Accueil / Romansa / Boneka Tawanan Sang Mafia / Label Kepemilikan Sang Mafia

Partager

Label Kepemilikan Sang Mafia

Auteur: Kaorich
last update Date de publication: 2026-06-27 14:00:12

Rahang Dominic mengeras hingga urat-urat di leher tegapnya menegang, memancarkan aura kemurkaan yang sanggup membekukan udara di sekitar kami.

Ia tidak membalas ucapan bernada ancaman itu dengan makian kasar atau teriakan yang meledak-ledak. Dengan satu gerakan lambat yang penuh intimidasi, jemari panjangnya menekan tombol merah di layar ponsel, memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak.

Aku menatapnya dengan tubuh yang kembali dirongrong oleh rasa takut yang luar biasa hebat.

"Paman, bagaimana bisa dia tahu aku ada di sini?" bisikku parau, meremas ujung gaun tidur sutra mawar salemku hingga jemariku memutih.

"Dia tidak akan pernah melepaskanku, Dominic. Dia akan menghancurkan apa saja sampai bisa menyeretku kembali."

Dominic melemparkan ponselnya ke atas meja marmer dengan dentingan pelan yang terdengar begitu nyaring di dalam keheningan kamar. Ia berbalik, menatapku dengan sepasang mata elang abu-abunya yang kini berkilat oleh emosi yang sangat gelap dan posesif.

Bukannya menyalahkanku atas kekacauan malam ini, ia justru melangkah mendekat dengan ritme yang begitu tenang namun mematikan.

"Dia sudah menandatangani surat kematiannya sendiri sejak berani menyebut namamu di hadapanku, Clara," ucap Dominic, suaranya terdengar sangat rendah dan dalam, bergetar oleh kepemilikan mutlak.

Ia berlutut kembali di hadapanku, meraih kedua belah tanganku yang dingin lalu menggenggamnya erat di dalam telapak tangannya yang besar dan hangat. Kontras di antara kami terasa begitu pekat; kepolosan delapan belas tahunku sepenuhnya tenggelam di bawah kharisma matang pria tiga puluh lima tahun ini.

Aku bisa merasakan debaran jantungku melompat tak beraturan, terjebak di antara rasa ngeri dan pesona protektif yang dipancarkannya.

"Mulai detik ini, aturan di dalam sangkar ini akan berubah," Dominic menegakkan tubuhnya, menarikku ikut berdiri hingga jarak di antara kami kembali terkikis habis. 

"Kau tidak akan pernah lepas dari jangkauan pandanganku lagi. Kau tidak akan tinggal di kamar tamu ini, Clara—kau akan pindah ke kamar tidur utamaku."

"Tapi, kenapa harus di kamarmu?" tanyaku dengan napas yang mulai terengah kecil karena kedekatan kami yang begitu intim dan mengungkung.

"Agar aku bisa memastikan tidak ada satu pun bayangan yang bisa mendekatimu saat aku sedang memejamkan mata," jawab Dominic tanpa keraguan sedikit pun di dalam suaranya.

"Kau adalah tawanan berhargaku, dan aku adalah pemilik yang sangat tidak suka jika barang miliknya diusik oleh tikus-tikus kotor dari masa lalu."

Ia merengkuh pinggang rampingku dengan satu lengan kokohnya, menempelkan tubuh mungilku secara sempurna pada dada bidangnya yang berdetak konstan.

Aku merasa sangat kecil, tidak berdaya, sekaligus terisolasi dari seluruh dunia di dalam dekapannya. Namun, aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa di dalam pelukan monster Milan inilah aku menemukan tempat berlindung paling aman.

Dominic mengulurkan tangan bebasnya ke arah luar pintu, memberi isyarat kepada kepala keamanannya yang sejak tadi berdiri siaga di koridor penthouse. 

"Perketat seluruh perimeter menara ini menjadi tiga lapis pengamanan bersenjata mulai malam ini. Periksa setiap manifes penerbangan asing dari Skotlandia dan tutup semua akses pelabuhan Milan bagi siapa pun yang mencurigakan."

"Baik, Signor Moretti. Perintah Anda akan segera dilaksanakan," jawab pria bersetelan jas hitam itu sebelum membungkuk hormat dan menutup kembali pintu kayu jati kamar dengan rapat.

Kini, tinggallah kami berdua di dalam ruangan yang kembali sunyi, ditemani sisa-sisa aroma mesiu dan wangi parfum maskulin milik Dominic yang memabukkan. 

Dominic menundukkan wajah tampannya, membiarkan ujung hidungnya bergeser perlahan di sepanjang garis rahangku yang halus. Sentuhannya terasa begitu intim, seolah ia sedang menorehkan label kepemilikan tak kasat mata di atas kulitku.

"Kau membenciku karena aku mengunci kebebasanmu, Tikus Kecil?" bisik Dominic tepat di samping telingaku, mengirimkan desiran panas yang asing langsung ke perutku.

"Kau memenjarakanku di langit Milan, aku tidak memiliki dunia luar lagi," jawabku jujur dengan sisa keberanian yang kupunya, meskipun tubuhku tanpa sadar bersandar pada kehangatan tubuhnya.

"Dunia luar terlalu kejam untuk gadis secantik dan sepolos dirimu, Clara," Dominic menyeringai tipis, seulas senyuman berbahaya yang justru tampak sangat menawan di wajah tegasnya. 

"Biarkan dunia luar menjadi urusanku untuk kuhancurkan. Tugasmu di sini hanya satu; patuh padaku dan tetaplah hidup di dalam sangkarku."

Ia menjauhkan wajahnya sedikit, membiarkan mata abu-abunya mengunci sepasang mata rusaku dengan intensitas yang begitu menuntut. Ibu jarinya kembali menekan lembut bibir bawahku yang bergetar, sebelum ia menunduk untuk memberikan sebuah kecupan dalam yang sarat akan janji perlindungan sekaligus pengungkungan yang mutlak.

Aku memejamkan mata, membiarkan diriku tenggelam lebih dalam ke dalam pesona yang rumit ini.

Dilema emosional di dalam dadaku semakin memuncak seiring berjalannya waktu malam yang kian mendingin. Aku tahu aku telah kehilangan kemerdekaanku sepenuhnya sejak melangkah masuk ke dalam kehidupan pria berkuasa ini.

Dominic Moretti bukan lagi sekadar monster yang memenjarakanku; ia telah menjelma menjadi satu-satunya perisai hidup yang berdiri di antara diriku dan kematian yang mengerikan.

Beberapa menit kemudian, Dominic melepaskan pautan bibir kami perlahan, menatap wajahku yang kini merona merah dengan pandangan yang luar biasa posesif. Ia meraih jemari kananku, menuntunku berjalan keluar dari kamar tamu menuju kamar tidur utamanya yang terletak di ujung koridor penthouse.

Kamar itu jauh lebih luas, dengan ranjang raksasa berlapis sutra hitam yang tampak begitu misterius dan mengintimidasi.

Dominic membimbingku untuk berbaring di sisi ranjangnya, lalu ia ikut merebahkan tubuh tegapnya di sampingku, menarik tubuh mungilku ke dalam pelukan protektifnya sepanjang sisa malam.

Aku mendengarkan detak jantungnya yang konstan di bawah telingaku, perlahan mulai terbuai ke dalam kantuk yang berat setelah melewati badai ketegangan tingkat tinggi yang menguras tenaga.

***

Keesokan paginya, aku terbangun oleh aroma kopi espresso yang pekat dan sinar matahari Milan yang mulai menembus tirai tipis kamar. Dominic sudah tidak ada di sampingku, menyisakan kehangatan tubuhnya di atas bantal sutra hitam yang kosong.

Aku mendudukkan tubuhku perlahan, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang sunyi sebelum mataku menangkap sesuatu yang aneh di atas meja rias marmer di sudut kamar.

Sebuah amplop cokelat berlogo resmi Kepolisian Federal Italia tergeletak di sana dalam kondisi sudah robek di bagian ujungnya, seolah Dominic baru saja membacanya sebelum pergi. Didorong oleh rasa penasaran dan firasat buruk yang mendadak mencuat, aku melangkah turun dari ranjang dengan kaki telanjang yang masih diperban.

Aku mendekati meja rias, menarik keluar selembar kertas dokumen rahasia dari dalam amplop tersebut dengan tangan yang mendadak kembali dingin.

Mataku menyusuri deretan tulisan berbahasa Italia yang diterjemahkan secara otomatis di bawahnya oleh catatan tulisan tangan Dominic yang rapi. Lembar dokumen itu menampilkan foto profil Paman Thomas, namun yang membuat seluruh pasokan oksigen di paruku mendadak lenyap adalah lampiran foto kedua di lembar berikutnya.

Itu adalah foto selembar akta kelahiran kuno dari gereja tua di Edinburgh, yang menampilkan nama ibu kandungku beserta nama ayah kandungku yang sebenarnya—seorang pria yang marganya sama sekali bukan Vance, melainkan Moretti.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Boneka Tawanan Sang Mafia   Di Balik Tirai Sutra Berdarah

    "Tekan tombol itu, Dominic, dan kau akan melihat bagaimana aku meledakkan kepala gadis kecilmu sebelum pelabuhan ini sempat berubah jadi abu."Ucapkan Vittorio terputus oleh desakan napasnya sendiri, namun moncong senjata dari lima pengawal pribadinya seketika beralih, membidik tepat ke dadaku yang masih bersandar lemas pada lengan Marco.Dominic tidak berkedip. Jari jemarinya yang bernoda darah tetap berada di atas tombol merah pemicu detonator, seolah ancaman kematian di depan matanya tak lebih dari sekadar hembusan angin malam Venesia."Cobalah jika kau ingin memastikan kekaisaranmu rata dengan tanah dalam hitungan mikrodetik, Vittorio," balasan Dominic terlontar sangat tenang, begitu dingin hingga sanggup membekukan aliran darah siapa pun yang mendengarnya."Kau tahu persis aku tidak pernah menggertak.""Kau gila, Moretti!" maki Vittorio, matanya yang tua berkilat panik menatap remote kecil di genggaman Dominic."Kau mempertaruhkan nyawa gadismu demi gertakan sampah ini?!""Dia bu

  • Boneka Tawanan Sang Mafia   Detak Jantung yang Terjual

    "Kau tidak akan mati di sini, Clara! Demi sialan apa pun, buka matamu dan tatap aku!"Suara bariton Dominic menggelegar di antara dinding-dinding gang Venesia yang lembap. Cengkeraman tangannya pada bahuku terasa begitu kuat, seolah ia sedang berusaha menahan jiwaku agar tidak terbang meninggalkan raga.Kedua mata abu-abunya yang biasa memancarkan kedinginan mutlak, kini melebar dipenuhi kepanikan murni yang luar biasa ekstrem."Dominic... rasanya dingin sekali," bisikku parau.Dadaku mendadak terasa seperti dihimpit oleh sebongkah batu es yang besar. Pandanganku yang semula menangkap keremangan lampu gang berganti menjadi bayang-bayang buram.Saat Dominic menyentak pergelangan tangan kiriku ke bawah cahaya, sebuah titik hitam kecil bergaris keunguan terlihat jelas tepat di bekas goresan belati Paman Thomas tadi. Racun itu sudah mulai merayap naik ke pembuluh darahku."Marco! Ambilkan kotak penawar di manifes jet sekarang! Cepat!" raung Dominic, suaranya bergetar hebat—sebuah pemandan

  • Boneka Tawanan Sang Mafia   Ratu yang Terhempas Di Labirin Air

    "Kalian salah jika mengira aku akan membiarkan diri ini diseret seperti anjing pembawa warisan, Tuan-Tuan bertopeng."Aku berteriak sekuat tenaga, menantang gemuruh angin dan kepulan asap yang mulai memenuhi kabin helikopter yang berputar liar. Rasa takut yang selama ini melumpuhkanku mendadak terkikis habis, digantikan oleh amarah yang diwariskan oleh kejamnya didikan Dominic selama di Milan."Signorina Clara, tidak ada waktu lagi! Pakai parasut ini atau kita semua mati terpanggang!" bentak Marco, jemarinya yang gemetar memaksa tali pengaman masuk ke bahuku."Aku tidak bisa berenang, Marco! Melompat ke sana sama saja dengan bunuh diri!" jeritku, menatap ngeri pintu kabin yang terbuka, memperlihatkan hamparan laut Venesia yang hitam pekat di bawah sana."Lebih baik bertaruh dengan air daripada menjadi abu di langit! Lompat, Signorina!" Marco tidak memberiku pilihan.Dengan satu sentakan kuat, ia mendorong tubuhku keluar dari ambang pintu helikopter yang mulai terbakar."Dominic!"Jeri

  • Boneka Tawanan Sang Mafia   Amarah Sang Monster Milan

    "Jika kau menarik pelatuk itu, kau tidak akan pernah keluar hidup-hidup dari kota Milan, bajingan."Sebuah suara serak dan berat mendadak memotong kalimat pria bertopeng itu. Kesadaranku yang hampir runtuh tersentak saat merasakan tubuh besar Dominic yang tadi tergeletak tak berdaya di atasku, perlahan bergerak bangkit dengan sisa tenaga yang mengerikan."Do-Dominic? Kau masih hidup?!" pekikku di antara tangis, menatap punggung kemejanya yang kini basah kuyup oleh darah segar.Pria bertopeng yang memegang senjata laras panjang itu tertawa meremehkan, meski langkah kakinya refleks mundur satu langkah."Kau menolak mati rupanya, Moretti. Lihat kondisimu, kau bahkan tidak bisa berdiri tegak!""Aku tidak butuh berdiri tegak hanya untuk mencabut nyawa sekelas anjing pemburu sepertimu," desis Dominic. Rahangnya mengetat kaku, dan sepasang mata abu-abunya berkilat kemerahan, memancarkan aura kemurkaan monster yang bangkit dari neraka."Tembak dia sekarang! Jangan dengarkan omong kosongnya!"

  • Boneka Tawanan Sang Mafia   Bom Waktu Di Atas Langit Milan

    "Lepaskan tangan kotormu dari milikku, Thomas, sebelum aku memastikan setiap jengkal tulang di tubuhmu menjadi debu."Sebuah suara bariton yang sangat familier memotong tawa kemenangan pamanku dari balik kepulan asap mesiu yang pekat. Jantungku yang sempat berhenti berdetak seketika bergemuruh liar mendengar gaung dingin nan mematikan itu."Dominic?!" pekikku parau, mencoba mendongak di tengah rasa sakit yang mendera kulit kepalaku.Paman Thomas tersentak, mencengkeram rambutku lebih erat hingga aku meringis kesakitan."Mundur, Moretti! Maju satu langkah, dan aku akan merobek leher keponakan kesayanganmu ini di depan matamu!"Kilatan cahaya dari luar jendela penthouse menerangi siluet tinggi tegap Dominic yang melangkah membelah kegelapan koridor. Sepasang mata elang abu-abunya berkilat merah oleh amarah murni, mengunci sosok pamanku dengan intensitas yang sanggup membekukan seluruh pasokan oksigen di ruangan ini."Kau salah mengira posisi tawananmu, Tua Bangka," desis Dominic, suaran

  • Boneka Tawanan Sang Mafia   Ikatan Yang Terpilih

    "Mundur sejauh apa pun yang kau mau, Clara. Tapi di ruangan ini, tidak ada satu sudut pun yang bisa menyembunyikanmu dari aku."Suara Dominic meluncur rendah, memotong keheningan kamar seperti pisau yang membelah kain sutra. Langkah kakinya yang berat sengaja diperlambat, menciptakan ritme teror yang membuat jantungku berdegup dua kali lebih cepat."Jangan mendekat!" pekikku, punggungku membentur kaki tempat tidur yang dingin. "Katakan padaku, Dominic! Apa yang ada di dalam kertas itu? Apakah darah Moretti ini adalah kutukan yang akan membunuhku?"Dominic tertawa—sebuah suara bariton yang kering, gelap, dan sama sekali tidak menyiratkan humor.Ia melempar tablet digital itu ke atas kasur empuk di belakangku, lalu berlutut kembali. Namun, kali ini gerakannya tidak lagi didorong oleh amarah yang dingin. Ada sesuatu yang jauh lebih purba dan berbahaya di dalam sepasang manik abu-abunya."Kutukan?" Dominic memiringkan kepalanya, jemarinya yang panjang meraba helai rambutku yang kusut."T

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status