MasukKabur dari pernikahan paksa sang ayah, seorang bos mafia kejam, Marlina menyamar menjadi pria demi bertahan hidup. Ia berhasil menjadi bodyguard pribadi Edward Mahesa, seorang billionaire tampan dan dingin yang ditakuti para mafia. Marlina mengira ia aman, hingga ia sadar bahwa sang tuan jauh lebih berbahaya dari ayahnya sendiri. Di bawah satu atap, Marlina harus menjaga rahasianya, nyawa tuannya, dan hatinya yang mulai berkhianat. Saat topengnya terlepas, apakah ia akan tetap menjadi pelindung, atau justru menjadi tawanan sang miliarder?
Lihat lebih banyak"Jangan berani-berani menyentuhku dengan tangan kotorismu itu, Leo!" desis Marlina, suaranya sedingin es yang membeku saat tangan kanan Leo terulur, mencoba meraih pergelangan tangannya. Dengan gerakan taktis yang sangat cepat, Marlina menepis kasar lengan pria itu hingga terhempas ke udara. Leo tidak marah. Ia justru melebarkan senyumannya, menampilkan deretan gigi rapinya yang tampak begitu memuakkan di bawah temaram cahaya bulan. "Galak sekali, Sayang. Padahal aku hanya ingin menyapa calon istriku yang sudah sangat kurindukan." "Calon istri?" Marlina mendengus jijik, matanya berkilat penuh kebencian. "Lebih baik aku membusuk di dalam tanah daripada harus bersanding dengan pengkhianat menjijikkan sepertimu!" Leo terkekeh rendah, melangkah maju satu jengkal lagi hingga tubuh tegapnya mengurung pergerakan Marlina. Sebelum wanita itu sempat melayangkan pukulan, Leo dengan sangat cepat condong ke depan, mendekatkan bilah bibirnya tepat di samping daun telinga Marlina. "Kau boleh men
"Ada urusan apa lagi Ayah memintaku untuk bertemu di tempat sepi seperti ini?" tanya Marlina, suaranya terdengar sangat tajam memecah keheningan malam, menuntut jawaban langsung dari sang ayah. David Andreas perlahan menurunkan cerutu dari sela bibirnya, membiarkan asap abu-abu pekat mengepul ke udara sebelum menatap putri tunggalnya dengan pandangan dingin yang berwibawa. "Kau menyapa ayahmu yang sudah lama tidak kau temui dengan nada ketus seperti itu, Marlina? Di mana rasa hormatmu?" "Rasa hormatku sudah hilang sejak Ayah mengirim Leo untuk menusuk dada Edward dan mengacaukan hidupku!" balas Marlina, melangkah satu jengkal lebih dekat tanpa memedulikan empat moncong senjata pengawal yang langsung bergerak mengunci tubuhnya. "Katakan saja apa maumu, David Andreas. Aku tidak punya banyak waktu untuk bermain teka-teki di sini." David terkekeh rendah, sebuah tawa berat yang terdengar sangat mengerikan di tengah kesunyian gedung tua yang terbengkalai ini. Pria paruh baya itu bangkit
"Kau lihat itu, Marlina? Cucu yang aku rawat dengan tetes keringat dan kasih sayang, berani mengancam kakeknya demi wanita rendahan sepertimu. Kau puas?" tanya Kakek Hendra, sebuah senyuman dingin yang teramat meremehkan terukir di wajah tuanya. "Jaga ucapanmu, Kakek!" raung Edward, tubuhnya berniat merangsek maju untuk membungkam kalimat sang kakek, namun kedua tangan Marlina menahan dadanya dengan kekuatan penuh. "Sudah, Edward! Biarkan dia pergi!" bentak Marlina, menatap lurus ke arah Kakek Hendra tanpa ada sedikit pun rasa takut atau terhina di matanya. "Tuan Hendra Mahesa, anda boleh memandang saya serendah yang Anda mau. Tapi anda harus tahu, saya berada di sini bukan untuk menghancurkan cucu anda, melainkan untuk memastikan dia tetap hidup dari ancaman luar yang sebenarnya." Kakek Hendra hanya mendengus sinis, mengetukkan tongkat peraknya sekali lagi ke aspal sebelum berbalik menuju mobil sedannya. "Kita lihat saja, sampai kapan harga dirimu yang tinggi itu bisa menyelamatka
"Ada urusan apa lagi Kakek datang kemari? Dan apa maksud dari semua permainan konyol Kakek dengan melibatkan Leo?!" Edward langsung melayangkan pertanyaan ketus, melangkah lebar memangkas jarak hingga berdiri tepat di hadapan kakeknya, menghalangi pandangan sang tetua dari sosok Marlina. Kakek Hendra tidak langsung menjawab. Beliau mengetukkan tongkat peraknya ke atas aspal pelataran parkir sebanyak dua kali, menimbulkan bunyi ketukan yang lambat namun sarat akan penekanan dominasi. "Kau menyapa kakekmu yang baru sembuh dari sakit dengan nada seperti itu, Edward? Di mana sopan santunmu sebagai penerus Mahesa Corp?" "Sopan santunku sudah hilang sejak Kakek memutuskan untuk memberikan akses lift VIP kepada seorang pengkhianat dan pembunuh seperti Leo!" desis Edward, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Katakan pada temanku yang lama itu, kenapa Kakek ingin memisahkan aku dengan Marlina sampai harus melibatkan bajingan seperti dia?!" Kakek Hendra mengembuskan napas panjang, w
"Edward?! Kau... kau sudah sadar?!" Marlina berbalik secepat kilat, melepaskan cengkeramannya pada gagang pintu. Di atas ranjang, sepasang mata elang yang biasanya memancarkan tatapan dingin nan angkuh itu kini terbuka sedikit, menatapnya dengan sayu namun penuh dengan kepemilikan yang mutlak. M
"Tuan, pendarahan di rongga dada Tuan Edward berhasil kita hentikan. Masa kritisnya telah lewat, dan detak jantungnya kini sudah kembali stabil walau masih sangat lemah," ujar dokter bedah yang baru saja keluar, masker medisnya diturunkan hingga ke dagu, menampilkan senyum lega yang teramat tulus.
"Kau... siapa kau sebenarnya?! Kenapa kau berdiri di depan ruang operasi cucuku dengan pakaian menjijikkan penuh darah seperti itu?!" Geraman Kakek Hendra memecah keheningan koridor steril, suaranya yang berat dipenuhi tekanan yang membuat beberapa perawat yang lewat buru-buru menyingkir. Sepasang
"Singkirkan tangan kalian... aku masih bisa berdiri sendiri," desis Edward, suaranya parau dan terputus-putus, namun nada bicaranya masih sarat akan penekanan mutlak yang tidak membantah. Kepala pasukan taktisnya yang semula hendak membopong tubuh tegap sang miliarder langsung menarik tangannya ke






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan