Se connecterBagi Anya, selembar surat cerai terlalu murah untuk membayar nyawa bayinya. Anya selalu mengira hidupnya sempurna. Raka, suami yang tampan dan sukses serta Rachel sahabat yang selalu ada untuknya. Sampai suatu malam, sebuah dokumen medis rahasia membongkar fakta yang memuakkan: keguguran yang hampir merenggut nyawanya enam bulan lalu bukanlah kecelakaan. Anya tidak menangis. Ia tidak melabrak mereka. Ia menonton suaminya meniduri sahabatnya sambil merancang skenario pembunuhan yang sempurna. Untuk membalas dendam, Anya rela bersekutu dengan iblis. Tapi, bagaimana jika iblis itu ternyata adalah satu-satunya pria yang benar-benar memujanya?
Voir plusDua garis merah.
Anya mematung di depan wastafel marmer kamar mandinya. Benda pipih berbahan plastik di tangannya bergetar seiring dengan nafasnya yang memburu. Air mata hangat menetes tanpa bisa ditahan. Ia menutup mulutnya erat-erat, menahan isak tangis bahagia yang nyaris meledak.
Tiga tahun pernikahan yang diisi dengan puluhan kunjungan ke dokter kandungan dan suntikan hormon yang menyiksa akhirnya membuahkan hasil. Ia mengandung darah daging Raka.
Suara ketukan di pintu utama membuyarkan lamunannya. Anya buru-buru menghapus air mata, merapikan gaun rumahan sutranya, dan melangkah cepat menuruni tangga. Ia sudah tahu siapa yang datang. Raka melarangnya menerima sembarang tamu saat pria itu di kantor, dan pengecualian hanya berlaku untuk satu orang.
"Nyonya rumah kita lagi sibuk apa nih?"
Rachel berdiri di ambang pintu dengan senyum lebar, menenteng sekotak macaron dari toko kue favorit Anya. Sahabat terbaiknya itu melangkah masuk tanpa canggung dan meletakkan bawaannya di meja dapur.
"Kamu habis nangis?" Rachel menyipitkan mata, raut wajahnya berubah cemas. "Raka marah-marah lagi? Atau ibu mertuamu telepon nanyain cucu?"
Anya tidak menjawab. Ia justru langsung memeluk sahabatnya itu dengan erat.
"Chel," bisik Anya dengan suara bergetar. "Aku hamil."
Tubuh Rachel mendadak kaku. Hanya sepersekian detik, durasi yang terlalu singkat untuk disadari oleh Anya yang sedang diliputi euforia. Detik berikutnya, Rachel membalas pelukan itu tak kalah erat, bahkan memekik kegirangan.
"Ya Tuhan, Anya! Serius?!" Rachel melepaskan pelukannya, menatap mata Anya dengan binar antusias yang tampak begitu tulus. "Selamat, Sayang! Akhirnya semua pengorbananmu terbayar. Raka pasti senang banget dengar ini!"
"Aku baru mau kasih tahu Raka nanti malam pas dia pulang. Aku sudah siapkan makan malam kesukaannya," ucap Anya dengan mata berbinar.
"Wah, ini perayaan besar!" Rachel memegang kedua bahu Anya dengan tatapan serius yang penuh kepedulian. "Nya, sekarang kamu harus ekstra hati-hati. Nggak boleh sembarangan konsumsi sesuatu. Oh, iya! Temanku ada yang jual teh herbal khusus untuk penguat janin di trimester pertama. Bagus banget buat ngurangin mual."
"Oh ya? Boleh deh nanti aku titip beli," jawab Anya antusias.
"Nggak usah titip, biar aku yang belikan sebagai hadiah pertamaku buat keponakanku," sahut Rachel cepat, tersenyum sangat manis. "Besok pagi aku bawakan kesini. Kamu harus janji seduh teh nya setiap hari, ya."
Anya tersenyum haru. "Chel, makasih banyak, ya. Aku benar-benar beruntung punya sahabat kayak kamu."
Tepat pukul tujuh malam, Anya sudah berdiri di depan pintu utama. Meja makan telah tertata sempurna dengan menu bistik daging wagyu. Rumah beraroma lavender yang menenangkan, sesuai dengan instruksi Raka yang membenci bau menyengat setelah lelah bekerja.
Raka melangkah masuk, memancarkan aura kharismatik yang selalu berhasil membuat jantung Anya berdebar.
"Malam, Mas," sapa Anya lembut, mengambil alih tas kerja dan jas suaminya.
Raka tersenyum, mengecup kening Anya sekilas. "Malam, Sayang. Wangi makanannya enak banget. Mas mandi dulu sebentar, ya."
Dua puluh menit kemudian, mereka duduk berhadapan. Anya melayani suaminya dengan cekatan, memastikan tidak ada satupun detail yang luput. Ia rela membuang karirnya setelah menikah murni karena Raka memintanya fokus merawat keluarga.
"Mas," panggil Anya ragu-ragu saat Raka meletakkan pisau dan garpunya.
"Ya, Sayang? Makanannya sempurna seperti biasa."
Anya merogoh saku gaunnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah dan meletakkannya di dekat piring Raka.
Raka mengernyitkan dahi. "Apa ini? Ulang tahun pernikahan kita masih bulan depan, kan?"
"Buka saja, Mas."
Raka membuka kotak kecil itu. Matanya tertuju pada benda pipih berbahan plastik dengan dua garis merah tegas di bagian tengahnya.
Keheningan menyelimuti ruang makan itu. Raka terdiam. Mata pria itu terpaku pada test-pack di dalam kotak, wajahnya sama sekali tidak terbaca.
"Mas?" panggil Anya, mendadak diliputi rasa cemas. "Kamu... senang, kan?"
Ciuman itu memabukkan. Panas, menuntut, dan dipenuhi oleh janji-janji kelam. Tangan Anya meremas kemeja hitam Nino, membalas lumatan pria itu dengan gairah yang selama ini terkubur di bawah topeng istri penurut. Untuk pertama kalinya sejak ia kehilangan bayinya, Anya tidak merasa hancur. Ia merasa hidup, memiliki kendali, dan sangat berbahaya.Suara beep nyaring dari arah laptop di atas meja memecah keheningan, memaksa mereka mengakhiri pergumulan itu.Nino menarik wajahnya perlahan, nafasnya sedikit memburu. Sosiopat itu menyeringai, mengusap bibir bawah Anya yang sedikit membengkak dengan ibu jarinya."Diselamatkan oleh alarm dekripsi," kekeh Nino dengan suara serak. Ia memutar tubuhnya, menarik kursi kerja, dan kembali menghadap layar monitor. "Mari kita lihat seberapa kotor suamimu yang terhormat itu, Sayang."Anya merapikan gaunnya, melangkah ke belakang kursi Nino, dan menatap layar monitor. Barisan kode hijau mengalir cepat sebelum berubah menjadi ratusan folder dengan nama-nam
Siang itu, Anya melangkah santai keluar dari lift VIP di lantai eksekutif Mahardika Group. Ia mengenakan gaun merah maroon dan dipadukan dengan sepatu hak tinggi.Penampilannya tampak sangat elegan, tapi ada rahasia besar di baliknya.Di balik rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai, sebuah alat komunikasi kecil (micro-earpiece) terpasang diam-diam di telinga kirinya. Sementara itu, satu tangannya berada di dalam tas, meraba sebuah flashdisk hitam legam yang akan menjadi senjata utamanya hari ini."Berjalanlah dengan dagu terangkat, Nyonya Mahardika. Semua orang di lantai itu sedang melihat betapa sempurnanya dirimu." SuaraNino mendengung rendah di telinganya. Pelan, berat, dan memancarkan dominasi yang membuat darah Anya berdesir. Ia memutar kenop pintu ruang kerja suaminya dan melangkah masuk tanpa mengetuk."Tepat waktu," sambut Raka. Pria itu berdiri, mengancingkan jas abunya, dan menghampiri meja tamu di tengah ruangan.Anya meletakkan barang bawaannya, matanya menelusuri ruan
Pertanyaan Anya membuat Raka menelan ludah, lalu senyum kharismatik andalannya kembali terlihat."Merger itu... berjalan sangat lancar, Sayang," jawab Raka dengan nada selembut mungkin. "Tapi proses hukumnya masih panjang. Butuh waktu berbulan-bulan. Kenapa kamu tiba-tiba tertarik dengan urusan perusahaan? Biasanya kamu pusing dengar istilah bisnis.""Hanya ingin mengalihkan pikiran," Anya menundukkan pandangannya, memainkan ujung cangkir tehnya dengan raut wajah sendu. "Berada di rumah terus-menerus sering membuatku kembali mengingat bayiku, Mas. Aku merasa nyaris gila kalau hanya duduk diam."Rachel, yang sejak tadi menahan napas, buru-buru menimpali. "Kamu mau buka butik, Nya? Atau ikut yayasan amal lagi sama teman-teman arisanmu? Raka pasti dukung apa pun yang kamu mau. Iya ‘kan, Raka?""Tentu saja," Raka mengangguk cepat, tangannya terulur mengelus punggung tangan Anya. "Mas akan danai apa pun yang kamu butuhkan. Bersenang-senanglah.""Psikiater yang kuajak bicara secara daring m
Anya tahu ini gila. Ia tahu ia sedang menjalin kesepakatan dengan iblis untuk mengalahkan iblis lain yang sudah menghancurkan hidupnya. Tapi, saat ia menatap mata Nino yang gelap dan penuh tuntutan itu, Anya sama sekali tidak merasa takut. Ia justru merasa... tertarik oleh kemungkinan kehancuran yang akan ia bawa pada Raka."Bagaimana jika aku tidak mau menjadi milikmu?" tantang Anya.Nino menarik napas dalam, matanya menatap bibir wanita itu dengan lapar. "Kau tidak punya pilihan. Kau sudah membakar jembatanmu sendiri. Raka tidak akan membiarkanmu hidup kalau dia tahu kau meretas iPad-nya. Satu-satunya tempat aman bagimu sekarang adalah di bawah perlindunganku."Pria itu menarik tengkuk Anya, menghapus jarak di antara mereka sepenuhnya. Ciuman Nino bukanlah ciuman yang lembut.Ciuman itu kasar, menuntut, dan penuh dengan dominasi yang membuat lutut Anya lemas. Tangan besar pria itu merambat turun, membelai lekuk tubuh Anya dengan posesif.Anya merasa frustrasi tetapi tak bisa mengaba






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.