Blood is life: The Domain of the Queen Scarlet Dragon - V1

Blood is life: The Domain of the Queen Scarlet Dragon - V1

last update최신 업데이트 : 2021-08-19
작가:  Luis Daniel Serpa Benavente연재 중
언어: English
goodnovel16goodnovel
10
1 평가. 1 리뷰
18챕터
5.1K조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

시놉시스

The successor of one of the 12 heroes is betrayed, abandoned, and persecuted by those who once idolized her. After her death, God gives her the last mission, in addition to a unique bloodline and articles. "I implore you, in the name of your ancestors, to protect life from the darkness that is coming" "I was born and lived in the darkness, I am not like those heroes, instead of destroying the darkness. I will take it for myself and for the new race I will create; the others, whether I save them or not, will decide on my whim" Thus begins her journey in a world where the strong are respected and the weak must obey or die. "I will take this world, the galaxy, the universe, the firmament itself, I will make my own rules and give rise to a feared race where the payment for the offense must be paid with blood" This is the Volume 1 title: Fire and Burn; blood is so sweet

더 보기

1화

Prologue 01

“Kamu steril aja, Mama nggak sudi punya cucu darimu!”

Mendengar kalimat yang dikatakan oleh ibu mertuanya membuat Kaira mematung. Rasa lelah sepulang bekerja dan menyibukkan diri di dapur untuk menyiapkan makan malam kian bertumpuk, memberatkan bahunya.

Diliriknya sang suami—Mahesa—yang sedang duduk tenang menatap layar ponsel di samping ibunya, seolah tidak terbebani dengan permintaan itu.

Kaira meremas celemek kusut yang melindungi pakaiannya, dengan gugup berujar, “S-steril itu artinya saya nggak akan bisa punya anak, Ma.”

“Ya memang itu tujuannya! Kamu pikir aku bodoh?!” sahut ibu mertuanya, Sasmita, disertai dengusan sinis. “Adik iparmu bilang tadi pagi kamu muntah-muntah. Kamu nggak sedang hamil, ‘kan?”

“Nggak, Ma. Tadi pagi perut saya memang kurang enak.”

“Bagus. Sebelum hamil sebaiknya kamu cepat steril. Ini—” Sasmita menjeda kalimatnya sejenak, dilemparkannya sebuah amplop cokelat pada Kaira yang tak sempat menangkapnya sehingga amplop tersebut jatuh di kakinya.

“Formulir pendaftarannya. Datang ke dokter kandungan besok buat konsultasi!”

“Tapi, Ma—”

Sasmita beranjak pergi tanpa menoleh selain hanya ekor matanya yang melemparkan kebencian, meninggalkan Kaira dalam hening yang menyesakkan.

Kaira memandang Mahesa yang jemarinya masih lincah bergerak di layar ponsel.

“Mas,” panggilnya. “Mas Hesa setuju sama yang diminta Mama?”

Pria itu akhirnya mengangkat wajah, memasukkan ponsel ke dalam saku celana sembari bangun dari duduknya.

“Lakuin aja apa susahnya sih?” jawabnya dengan kesal. “Dari dulu kita emang nggak pernah berencana buat punya anak, ‘kan?”

“Aku nggak pernah bilang begitu—”

“Bisa dipikirkan sambil jalan, Kaira,” sela Mahesa. “Lagian juga masih konsultasi. Mama bisa berubah pikiran nanti.”

“Tapi—”

Kaira urung bicara saat Mahesa menyentuh lengannya. “Kamu tahu Mama nggak suka dibantah, jadi udahlah turutin aja. Oke?”

Mahesa pergi seolah tidak akan terjadi apapun terhadap masa depan istrinya.

Kaira membungkuk, tangannya kebas saat ia meraih amplop di kakinya. Ia buka sedikit isinya dan benar … ini adalah formulir pendaftaran ke dokter kandungan.

Benaknya tidak karuan, kepalanya dipenuhi tanya, benarkah ia tak akan menjadi seorang ibu?

“Kaira! Cepat ke sini!” teriak Sasmita dari arah ruang makan. “Kakak-kakakmu sudah mau datang kenapa kamu melamun di sana?!”

“B-baik, Ma.”

Ditutupnya kembali amplop itu, ia simpan di sudut dapur setelah berlari ke sana, berbaur dengan pelayan lain menyelesaikan persiapan makan malam untuk semua anggota keluarga.

Sudah lebih dari satu tahun Kaira menjadi bagian dari rumah ini. Sejak awal, pernikahannya memang tidak direstui oleh kedua orang tua Mahesa karena dirinya hanya anak sopir.

Dulu Mahesa bersikeras membawanya masuk ke keluarga Maharendra, pria hangat yang memberinya cinta sehingga Kaira bertahan di sampingnya seraya berharap dapat memenangkan hati ayah dan ibu mertuanya.

Kaira terus berupaya, dan sebagai satu-satunya menantu yang berasal dari kalangan biasa, ia mengalah dan tahu diri.

Tapi melewati satu tahun pernikahan, Mahesa mulai berubah. Meski tidak pernah bersikap kasar, suaminya kini terasa sangat jauh. Pria itu bahkan tidak pernah membelanya di depan keluarga.

Kaira menoleh ke arah datangnya suara yang memasuki ruang makan. Dua kakak iparnya datang bersama anak perempuan mereka, menanyakan keberadaan ayah Mahesa yang belum pulang dari luar kota.

Kaira melayani mereka dengan cekatan, meski ada pelayan, dirinyalah yang selalu dipanggil untuk hal-hal sepele.

“Formulir steril buat Kaira tadi udah aku kirim, udah Mama terima?” tanya Monica, si kakak sulung yang memang seorang dokter. Rumah sakit yang akan dikunjungi Kaira besok adalah tempat Monica bekerja.

“Udah, Sayang,” jawab Sasmita. “Udah Mama kasih ke Kaira.”

Sasmita melirik pada Kaira yang baru datang dari arah dapur dengan semangkuk nasi panas.

“Awas ya kalau kamu nggak datang!” ancam Monica. “Aku udah susah-susah daftarin biar kamu dapat urutan satu!”

Langkah Kaira terasa berat saat ia tiba di samping Sasmita, digenggamnya mangkuk keramik itu dengan erat. “Iya, Mbak ….”

“Kamu harus berterima kasih loh! Kalau bukan karena aku, mana mau temanku itu memprioritaskan kamu.”

Kaira mengangguk, menahan air mata saat mengambilkan nasi ke piring Sasmita. Maniknya yang sedikit berkabut dan tangannya yang gemetar membuatnya tak sengaja menjatuhkan nasi panas itu di tangan ibu mertuanya.

“Ahh—!” Sasmita menjerit, menepis tangan Kaira sehingga sendok nasinya terpelanting dan terhempas di kejauhan.

“Kamu nggak punya mata?!”

“M-maaf, Ma ….”

Mendengar bentakan ibunya menggema di ruang makan, Monica menertawakan Kaira yang buru-buru mengusap punggung tangan Sasmita.

“Udah, nggak usah!” tepisnya sekali lagi.

Di samping Monica, Algara—suaminya—memindai Kaira dari ujung kaki hingga ke kepala, penuh penilaian dan membuat Kaira merasa kotor.

Pria itu menoleh pada Mahesa dan berujar, “Mahesa, wah ... lumayan juga kalau istrimu steril. Nggak perlu repot mikirin biaya anak. Soalnya tanggunganmu buat biayain keluarganya aja udah banyak, ‘kan? Berapa tiap bulan?”

“Ah, itu nggak perlu diomongin lah. Mas Gara ‘kan tahu sendiri,” jawab Mahesa, terkekeh selayaknya itu memang candaan yang bebas ditertawakan.

Di ruang makan mereka membicarakan masalah steril Kaira seolah bukan suatu hal besar. Kaira hanya terdiam saat Mahesa tidak banyak merespon dua kakak iparnya yang saling bersahutan.

Ia baru saja duduk setelah ke sana kemari melayani mereka. Tapi baru sedetik meraih sendoknya, anak perempuan Monica mengeluh dari seberang meja.

“Mami … perut Ara mules.”

“Kaira, tuh kamu antar Ara ke kamar mandi,” perintah Monica seraya mengedikkan dagunya.

“Baik, Mbak.”

“Yang bersih ya!”

“Iya.” Kaira mengisyaratkan pada gadis kecil itu agar mengikutinya, baru saja menjauh, panggilan Algara menghentikannya.

“Sebelum lupa, habis ini ambilin baju kotor aku di bagasi mobil, Ra!”

Kaira mengangguk, “Iya, Mas Gara.”

“Kaira, jus aku mana?” pinta Mahesa tanpa beranjak dari meja makan.

Kaira menoleh, ulu hatinya melilit dan kepalanya sudah hampir pecah saat permintaan semua orang menyerangnya dari segala penjuru. Melihat alis Mahesa yang berkerut membuatnya mengangguk agar suaminya itu lega dan mau menunggu sejenak.

“Iya, Mas. Sebentar.”

“Tante ….” rengek Ara yang membuat Kaira bergegas menyusulnya.

Ditemaninya si keponakannya itu ke toilet hingga usai. Membantunya mencuci tangan, mengeringkannya sekalian sebelum bocah itu kembali ke ruang makan.

Di dapur, Kaira menyiapkan buah untuk jus Mahesa.

Hatinya mengetat kala mendengar mereka yang bercengkerama dari ruang makan, seperti potret keluarga yang sempurna.

Telinga Kaira berdengung saat mendengar bahwa yang sedang mereka bicarakan itu ternyata adalah dirinya.

“Emangnya kamu udah bujuk istrimu, Hesa?” tanya Monica. “Kok dia nurut aja disuruh steril sama Mama?”

“Kalau nggak nurut emangnya Kaira mau ambil risiko?” balas ibu mertua meremehkan. “Kalau bukan karena bantuan keluarga Maharendra, mana sanggup dia merawat ibunya yang buta?!”

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

리뷰

tiramisyu
tiramisyu
great story. do you have any social media that I can reach out?
2021-07-22 15:18:05
2
0
18 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status