بيت / Romansa / Boneka Tawanan Sang Mafia / Ratu yang Terhempas Di Labirin Air

مشاركة

Ratu yang Terhempas Di Labirin Air

مؤلف: Kaorich
last update تاريخ النشر: 2026-07-18 08:10:26

"Kalian salah jika mengira aku akan membiarkan diri ini diseret seperti anjing pembawa warisan, Tuan-Tuan bertopeng."

Aku berteriak sekuat tenaga, menantang gemuruh angin dan kepulan asap yang mulai memenuhi kabin helikopter yang berputar liar. Rasa takut yang selama ini melumpuhkanku mendadak terkikis habis, digantikan oleh amarah yang diwariskan oleh kejamnya didikan Dominic selama di Milan.

"Signorina Clara, tidak ada waktu lagi! Pakai parasut ini atau kita semua mati terpanggang!" bentak Ma
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Boneka Tawanan Sang Mafia   Di Balik Tirai Sutra Berdarah

    "Tekan tombol itu, Dominic, dan kau akan melihat bagaimana aku meledakkan kepala gadis kecilmu sebelum pelabuhan ini sempat berubah jadi abu."Ucapkan Vittorio terputus oleh desakan napasnya sendiri, namun moncong senjata dari lima pengawal pribadinya seketika beralih, membidik tepat ke dadaku yang masih bersandar lemas pada lengan Marco.Dominic tidak berkedip. Jari jemarinya yang bernoda darah tetap berada di atas tombol merah pemicu detonator, seolah ancaman kematian di depan matanya tak lebih dari sekadar hembusan angin malam Venesia."Cobalah jika kau ingin memastikan kekaisaranmu rata dengan tanah dalam hitungan mikrodetik, Vittorio," balasan Dominic terlontar sangat tenang, begitu dingin hingga sanggup membekukan aliran darah siapa pun yang mendengarnya."Kau tahu persis aku tidak pernah menggertak.""Kau gila, Moretti!" maki Vittorio, matanya yang tua berkilat panik menatap remote kecil di genggaman Dominic."Kau mempertaruhkan nyawa gadismu demi gertakan sampah ini?!""Dia bu

  • Boneka Tawanan Sang Mafia   Detak Jantung yang Terjual

    "Kau tidak akan mati di sini, Clara! Demi sialan apa pun, buka matamu dan tatap aku!"Suara bariton Dominic menggelegar di antara dinding-dinding gang Venesia yang lembap. Cengkeraman tangannya pada bahuku terasa begitu kuat, seolah ia sedang berusaha menahan jiwaku agar tidak terbang meninggalkan raga.Kedua mata abu-abunya yang biasa memancarkan kedinginan mutlak, kini melebar dipenuhi kepanikan murni yang luar biasa ekstrem."Dominic... rasanya dingin sekali," bisikku parau.Dadaku mendadak terasa seperti dihimpit oleh sebongkah batu es yang besar. Pandanganku yang semula menangkap keremangan lampu gang berganti menjadi bayang-bayang buram.Saat Dominic menyentak pergelangan tangan kiriku ke bawah cahaya, sebuah titik hitam kecil bergaris keunguan terlihat jelas tepat di bekas goresan belati Paman Thomas tadi. Racun itu sudah mulai merayap naik ke pembuluh darahku."Marco! Ambilkan kotak penawar di manifes jet sekarang! Cepat!" raung Dominic, suaranya bergetar hebat—sebuah pemandan

  • Boneka Tawanan Sang Mafia   Ratu yang Terhempas Di Labirin Air

    "Kalian salah jika mengira aku akan membiarkan diri ini diseret seperti anjing pembawa warisan, Tuan-Tuan bertopeng."Aku berteriak sekuat tenaga, menantang gemuruh angin dan kepulan asap yang mulai memenuhi kabin helikopter yang berputar liar. Rasa takut yang selama ini melumpuhkanku mendadak terkikis habis, digantikan oleh amarah yang diwariskan oleh kejamnya didikan Dominic selama di Milan."Signorina Clara, tidak ada waktu lagi! Pakai parasut ini atau kita semua mati terpanggang!" bentak Marco, jemarinya yang gemetar memaksa tali pengaman masuk ke bahuku."Aku tidak bisa berenang, Marco! Melompat ke sana sama saja dengan bunuh diri!" jeritku, menatap ngeri pintu kabin yang terbuka, memperlihatkan hamparan laut Venesia yang hitam pekat di bawah sana."Lebih baik bertaruh dengan air daripada menjadi abu di langit! Lompat, Signorina!" Marco tidak memberiku pilihan.Dengan satu sentakan kuat, ia mendorong tubuhku keluar dari ambang pintu helikopter yang mulai terbakar."Dominic!"Jeri

  • Boneka Tawanan Sang Mafia   Amarah Sang Monster Milan

    "Jika kau menarik pelatuk itu, kau tidak akan pernah keluar hidup-hidup dari kota Milan, bajingan."Sebuah suara serak dan berat mendadak memotong kalimat pria bertopeng itu. Kesadaranku yang hampir runtuh tersentak saat merasakan tubuh besar Dominic yang tadi tergeletak tak berdaya di atasku, perlahan bergerak bangkit dengan sisa tenaga yang mengerikan."Do-Dominic? Kau masih hidup?!" pekikku di antara tangis, menatap punggung kemejanya yang kini basah kuyup oleh darah segar.Pria bertopeng yang memegang senjata laras panjang itu tertawa meremehkan, meski langkah kakinya refleks mundur satu langkah."Kau menolak mati rupanya, Moretti. Lihat kondisimu, kau bahkan tidak bisa berdiri tegak!""Aku tidak butuh berdiri tegak hanya untuk mencabut nyawa sekelas anjing pemburu sepertimu," desis Dominic. Rahangnya mengetat kaku, dan sepasang mata abu-abunya berkilat kemerahan, memancarkan aura kemurkaan monster yang bangkit dari neraka."Tembak dia sekarang! Jangan dengarkan omong kosongnya!"

  • Boneka Tawanan Sang Mafia   Bom Waktu Di Atas Langit Milan

    "Lepaskan tangan kotormu dari milikku, Thomas, sebelum aku memastikan setiap jengkal tulang di tubuhmu menjadi debu."Sebuah suara bariton yang sangat familier memotong tawa kemenangan pamanku dari balik kepulan asap mesiu yang pekat. Jantungku yang sempat berhenti berdetak seketika bergemuruh liar mendengar gaung dingin nan mematikan itu."Dominic?!" pekikku parau, mencoba mendongak di tengah rasa sakit yang mendera kulit kepalaku.Paman Thomas tersentak, mencengkeram rambutku lebih erat hingga aku meringis kesakitan."Mundur, Moretti! Maju satu langkah, dan aku akan merobek leher keponakan kesayanganmu ini di depan matamu!"Kilatan cahaya dari luar jendela penthouse menerangi siluet tinggi tegap Dominic yang melangkah membelah kegelapan koridor. Sepasang mata elang abu-abunya berkilat merah oleh amarah murni, mengunci sosok pamanku dengan intensitas yang sanggup membekukan seluruh pasokan oksigen di ruangan ini."Kau salah mengira posisi tawananmu, Tua Bangka," desis Dominic, suaran

  • Boneka Tawanan Sang Mafia   Ikatan Yang Terpilih

    "Mundur sejauh apa pun yang kau mau, Clara. Tapi di ruangan ini, tidak ada satu sudut pun yang bisa menyembunyikanmu dari aku."Suara Dominic meluncur rendah, memotong keheningan kamar seperti pisau yang membelah kain sutra. Langkah kakinya yang berat sengaja diperlambat, menciptakan ritme teror yang membuat jantungku berdegup dua kali lebih cepat."Jangan mendekat!" pekikku, punggungku membentur kaki tempat tidur yang dingin. "Katakan padaku, Dominic! Apa yang ada di dalam kertas itu? Apakah darah Moretti ini adalah kutukan yang akan membunuhku?"Dominic tertawa—sebuah suara bariton yang kering, gelap, dan sama sekali tidak menyiratkan humor.Ia melempar tablet digital itu ke atas kasur empuk di belakangku, lalu berlutut kembali. Namun, kali ini gerakannya tidak lagi didorong oleh amarah yang dingin. Ada sesuatu yang jauh lebih purba dan berbahaya di dalam sepasang manik abu-abunya."Kutukan?" Dominic memiringkan kepalanya, jemarinya yang panjang meraba helai rambutku yang kusut."T

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status