungkit, tetapi juga karena firasat buruk yang tiba-tiba menggerogoti pikirannya. Selama ini ia selalu menelan hinaan dengan diam, tapi percakapan barusan jelas bukan hal sepele.Ia meluruskan tubuhnya, menatap sekeliling ruang kerja Raka yang rapi dan sunyi. Meja kayu besar itu masih dipenuhi berkas-berkas perusahaan, foto pernikahan mereka sepuluh tahun lalu berdiri di sudut meja, foto yang kini terasa seperti kenangan dari kehidupan orang lain. Arumi menghela napas panjang, lalu mulai membereskan beberapa dokumen yang berserakan, mencoba kembali pada rutinitasnya.Namun pikirannya tak lagi bisa diajak bekerja sama. Kata-kata Maya terus terngiang, berputar-putar seperti gema yang tak mau pergi. Tangan Arumi yang sedang merapikan map tiba-tiba berhenti. Perlahan, ia duduk di kursi kerja Raka, menatap kosong ke arah jendela.Selama ini, May
Terakhir Diperbarui: 2026-01-10
Chapter: bab 13Pernyataan Arumi membuat ketegangan di meja makan itu mencair begitu saja, menyisakan aura kemenangan yang pekat. Raka mengembuskan napas panjang, sebuah desah lega yang terdengar sangat egois di telinga Arumi."Bagus kalau kamu mengerti," ucap Raka dingin, seraya melepaskan tatapannya dari Arumi dan kembali duduk.Di meja makan, Arumi hanya bisa menyantap makanan dalam diam. Setiap suapan yang masuk ke dalam mulutnya terasa hambar, seolah lidahnya pun sudah ikut mati rasa bersama hatinya. Di seberang meja, pemandangan yang tersaji jauh lebih berwarna, setidaknya bagi mereka.Raka tampak sibuk menyuapi Maya dengan penuh kesabaran. Sesekali, tangannya bergerak lembut, mengelus perut istri mudanya itu seolah di sana terdapat harta karun yang paling berharga di dunia."Makan yang banyak, sayang. Biar bayinya sehat," bisik Raka dengan suara yang begitu lembut, suara yang dulu hanya menjadi milik Arumi.Meskipun Arumi merasa sakit melihat itu, ia mencoba untuk tetap tegar. Ia tahu Raka pas
Terakhir Diperbarui: 2026-01-02
Chapter: bab 12Arumi bergerak di dapur seperti robot yang kehilangan baterai. Tangannya secara otomatis mengupas apel dan memotong melon, meski matanya masih terasa panas dan kepalanya berdenyut hebat. Di ruang makan, sayup-sayup terdengar tawa renyah Ratih yang sedang memuji kecantikan Maya pagi ini."Mbak Arum," suara Maya tiba-tiba terdengar di ambang pintu dapur.Arumi tidak menoleh. Ia terus mengiris buah dengan ritme yang konstan."Mbak jangan marah ya sama Ibu. Ibu cuma terlalu senang karena akhirnya rumah ini bakal ada suara bayi," Maya mendekat, berdiri tepat di samping Arumi. Suaranya dipelankan, hanya cukup untuk didengar mereka berdua. "Dan soal kejadian semalam... terima kasih ya, Mbak. Gara-gara insiden bubur itu, Mas Raka jadi makin sayang sama aku."Pisau di tangan Arumi terhenti. Ia menatap potongan apel di depannya dengan tatapan kosong. "Kamu sengaja menjegal kakiku, kan?"Maya tertawa kecil, sangat pelan hingga terdengar seperti desiran angin. "Sengaja atau tidak, hasilnya tetap
Terakhir Diperbarui: 2025-12-28
Chapter: bab 11Kesunyian di meja makan itu terasa mencekik. Arumi perlahan berlutut, mengabaikan rasa perih di hatinya yang jauh lebih menyakitkan daripada bentakan Raka. Dengan tangan gemetar, ia mulai memunguti pecahan mangkuk satu per satu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh, jatuh tepat di atas ceceran bubur putih yang kini tampak seperti reruntuhan martabatnya sebagai seorang istri."Sengaja atau tidak, hasilnya tetap sama. Aku yang salah di mata mereka," bisiknya lirih.Pikirannya melayang pada Maya. Ia yakin merasakan ada sentuhan kaki yang menjegal langkahnya tadi. Namun, siapa yang akan percaya? Di rumah ini, Maya adalah porselen indah yang sedang menyimpan permata keluarga, sedangkan dirinya hanyalah bejana retak yang tak berguna.Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.Ia menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak agar tak terdengar ke luar. Bahunya terguncang hebat, napasnya tersengal. Ia bukan menangis karena bubur yang tumpah, bukan pula karena dimarahi Raka. Ia
Terakhir Diperbarui: 2025-12-28
Chapter: bab 10"Arumi." panggil Raka dari arah pintu.Arumi baru saja ingin membaringkan tubuhnya di atas kasur untuk beristirahat ketika ia terkejut melihat Raka sudah berdiri di ambang pintu kamar. Wajahnya yang tadi tampak lelah mendadak berbinar, ia sempat mengira bahwa malam ini suaminya akan tidur bersamanya.“Iya, Mas?” ucap Arumi pelan, tersenyum kecil.“Bisakah kamu buatkan Maya bubur sumsum? Dia ngidam dan ingin sekali memakannya,” ujar Raka langsung ke tujuan.Senyum Arumi sontak menghilang. Wajahnya berubah lesu dan kecewa.“Mas… aku capek. Aku baru saja menyelesaikan semua pekerjaan, dan aku ingin beristirahat,” katanya lirih.“Mas bisa beli di luar, kan?” tambahnya, menolak pelan karena benar-benar lelah setelah mengerjakan segalanya seorang diri.“Ini sudah malam, Arumi. Mana ada yang jual bubur sumsum jam segini?” jawab Raka. Jam dinding menunjukkan pukul 11.30 malam.“Tidak bisa besok saja, Mas?” tanya Arumi, suaranya semakin pelan.Suara Maya tiba-tiba terdengar dari belakang.“Mba
Terakhir Diperbarui: 2025-11-17
Chapter: bab 09“Arumi, cepat kamu belanja beberapa bahan makanan. Kita harus mengadakan syukuran untuk kehadiran cucu pertama di keluarga ini,” ucap Ratih penuh antusias.Raka yang sejak tadi duduk di samping Maya hanya bisa menatap Arumi yang diam tanpa banyak berkata-kata.“Bu, tidak perlu terburu-buru. Kita bisa lakukan ini lain waktu,” tegur Raka pelan pada ibunya.“Tidak bisa,” balas Ratih cepat, nada suaranya tak memberi ruang untuk bantahan. “Ibu juga ingin memberi tahu teman-teman sosialita Ibu bahwa sebentar lagi Ibu akan punya cucu.”Ratih kemudian melirik Arumi. “Lagi pula Arumi juga tidak keberatan, kan? Bukankah anak yang ada di kandungan Maya itu juga anakmu? Begitu, kan, Arumi?”Arumi tersenyum kaku. Hanya itu yang bisa ia lakukan. kemudian ia mengangguk pelan.Raka menghela napas panjang. “Kalau begitu, biar aku saja yang pergi bersama Arumi.”“Jangan,” dengan cepat Ratih menolak. “Kamu kan baru pulang, pasti lelah. Istirahatlah di rumah. Temani Maya, dia sedang mengandung anakmu.
Terakhir Diperbarui: 2025-11-15