LOGINWhen the moon turns black, blood will choose its master. Kaelira Voss was never meant to lead—only to obey. Branded as a volatile wolf with a dangerous temper, she spends her life fighting for scraps of respect from a pack that will never trust her. But when a dying boy stumbles across the border whispering of experiments, moonfire, and a coming plague, Kaelira’s act of mercy ignites a chain of events that will change everything. The Lycan King, Zevran Kaelith, arrives to reclaim what’s his: the fugitive boy and the secrets he carries. But when Kaelira’s blood destroys the curse consuming him, Zevran sees the impossible—witchcraft flowing through a wolf’s veins. Bound by ancient magic neither understands, the two become reluctant allies as an ancient prophecy awakens beneath the rising Black Moon. Haunted by visions of her dead mother and hunted by both her former Alpha and the High Lunar Dominion, Kaelira must master the power buried in her blood before it consumes her completely. But the closer she gets to the truth, the harder it becomes to ignore the pull between her and the cold, infuriating king who swore he’d never love again. Enemies by birth. Fated by blood. Together, they are the spark that could burn kingdoms—or save them. Blood of the Black Moon is a dark fantasy romance filled with betrayal, power, and slow-burn passion between a fierce female lead and the Lycan king destined to destroy—or worship—her. Perfect for fans of forbidden bonds, hidden magic, and enemies-to-lovers tension that hurts so good.
View More"Apa yang sedang kalian lakukan di kamar kita, Mas?!" tanya Lily dengan wajah yang memerah akibat marah. Crish yang sedang melakukan hubungan intim dengan seorang wanita di dalam kamar tidur yang biasa di tempati Lily dengan Crish bergegas menghentikan gerakan pinggulnya, ia menoleh ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya ia saat melihat Lily tengah menatapnya penuh dengan kemarahan.
"L-Lily?" ujar Crish gugup. Sementara wanita yang berada di bawah kungkungan tubuh Crish hanya tersenyum penuh kelicikan secara diam-diam. Lily mengepalkan tangannya erat, matanya berkilat penuh amarah dan pengkhianatan. Tubuhnya bergetar, bukan karena lemah, tapi karena menahan diri agar tidak meledak lebih dari ini. "Jadi, begini caramu menghargai hubungan kita, Crish?" suaranya rendah, tetapi penuh tekanan. Crish bangkit dari tempat tidur dengan gerakan terburu-buru, mencoba menutupi tubuhnya dengan selimut. "Lily, aku bisa jelaskan—" "Jelaskan apa?!" potong Lily tajam. "Apa yang perlu dijelaskan dari pemandangan menjijikkan ini?" Wanita di ranjang itu, bukannya merasa bersalah, justru memperlihatkan senyuman mengejek. "Sepertinya kami melakukannya di waktu yang salah, ya?" ujarnya santai, sengaja memancing kemarahan Lily lebih jauh. Lily menoleh tajam ke arahnya, wajahnya dingin. "Kamu benar-benar tidak tahu malu. Berani-beraninya kamu menginjakkan kaki di kamar ini," katanya penuh kebencian. Crish mencoba mendekati Lily, tetapi Lily mundur, menatapnya seolah-olah dia adalah orang asing. "Jangan dekati aku, Crish. Aku sudah cukup muak melihat wajahmu." "Sayang, ini hanya kesalahpahaman," Crish mencoba membela diri, meski jelas tidak ada alasan yang bisa membenarkan tindakannya. Lily tersenyum dingin, sebuah senyum yang tidak menunjukkan kebahagiaan, tetapi kepedihan yang mendalam. "Kesalahpahaman? Kau pikir aku buta, bodoh, atau apa? Kau menghancurkan semuanya." Dengan tangan gemetar, Lily membuka pintu kamar, menatap mereka berdua untuk terakhir kalinya. "Nikmati saja penghancuran ini, Crish. Karena aku tidak akan pernah menghalangimu." Lily berjalan keluar dengan langkah tegap, meninggalkan Crish dan wanita itu dalam keheningan yang mencekam. Melihat Lily pergi, Crish bergegas mengejar istrinya itu dengan hanya mengenakan celana pendek sepaha. Sementara Rani, masih betah berdiam diri di atas ranjang besar tempatnya bergumul dengan Crish beberapa menit yang lalu. Bahkan napasnya pun masih memburu, terengah-engah. "Lily, Tunggu!" Panggil Crish dengan setengah berteriak menyusul Lily, istrinya. Begitu dekat, ia langsung menangkap pergelangan tangan Lily. "Tunggu!" "Aku bisa jelaskan padamu," ucap Crish. "Apa lagi yang akan kau jelaskan, Crish?" timpal Lily dengan nada lembut namun penuh ketegasan. "Dia.... dia adalah Rani. Istri mudaku, adik madumu," ungkap Crish. Lily menatap Crish dengan mata penuh luka dan kekecewaan yang begitu mendalam. Udara terasa berat di antara mereka, hanya diselingi oleh detak jantung yang menggema di kepala Lily. "Istri muda?" gumam Lily, suaranya nyaris berbisik, namun cukup tajam untuk menusuk hati Crish. "Adik madu? Dan kau bahkan tidak berpikir aku layak tahu sebelumnya?" kata Lily bernada sinis. "Lily, aku... aku tidak ingin menyakitimu. Aku hanya ingin—" Crish kembali gugup. Bahkan nada suaranya pun terbata. "Jangan berani-beraninya mengatakan kau tidak ingin menyakitiku, Crish," potong Lily, nadanya kembali penuh ketegasan. "Apa yang baru saja kulihat? Kau mengkhianati kepercayaan dan cinta yang kuberikan dengan begitu mudah." Crish mencoba mendekat, tetapi Lily menepis tangannya. "Aku mencintaimu, Lily. Tapi aku juga mencintai Rani. Aku menikahinya karena aku ingin—" ungkapan Crish tak sampai selesai karena Lily telah menyelanya. "Berhenti, Crish! Berhenti mencari pembenaran," Lily berkata, kali ini nadanya melemah, tetapi air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku mencintaimu, memberikan seluruh hidupku untukmu, dan ini balasanmu? Kau menikah lagi tanpa memberitahuku, tanpa meminta persetujuanku, lalu memamerkannya di depan mataku seperti ini?" Crish terdiam, tak mampu berkata-kata. Dia tahu tidak ada kata-kata yang bisa memperbaiki keadaan ini. "Kalau kau menganggap ini cinta, aku tidak tahu cinta seperti apa yang kau maksud," lanjut Lily. "Karena kau sudah membuat cinta itu hancur berkeping-keping, Crish. Dan sekarang, aku tak tahu lagi apakah cinta itu masih tersisa atau sudah lenyap bersama dengan kekecewaaan yang telah kau torehkan di hatiku." Lily berbalik, air matanya terus mengalir, tetapi langkahnya tetap mantap. "Aku tidak ingin menjadi bagian dari kebohongan ini. Tapi, apakah aku bisa pergi darimu atau tidak, Crish," bisik Lily lirih dalam hatinya. Crish hanya bisa berdiri diam, tubuhnya lemas, sementara Lily berjalan menjauh, meninggalkan dirinya. Di dalam hatinya, Crish merasa menyesal karena telah menghianati cinta tulus Lily, namun ia juga tak mau kehilangan sosok wanita yang baru saja ia gauli. Sementara itu, di balik pintu kamar. Rani tengah mengintip pertengkaran mereka. Seulas senyum tipis menghiasi bibirnya, sorot matanya menyiratkan sebuah kepuasan. "Aku sudah menunggu hal ini cukup lama, dan akhirnya kini aku bisa memilikimu sepenuhnya, Crish," tutur Rani dengan berbisik pada dirinya sendiri. Rani menutup pintu perlahan, memastikan tidak ada suara yang mengalihkan perhatian Crish yang kini sedang terpaku di tempatnya berdiri. Pertengkaran mereka telah usai saat Lily memilih meninggalkan Crish. Dia bersandar di balik pintu, senyum liciknya semakin melebar. Dalam hatinya, kemenangan ini terasa begitu manis, seperti buah yang telah ia tunggu matang sekian lama. "Semua berjalan sesuai rencana," gumamnya, suaranya nyaris tak terdengar. Sorot matanya mencerminkan ambisi yang selama ini tersembunyi di balik sikap lembut dan polos yang selalu ia tampilkan. Rani melangkah ke cermin di kamar itu, menatap bayangannya sendiri dengan penuh percaya diri. "Lily, kau terlalu percaya diri dengan posisimu sebagai istri pertama. Padahal, dunia ini penuh dengan kejutan, dan kau terlalu naif untuk menyadari bahwa kebahagiaanmu hanya sementara." Dia merapikan rambutnya dengan jari, senyumnya tak kunjung pudar. "Sekarang, Crish sepenuhnya milikku. Tidak ada lagi dirimu untuk menghalangi jalan ini. Dan tentunya semua kekayaan ini juga akan menjadi milikku." Namun, jauh di dalam hatinya, ada sedikit rasa takut. Takut dengan cintanya Crish yang dulu begitu besar pada Lily, takut tak sepenuhnya bisa melupakan wanita itu. Tapi dia mengenyahkan pikiran itu dengan cepat. "Aku akan memastikan dia melupakanmu, Lily. Karena mulai sekarang, aku adalah satu-satunya wanita dalam hidupnya," ucap Rani tegas, seolah berbicara pada musuh yang tak terlihat. Dia berbalik dari cermin, melangkah menuju tempat tidur dengan aura kepemilikan yang kuat. Baginya, ini adalah awal dari kehidupan baru—kehidupan di mana dia memegang kendali penuh. Hari ini, menjadi kelabu bagi Lily. Ia tak pernah menyangka kalau ternyata wanita yang di baru dikenalnya dua hari lalu justru adalah adik madunya. Ia sempat curiga saat Crish tiba-tiba datang bersama seorang wanita saat baru pulang dari kampung halamannya. Waktu itu, Crish bilang pada Lily kalau Rani itu adalah adik sepupunya yang ingin mengadu nasib di kota tempat mereka tinggal. Namun, ternyata Rani adalah adik madunya. Lily menumpahkan rasa marah, kecewa, dan sedihnya di dalam kamar tidur lain. Sepanjang hari Lily mengurung diri di dalam kamar. Tanpa makan dan minum, ia hanya fokus pada kesedihannya, rasa sakit hatinya dan juga kemarahannya yang tak bisa ia lampiaskan sepenuhnya. Di tengah kesedihannya, ia menemukan sebuah kekuatan. Ia mengelus lembut perut ratanya sembari berbisik. "Aku harus kuat. Ada dia di dalam rahimku," bisik Lily. Ia menyeka air matanya menggunakan punggung tangannya. Tiba-tiba ada sebuah kekuatan yang mendorong dirinya untuk bangkit. Lily berjalan menaiki tangga menuju kamar tidurnya, ia berharap wanita itu telah kembali ke kamarnya yang berada di lantai bawah. Langkah kaki Lily terasa lemah tak bertenaga. Ia telah kehilangan gairah dalam hidupnya, bahkan kabar gembira yang baru saja ia terima beberapa waktu lalu pun tak mampu menghilangkan kesedihan dalam hatinya. Tangan Lily terulur, ia berusaha menggapai gagang pintu dan bersiap untuk membukanya. Namun, sebuah percakapan dari dalam kamar itu kembali menghantam relung hatinya. Seketika itu juga, tubuhnya luruh bersimpuh di lantai yang dingin, sedingin hatinyaDawn had not yet broken over Eidryn. The city still lay wrapped in rain and slate-colored mist, its towers rising like black teeth through the fog. Only one building burned with light—the High Council Hall, a cathedral of glass and white stone perched above the river. Within it, silence reigned so absolute it seemed the air itself bowed to it.Lord Meroth stood before the vast window that overlooked the sleeping capital. His reflection stared back—tall, composed, features carved into diplomacy. Behind him, the chamber filled slowly: boots on marble, the muted clatter of signet rings on wood, robes brushing like whispers. Twelve chairs circled the obsidian table, and one by one the city’s rulers took their places.The bells had not yet tolled the hour. That was the point. Important decisions were always made before the world was awake enough to object.When the last chair scraped into place, Meroth turned. “We begin.”A ripple of acknowledgment passed through the room
The tunnel narrowed until they had to walk single file. The air grew warmer the deeper they went, damp and heavy with the smell of stone that had forgotten wind. Every step echoed back as if the walls were learning the rhythm of their hearts.After what felt like hours, the passage widened. Faint blue light shimmered ahead—pale as moonlight but steadier, pulsing in long, slow waves. Kaelira raised a hand, the Mark on her wrist answering with a faint glow of its own.“Still with me?” she murmured.Zevran’s voice drifted up from behind her, low and dry. “Just enjoying the ambiance. Always wanted to vacation inside a dead god’s basement.”“Careful,” she said. “It listens.”“Good. Maybe it’ll rate my sarcasm.”She smiled despite herself and pushed forward.The tunnel opened into a cavern so vast her lamp barely touched the far walls. Bridges of petrified wood crossed pools that reflected the ceiling’s light in mirrored fragments. The air shimmered with faint
The sound of the outer gate dying away left a silence too complete. Kaelira could hear her own heartbeat, and—beneath it—something deeper, slower, patient. The air pressed close, thick with dust and age. Zevran lifted the lamp from his belt; the blue-white flame trembled, throwing their shadows against a wall of carved stone.They stood at the mouth of a descending stair that curved like a throat into darkness. The walls shimmered faintly where quartz veins caught the light, making the descent seem alive.“Lovely,” Zevran muttered. “If tombs are your taste.”“It isn’t a tomb,” Kaelira said quietly. “It’s a heart.”She brushed her fingers over the nearest carving. Lines of script wound across the stone in spirals—neither council nor cult work. Older. The letters pulsed once beneath her touch before settling into a soft glow that lit the first few steps.Zevran eyed the glow warily. “Do all ancient runes flirt back?”“They respond to bloodlines.”“Good thin
Rain hammered the Ministry roof until the walls hummed with it. The single lamp left burning threw long, distorted shadows across the maps of light that covered the table. Every so often a bolt of lightning flashed beyond the sealed window, bleaching the room white for a heartbeat before surrendering it again to gold and gray.Kaelira hadn’t moved since the councilors left. She stood before the glass maps, arms folded, eyes unfocused. The Mark glowed faintly through her glove—steady now, like it was waiting for something.Zevran watched from the corner. He’d stripped the leather from his gauntlets and was turning his dagger between his fingers, letting the edge catch the lamplight. His expression carried that particular calm he wore when his mind was moving faster than his blade ever could.“Tell me what you’re thinking,” he said.Kaelira’s reflection stared back at her from the glass. “That Meroth doesn’t want a weapon. He wants a key.”Zevran frowned. “To what?
The rain hadn’t stopped when dawn bled over the hills. It fell in a steady whisper that blurred the line between earth and sky, coating armor and cloaks with a dull sheen. The camp came awake without words; riders stamping out the coals, harnesses buckled, horses snorting steam into the cold. Eve
They left Verryn’s Gate at first light. The rain had cleared but left the world slick and cold, the kind of chill that crept into armor and stayed there. Market stalls were only just opening; merchants swept water from their awnings, pretending not to watch the two riders heading east.Kaelir
Morning came thin and colorless, the sort of light that forgets to warm what it touches. Rain had started sometime before dawn, a fine mist that turned the cobbles of Verryn’s Gate slick and silver. The city’s noises drifted through the window—hooves in the mud, the cry of vendors setting out war
Dawn came late that morning. The sun rose behind a gauze of thin cloud, its light diffused, pale, and watchful. The mountains dwindled behind them, jagged silhouettes cut against the whitening sky. Kaelira had ridden in silence for most of the night, the wind tugging at her cloak, the hooves of t






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.