LOGIN“Ara cerita sama kamu?” tanya Pak Benny salah tingkah.Selena menganggukkan kepala. “Iya, tadi kami ketemu dengan Ara dan katanya begitu."Pak Benny menghela nafas berat. "Papa pun tidak paham apa yang ada dalam pikiran Tyas.”“Sekarang aku temani ke rumah sakit, ya, Pa,” ucap Selena sambil memegang tangan Pak Benny.Meskipun ayahnya itu terlihat kuat, tetapi Selena tahu Pak Benny sedang menahan sakit. Selena tidak ingin kehilangan ayahnya. Ia juga tidak ingin Ara merasa sedih.“Ke rumah sakit ngapain? Papa nggak sakit, kok. Lagian anak-anak kamu ditinggalkan? Nggak boleh.”“Anak-anak biar sama Haris aja. Kebetulan Haris sudah pulang kerja. Mereka tidak akan rewel kalau sama Papanya. Biar aku temani Papa ke rumah sakit,” jawab Selena.“Papa nggak sakit, Selena.”Selena menarik napas berat, lalu menatap sang ayah cukup lama.“Aku ingin Papa hidup lebih lama. Aku ingin Papa melihat anak-anakku tumbuh dengan baik. Aku juga ingin melihat Papa bahagia.”Pak Benny menundukkan kepalanya. Ana
“Jadi, dia orang yang mau kamu temui?” bisik Selena pada Haris.Haris mengedikkan bahunya. “Aku nggak tahu sih karena yang urus proyek ini kan Yuda. Tadi setelah meeting di kantor, dia bilang mau meminta aku bertemu sekalian pada orangnya.”Selena hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sungguh plot twist yang tidak pernah terduga karena sekarang wajah Wika memucat. Dia tidak menyangka kalau ternyata Selena bukanlah seperti yang ia katakan.“Hai, Wika. Ketemu lagi kita,” ujar Selena santai sembari mengambil tempat duduk di meja di sebelah Wika.“Oh iya, Selena,” jawab Wika gugup.“Kalian silakan diskusi aja di sana. Kami di meja ini aja, sekalian anak-anak pesan camilan,” ucap Selena kepada sang suami.“Iya, sayang. Tunggu sebentar ya,” jawab Haris.“Siap, sayang.”Haisa menatap Wika dengan tatapan tidak suka karena ia masih teringat saat Wika menghardik adiknya.“Mama, bukankah itu orang yang tadi yang marah-marah sama Aksa? Kenapa Papa malah bertemu dengannya?” tanya Haisa deng
"Hai Haisa, selamat ya kamu sudah tampil dengan baik. Tadi, kami sudah lihat videonya di status Mama kamu," ujar Ara saat baru tiba di restoran. Haisa sedang menikmati makanannya, senyum lebar mengembang di wajahnya mendengar pujian dari Aa. "Kamu mau kado apa?" Tanya Yuda. Haisa menggelengkan kepalanya. "Gak ada, Om." "Maaf ya, tadi kami gak sempat beliin kado. Kalau mau sesuatu, kamu bilang aja," sambung Ara. Haisa tetap menolak, dia memang terbiasa tahu diri dan tidak memanfaatkan orang lain. Sejak kecil Selena mengajarkan untuk tidak meminta apapun kepada orang lain selain Papa dan Mamanya, meskipun itu kakek dan tantenya sendiri. Dia sangat patuh, tapi kalau kepada Selena dan Haris, permintaannya sangat panjang. "Kita main aja, gimana?" Tawar Ara lagi. "Gak usah, tante." "Baiklah." "Jadi, nanti kamu sama Yuda mau bertemu orangnya?" Tanya Selena menatap Yuda dan Haris bergantian. "Iya, Sayang." "Sebenarnya tadi Haris gak mau ikut bertemu orangnya, nyuruh aku aja karen
“Aduh, maaf, Kak,” ujar Selena segera mendekat dan membantu Aksa berdiri.Anak sekecil itu pastinya ketakutan ketika mendengar orang dewasa marah karena ulahnya.Aksa pun segera meminta Selena menggendongnya, sedangkan Haisa tampak terdiam menatap wanita cantik di depannya itu.“Maaf... maaf. Bagaimana kalau tadi anak kamu merusak penampilan saya? Saya datang ke sini bukan seperti kalian, hanya mau melihat-melihat saja. Saya datang kesini mau bertemu orang untuk berbisnis.”“Maaf, Kak, sekali lagi,” jawab Selena.Namun, ketika tatapan keduanya bertemu, Selena tampak mengernyitkan keningnya. Begitu pun dengan wanita yang berdiri di hadapannya.Keduanya seperti saling kenal dan sedang mengingat siapakah orang yang berdiri di hadapannya.“Kamu Selena?”Selena menganggukkan kepalanya. “Iya. Kamu Wika, bukan?”Wanita itu mengangguk dengan sambil mendongakkan dagunya. "Tentu saja. Ini aku. Ternyata tidak ada perubahan, ya, sejak sekolah hingga dewasa seperti sekarang ini. Kamu tetap seperti
"Mau, Sayang." "Tapi, Mama diamnya lama." Haisa pikir, kalau ibunya tidak langsung menjawab, itu karena tidak mau menuruti permintaannya. Selena menggelengkan kepalanya. "Mama sedang memikirkan, mall mana yang cocok untuk kita datangi, Sayang." "Oh, aku ahu." Haisa dengan cepat menyebutkan salah satu mall terbesar di kota itu. Sepertinya, dia sudah menyiapkan diri dengan baik, sudah menentukan tempat yang akan dikunjungi. "Yaudah, kita kesana." Baru saja, Selena ingin memesan taksi yang akan mengantarkan mereka ke mall sesuai keinginan Haisa, Haris menelponnya. "Iya, Sayang," ujar Selena setelah menjawab telepon dari sang suami. "Kalian dimana? Acaranya masih, kan?" Tanya Haris. "Kami masih di sekolah, tapi acaranya sudah selesai. Ini sedang siap-siap mau pergi ke mall," jawab Selena. "Mau ke mall?" Tanya Haris. "Iya, untuk merayakan penampilan Haisa yang luar biasa hari ini." "Aku baru tiba di sekolah," sambung Haris. Selena tampak celingak celinguk, ya tentu saja tida
"Tuh kan, kalau Mama gak rekam bagaimana aku bisa tunjukkan pada Papa?" Tanya Haisa. Wajahnya memerah, hidungnya kembang kempis saking kesalnya. Bagaimana tidak? Dia sudah berharap banyak kalau nanti saat pulang ke rumah pamer pada sang ayah dan menunjukkan betapa hebat penampilannya hari ini, malah Selena tidak merekamnya. Haisa merasa, semuanya menjadi sia-sia. "Mama terpana dengan penampilan kamu, Sayang." "Kan tadi aku sudah bilang kalau rekam aku, Mama." Haisa masih merengut, keceriaannya langsung menghilang. Hingga akhirnya seorang ibu di sebelah Selena menimpali obrolan mereka. "Tadi, kebetulan aku merekamnya, meskipun gak terlalu panjang durasinya. Apakah ibu mau?" Tanyanya pada Selena. Selena menoleh. Demi apa, dia seperti mendapat keajaiban dari langit. Disaat dia bingung membujuk Haisa seperti apa, justru ada yang datang menolongnya. Setidaknya, amukan Haisa hari ini bisa diredam. Masalah bagaimana nanti video hasil rekaman itu bisa dipikirkan belakangan. Bahkan,







