Mag-log in"Marlina sudah mati. Kini, hanya ada Kevin, pelindung setia sang miliarder." Kabur dari pernikahan paksa ayahnya, seorang bos mafia kejam Marlina menyamar menjadi pria demi bertahan hidup. Ia berhasil menjadi bodyguard pribadi Edward Mahesa, seorang billionaire tampan dan dingin yang ditakuti para mafia. Marlina mengira ia aman, hingga ia sadar bahwa sang tuan jauh lebih berbahaya dari ayahnya sendiri. Di bawah satu atap, Marlina harus menjaga rahasianya, nyawa tuannya, dan hatinya yang mulai berkhianat. Saat topengnya terlepas, apakah ia akan tetap menjadi pelindung, atau justru menjadi tawanan sang miliarder?
view more"Kau tidak sedang meminta pendapatku, Ayah. Kau sedang menjualku," suara wanita itu bergetar, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang mendidih di bawah permukaan kulitnya.
Di dalam kamar rias yang luas dan dingin itu, seorang waniga cantik berdiri seperti patung pualam yang dipaksa memakai kain sutra. Gaun pengantin berwarna putih gading itu adalah mahakarya, namun bagi wanita itu, setiap jahitannya terasa seperti duri yang menusuk kulit. Tiga orang penata rias profesional berdiri mematung di sudut ruangan, memegang alat rias dengan tangan gemetar. Mereka tahu benar siapa wanita di depan mereka. Marlina Andreas, satu-satunya pewaris takhta bisnis gelap keluarga Andreas yang memiliki reputasi lebih mematikan daripada kecantikannya. Seorang lelaki paruh baya melangkah masuk, David Andreas, ia memecah keheningan dengan dentuman sepatu kulitnya yang mengilat. Ia tidak datang dengan senyum seorang ayah yang akan melepas putrinya, melainkan dengan tatapan seorang jenderal yang memastikan asetnya aman. "Antonio bukan sekadar rekan bisnis, Marlina. Dia adalah jalur utama kita ke pasar Eropa. Dengan kau di sisinya, posisi Andreas tidak akan tergoyahkan," ucap David datar, sambil menyesap cerutu yang aromanya memenuhi ruangan. Marlina tertawa sinis, sebuah tawa yang kering dan tajam. "Posisi Andreas? Atau posisimu, Ayah? Aku sudah menghabiskan sepuluh tahun terakhir menjadi anjing pelacakmu. Aku membersihkan kekacauan yang dibuat anak buahmu, aku memenangkan negosiasi dengan moncong senjata, dan sekarang kau ingin aku menjadi hiasan di ranjang pria tua itu?" "Jaga bicaramu!" David menghantam meja rias, membuat botol-botol parfum mahal berdenting nyaring. "Aku membesarkanmu bukan untuk menjadi pembangkang. Aku mengajarimu cara menembak agar kau bisa membunuh musuhmu, bukan untuk menodongkan lidah tajammu padaku!" Marlina melangkah maju, membiarkan ekor gaunnya yang panjang terseret kasar. Ia berdiri tepat di depan ayahnya, menantang mata elang yang selama ini ditakuti oleh seluruh mafia di kota ini. "Kau mengajariku bela diri agar aku kuat, Ayah. Dan sekarang, aku cukup kuat untuk mengatakan tidak padamu." Plak! Tamparan itu begitu keras hingga gema suaranya seolah memantul di dinding ruangan. Wajah Marlina terlempar ke samping. Ujung bibirnya pecah, mengeluarkan setetes darah merah yang kontras dengan bedak putih di wajahnya. Namun, Marlina tidak bergeming. Ia tidak meringis, apalagi menangis. Ia perlahan menoleh kembali, menatap ayahnya dengan sorot mata yang jauh lebih dingin daripada sebelumnya. David mencengkeram rahang Marlina, menekannya hingga kuku-kukunya memutih. "Dengar baik-baik, Putriku sayang. Hari ini, kau akan berjalan ke altar itu. Kau akan tersenyum dan menjadi istri Antonio. Jika kau mencoba melarikan diri, aku akan memastikan setiap orang yang pernah kau ajak bicara di luar rumah ini mati dengan cara yang paling menyakitkan. Jangan menguji kesabaranku, Marlina. Kau tahu aku bisa menjadi iblis jika kau memaksaku." David melepaskan cengkeramannya dengan kasar dan berbalik. "Kunci pintunya dari luar. Jangan biarkan dia keluar sampai waktunya pemberkatan," perintahnya pada dua penjaga bertubuh raksasa di depan pintu. Pintu tertutup dengan dentuman yang memekakkan telinga. Marlina berdiri diam, menatap pantulan dirinya di cermin besar. Di balik gaun yang tampak rapuh itu, tersimpan tubuh yang terlatih dengan keras. Sejak kecil, ia tidak diberi boneka, ia diberi pistol kaliber sembilan milimeter. Ia tidak diajari menari, ia diajari cara mematahkan leher lawan dalam tiga detik. Marlina Andreas adalah senjata yang diciptakan oleh David sendiri, dan hari ini, senjata itu akan berbalik menyerang penciptanya. "Kalian," suara Marlina rendah, tertuju pada para penata rias yang pucat pasi. "Masuk ke kamar mandi. Sekarang. Jika kalian bersuara sedikit saja, aku tidak menjamin kalian bisa pulang untuk makan malam." Tanpa perlu perintah kedua, mereka berlari masuk ke dalam kamar mandi besar dan menguncinya. Marlina bergerak secepat kilat. Ia menyambar gunting kain besar di atas meja. Dengan beberapa gerakan kasar, ia memotong gaun pengantinnya yang menjuntai, merobek lapisan-lapisan kain brokat yang menghambat langkahnya hingga menyisakan kain putih yang kini lebih mirip tunik pendek. Di balik lipatan kain yang tersisa, ia mengencangkan ikat pinggang kulit berisi pisau lipat yang sudah ia siapkan diam-diam. Ia menuju balkon. Angin malam menerjang wajahnya, membawa aroma kebebasan yang getir. Kamar ini berada di lantai dua, tapi bagi Marlina, ini hanyalah latihan pemanasan. Ia memanjat pagar balkon, lalu dengan gerakan atletis yang sempurna, ia melompat ke dahan pohon ek tua yang menjulang di samping bangunan, merosot turun dengan cekatan hingga kakinya menyentuh tanah tanpa suara. Marlina berlari melewati taman belakang, namun langkahnya terhenti di dekat gerbang samping. Dua bodyguard kepercayaan ayahnya berdiri di sana dengan senjata lengkap. "Nona? Apa yang—" Marlina tidak menunggu pertanyaan itu selesai. Ia melesat seperti anak panah. Dengan satu lompatan, ia melayangkan tendangan lutut ke arah ulu hati penjaga pertama, membuatnya tumbang seketika. Penjaga kedua mencoba menarik senjatanya, namun Marlina lebih cepat. Ia menangkap pergelangan tangan pria itu, memutarnya hingga terdengar suara krak yang mengerikan, lalu menghantamkan sikunya ke pelipis pria itu. Dua pria dewasa itu ambruk di atas rumput dalam hitungan detik. Marlina berdiri di tengah kegelapan, napasnya memburu, darah di ujung bibirnya kini terasa asin. Ia menatap gerbang besi yang terbuka sedikit, lalu menatap ke arah mansion megah yang kini terasa seperti penjara yang terbakar. Sirene mulai terdengar dari dalam rumah. Ayahnya sudah menyadari mangsanya lepas. Marlina berlari menembus jalanan setapak yang gelap, menuju jantung kota yang asing baginya. Ia menanggalkan tiara berliannya dan membuangnya ke semak-semak. Sambil terus berlari, ia merobek sisa kain brokat yang masih menempel di lengannya, menyisakan pakaian putih compang-camping yang kini kotor oleh tanah dan darah. Ia sampai di sebuah gang sempit yang gelap dan lembap. Suara deru mobil pengawal ayahnya terdengar di kejauhan, menyisir jalanan utama. Marlina menyandarkan punggungnya pada dinding bata yang dingin, mencoba mengatur napasnya yang sesak. Matanya menatap tajam ke kegelapan di depannya. "Aku tidak bisa kembali," gumamnya pada diri sendiri, suaranya parau namun penuh tekad. "Marlina Andreas sudah mati di dalam mansion itu." Ia menyentuh rambut panjangnya, lalu menatap bayangan dirinya yang samar di genangan air hujan. Dunia ini luas, namun bagi putri seorang mafia, tidak ada tempat yang benar-benar aman. "Aku harus bersembunyi," bisiknya pelan, sementara matanya menyisir sekeliling dengan waspada. "Aku harus menjadi seseorang yang bahkan tidak bisa dikenali oleh bayanganku sendiri." Lampu sorot mobil menyambar ujung gang, membuat Marlina tersentak dan kembali menghilang ke dalam kegelapan malam yang lebih pekat. Ia merenungi dirinya sendiri, menatap langit malam. "Sekarang... kemana aku harus pergi?!""Semua sudah siap? Lakukan sekarang. Jangan biarkan satu pun dari mereka lolos," suara Edward terdengar dingin dan tajam saat ia menempelkan ponsel ke telinganya, sesaat setelah mereka masuk ke dalam kabin mobil yang kedap suara. Kevin yang sedang mengatur napasnya di kursi pengemudi hanya bisa terdiam sembari memperhatikan melalui spion luar. Tak butuh waktu lama, deru sirine membelah kebisingan jalanan di depan gedung Arwana Group. Beberapa mobil polisi dan unit taktis bersenjata lengkap mengepung area tersebut. Dari kejauhan, Kevin melihat Suroso diseret keluar dengan tangan terborgol, wajahnya pucat pasi, jauh dari kesan angkuh yang ia tunjukkan beberapa menit lalu. Edward menyunggingkan senyum tipis yang tampak mengerikan, senyum seorang predator yang baru saja selesai bermain dengan mangsanya. "Menghancurkan seluruh kerajaan yang ia bangun dengan darah dan keringat jauh lebih menyenangkan daripada sekadar melenyapkan nyawanya begitu saja," gumam Edward pelan. Kevin menoleh s
"Turunkan senjatamu, atau otak majikanmu akan berceceran di karpet mahal ini!" teriak salah satu pengawal Suroso, suaranya parau karena ketegangan yang memuncak. "Kau mengancamku? Silakan saja," desis Kevin, suaranya tetap stabil meskipun jantungnya berdegup kencang karena adrenalin. "Kita lihat majikan siapa yang akan mati duluan." DOR! Satu dentuman memekakkan telinga. Peluru melesat hanya beberapa milimeter dari pelipis Kevin, menghantam lemari kaca di belakangnya hingga hancur berkeping-keping. Kevin menghindar dengan gerakan refleks yang luar biasa cepat, namun tangannya masih mencengkeram kerah baju Suroso, menjadikan pria tua itu tameng hidup. "Berhenti menembak, bodoh! Kalian bisa mengenaiku!" jerit Suroso, suaranya melengking ketakutan."Maafkan kami, Bos!" pekik salah satu bodyguard Suroso. Dua pengawal bertubuh raksasa tidak membuang waktu. Mereka menerjang ke arah Edward dengan kepalan tinju yang siap menghancurkan tulang. Namun, Edward Mahesa bukanlah mangsa yang mud
"Tikus-tikus kecilmu bukan hanya kalah, Suroso. Mereka sudah menjadi bangkai yang merepotkan tim pembersihku," sahut Edward dengan nada bicara yang sangat santai, seolah ia sedang membicarakan cuaca dan bukannya nyawa manusia. Ia melirik Kevin sekilas, lalu kembali menatap musuhnya. "Beruntunglah aku memiliki rubah kecil yang bisa diandalkan untuk melenyapkan hama semacam itu hanya dalam hitungan menit." Suroso tertawa, namun suaranya terdengar garing. Matanya yang licik terus menatap Kevin, mencoba mengukur seberapa berbahaya pemuda ramping di belakang Edward tersebut. "Rubah yang menarik. Baik, jangan buat keributan di lobi. Mari bicara di ruanganku, Edward. Ada penawaran yang jauh lebih menguntungkan daripada sekadar baku tembak di hotel." Edward memberikan isyarat pada Kevin untuk tetap waspada saat mereka melangkah menuju lantai atas. Sesampainya di ruang kerja pribadi Suroso yang luas dan beraroma cerutu pekat, suasana seketika mendingin. Suroso duduk di kursi kebesarannya, se
"Jadi, kau ingin mengatakan bahwa kau tidak bisa menemukan apa pun tentangnya?" Suara Edward terdengar tenang, namun getaran ancaman di dalamnya membuat asisten kepercayaannya menunduk lebih dalam. Di dalam ruang kerja mansion yang masih remang oleh cahaya fajar, tumpukan kertas tipis tergeletak di atas meja. "Mohon maaf, Tuan. Kami sudah melacak dari catatan sipil hingga jaringan informan di pelabuhan Utara. Nama Kevin tidak terdaftar di mana pun sebelum ia melamar pada anda," lapor pria misterius itu dengan nada menyesal. "Silsilah keluarga, alamat masa kecil, hingga catatan sekolah... semuanya nihil. Datanya terlalu bersih, seolah-olah pria ini baru saja jatuh dari langit." Edward terdiam sejenak, lalu tangannya menghantam meja dengan keras. "Cari lagi! Jangan kembali padaku dengan kata nihil. Tidak ada manusia yang tidak meninggalkan jejak, kecuali jika dia memang sengaja menghapusnya." Pria itu mengangguk cepat dan segera mengundurkan diri. Edward bangkit, menyambar jasnya da






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.