แชร์

Merubah Identitas

ผู้เขียน: Nona Lee
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-11 13:57:07

"Dua juta? Kau bercanda? Anting ini berlian asli, bukan kaca mainan yang kau temukan di pasar loak!"

Marlina menggebrak meja etalase sebuah toko gadai kumuh di pinggiran kota. Matanya yang tajam menusuk pria paruh baya di balik jeruji besi yang hanya mengangkat bahu dengan tak acuh. Marlina tahu pria ini sedang memerasnya, melihat kondisinya yang kotor dengan gaun pengantin yang sudah dicabik-cabik dan ditutupi jaket bekas yang ia temukan di tempat sampah.

"Di tempat seperti ini, barang curian atau bukan, harganya sama, Nak. Ambil atau pergi," sahut si pemilik toko ketus.

Marlina menggeram. Jika ini adalah hari kemarin, ia pasti sudah mematahkan jari pria ini. Namun sekarang, ia bukan lagi putri mahkota Andreas. Ia adalah buronan. Dengan kasar, ia menyambar lembaran uang itu dan melangkah keluar, mengabaikan tatapan curiga si pemilik toko.

Uang itu segera ia gunakan untuk membeli beberapa potong pakaian pria di pasar loak. Kaus hitam polos, celana kargo yang sedikit kebesaran, dan sebuah jaket hoodie gelap. Ia berganti pakaian di toilet umum yang berbau pesing, membuang sisa-sisa kemewahan gaun pengantinnya ke dalam tempat sampah, sebuah simbol pembuangan masa lalunya.

Langkah selanjutnya adalah sebuah salon kecil yang tampak sepi. Marlina duduk di depan cermin besar, menatap rambut hitam panjangnya yang dulu selalu dipuji oleh para pelayan di mansion. Rambut itu adalah satu-satunya sisi feminin yang tersisa darinya.

"Potong pendek. Model laki-laki," ucap Marlina datar pada sang kapster.

"Yakin, Nona? Rambut anda sangat indah," tanya si kapster ragu.

"Potong saja. Dan jangan panggil aku Nona."

Gunting mulai bekerja. Helai demi helai rambut jatuh ke lantai. Bersamaan dengan jatuhnya rambut itu, Marlina merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Setelah selesai, ia menatap pantulan dirinya. Tampak seperti seorang pemuda berwajah manis, namun dengan tatapan mata yang terlalu dingin dan tajam. Ia mengambil sedikit gel rambut, mengacaknya, lalu menekan topi baseball rendah-rendah hingga menutupi dahinya.

"Marlina sudah mati..." bisiknya pada pantulan di cermin, suaranya kini sedikit ia serakkan agar terdengar lebih berat. "Dan sekarang, namamu adalah Kevin."

Setelah keluar dari salon, dunia terasa jauh lebih luas dan mengancam. Marlina, atau sekarang Kevin, berjalan menyusuri trotoar dengan tangan di saku jaket. Ia tidak punya tempat tujuan, tidak punya kartu kredit yang bisa dilacak, dan hanya punya sedikit sisa uang di sakunya.

Ia teringat pada Siska, sahabat masa kecilnya yang sudah lama tidak ia hubungi. Siska tinggal di pinggiran kota yang tenang, jauh dari jangkauan bisnis ayahnya. Siska adalah satu-satunya orang yang mungkin mau menampungnya tanpa banyak tanya.

Namun, saat Marlina sampai di persimpangan jalan menuju rumah Siska, langkahnya terhenti seketika. Bau hangus yang menyengat memenuhi udara. Asap hitam mengepul tinggi ke langit, menutupi sinar matahari sore yang mulai meredup.

Rumah kecil yang dulunya asri itu kini hanya menyisakan puing-puing hitam yang masih membara. Mobil pemadam kebakaran masih berusaha menjinakkan sisa-sisa api, namun jelas tidak ada yang tersisa di sana. Di tengah kerumunan warga yang menonton, mata tajam Marlina menangkap sesuatu yang membuat darahnya membeku.

Tiga pria berjas hitam berdiri di dekat mobil SUV mewah yang terparkir tak jauh dari lokasi. Salah satu dari mereka sedang mematikan cerutu dengan ujung sepatunya, sementara yang lain tampak sedang berbicara di telepon dengan wajah datar. Kevin mengenali tato kalajengking di leher salah satu dari mereka.

Itu anak buah ayahnya. Anak buah David Andreas.

"Bajingan..." desis Marlina, tubuhnya gemetar karena amarah dan rasa bersalah yang luar biasa.

Ancaman ayahnya bukan sekadar gertakan. David menghancurkan satu-satunya tempat pelarian yang mungkin dituju oleh Marlina. Ini adalah pesan secara tidak langsung.

"Kau bisa lari, tapi siapa pun yang mencoba membantumu akan menjadi debu."

Marlina segera membalikkan badan, menundukkan kepala sedalam mungkin di balik hoodienya, dan menghilang di antara kerumunan sebelum anak buah ayahnya sempat menyadari kehadirannya.

Malam mulai turun, dan Marlina terduduk di sebuah halte bus yang sepi. Perutnya mulai melilit karena lapar, namun rasa takutnya jauh lebih besar. Ia harus pergi jauh. Ia harus berada di tempat yang paling tidak terduga, di mana bayang-bayang ayahnya tidak bisa mencapainya.

Sepotong koran bekas terbang tertiup angin dan tersangkut di kakinya. Ia memungutnya, berniat menjadikannya alas duduk, namun sebuah iklan di kolom lowongan kerja menarik perhatiannya.

DIBUTUHKAN SEGERA: PENGAWAL PRIBADI (BODYGUARD) UNTUK PEMIMPIN MAHESA CORP.

Syarat: Menguasai bela diri tingkat tinggi, disiplin, berdedikasi.

Fasilitas: Gaji tinggi, tempat tinggal, perlindungan hukum.

Marlina menatap iklan itu cukup lama. Mahesa Corp. Ia pernah mendengar nama itu di ruang kerja ayahnya. Edward Mahesa bukan sekadar pengusaha sukses, dia adalah seorang billionaire muda yang kekayaannya sulit dihitung. Bisnisnya menggurita, mulai dari teknologi, perbankan, hingga logistik internasional dengan ratusan cabang di dalam dan luar negeri. Edward adalah sosok yang sangat dingin dan disegani, satu-satunya orang yang memiliki kekuasaan finansial yang cukup besar untuk membuat para mafia berpikir dua kali sebelum mencari masalah dengannya.

​"Bodyguard?" Marlina menggumam pelan. "Sepertinya ini pekerjaan yang cocok untukku."

​Keesokan paginya, Marlina berdiri di depan gedung pencakar langit Mahesa Tower yang seolah menembus awan. Keangkuhan gedung itu mencerminkan pemiliknya. Di dalam aula latihan yang luas, suasana begitu mencekam. Puluhan pria bertubuh raksasa mengantre, namun banyak yang keluar dengan wajah babak belur.

​"Gila... lelaki itu benar-benar monster," keluh salah satu pria yang hidungnya berdarah. "Dia bilang teknikku seperti anak TK."

​Marlina menarik napas dalam, membetulkan topinya, dan melangkah maju saat namanya dipanggil. Di ujung aula, di atas kursi kulit yang tampak seperti singgasana, duduklah sang penguasa.

​Edward Mahesa.

​Pria itu tampak begitu sempurna. Jas hitam yang ia kenakan terlihat sangat mahal, membungkus tubuhnya yang gagah dan atletis. Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas, namun matanya sedingin es kutub utara. Aura kewibawaannya begitu menekan, memenuhi ruangan dan membuat siapa pun merasa kecil di hadapannya. Dia bukan sekadar orang kaya, dia adalah pria yang bisa menghentikan detak jantung seseorang hanya dengan tatapannya.

​Marlina melangkah maju, mengabaikan tatapan meremehkan dari pria-pria berotot di belakangnya. Ia berdiri tegak di depan meja sang miliarder.

​Edward tidak langsung bicara. Ia menyesap kopi hitamnya perlahan, lalu menatap Marlina dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan tajam yang seolah bisa menembus segala rahasia.

​"Siapa namamu?" suara Edward berat, berwibawa, dan sangat dingin, bergema di seluruh aula latihan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pengawal Kesayangan Tuan Edward   Akhir Yang Sempurna

    "Papa, jika terjadi sesuatu pada Mama karena tendanganku tadi, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri!" "Diam, Camelia! Jangan membuat Papa semakin gila! Sudah tahu ibumu belakangan ini sering kelelahan, kenapa kau masih saja keras kepala mengajaknya bertarung jarak dekat?!" "Tapi Papa sendiri yang tadi bersorak menyemangati Mama! Kenapa sekarang Papa malah menyalahkanku?!" "Karena aku suaminya, Camelia! Tugas utamaku adalah mencemaskan ibumu!" Rendra dan beberapa pengawal yang berdiri di sepanjang lorong rumah sakit eksklusif itu hanya bisa menundukkan kepala, tidak berani bernapas terlalu keras. Koridor VVIP itu mendadak terasa seperti medan perang karena Edward dan Camelia terus mondar-mandir dengan wajah pucat pasi, saling melempar argumen frustrasi akibat kepanikan yang teramat sangat sejak Marlina pingsan di ruang latihan dua jam lalu. Cklek Pintu ruang rawat akhirnya terbuka. Belum sempat perawat yang keluar dari dalam membuka mulut untuk memberikan penjelasa

  • Pengawal Kesayangan Tuan Edward   Marlina Vs Camelia

    "Mama, jika hari ini aku berhasil mendaratkan satu saja pukulan di wajah cantikmu, Papa harus mengizinkanku membawa mobil sport baru itu ke sekolah besok!" seru Camelia, suaranya yang melengking jernih memecah keheningan ruang latihan taktis bawah tanah kediaman Mahesa. Marlina, yang berdiri dengan posisi kuda-kuda sempurna di tengah matras hitam, hanya mengulas senyuman tipis yang teramat meremehkan. "Kau terlalu banyak bicara untuk seseorang yang bahkan belum bisa menyentuh ujung helai rambutku, Camelia Andreas." "Lihat saja nanti, Ma!" Camelia yang kini telah genap berusia tujuh belas tahun melesat maju dengan kecepatan yang luar biasa. Gadis itu tumbuh menjadi sosok yang luar biasa cantik, dengan mata elang yang diwarisi dari ayahnya, namun memiliki ketangkasan fisik yang sangat mematikan hasil didikan keras sang kakek, David Andreas, selama bertahun-tahun. Ia pandai bertarung, ahli menggunakan pisau taktis, dan seorang penembak jitu yang disegani di lingkup internal pengawal.

  • Pengawal Kesayangan Tuan Edward   Kita Latih Camelia

    "Edward, kau tidak bisa terus-menerus menyembunyikan semua koleksi senjatamu di brankas bawah tanah jika Cami selalu tahu cara meretas kodenya," ujar Marlina sembari menyisir rambut panjangnya yang kini berkilau indah di depan cermin rias, matanya melirik Edward dari pantulan kaca. Edward yang sedang bersandar di kepala ranjang dengan sebuah tablet bisnis di tangannya langsung mendongak, mengembuskan napas pendek yang terdengar frustrasi. "Dia tidak meretasnya, antik. Anak itu memoleskan bubuk bedak tipis di tombol numerik untuk melacak sidik jariku. Siapa sebenarnya yang mengajari bocah sepuluh tahun taktik detektif seperti itu, hmm?" Marlina memutar tubuhnya, berjalan mendekati ranjang dengan senyuman tipis yang sarat akan makna. "Bukan aku, jika itu yang kau tuduhkan. Tapi darah Andreas di dalam tubuhnya tidak bisa berbohong, Edward. Ketertarikannya pada senjata api dan taktik militer semakin menjadi-jadi belakangan ini. Kemarin, Rendra melapor padaku kalau Cami hampir saja membo

  • Pengawal Kesayangan Tuan Edward   Putri Kecil Mafia Yang Nakal

    "Bagaimana dengan Camelia Andreas?" ucap Marlina dengan senyuman manis. "Tunggu dulu! Apa?! Andreas?!" Kakek Hendra langsung memotong, wajah tuanya berkerut tidak setuju sembari mengacungkan tongkat peraknya ke udara. "Marlina, sayang, Kakek tidak salah dengar, kan? Mengapa tidak ada nama Mahesa di sana? Dia adalah darah daging Edward, penerus sah dari seluruh imperium bisnis Mahesa Corp! Setidaknya taruh nama Mahesa di tengah atau di belakang!" David Andreas langsung berdiri tegak, menatap tajam sang patriark Mahesa dengan senyuman kemenangan yang kentara. "Hendra, putriku sudah menjatuhkan keputusan. Singkirkan egomu itu. Nama Andreas sangat cocok untuk putri kecil yang cantik ini." "Kau hanya memanfaatkan situasi, Andreas!" gerutu Kakek Hendra kesal. Ia menoleh pada Edward, berharap cucunya akan ikut memprotes. "Edward! Katakan sesuatu! Kenapa kau diam saja melihat nama belakang keluargamu tersingkir?" Edward hanya mengembuskan napas pendek, jemarinya masih mengusap lembut pung

  • Pengawal Kesayangan Tuan Edward   Camelia Andreas

    "Mana?! Di mana cicitku yang cantik?! Cepat beri jalan untuk Kakek!" Suara Kakek Hendra memecah ketegangan yang baru saja surut di ruang bersalin, disusul dengan derap langkah tergesa-gesa dari David Andreas yang langsung merangsek masuk begitu pintu sterilisasi dibuka oleh perawat. Kedua pria besar itu mengabaikan Edward yang masih duduk di lantai dengan wajah linglung, pandangan mereka langsung terkunci lurus pada makhluk mungil yang berada di dalam dekapan Marlina. "Astaga... dia benar-benar sangat cantik, Marlina," bisik David Andreas, matanya yang terbiasa menatap dingin target operasi kini berkaca-kaca dipenuhi kelembutan yang teramat dalam saat melihat jemari kecil putrinya menggenggam kain selimut. "Tentu saja dia cantik, Andreas! Lihat garis hidungnya, itu jelas-jelas warisan dari gen unggul keluarga Mahesa!" sahut Kakek Hendra heboh, ia mendekatkan wajah tuanya dengan binar mata yang begitu bersemangat. "Halo, cicitku sayang... Ini Kakek buyut yang akan memberikanmu selur

  • Pengawal Kesayangan Tuan Edward   Kelahiran Sang Pewaris Mahesa

    "Edward, sakit... Hhh... ini benar-benar sakit, Keparat!" jerit Marlina, seluruh tubuhnya gemetar hebat di atas brankar rumah sakit yang sedang didorong cepat membelah koridor instalasi gawat darurat. Jemari lentiknya mencengkeram kerah kemeja putih Edward dengan cengkeraman yang begitu kuat, hingga kancing teratas kemeja suaminya itu terlepas putus entah ke mana. "Iya, sayang, aku di sini! Tahan sebentar, kumohon tahan!" suara Edward bergetar hebat, wajah tampannya yang biasa tenang dan berwibawa kini pucat pasi dipenuhi keringat dingin. Ia ikut berlari di samping brankar, membiarkan lehernya ditarik kasar oleh sang istri. "Rendra! Mana dokternya?! Kenapa koridor ini begitu panjang, hah?!" "Dokter spesialis sudah menunggu di dalam ruang persalinan, Tuan!" sahut Rendra yang ikut berlari di belakang bersama belasan pengawal yang membuat barikade steril di sepanjang koridor rumah sakit milik keluarga Mahesa tersebut. Di belakang mereka, derap langkah kaki yang heboh ikut menggema. Ka

  • Pengawal Kesayangan Tuan Edward   Luka Yang Di Sengaja

    "Bodoh. Kau benar-benar bodoh," gumamnya pada pantulan di cermin yang retak di sudut kamar. Kevin terduduk di tepi tempat tidur, menyugar rambut pendeknya dengan frustrasi. Pesta lelang di Grand Diamond bukan sekadar acara biasa, itu adalah kandang singa tempat ayahnya, David Andreas, berkuasa. A

  • Pengawal Kesayangan Tuan Edward   Sisi Gelap Sang Billionaire

    "Kau pikir, menjadi kaya saja cukup untuk bertahan di kursi ini, Kevin?"Suara Edward memecah keheningan di beranda, sesaat setelah ia mematikan ponselnya. Ia menyesap sisa wine merah di gelasnya, matanya menatap tajam ke arah kegelapan hutan tempat Kevin baru saja bertaruh nyawa.Kevin, yang masih

  • Pengawal Kesayangan Tuan Edward   Penangkapan Penyusup!

    "Berhenti di sana, atau peluru ini akan bersarang di tulang belakangmu sebelum kau sempat melangkah lagi." Suara Kevin terdengar setajam silet yang mengiris kesunyian hutan belakang mansion. Ia berdiri kokoh dengan kuda-kuda sempurna, kedua tangannya menggenggam Glock-19 dengan presisi yang menaku

  • Pengawal Kesayangan Tuan Edward   Gangguan Pertama Di Hari Bekerja

    "Kau tahu kenapa aku membayarmu begitu mahal, Kevin?" Suara Edward memecah keheningan di dalam kabin Rolls Royce Phantom berlapis baja yang kedap suara itu. Ia duduk bersandar dengan sangat elegan, kakinya menyilang, sementara matanya menatap tajam ke luar jendela. Di luar sana, deretan gedung pe

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status