เข้าสู่ระบบAlya baru saja hendak membuka mulut untuk menengahi perdebatan yang kembali memanas itu, namun tepat di saat itu, pintu utama terbuka. "Papa pulang...!" ucap Reihan dengan suara baritonnya yang khas sembari melangkah masuk ke dalam rumah. Namun seketika langkahnya terhenti saat melihat pemandangan di ruang tengah. Kedua putranya tampak kacau, duduk berjauhan dengan wajah sembab dan masih sesenggukan, sementara istrinya tampak sangat lelah berdiri di antara mereka. "Ada apa?" tanya Reihan pelan, menatap tiga orang kesayangannya bergantian. Menyadari kehadiran sang ayah, kedua bocah itu langsung menghapus air mata mereka. Bak menemukan pahlawan, Leon dan Liam langsung berlari menghampiri Reihan sembari berebut untuk mengadu. "Abang nakal, Papa!" ucap Liam dengan bibir mengerucut. "Tidak... Aku kan cuma mau pinjam!" bela Leon. Reihan menatap kedua putranya lalu beralih menatap wajah Alya. Mendapat tatapan dari suaminya, Alya hanya bisa menghela napas panjang dan memijat peli
Gunawan mengangguk puas mendengar jawaban putranya."Itu yang harus selalu kamu ingat," ucapnya pelan.Reihan mengangguk mantap. Ia kembali menatap Alya yang sedang tersenyum manis sembari memperhatikan kedua putra kembar mereka. Rasa lega dan bahagia membuncah di rongga dadanya."Rei... Kemari sebentar," panggil Mirna, memecah keheningan di antara mereka."Ada apa, Mah?" ucap Reihan sambil melangkah mendekat."Lihat kedua putra tampanmu ini," ucap Mirna dengan mata berbinar memandangi bayi mungil di gendongannya."Mereka akan kamu beri nama siapa?" lanjutnya.Reihan terdiam sejenak. Ia memandangi kedua wajah mungil yang masih memerah itu, menimbang-nimbang nama terbaik yang sudah lama ia simpan di kepala untuk kedua putranya."Leon dan Liam," ucap Reihan mantap."Yang berarti kuat, sama seperti ibunya," lanjut Reihan, memberikan arti mendalam di balik nama singkat nan gagah itu.Ia lalu menoleh, menatap wajah Alya dengan tatapan yang begitu teduh dan penuh cinta. Di ranjangnya, Alya
"Arghhh...!"Rintihan Alya kembali memenuhi ruang persalinan.Dokter yang melihat tanda-tanda persalinan sudah memasuki tahap akhir segera bersiap."Baik, Bu Alya. Bayinya sudah mau keluar," ucap sang dokter dengan tenang."Tarik napas dalam-dalam, lalu dorong perlahan saat saya hitung, ya."Alya mengangguk lemah. Keringat membasahi seluruh wajahnya. Rambut yang sejak tadi rapi kini sudah berantakan menempel di dahi dan pelipis.Di samping ranjang, Reihan masih setia menggenggam tangannya."Ayo, Sayang. Sedikit lagi," bisiknya penuh semangat.Alya menarik napas panjang, lalu mengejan sekuat tenaga mengikuti arahan dokter."Bagus... sedikit lagi... dorong terus!"Rasa sakit yang luar biasa membuat Alya hampir menjerit. Namun ia terus berusaha mengumpulkan sisa tenaganya.Hingga beberapa saat kemudian...Tangisan nyaring seorang bayi akhirnya terdengar memenuhi ruangan. Alya langsung terkulai lemas di atas ranjang. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat.Air mata haru mengali
"Apa... Kenapa di saat seperti ini?" ucap Reihan panik setengah mati. Matanya melebar menatap genangan air di lantai, lalu beralih ke wajah Alya yang sudah berubah pias. "Sakit banget, Mas..." rintih Alya sambil memegangi pinggangnya yang mulai terasa nyeri. "Tahan... Tahan sebentar ya, Sayang," ucap Reihan gelagapan. Saking paniknya, pria bertubuh tegap itu malah mematung, Otaknya mendadak kosong. Ia bahkan tidak tahu harus melakukan apa terlebih dahulu. "Reihan!" Suara Mirna membuatnya tersentak. "Tunggu apa lagi?! Cepat ambil mobil!" seru Mirna. "A-ah, iya, Ma!" Reihan langsung tersadar, mengambil langkah seribu dan berlari sekencang mungkin menuju area parkiran. Tak butuh waktu lama, mobil sedan hitam milik Reihan sudah berhenti tepat di lobi barat aula. Mirna dengan sigap membantu Alya masuk ke dalam mobil. Setelah Alya duduk di kursi penumpang ditemani oleh Mirna di sampingnya, Reihan langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, memacu kendaraannya membelah jalanan menuju r
Tawa Alya langsung pecah melihat tingkah kocak suaminya. "Mas... kamu ini kenapa sih? Kok malah jadi lebay begini?" ucap Alya di sela tawanya. Reihan tidak langsung menjawab. Pria itu mengembuskan napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih meronta. Ia kemudian bergeser mendekat, membawa jemari tangannya untuk mengelus lembut perut buncit Alya. "Kamu tahu nggak?" ucapnya lembut. "Waktu dengar kamu manggil Mas pakai sebutan Papa, jantung Mas langsung berdebar-debar." Alya tersenyum geli. "Segitunya?" "Iya. Mas jadi nggak sabar nunggu mereka lahir." Tatapan Reihan melembut saat mengelus perut Alya. "Pasti rasanya menyenangkan sekali saat nanti mereka memanggil Mas dengan sebutan Papa." Perlahan ia menundukkan kepala, lalu mengecup perut sang istri dengan penuh kasih sayang. Namun, momen manis itu mendadak terputus saat suara keroncongan perut terdengar cukup jelas di antara mereka. Reihan langsung terdiam seketika di posisinya dengan kening bert
Ia meraih paper bag tersebut, mengeluarkan isinya, dan seketika sebuah lukisan berukuran sedang terbentang di tangannya.Alya melirik sekilas dari sudut matanya."Itu kado pernikahan dari Arlan," ucap Alya santai, mencoba tetap fokus pada ketikannya."Cantik, kan?" lanjutnya."Istriku memang cantik," sahut Reihan spontan, matanya masih menatap lekat guratan kuas di atas kanvas tersebut.Senyum Alya langsung melebar mendengar pujian tersebut.Namun beberapa saat kemudian, ekspresi Reihan perlahan berubah datar. Alisnya berkerut tipis saat kembali mengamati lukisan itu dari atas hingga bawah."Tapi kenapa cuma ada kamu? Ini kan kado pernikahan, harusnya Mas juga dilukis dong di sini," protes Reihan, nadanya mendadak berubah ketus."Sepertinya dia memberikan ini karena ada maksud lain," gumam Reihan kemudian.Alya menghentikan ketikannya lalu menoleh, menatap suaminya dengan sebelah alis terangkat."Maksud lain gimana?" tanya Alya bingung."Jangan mulai deh, Mas," lanjut Alya cepat sebel
Motor matic Dina akhirnya terparkir di sebuah mal besar di pusat kota. Setelah perdebatan soal syal di parkiran tadi, Dina menarik Alya masuk ke dalam gedung berAC itu, seolah ingin mencuci semua kepenatan Alya dengan cara berkeliling dari satu gerai ke gerai lainnya.Setelah puas mencuci mata dan
Reihan berdiri di depan kelas dengan postur tegap dan berwibawa seperti biasa. "Buka buku kalian halaman 150. Kita lanjutkan materi kemarin," ucap Reihan tanpa basa-basi.Sepanjang ia menjelaskan materi di depan kelas, perhatian Reihan terus teralih pada baris kursi tempat Alya duduk. Gadis itu seo
Alya berjalan gontai menuju kamarnya sendiri. Ia menghabiskan sisa malam itu dengan meringkuk di balik selimut, Ingatannya kembali pada beberapa momen ketika ia dan Reihan saling bertukar peluh, tentang bisikan lembut dan kata-kata manis yang di ucapkan Reihan saat itu. Lalu sebuah tawa getir lolos
Sinar matahari pagi yang menerobos masuk dari celah gorden menyapa mata Alya yang masih terasa berat. Saat kesadarannya terkumpul, ia tertegun mendapati dirinya sudah bergelung di balik selimut tebal di dalam kamarnya sendiri.Ingatannya melayang pada momen semalam, momen yang begitu intens hingga







