Chapter: Bab 283Mendengar kalimat itu, pipi Alya seketika bersemu merah.Bukan hanya dirinya yang mendengar ucapan Reihan, tetapi seluruh tamu undangan yang memenuhi aula pernikahan itu juga mendengarnya dengan jelas.Sontak suara sorak-sorai dan tepuk tangan meriah menggema di seluruh ruangan."Cium...!""Cium...!""Cium...!"Seruan itu terdengar bersahut-sahutan dari berbagai sudut aula.Alya yang menjadi pusat perhatian langsung menundukkan wajahnya. Jantungnya berdegup kencang, sementara rasa malu membuat kedua pipinya semakin memanas.Ia sama sekali tidak menyangka para tamu akan bereaksi seperti itu.Yang benar saja?! Tidak mungkin mereka berciuman di depan umum, apalagi tepat di hadapan penghulu yang saat ini tengah tersenyum simpul sambil merapikan berkas-berkas nikah!Reihan yang menyadari kepanikan sang istri hanya bisa tersenyum tipis. Sudut bibirnya terangkat, merasa gemas melihat wajah Alya yang sudah semerah kepiting rebus.Ia sedikit membungkukkan tubuhnya yang tegap, lalu dengan gerak
Last Updated: 2026-06-10
Chapter: Bab 282"Ayo, semua orang sudah menunggu kita."Suara Rehan terdengar lembut, namun penuh kehangatan.Alya mengangguk pelan, tetapi sebelum melangkah, ia sempat menoleh ke arah kedua orang tuanya.Matanya berkaca-kaca, seolah meminta restu sekali lagi untuk melangkah menuju babak baru dalam hidupnya.Sari dan Salim memahami tatapan itu. Keduanya tersenyum haru sambil menganggukkan kepala."Pergilah, Nak," ucap sari.Salim yang berdiri di samping istrinya ikut mengangguk. Meski matanya memerah karena menahan tangis, senyum bangga tetap terukir di wajahnya."Ayah dan ibu merestui kalian, kamu pantas bahagia Alya."Mendengar itu, senyum Alya perlahan mengembang. Reihan kemudian menggenggam tangan istrinya dengan lembut.Jemarinya menyelip di antara jari-jari Alya, memberikan ketenangan yang selama ini selalu mampu ia berikan.Bersama-sama mereka melangkah keluar dari ruangan menuju aula pernikahan.Begitu pintu aula terbuka, pemandangan indah langsung menyambut mereka.Ruangan itu dihias dengan
Last Updated: 2026-06-09
Chapter: Bab 281"Ibu... Ayah..."Suara Alya bergetar pelan. Matanya langsung berkaca-kaca saat melihat sosok Sari dan Salim berdiri di ambang pintu.Hari ini keduanya tampak berbeda. Bukan hanya karena pakaian rapi yang mereka kenakan untuk menghadiri pernikahan putri mereka, melainkan karena sorot mata yang kini dipenuhi penyesalan dan kasih sayang yang selama ini tak pernah benar-benar Alya rasakan.Sari tersenyum tipis, meski air mata telah lebih dulu menggenang di pelupuk matanya."Aduh..." gumamnya lirih sambil menatap Alya dari ujung kepala hingga kaki. "Anak Ibu cantik sekali."Kalimat sederhana itu membuat dada Alya terasa sesak. Seumur hidupnya, ia begitu mendambakan pujian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya.Dan kini, ketika akhirnya mendengarnya, air mata yang sedari tadi ia tahan pun jatuh membasahi pipi.Sari berjalan mendekat. Dengan tangan gemetar, Sari menggenggam kedua tangan putrinya."Ibu minta maaf, Nak."Seketika ruangan itu menjadi sunyi."Ibu sudah terlalu banyak menyakit
Last Updated: 2026-06-08
Chapter: Bab 280Suasana di lokasi kejadian mendadak berubah riuh. Orang-orang berkerumun mengelilingi tubuh Siska yang terbaring tak bergerak di lantai.Bisik-bisik terdengar dari berbagai arah, bercampur dengan tatapan prihatin yang tertuju pada kondisi wanita itu.Beberapa orang bahkan menutup mulut mereka, tak sanggup melihat pemandangan yang begitu tragis.Tak lama kemudian, sejumlah petugas kepolisian tiba di lokasi dan segera mengamankan area.Reihan dan Robi yang berada di tempat kejadian dimintai keterangan sebagai saksi.Proses pemeriksaan berlangsung hingga larut malam. Polisi memeriksa setiap bukti yang ada, termasuk rekaman kamera pengawas yang terpasang di ruangan tersebut.Setelah melalui penyelidikan menyeluruh, pihak berwenang menyimpulkan bahwa Siska sengaja mengakhiri hidupnya sendiri saat hendak diserahkan kepada polisi atas berbagai tindakan kriminal yang telah dilakukannya.Malam itu terasa begitu panjang dan melelahkan. Namun pada akhirnya, Reihan dan Robi dinyatakan tidak terli
Last Updated: 2026-06-08
Chapter: Bab 279Malam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh ketika Reihan akhirnya meninggalkan rumah sakit.Sebelumnya, ia sengaja menunggu hingga Alya tertidur lebih dulu.Ia tidak ingin istrinya mengetahui ke mana ia akan pergi malam ini. Setelah semua yang terjadi, Alya sudah terlalu banyak memikul ketakutan dan tekanan.Reihan tidak mau menambah beban pikiran wanita yang sedang mengandung anaknya itu.Karena itulah, begitu memastikan Alya terlelap dengan tenang, ia diam-diam meninggalkan rumah sakit dan langsung menuju apartemen tempat Siska bersembunyi.Perjalanan malam itu terasa begitu sunyi. Namun di balik kesunyian tersebut, amarah yang selama ini ditahannya terus bergolak di dalam dada.Tak lama kemudian, mobil Reihan memasuki area parkir apartemen.Begitu melihat mobil sang atasan, Robi yang sejak tadi melakukan pengawasan segera menghampiri. Ia membuka pintu mobil untuk Reihan."Masih tidak ada pergerakan?" tanya Reihan tanpa basa-basi."Belum ada, Pak," jawab Robi cepat. "Dia
Last Updated: 2026-06-07
Chapter: Bab 278Reihan berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit yang cukup ramai. Langkahnya panjang dan tergesa, sementara pikirannya hanya tertuju pada satu orang.Sejak menerima kabar bahwa istrinya telah bangun, ia bahkan nyaris tidak bisa menunggu lebih lama untuk melihatnya secara langsung.Begitu tiba di depan ruang perawatan, Reihan segera membuka pintu kamar itu.Ceklek.Pintu terbuka perlahan. Seketika pandangannya langsung tertuju pada sosok yang sejak tadi memenuhi pikirannya.Alya tampak duduk bersandar di ranjang rumah sakit dengan beberapa bantal menopang punggungnya. Wajahnya masih terlihat sedikit pucat, tetapi kondisinya jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.Di samping ranjang, Mirna sedang duduk sambil menyuapkan bubur hangat kepada menantunya dengan penuh perhatian.Melihat kondisi Alya yang semakin membaik membuat dada Reihan yang sejak tadi dipenuhi kecemasan akhirnya sedikit lega."Alya, kamu sudah bangun," ucapnya dengan nada lega yang tak bisa disembunyikan.Mendengar s
Last Updated: 2026-06-07
Madu untuk suamiku
Sepuluh tahun sudah pernikahan Arumi dan Raka berjalan tanpa kehadiran seorang anak. Berbagai cara telah mereka tempuh, pengobatan, doa, hingga pengorbanan yang nyaris menghabiskan harapan. Namun takdir seolah tak berpihak pada Arumi. Ia mulai dianggap mandul oleh mertuanya, yang tak lagi mampu menutupi rasa kecewa dan malu karena sang menantu tak kunjung memberi cucu.
Meski Raka selalu berkata bahwa cinta mereka lebih berharga dari segalanya, tekanan keluarga mulai menghancurkan ketenangan rumah tangga yang selama ini mereka jaga. Hingga suatu hari, sang mertua datang dengan permintaan yang menghancurkan hati Arumi, memintanya agar mengijinkan Raka menikah lagi, demi masa depan dan kelangsungan nama keluarga.
Di antara cinta dan luka, Arumi dihadapkan pada pilihan terberat. mempertahankan rumah tangga yang kian rapuh, atau melepaskan lelaki yang ia cintai untuk wanita lain, demi hadirnya seorang anak.
Read
Chapter: bab 14Arumi memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan napasnya yang masih naik turun. Dadanya terasa sesak, bukan hanya karena luka lama yang terus diungkit, tetapi juga karena firasat buruk yang tiba-tiba menggerogoti pikirannya. Selama ini ia selalu menelan hinaan dengan diam, tapi percakapan barusan jelas bukan hal sepele.Ia meluruskan tubuhnya, menatap sekeliling ruang kerja Raka yang rapi dan sunyi. Meja kayu besar itu masih dipenuhi berkas-berkas perusahaan, foto pernikahan mereka sepuluh tahun lalu berdiri di sudut meja, foto yang kini terasa seperti kenangan dari kehidupan orang lain. Arumi menghela napas panjang, lalu mulai membereskan beberapa dokumen yang berserakan, mencoba kembali pada rutinitasnya.Namun pikirannya tak lagi bisa diajak bekerja sama. Kata-kata Maya terus terngiang, berputar-putar seperti gema yang tak mau pergi. Tangan Arumi yang sedang merapikan map tiba-tiba berhenti. Perlahan, ia duduk di kursi kerja Raka, menatap kosong ke arah jendela.Selama ini, May
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: bab 13Pernyataan Arumi membuat ketegangan di meja makan itu mencair begitu saja, menyisakan aura kemenangan yang pekat. Raka mengembuskan napas panjang, sebuah desah lega yang terdengar sangat egois di telinga Arumi."Bagus kalau kamu mengerti," ucap Raka dingin, seraya melepaskan tatapannya dari Arumi dan kembali duduk.Di meja makan, Arumi hanya bisa menyantap makanan dalam diam. Setiap suapan yang masuk ke dalam mulutnya terasa hambar, seolah lidahnya pun sudah ikut mati rasa bersama hatinya. Di seberang meja, pemandangan yang tersaji jauh lebih berwarna, setidaknya bagi mereka.Raka tampak sibuk menyuapi Maya dengan penuh kesabaran. Sesekali, tangannya bergerak lembut, mengelus perut istri mudanya itu seolah di sana terdapat harta karun yang paling berharga di dunia."Makan yang banyak, sayang. Biar bayinya sehat," bisik Raka dengan suara yang begitu lembut, suara yang dulu hanya menjadi milik Arumi.Meskipun Arumi merasa sakit melihat itu, ia mencoba untuk tetap tegar. Ia tahu Raka pas
Last Updated: 2026-01-02
Chapter: bab 12Arumi bergerak di dapur seperti robot yang kehilangan baterai. Tangannya secara otomatis mengupas apel dan memotong melon, meski matanya masih terasa panas dan kepalanya berdenyut hebat. Di ruang makan, sayup-sayup terdengar tawa renyah Ratih yang sedang memuji kecantikan Maya pagi ini."Mbak Arum," suara Maya tiba-tiba terdengar di ambang pintu dapur.Arumi tidak menoleh. Ia terus mengiris buah dengan ritme yang konstan."Mbak jangan marah ya sama Ibu. Ibu cuma terlalu senang karena akhirnya rumah ini bakal ada suara bayi," Maya mendekat, berdiri tepat di samping Arumi. Suaranya dipelankan, hanya cukup untuk didengar mereka berdua. "Dan soal kejadian semalam... terima kasih ya, Mbak. Gara-gara insiden bubur itu, Mas Raka jadi makin sayang sama aku."Pisau di tangan Arumi terhenti. Ia menatap potongan apel di depannya dengan tatapan kosong. "Kamu sengaja menjegal kakiku, kan?"Maya tertawa kecil, sangat pelan hingga terdengar seperti desiran angin. "Sengaja atau tidak, hasilnya tetap
Last Updated: 2025-12-28
Chapter: bab 11Kesunyian di meja makan itu terasa mencekik. Arumi perlahan berlutut, mengabaikan rasa perih di hatinya yang jauh lebih menyakitkan daripada bentakan Raka. Dengan tangan gemetar, ia mulai memunguti pecahan mangkuk satu per satu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh, jatuh tepat di atas ceceran bubur putih yang kini tampak seperti reruntuhan martabatnya sebagai seorang istri."Sengaja atau tidak, hasilnya tetap sama. Aku yang salah di mata mereka," bisiknya lirih.Pikirannya melayang pada Maya. Ia yakin merasakan ada sentuhan kaki yang menjegal langkahnya tadi. Namun, siapa yang akan percaya? Di rumah ini, Maya adalah porselen indah yang sedang menyimpan permata keluarga, sedangkan dirinya hanyalah bejana retak yang tak berguna.Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.Ia menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak agar tak terdengar ke luar. Bahunya terguncang hebat, napasnya tersengal. Ia bukan menangis karena bubur yang tumpah, bukan pula karena dimarahi Raka. Ia
Last Updated: 2025-12-28
Chapter: bab 10"Arumi." panggil Raka dari arah pintu.Arumi baru saja ingin membaringkan tubuhnya di atas kasur untuk beristirahat ketika ia terkejut melihat Raka sudah berdiri di ambang pintu kamar. Wajahnya yang tadi tampak lelah mendadak berbinar, ia sempat mengira bahwa malam ini suaminya akan tidur bersamanya.“Iya, Mas?” ucap Arumi pelan, tersenyum kecil.“Bisakah kamu buatkan Maya bubur sumsum? Dia ngidam dan ingin sekali memakannya,” ujar Raka langsung ke tujuan.Senyum Arumi sontak menghilang. Wajahnya berubah lesu dan kecewa.“Mas… aku capek. Aku baru saja menyelesaikan semua pekerjaan, dan aku ingin beristirahat,” katanya lirih.“Mas bisa beli di luar, kan?” tambahnya, menolak pelan karena benar-benar lelah setelah mengerjakan segalanya seorang diri.“Ini sudah malam, Arumi. Mana ada yang jual bubur sumsum jam segini?” jawab Raka. Jam dinding menunjukkan pukul 11.30 malam.“Tidak bisa besok saja, Mas?” tanya Arumi, suaranya semakin pelan.Suara Maya tiba-tiba terdengar dari belakang.“Mba
Last Updated: 2025-11-17
Chapter: bab 09“Arumi, cepat kamu belanja beberapa bahan makanan. Kita harus mengadakan syukuran untuk kehadiran cucu pertama di keluarga ini,” ucap Ratih penuh antusias.Raka yang sejak tadi duduk di samping Maya hanya bisa menatap Arumi yang diam tanpa banyak berkata-kata.“Bu, tidak perlu terburu-buru. Kita bisa lakukan ini lain waktu,” tegur Raka pelan pada ibunya.“Tidak bisa,” balas Ratih cepat, nada suaranya tak memberi ruang untuk bantahan. “Ibu juga ingin memberi tahu teman-teman sosialita Ibu bahwa sebentar lagi Ibu akan punya cucu.”Ratih kemudian melirik Arumi. “Lagi pula Arumi juga tidak keberatan, kan? Bukankah anak yang ada di kandungan Maya itu juga anakmu? Begitu, kan, Arumi?”Arumi tersenyum kaku. Hanya itu yang bisa ia lakukan. kemudian ia mengangguk pelan.Raka menghela napas panjang. “Kalau begitu, biar aku saja yang pergi bersama Arumi.”“Jangan,” dengan cepat Ratih menolak. “Kamu kan baru pulang, pasti lelah. Istirahatlah di rumah. Temani Maya, dia sedang mengandung anakmu.
Last Updated: 2025-11-15