LOGINShe has fallen in love with a character from a book she has read a thousand times and after an incident, has awakened in her arms, but who knew that one's opinion could change so much upon seeing the actions of such a being up close. Even though she no longer sees him romantically, she wants to save him and his little son, she wants to give everyone a happy ending, but... what if they are right in the middle of THEIR happy ending? It should be okay, right? After all... This was never a story about King Callisto.
View MorePerlakukan Dirimu, seperti Kamu mencintai "seorang yang Kamu Cintai."
Selamat Membaca
HAVE A NICE DAY
Negeri Matsya menjadi buah bibir bagi Raja-raja hebat. Lantaran, Negeri tertentu seperti harta Karun yang memiliki banyak mutiara dan berlian, hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri untuk Kerajaan lainnya. Mereka yang awalnya tidak tahu Negeri tersebut lalu, beramai-ramai datang ke sana.
Lama-lama keserakahan menguasai hati Mereka sehingga, menyebabkan pertarungan untuk memutuskan siapa yang lebih kuat dan berhak atas Negeri tersebut. Mereka terpecah satu sama lain, hanya untuk menjaga penguasa. Berbagai cara dilakukan hingga, suatu hari peperangan tidak terelakkan.
Mereka terpecah menjadi dua kelompok dan sebelum perang terjadi, Seseorang berjubah hitam muncul dari langit. Dia menyegel Pemimpin dua kelompok tersebut, sehingga Anak-anak buahnya takut dan memilihnya menjadi Raja Mereka.
"Aku ingin membuat suatu Kerajaan yang sangat besar! Yang akan dikenal sebagai Kerajaan Rana," ucapnya.
"Kami siap untuk mendirikan Kerajaan bersamamu Yang Mulia," ucap Mereka.
"Perkenalkan Dia adalah Istri dan Putriku yang kelak akan menjadi Putri Mahkota." Dengan bangga Raja memperkenalkan Istri dan Putrinya yang masih bayi.
Mereka bersorak gembira untuk menyambut kedatangan Mereka hingga, berdirilah Kerajaan Rana. Kehebatan Raja Rana membuat Raja dari Negeri lain gentar, namun banyak juga yang merasa penasaran akan kehebatannya.
Mereka yang takut Kekuasaannya diambil kemudian, mengirimkan surat sebagai tanda persahabatan. Sedangkan, Mereka yang tidak takut mengumumkan perang. Selama hampir dua tahun, barulah Kerajaan Rana memperluas Kekuasaan setelah, sebelumnya mempertahankan Tahtanya.
"Serahkan Putriku," ucap Ratu Kosala.
"Tidak! Dia Putriku," tolaknya.
"Kau akan menyesal!" ancam Ratu Kosala.
"Aku akan melindunginya," ucapnya.
"Tolong! Dia menculik Putriku!" teriaknya.
Suara itu di dengar oleh Raja Rana kemudian, Raja beserta Prajurit menghampirinya. Mereka melihat dua Wanita yang memiliki wajah sama memperebutkan Putri Rasi, hal itu membuat Prajurit kebingungan.
"Kembalikan Putri Kami," ucap Raja Rana.
"Dia bukan Putri Kalian." Wanita tersebut memeluk Rasi yang baru berusia dua tahun, sambil membawa pisau untuk mencegah Mereka mengambilnya.
"Dia pasti sengaja menculik Putriku, karena memiliki wajah yang sama denganku." Ratu menangis sambil memohon supaya, Rasi dikembalikan padanya.
"Apakah Dia kembarannya Ratu Kosala?" tanya Prajurit.
"Iya. Tapi, kembarannya itu sudah tidak waras," jawab Raja Rana.
"Raja, tega sekali Kau berkata seperti itu. Kau adalah Suamiku," ucapnya.
"Apa?! Tadi, Kau mengatakan Putriku adalah Putrimu dan sekarang Kau juga mengakui Suamiku," ucap Ratu Kosala.
"Prajurit bawa Wanita itu dan berikan hukuman gantung padanya!" perintah Raja Rana.
"Jangan Yang Mulia! Bagaimana pun Kara adalah saudara kandungku," ucap Ratu Kosala.
" Tapi, Dia hampir melukai Rasi," ucap Raja Rana.
"Tidak! Aku hanya ingin melindungi Rasi dari Kalian. Kalian yang memiliki niat untuk melenyapkannya!" teriak Kara.
"Kau memang sudah tidak waras! Untuk apa Kami akan melenyapkannya? Rasi adalah Putri Kami, cepat bawa Dia!" perintah Raja sekali lagi.
Prajurit menangkap Kara meski, Dia telah menjelaskannya. Kemudian, Rasi dikembalikan pada Ratu Kosala dan Raja Rana. Rasi dibesarkan dengan segala kemewahana hal itu, justru membuatnya menjadi Putri yang manja, arogan, dan tidak memiliki hati.
"Rasi apa yang akan Kau lakukan jika, ada yang menghina Ibumu?" tanya Ratu Kosala.
"Memberikan Dia hukuman cambuk," jawab Rasi.
"Bagus! Kau harus selalu mengingatnya karena, Aku adalah Ibumu dan Kau harus melindungiku," ucap Ratu Kosala.
Apapun yang diinginkan Rasi pasti Dia dapatkan, terlebih Raja dan Ratu Kosala sangat menyayanginya. Rasi memiliki wajah seperti emas cair, sangat cantik. Tapi, sayang sekali sifatnya membuat dirinya dibenci. Hanya saja Mereka tidak berani untuk mengungkapkannya, karena siapapun yang menyakiti Rasi akan diberikan hukum yang sangat berat oleh Raja Rana.
"Siapa yang Ayah bawa?" tanya Rasi.
"Entahlah, mari Kita lihat." Rasi mengikuti Ratu Kosala ke aula istana.
"Kalian pasti bertanya-tanya siapa Anak yang Aku bawa? Namanya Agra, Dia berumur 17 tahun lebih muda 2 tahun dari Rasi. Dia adalah Anak Tabib yang telah mengobati lukaku tapi, kedua orang tuanya tewas. Karena itu, Aku akan mengangkat Dia sebagai Putraku," tutur Raja Rana.
"Yang Mulia." Ratu Kosala mendekati Raja.
"Jangan khawatir Kosala, selamanya Dia tidak akan menggantikan posisi Rasi. Agra akan selalu melindungi Rasi," ucap Raja Rana.
"Yang Mulia Ratu, Aku akan menjaga Tuan Putri Rasi seperti Adikku sendiri," ucap Agra.
"Rasi, ayo pergi." Ratu Kosala menarik tangan Rasi dari aula istana.
"Tidak apa, Nak. Ayo ikut," ucap Raja.
Raja Rana membawa Agra ke ruang makan kemudian, meminta Pelayan untuk memperlakukan Agra layaknya Pangeran. Rasi makan bersama Ratu Kosala, Mereka sedikit menjaga jarak dari Raja dan Agra.
"Rasi, makan yang banyak." Ratu Kosala juga menyuapi Rasi.
"Kau mau juga?" tanya Raja.
"Tidak Yang Mulia, Aku sudah besar." Raja tertawa mendengar ucapan Agra.
"Jangan panggil Yang Mulia sekarang, Aku dan Kosala adalah Ayah dan Ibumu," ucap Raja Rana.
"Uhuk-uhuk." Ratu Kosala dengan cepat mengambilkan air untuk Rasi.
"Ibu, Aku sudah selesai makan." Rasi meninggalkan ruang makan lalu, di susul oleh Ratu Kosala.
"Rasi, tunggu." Ratu Kosala menghentikan Rasi.
"Sekarang Ayah lebih menyayangi Anak itu dan sebentar lagi, Ibu juga akan melakukan hal yang sama." Rasi pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
Agra yang mendengar itu semua kemudian, mengikuti Rasi. Ketika, akan menghampirinya terlebih dahulu Seorang Gadis yang seumuran dengan Rasi mendekat. Dia duduk di sebelah Rasi, tapi Rasi mendorongnya.
"Kenapa duduk di sampingku? Sudah kubilang, Aku tidak mau menjadi Temanmu!" bentak Rasi.
"Tapi, Aku mau menjadi Temanmu. Mari berteman," ucapnya.
"Kau berteman denganku karena, Aku Putri Raja. Kau tidak bisa menjadi temanku," kata Rasi.
"Aku mau menjadi Temanmu bukan karena, Kau adalah Putri Raja. Akan kukatakan sekali lagi, namaku Laksmi. Ayahku dan Ayahmu berteman," ucapnya.
"Bukankah itu Putri Rasi dan sebelahnya Anak dari Penasihat Seta," ucap seseorang.
"Ini yang namanya uang, ayo Kita tangkap Mereka." Agra yang berada di balik pohon tempat telaga tersebut, mendengar ucapan dua orang yang tidak dikenal itu.
"Tuan Putri, Raja dan Ratu memanggil Kalian," ucap Mereka.
"Jangan mendekati Tuan Putri!" bentak Laksmi. Dia melindungi Rasi dengan menghadang Mereka.
"Dia mau melindungi Tuan Putri. Hahahaha." Mereka tertawa sementara, Rasi terus mundur dan menyebabkannya jatuh ke telaga.
"Rasi." Agra keluar dari balik pohon dan menyelamatkan Rasi.
"Siapa Anak Laki-laki itu?" tanyanya.
"Entahlah. Kau serahkan Putri Rasi dan Anak Penasihat Seta!" perintahnya pada Agra.
"Rasi adalah Adikku dan Aku tidak mau menyerahkan Mereka pada Kalian," tolak Agra.
"Kau masih kecil tapi, berani melawan Kami?" tanyanya.
"Anak kecil dan dewasa tidak terhitung dari umur dan ukuran. Bahkan, Anak kecil sepertiku saja tahu kalau Kalian adalah penjahat. Yang Kalian lakukan untuk menculik Rasi salah. Sementara, Kalian yang orang dewasa malah melakukan kejahatan," balas Agra.
"Jaga mulutmu!" bentaknya.
"Kau yang harus menjaga sikapmu maka, Aku akan menjaga mulutku," balas Agra.
"Kalau Kalian berani melukai Kami akan, kuberitahu pada Ayahku!" gerak Rasi.
"Raja pasti akan menghukum Kalian," tambah Laksmi.
"Banyak omong." Mereka mendekat untuk menangkap ketiganya.
Agra tidak membawa senjata apapun sedang, Mereka membawa belati. Dengan cepat Agra mengambil debu dan melemparnya pada Mereka.
"Akh mataku," ucap Mereka.
Agra membawa Rasi dan Laksmi pergi sejauh mungkin, Mereka kembali ke istana dan menceritakan semuanya pada Raja Rana.
"Cari orang itu sampai ketemu dan hukum Mereka!" perintahnya.
"Terima kasih," ucap Rasi.
"Iya. Sama-sama, mari Kita bertiga berteman. Terkecuali, Aku dan Rasi. Kami adalah saudara dan Aku akan menjaga Kalian," ucap Agra.
Rasi dan Laksmi saling memandang kemudian, Mereka saling berjabat tangan. Semenjak hari itu Mereka selalu bersama, namun Agra sudah dikirim ke Asrama untuk mendapatkan pelatihan sebagai Pangeran.
Setelah 3 tahun lamanya, barulah Agra kembali. Namun, semuanya berubah. Rasi melakukan apapun yang Dia inginkan sehingga, menimbulkan kecurigaan pada benak Agra.
"Laksmi, kenapa tidak hentikan Rasi untuk menghukum Mereka?" tanya Agra.
"Maaf Agra, Aku juga tidak mengerti. Rasi mengatakan tidak mau menghukum orang, namun Dia tiba-tiba datang dan mencambuk Mereka," tutur Laksmi.
"Rasi hentikan!" cegah Agra.
Agra memegang tangan Rasi sehingga, mata Mereka saling menatap. Agra mundur beberapa langkah sehingga, Rasi pingsan saat itu juga.
"Ada apa Agra?" tanya Laksmi.
"Sepertinya Aku salah lihat," jawab Agra.
"Ada apa sebenarnya pada Rasi?" batin Agra.
Agra mengangkat tubuh Rasi lalu, membawanya ke kamarnya. Laksmi diminta untuk menjaga Rasi sementara, Agra memanggil Pelayan yang biasanya bersama Rasi.
"Kenapa Rasi bisa bersikap seperti itu?" tanya Agra.
"Kami juga tidak tahu. Satu tahu belakangan, Tuan Putri seolah tidak sadar dengan yang Dia lakukan. Tuan Putri juga cepat sekali marah, setelahnya seolah tidak terjadi apa-apa," tutur Mereka.
"Kalian beritahu apa saja yang mencurigakan! Jangan khawatir Aku akan melindungi Kalian," ucap Agra.
Melihat Agra sudah pergi, Mereka langsung teriak histeris saking senangnya. Pelayan yang masih muda itu memang mengidamankan Agra.
"Dia akan melindungiku," ucapnya.
"Tidak, Dia akan melindungiku." Mereka tidak mau mengalah.
"Aku," jawabnya.
"Ada apa ini?" tanya Ratu Kosala.
"Tidak ada apa-apa Ratu," jawabnya.
"Apa Rasi sudah tidur?" tanya Ratu Kosala.
"Sudah," jawabnya.
"Kau berikan susu ini untuk Rasi, barulah biarkan Dia tidur. Susu sangat baik untuk kesehatan," ucap Ratu Kosala.
"Baik Ratu." Pelayan yang diminta mengantar susu kemudian, pergi ke kamar Rasi.
"Apa itu?" tanya Laksmi.
"Susu untuk Tuan Putri. Ratu Kosala yang memberikan," jawabnya.
"Berikan padaku, nanti biar Rasi meminumnya." Pelayan tersebut memberikannya pada Laksmi.
"Apa Rasi sudah siuman?" tanya Agra.
Dia meloncat dari tangga yang ada di belakang kamar Rasi.
"Belum, bagaimana Aku bisa berikan susu ini untuknya?" tanya Laksmi.
"Dia masih minum susu?" tanya Agra.
"Sebelumnya Rasi tidak minum susu tapi, sudah setahun Dia selalu rutin dibuatkan susu," tutur Laksmi.
"Setahun?" tanya Agra.
"Iya, katanya susu sangat baik untuk kesehatan Rasi. Kau saja yang minum, kasihan kalau membangunkannya." Laksmi memberikan susu tersebut pada Agra.
"Kalau begitu Aku akan ke kamarku." Agra menerima susu tersebut setelahnya, pergi.
"Biasanya Dia tidak suka minum susu, katanya bukan Anak kecil. Mungkin Aku juga harus minum segelas susu," ucap Laksmi.
Esok paginya ketika, Rasi bangun Dia langsung membersihkan Dirinya. Makanan telah siap kemudian, Dia beserta anggota istana lainnya makan.
"Ayah apa boleh Aku jalan-jalan ke Desa Wana?" tanya Rasi.
"Boleh tapi, hanya sebentar." Raja mengijinkan Rasi pergi namun, ditemani oleh Pelayan.
"Kita naik kereta saja," ucap Rasi.
Mereka memanggil kusir, lalu berangkat ke Desa Wana. Setelah sampai, Mereka langsung menuju pasar Desa Wana. Penduduk Desa memandang Rasi bahkan, ada yang sampai menghampirinya untuk memberikan kue.
"Tidak terima kasih," tolak Rasi dengan sopan.
"Tolong terimalah Tuan Putri, Aku sangat senang kalau Tuan Putri mau menerimanya," ucapnya.
Tidak tega melihat Wanita itu, Rasi menerima kue pemberiannya. Rasi juga membaginya bersama Pelayanannya kemudian, Mereka lanjut berkeliling sembari membeli makanan lainnya.
"Mari Kita kembali," ucap Rasi.
"Lihat siapa yang datang bertamu," bisik seseorang.
Gadis Desa Wana sedang mengobrol, Mereka tidak hentinya memandangi Rasi. Ada salah seorang yang bahkan, sampai mendorong Pelayan dari belakang.
"Ada apa?" tanya Rasi.
"Tuan Putri sepertinya ada yang sengaja mendorong," bisik Pelayan Rasi.
"Jangan dihiraukan," ucap Rasi.
"Kudengar Tuan Putri Rasi telah berjodoh sejak kecil lalu, untuk apa berjodoh lagi?" bisiknya.
"Mengapa Kalian melihatku seperti itu?" tanya Rasi pada para Gadis Desa.
"Tuan Putri, jangan pikirkan Mereka. Mereka hanya iri padamu," ucap Pelayan Rasi dengan nada mengejek Gadis-gadis itu.
"Mereka pasti sudah mendengar kalau Kau akan dijodohkan dengan seorang Pangeran tampan," ucap Pelayan lainnya.
"Siapa yang dijodohkan denganku?" tanya Rasi.
"Soal itu Kami belum tahu tapi, Grita mengatakan Dia sangat tampan," jawab Pelayan.
"Kau!" gertak Rasi. Dia menunjuk pada salah seorang Gadis Desa.
"Kenapa?" tanyanya.
"Apa yang Kau lempar tadi? Jawab!" bentak Rasi.
"Dasar Putri Arogan!" bentaknya pada Rasi.
"Kau! Beraninya Kau!" geram Rasi. Dia turun dari tandu dan memukul wajah gadis itu.
"Ada apa itu?" tanya yang lain. Mereka semua tertunduk. Tidak ada yang berani menatap hal itu.
"Kenapa Kalian berkumpul? Cepat pergi!" bentak Rasi pada Mereka.
Kerumunan itu langsung bubar, ada beberapa Laki-laki yang menatap dari kejauhan. Rasi sama sekali tidak menyadari ada yang memperhatikannya, Dia memberikan Gadis Desa itu pelajaran seperti yang diajarkan Ratu Kosala.
"Pelayan," ucap Rasi.
"Iya Tuan Putri," ucap Pelayan itu.
"Apa yang harus dilakukan terhadap Gadis yang berani menyakitiku?" tanya Rasi. Dia masih menatap tajam Gadis itu.
"Dia harus dipermalukan," jawab Pelayan dengan nada sinis.
"Kalau begitu permalukan Dia!" pinta Rasi.
Para Pelayan itu mengambil kendi yang sudah diisi lumpur lalu, beberapa di antaranya memegang tangan Gadis tersebut. Rasi duduk kembali di dekat tempat tersebut sembari melihat Pelayan yang hendak menyiram gadis itu, tapi seseorang mencegahnya.
Laki-laki itu merebut Kendi dari Pelayan dan membuangnya lalu, melindungi Gadis Desa tersebut. Beberapa saat Rasi dan Laki-laki itu saling menatap, seakan dunia berhenti berputar.
To be continue
Love Dhira Seviana
♱ •⋅ 1750 B.C ⋅• ♱ •⋅ Azrael ⋅• ♱I watched her without realizing it, watched until the sun was setting and the barrier surrounding Samael’s plan was thinner, until the rune fragment she sent me was strong enough to enter."Don’t be an idiot," I remembered as my wings throbbed, "there’s no room for kindness, not after all you’ve done, don’t be such a hypocrite".I swallowed hard and a smile easily appeared on my lips when I crossed. It was like a fog touching my skin, a comfortable cold, a feeling I had missed even without realizing it.What the hell was I thinking? What was going on with me?I closed my eyes tightly, but my wings just beat, just took me there, to that breathless breath and that smile that could be felt in her voice when she called me."Azrael!" His arms wrapped around my neck and... had they always been so warm?"I thought you couldn’t come..." whispered her face down to my neck, I could feel her lips arched into a smile "okay? Did you get hurt getting past the barri
♱ •⋅ 1750 B.C. ⋅• ♱ •⋅ Azrael ⋅• ♱The child began to be able to move gradually, in a way that was still a little time consuming and different from his usual, from the child who ran around and insisted so much to have his little body in that garden.His speech had returned too, his voice was less guttural, more understandable and a smile that was not painful could be seen, one that was not put on that face just because of the melancholy of Callisto."Look! You can move your arms better now" the quartz eyes were flickering as you said that as something equivalent to Loren’s first steps, as if that was some kind of novelty that should be celebrated with various gifts and a party "how is your breathing? Something still burns?" tried to caress that small face as if it was something that would break by any slip on his part.Loren was now like a valuable piece of porcelain, one that could not risk being damaged after being restored."I’m fine, Dad..." the child’s voice was still low when to
♱ •⋅ 1750 B.C. ⋅• ♱ •⋅ Elaine ⋅• ♱"I like stars," he said while playing with a pearl between my fingers "I like how they look, how they’re bright and beautiful. I like purple, I like how the sun in this world is red, even though here where Samael lives he looks different."Keir smiled, his hands still playing by my hair."What else?" asked me with her face resting on my thighs."I like salty foods, slightly spicy, bittersweet and especially the dessert that the boss of the mansion always makes." The one that looks like jelly with syrup."Pudding? ' She asked me smiling from the corner and I nodded."That’s right, pudding.""Um, um, uh...""I also like pretty dresses, braided hair, flat shoes, delicate swords..." I continued to list "I like hardcover books and slow songs.""And old scrolls? You live surrounded by them" Keir joked, his lips arched in a mischievous smile that made my heart beat."Silly" I hit with my fingertips on his nose."I know, I know" gave up "continue... what els
♱ •⋅ 1750 B.C. ⋅• ♱ •⋅ Quinn ⋅• ♱His arms wrapped around my body and then everything seemed to be fine.I no longer felt the blood, nor the weight of the souls that I plucked, that I hurt."Everything will be fine" he repeated as a melodic song and if it was Calisto who told me those things... I naturally believed."How can you not like it here?" I asked as I stared at that landscape, the sky, the grass that resembled a red foliage. The stars that always shone in the sky almost always cloudy.Calisto snorted."I don’t know..." he said sincerely "maybe... I just can’t see the beauty of hell when I didn’t have you by my side."A twinge struck my chest, a twinge of happiness and hope."Fool" I mocked wrapping my arms around his neck.I loved that being.He loved his color-changing eyes, loved his foolish way of thinking that the world was more beautiful outside of hell. He loved the way the rebellious waves of black hair he had struggled to unravel around his delicate face.I loved the
♱ •⋅ 1750 B.C. ⋅• ♱Asmodeus looked different - that’s what I thought, for a moment he didn’t look like that smiling, ironic demon, it was almost as if something in him had drastically changed.I sighed and when he was no longer there, I entered the dining room.It was beautiful - if I could say so, bu
♱ •⋅ 1750 B.C. ⋅• ♱ •⋅ Elaine ⋅• ♱It had a garden, a beautiful garden and full of violet flowers. Someone smiled as they threw their colored hair back."Not so bad, I told you" the owner of the colored hair and brown eyes spoke - her voice was loud, calm and somehow cozy.Who was she? I couldn’t remem
♱ •⋅ 1750 B.C. ⋅• ♱ •⋅ Calisto ⋅• ♱Asra was asleep when I entered her room. Her face was slightly contorted in a position that did not seem comfortable to me, but still she slept peacefully."I should go back" I told myself, as I tried to convince myself, but before I knew it, I was next to her bed,
♱ • 1750 B.C.. • ♱ • Callisto • ♱"And the girl?" Asra asked me and it caught me by surprise.I had been so distracted between her and Loren that I forgot about the prisoner."What’s up?" I asked leaning back over the chair and the redhead in front of me smiled."I heard she came with you."I snitche
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews