Home / Romansa / Boneka Tawanan Sang Mafia / Ikatan Yang Terpilih

Share

Ikatan Yang Terpilih

Author: Kaorich
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-14 11:31:44

"Mundur sejauh apa pun yang kau mau, Clara. Tapi di ruangan ini, tidak ada satu sudut pun yang bisa menyembunyikanmu dari aku."

Suara Dominic meluncur rendah, memotong keheningan kamar seperti pisau yang membelah kain sutra. Langkah kakinya yang berat sengaja diperlambat, menciptakan ritme teror yang membuat jantungku berdegup dua kali lebih cepat.

"Jangan mendekat!" pekikku, punggungku membentur kaki tempat tidur yang dingin.

"Katakan padaku, Dominic! Apa yang ada di dalam kertas itu? Apakah darah Moretti ini adalah kutukan yang akan membunuhku?"

Dominic tertawa—sebuah suara bariton yang kering, gelap, dan sama sekali tidak menyiratkan humor.

Ia melempar tablet digital itu ke atas kasur empuk di belakangku, lalu berlutut kembali. Namun, kali ini gerakannya tidak lagi didorong oleh amarah yang dingin. Ada sesuatu yang jauh lebih purba dan berbahaya di dalam sepasang manik abu-abunya.

"Kutukan?" Dominic memiringkan kepalanya, jemarinya yang panjang meraba helai rambutku yang kusut.

"Tidak, Clara. Ini adalah berkah paling indah yang dikirimkan neraka kepadaku."

"Apa maksudmu?" napasanku memburu, mataku melirik tablet yang menyala samar.

"Tolong, jangan membuatku gila."

"Kau ingin tahu apa yang ditulis dr. Bianchi dengan tinta medis yang membosankan itu?" Dominic mencondongkan tubuhnya, mengurungku di antara kedua lengannya yang kekar.

Aroma parfum sandalwood dan maskulinnya yang pekat langsung merajai indra penciumanku.

"Dia mengatakan bahwa dokumen kelahiran yang kau tangisi tadi hanyalah sebuah fiksi yang dirancang dengan sangat rapi oleh ibumu."

Aku tertegun, air mata yang sempat mengering kini kembali menggenang.

"Fiksi? Maksudmu akta itu palsu?"

"Lorenzo Moretti memang memiliki seorang anak perempuan dari ibumu. Tapi anak itu telah meninggal dua jam setelah dilahirkan di klinik terpencil di pinggiran Florence," bisik Dominic, bibirnya hampir menyentuh telingaku, membuat bulu kudukku berdiri.

"Dan ibumu, yang ketakutan setengah mati akan murka dunia bawah tanah, mengadopsi seorang bayi perempuan asing dari panti asuhan lokal untuk menggantikan posisi bayi yang mati. Bayi itu adalah kau, Clara."

"Bohong..." gumamku lirih, menggelengkan kepala dalam penyangkalan.

"Kau berbohong untuk mempermainkanku!"

"Lihat mataku, Tikus Kecil. Apakah aku terlihat seperti sedang mendongeng?" Dominic mencengkeram kedua pergelangan tanganku, mengangkatnya ke atas kepala dengan satu tangan, memaksaku mengekspos leherku yang rapuh.

"Analisis DNA-mu tidak memiliki kecocokan satu persen pun dengan garis keturunan Moretti. Kau tidak memiliki hubungan darah denganku. Kau bukan saudaraku. Kau bukan sepupuku. Kau sama sekali bukan seorang Moretti."

Duniaku yang baru saja terbalik, kini hancur berkeping-keping. Kenyataan ini menghantamku lebih keras daripada kebenaran palsu sebelumnya.

"Jika aku bukan seorang Moretti lalu kenapa?" tanyaku dengan suara yang bergetar hebat.

"Kenapa Paman Thomas mengejarku? Kenapa dia ingin menjualku ke mucikari kelas atas di makau jika aku bukan pewaris?"

"Karena si tua bangka Thomas tidak tahu fakta ini," Dominic tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuatku merinding.

"Di mata hukum dunia bawah, kau tetaplah pemegang kunci brankas pelayaran Moretti. Thomas mengincarmu karena dia mengira kau adalah keponakannya yang sah. Dia ingin memanfaatkarmu, menandatangani dokumen pengalihan aset, lalu membuang mayatmu ke laut."

"Dan kau?" air mataku menetes, membasahi ibu jari Dominic yang masih menempel di kulitku.

"Kau menyelamatkanku dari jet itu hanya untuk menguasai aset itu juga, bukan? Kau ingin aku menandatanganinya untukmu!"

"Aset?" Dominic mendengus meremehkan. Ia melepaskan cengkeraman tangannya, lalu beralih membelai pipiku dengan punggung jarinya yang kasar.

"Clara, aku adalah pemimpin tertinggi dinasti Moretti saat ini. Setengah dari pelayaran dunia bawah sudah berada di bawah kendaliku. Aku tidak butuh tanda tanganmu untuk merebut sisanya."

"Lalu kenapa?!" teriakku frustrasi, dadaku naik turun akibat emosi yang meluap. "Kenapa kau mengurungku di sini? Jika aku bukan saudaramu, dan kau tidak butuh hartaku, lepaskan aku! Biarkan aku pergi dari kegilaan ini!"

"Melepaskanmu?"

Pandangan Dominic seketika meredup, menyisakan kegelapan murni yang membuatku membeku. Tangan yang tadinya membelai lembut kini mencengkeram rahangku dengan intensitas yang menuntut kepatuhan mutlak.

"Kau masih belum paham juga, Clara? Saat aku pertama kali melihat foto profilmu yang dikirimkan oleh informanku—gadis polos berpakaian pelayan yang gemetar di sudut kasino rahasia Thomas—aku sudah menginginkanmu.

Saat itu, aku menahannya karena kupikir ada darah pamanku yang mengalir di tubuhmu. Aku mengutuk diriku sendiri karena menginginkan darah dagingku sendiri."

Aku terengah-engah, mataku membelalak lebar. "Dominic kau gila."

"Ya, aku gila," potongnya cepat, suaranya naik satu oktav, penuh dengan gairah yang selama ini ia kekang dengan rantai besi.

"Dan hasil laboratorium ini baru saja mematahkan rantai itu. Kau bukan saudaraku, Clara. Kau adalah gadis asing tak bertuan yang tersesat di duniaku. Dan di dunia bawah tanah, barang siapa yang menemukan permata tak bertuan, dia berhak memilikinya seutuhnya."

"Aku bukan barang!" ujarku menantang, mencoba merangkak ke samping, namun dengan cepat Dominic mengunci pergerakanku dengan menindih kedua kakiku dengan tubuhnya yang tegap.

"Kau adalah milikku," desis Dominic tepat di depan bibirku.

"Setiap helai rambutmu, setiap tetes air matamu, dan setiap napas yang kau hirup adalah hak milik Dominic Moretti. Thomas ingin menjualmu ke pria-pria hidung belang demi uang, tapi aku? Aku akan menyimpanmu di sini, di dalam sangkar emas ini, hanya untuk mataku sendiri."

Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang kontras dengan dinginnya lantai marmer di bawah kami. Rasa takut dan sebuah perasaan asing yang intimidatif bercampur aduk di dalam dadaku.

Dominic tidak lagi melihatku sebagai bidak catur atau masalah keluarga yang harus diselesaikan. Dia melihatku sebagai mangsa yang siap diterkam.

"Sentuh aku, dan aku bersumpah akan membenci dirimu seumur hidupku, Dominic," ancamku, meskipun suaraku terdengar sangat rapuh dan tidak meyakinkan.

"Bencilah aku sesukamu, Tikus Kecil," Dominic menunduk, mengecup sudut bibirku dengan ciuman yang singkat namun penuh dengan kepemilikan.

"Kemarahanmu hanya akan membuatmu terlihat lebih hidup di bawah kendaliku. Mulai malam ini, tidak ada lagi Edinburgh, tidak ada lagi pelarian. Kau akan belajar bagaimana menjadi wanita yang tunduk pada suaramu."

"Aku tidak akan pernah tunduk padamu," bisikku dengan sisa keberanian yang kupunya.

Dominic berdiri, merapikan setelan jas abu-abunya yang sedikit kusut tanpa mengalihkan pandangan gelapnya dariku. Ia mengambil tablet digital di atas kasur, lalu berjalan menuju pintu kamar. Sebelum memutar knop pintu, ia berbalik, memberikan senyuman misterius yang membuat dadaku terasa sesak.

"Kita lihat saja seberapa lama prinsipmu itu bisa bertahan, Clara. Oh, dan satu hal lagi." Dominic menjeda kalimatnya, kilat berbahaya kembali muncul di matanya.

"Thomas baru saja mengirimkan pesan melalui jaringan enkripsi. Dia tahu kau bersamaku, dan dia mengancam akan membongkar rahasia terbesar ibumu kepada publik jika aku tidak menyerahkanmu dalam waktu dua puluh empat jam."

Aku tersentak, mencoba menegakkan tubuh. "Rahasia apa?"

Dominic tidak menjawab. Ia hanya menutup pintu kamar dan menguncinya dari luar, meninggalkan pertanyaan besar yang menggantung di udara malam yang dingin, bersiap menyambut badai yang jauh lebih besar di babak berikutnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Boneka Tawanan Sang Mafia   Di Balik Tirai Sutra Berdarah

    "Tekan tombol itu, Dominic, dan kau akan melihat bagaimana aku meledakkan kepala gadis kecilmu sebelum pelabuhan ini sempat berubah jadi abu."Ucapkan Vittorio terputus oleh desakan napasnya sendiri, namun moncong senjata dari lima pengawal pribadinya seketika beralih, membidik tepat ke dadaku yang masih bersandar lemas pada lengan Marco.Dominic tidak berkedip. Jari jemarinya yang bernoda darah tetap berada di atas tombol merah pemicu detonator, seolah ancaman kematian di depan matanya tak lebih dari sekadar hembusan angin malam Venesia."Cobalah jika kau ingin memastikan kekaisaranmu rata dengan tanah dalam hitungan mikrodetik, Vittorio," balasan Dominic terlontar sangat tenang, begitu dingin hingga sanggup membekukan aliran darah siapa pun yang mendengarnya."Kau tahu persis aku tidak pernah menggertak.""Kau gila, Moretti!" maki Vittorio, matanya yang tua berkilat panik menatap remote kecil di genggaman Dominic."Kau mempertaruhkan nyawa gadismu demi gertakan sampah ini?!""Dia bu

  • Boneka Tawanan Sang Mafia   Detak Jantung yang Terjual

    "Kau tidak akan mati di sini, Clara! Demi sialan apa pun, buka matamu dan tatap aku!"Suara bariton Dominic menggelegar di antara dinding-dinding gang Venesia yang lembap. Cengkeraman tangannya pada bahuku terasa begitu kuat, seolah ia sedang berusaha menahan jiwaku agar tidak terbang meninggalkan raga.Kedua mata abu-abunya yang biasa memancarkan kedinginan mutlak, kini melebar dipenuhi kepanikan murni yang luar biasa ekstrem."Dominic... rasanya dingin sekali," bisikku parau.Dadaku mendadak terasa seperti dihimpit oleh sebongkah batu es yang besar. Pandanganku yang semula menangkap keremangan lampu gang berganti menjadi bayang-bayang buram.Saat Dominic menyentak pergelangan tangan kiriku ke bawah cahaya, sebuah titik hitam kecil bergaris keunguan terlihat jelas tepat di bekas goresan belati Paman Thomas tadi. Racun itu sudah mulai merayap naik ke pembuluh darahku."Marco! Ambilkan kotak penawar di manifes jet sekarang! Cepat!" raung Dominic, suaranya bergetar hebat—sebuah pemandan

  • Boneka Tawanan Sang Mafia   Ratu yang Terhempas Di Labirin Air

    "Kalian salah jika mengira aku akan membiarkan diri ini diseret seperti anjing pembawa warisan, Tuan-Tuan bertopeng."Aku berteriak sekuat tenaga, menantang gemuruh angin dan kepulan asap yang mulai memenuhi kabin helikopter yang berputar liar. Rasa takut yang selama ini melumpuhkanku mendadak terkikis habis, digantikan oleh amarah yang diwariskan oleh kejamnya didikan Dominic selama di Milan."Signorina Clara, tidak ada waktu lagi! Pakai parasut ini atau kita semua mati terpanggang!" bentak Marco, jemarinya yang gemetar memaksa tali pengaman masuk ke bahuku."Aku tidak bisa berenang, Marco! Melompat ke sana sama saja dengan bunuh diri!" jeritku, menatap ngeri pintu kabin yang terbuka, memperlihatkan hamparan laut Venesia yang hitam pekat di bawah sana."Lebih baik bertaruh dengan air daripada menjadi abu di langit! Lompat, Signorina!" Marco tidak memberiku pilihan.Dengan satu sentakan kuat, ia mendorong tubuhku keluar dari ambang pintu helikopter yang mulai terbakar."Dominic!"Jeri

  • Boneka Tawanan Sang Mafia   Amarah Sang Monster Milan

    "Jika kau menarik pelatuk itu, kau tidak akan pernah keluar hidup-hidup dari kota Milan, bajingan."Sebuah suara serak dan berat mendadak memotong kalimat pria bertopeng itu. Kesadaranku yang hampir runtuh tersentak saat merasakan tubuh besar Dominic yang tadi tergeletak tak berdaya di atasku, perlahan bergerak bangkit dengan sisa tenaga yang mengerikan."Do-Dominic? Kau masih hidup?!" pekikku di antara tangis, menatap punggung kemejanya yang kini basah kuyup oleh darah segar.Pria bertopeng yang memegang senjata laras panjang itu tertawa meremehkan, meski langkah kakinya refleks mundur satu langkah."Kau menolak mati rupanya, Moretti. Lihat kondisimu, kau bahkan tidak bisa berdiri tegak!""Aku tidak butuh berdiri tegak hanya untuk mencabut nyawa sekelas anjing pemburu sepertimu," desis Dominic. Rahangnya mengetat kaku, dan sepasang mata abu-abunya berkilat kemerahan, memancarkan aura kemurkaan monster yang bangkit dari neraka."Tembak dia sekarang! Jangan dengarkan omong kosongnya!"

  • Boneka Tawanan Sang Mafia   Bom Waktu Di Atas Langit Milan

    "Lepaskan tangan kotormu dari milikku, Thomas, sebelum aku memastikan setiap jengkal tulang di tubuhmu menjadi debu."Sebuah suara bariton yang sangat familier memotong tawa kemenangan pamanku dari balik kepulan asap mesiu yang pekat. Jantungku yang sempat berhenti berdetak seketika bergemuruh liar mendengar gaung dingin nan mematikan itu."Dominic?!" pekikku parau, mencoba mendongak di tengah rasa sakit yang mendera kulit kepalaku.Paman Thomas tersentak, mencengkeram rambutku lebih erat hingga aku meringis kesakitan."Mundur, Moretti! Maju satu langkah, dan aku akan merobek leher keponakan kesayanganmu ini di depan matamu!"Kilatan cahaya dari luar jendela penthouse menerangi siluet tinggi tegap Dominic yang melangkah membelah kegelapan koridor. Sepasang mata elang abu-abunya berkilat merah oleh amarah murni, mengunci sosok pamanku dengan intensitas yang sanggup membekukan seluruh pasokan oksigen di ruangan ini."Kau salah mengira posisi tawananmu, Tua Bangka," desis Dominic, suaran

  • Boneka Tawanan Sang Mafia   Ikatan Yang Terpilih

    "Mundur sejauh apa pun yang kau mau, Clara. Tapi di ruangan ini, tidak ada satu sudut pun yang bisa menyembunyikanmu dari aku."Suara Dominic meluncur rendah, memotong keheningan kamar seperti pisau yang membelah kain sutra. Langkah kakinya yang berat sengaja diperlambat, menciptakan ritme teror yang membuat jantungku berdegup dua kali lebih cepat."Jangan mendekat!" pekikku, punggungku membentur kaki tempat tidur yang dingin. "Katakan padaku, Dominic! Apa yang ada di dalam kertas itu? Apakah darah Moretti ini adalah kutukan yang akan membunuhku?"Dominic tertawa—sebuah suara bariton yang kering, gelap, dan sama sekali tidak menyiratkan humor.Ia melempar tablet digital itu ke atas kasur empuk di belakangku, lalu berlutut kembali. Namun, kali ini gerakannya tidak lagi didorong oleh amarah yang dingin. Ada sesuatu yang jauh lebih purba dan berbahaya di dalam sepasang manik abu-abunya."Kutukan?" Dominic memiringkan kepalanya, jemarinya yang panjang meraba helai rambutku yang kusut."T

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status