INICIAR SESIÓN“Sayang, kita ke rumah sakit sekarang,” ujar Haris panik.Selena memegang tangan sang suami dan menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, cukup istirahat aja kayaknya.”Haris langsung mendorong Selena ke dalam. “Dokter kan sudah bilang, ada keluhan sekecil apapun harus ke rumah sakit.”Selena tidak bisa lagi membantah. Suaminya benar, itulah pesan dari dokter setiap kali mereka datang kontrol. Karena memang kondisi kehamilannya yang cukup beresiko, Selena tidak boleh mengabaikan keluhannya.“Iya, Sayang.”Selena langsung dibawa ke rumah sakit, Haris benar-benar takut kalau terjadi sesuatu kepada sang istri.Dan beruntungnya, setelah dibawa ke rumah sakit, ternyata tidak ada masalah dengan kandungan Selena. Hanya saja, dia diminta untuk bedrest selama seminggu. Bagi Selena, kehamilan ini justru paling berat.Dia kira, hamil Haisa sudah paling berat, tapi nyatanya yang ini lebih berat. Hamil Haisa meskipun sendirian, tidak perlu sampai bedrest.**Enam bulan kemudian….“Selamat ya, Tyas da
Ara tersenyum kecut. “Dalam hidup ini kita tidak boleh egois.”“Aku tidak peduli.”“Terserah kalau kamu mau berpegang begitu, tapi tidak untukku dan jangan paksa aku. Sudah banyak yang aku pelajari, dari setiap kejadian. Kita tidak bisa memaksa takdir.”Yuda mendongak, pastinya dia tidak menyangka kalau Ara sedikitpun tidak terpengaruh dengan apa yang ia katakan. Gadis itu tetap dengan keputusannya.“Setelah nanti Mama dan Papa pulang, mereka akan kembali bertemu dengan kamu. Mereka minta maaf karena sampai sekarang belum sempat mengobrol dengan kamu, karena pengobatan yang benar-benar menguras waktu dan tenaga.”Ara mengangguk. “Tidak masalah. Tidak usah bertemu lagi juga gapapa. Karena memang tidak ada lagi yang perlu kita bahas. Sekarang kita hidup masing-masing saja, dan yang pasti ini adalah kesempatan baik bagi kamu untuk memperhatikan mereka. Pilihan orang tua biasanya yang terbaik. Kamu jangan fokus disini memperhatikanku, lebih baik perhatikan mereka jangan sampai menyesal se
“Duduklah, ada banyak hal yang ingin aku diskusikan,” ujar Yuda tersenyum.Dua orang yang dulunya begitu dekat, begitu serasi dan begitu akrab. Kini tampak begitu canggung, seolah di depan mereka ada tembok pemisah yang begitu kokoh.“Silakan dicoba, Pak Yuda.” Ara menyodorkan roti yang masih mengepulkan asapnya itu ke arah Yuda.Yuda melirik roti yang diatasnya ditaburi dengan kacang coklat, itu adalah rasa kesukaannya. Ada sedikit rasa menghangat, karena meskipun terlihat cuek dan tidak peduli, Ara masih mengingat detail kesukaannya.“Terima kasih,” jawab Yuda mengambil roti itu lalu melahapnya.Ara juga menyodorkan kopi hangat untuk Yuda, meskipun diatas meja lelaki itu sudah ada minuman lainnya dan juga air mineral.“Ara, jangan seperti ini. Aku semakin tidak tenang kalau kamu begini, jangan terlalu formal dan kaku. Kita berdua tidak ada masalah apapun, Ara,” ucap Yuda setelah menghabiskan rotinya dan menatap Ara lekat.Ada rasa sesak di dadanya setiap kali mendengar Ara berbicara
Waktu terus berlalu, sudah satu bulan kepergian Pak Benny, hidup anak-anaknya berjalan kembali seperti biasa. Ara melanjutkan hidupnya, meskipun hingga saat ini ia masih bersikukuh membatalkan pernikahannya dengan Yuda.“Sel, bagaimana?” tanya Yuda yang kebetulan hari itu datang ke rumah Haris dan Selena.Wajahnya terlihat sangat frustasi dan tidak terawat.“Untuk saat ini, Ara benar-benar tidak berubah pikiran. Mungkin, butuh waktu lagi untuk ia kembali bisa menerima kamu,” jawab Selena.“Mamaku sekarang sudah mengalah. Beliau akan menuruti apa yang Ara inginkan, kapan saja siap.”Selena mengangguk. “Iya, tapi Ara belum siap. Dia setiap harinya juga sangat sibuk dengan tokonya. Kami sudah mencoba berbicara padanya, dia bilang dia tidak ingin lagi menikah. Dia ingin fokus pada dirinya dan Tyas saja.”“Dua bulan lagi, kalau tidak ada perubahan aku akan pergi dari sini. Dan mungkin aku juga memilih untuk tidak menikah,” ucap Yuda sambil menerawang.Selena hanya bisa menghela napas berat
“Syukurlah kalau baik-baik saja.” Tyas menghela napas lega.Ara membuka matanya. “Bu, aku baik-baik saja. Kak Selena gak perlu mikirin aku, tadi dokter juga sudah datang dan katanya kemungkinan hari ini boleh pulang. Aku minta maaf karena sudah melakukan hal yang bodoh.”Bu Wati mengangguk. “Selena pasti senang mendengarnya. Kalian adalah adik-adiknya, gak mungkin dia gak kepikiran. Tapi, kalau mendengar semuanya baik-baik saja, dia pasti tenang.”“Aku besok sudah kembali sekolah, Bu. Tadi pagi aku dan Bang Afran sudah ke sekolah mengurus semuanya,” sahut Tyas.Bu Wati tahu, meskipun Tyas tidak mengatakan harus dilaporkan pada Selena tapi maksud Tyas pastinya dia ingin Selena tahu dan Selena tenang.“Mendengar berita baik dari kalian berdua, Ibu yakin Selena pasti akan menjalani kehamilannya dengan baik.”“Maaf belum bisa datang kesana,” ucap Ara.“Tidak apa, kamu sudah keluar dari rumah sakit saja itu sudah membuat Selena senang.”Bu Wati mengeluarkan makanan yang dia bawa dari rumah
Haris memegang tangan Selena dengan erat. “Atau alat kontrasepsinya dilepaskan saja, Dok?”Dokter Juwita kembali tersenyum, tangannya masih terus menggeser alat yang ada di tangannya diatas perut Selena. “Kita tidak bisa sembarangan melepaskannya, karena itu bisa meningkatkan resiko. Apalagi, saat ini benda itu malah sama sekali tidak terlihat.”“Jadi, apa yang harus dilakukan, Dok?”“Hati-hati. Sekecil apapun masalahnya kalau timbul gejala misalnya keluar bercak darah jangan diabaikan, langsung bawa ke rumah sakit ya.”“Iya, Dok. Terima kasih.”Pemeriksaan hari itu selesai, Selena diberikan vitamin dan juga obat penguat kandungan. Yang pasti pesan yang diberikan Dokter Juwita, akan selalu diingat. Anak mereka sudah hadir di dalam rahimnya, yang bisa dilakukan saat ini adalah menjaga dan melindunginya. Sisanya, mereka serahkan pada Tuhan.“Aku antar kamu pulang ya, kamu istirahat di rumah. Aku akan pergi untuk beli kursi roda,” ujar Haris setelah keduanya duduk di dalam mobil.Selena







