เข้าสู่ระบบ"Papa!" panggil Ara.Selang oksigen sudah terpasang, tetapi nafas Pak Benny masih terlihat sesak. Beliau juga mengalami hipertensi.“Kita harus pindahkan pasien ke ruang ICU. Keadaannya cukup berat,” ujar dokter yang beberapa saat lalu datang ke kamar untuk memeriksa kondisi Pak Benny.Meskipun sudah dipasang oksigen, ternyata tekanan darah Pak Benny melonjak naik. Mungkin karena emosi yang ditahan, mengingat masalah yang begitu berat.Belum selesai masalah Tyas, sekarang Ara harus mengalami seperti ini.Pak Benny segera dipindahkan ke ruang intensif, sedangkan Ara duduk sendirian di depan ruang tunggu sambil menangis.Sekarang dia benar-benar merasa sendiri hingga akhirnya, tanpa sadar, tangannya menelepon Selena.Di rumahnya...Selena yang saat itu sudah bersiap untuk tidur setelah mempersiapkan barang yang akan dibawa berangkat ke desa besok, terkejut saat Ara meneleponnya di malam-malam seperti ini.“Halo, Ara. Ada apa?” tanya Selena.Ara tidak langsung menjawab, tetapi suara sese
"Kenapa, Pa? Semuanya sudah siap," tanya Yuda kebingungan.Pak Benny menggelengkan kepalanya. "Kalian tidak berjodoh. Semoga setelah ini kalian menemukan jodoh masing-masing.""Tidak, Pa. Kami akan menikah. Semuanya sudah siap, hanya menunggu hari-H saja.""Papa mau istirahat. Nanti, berapa jumlah yang harus Papa bayarkan, kamu kasih tahu Ara. Setelah itu, kalian tidak boleh lagi bertemu."Pak Benny kembali tiduran dan memejamkan matanya.Sementara Yuda berbalik menatap Ara. Gadis itu menundukkan kepalanya dengan mata yang terus menangis.Yuda memegang tangan Ara. "Jelaskan padaku apa yang terjadi, sayang."Ara menggigit bibirnya. Ia menghela napas berat, kemudian mengajak Yuda untuk keluar dari ruangan Pak Benny.Keduanya memilih duduk di kantin rumah sakit."Aku tidak mengerti mengapa tiba-tiba Papa ingin pernikahan kita dibatalkan, padahal Papa sendiri tahu kita sudah menyiapkan semuanya," ucap Yuda pelan."Mama Riska datang ke rumah sakit tadi bukan untuk membesuk Papa," jawab Ara
"Papa bertahan, ya. Aku tidak mau lagi menikah. Aku tidak akan menikah, Pa. Tapi Papa bertahan, Pa. Temani aku," ucap Ara sambil mencium tangan sang ayah."Ara, Mama tidak bermaksud membuat Papa kamu seperti ini," ujar Bu Riska sambil memegang pundak Ara.Tentu saja beliau merasa bersalah melihat keadaan Pak Benny yang malah semakin melemah setelah mendengar penjelasan darinya.Beliau takut terjadi apa-apa pada Pak Benny dan takut jika Haris marah, maka Yuda pasti akan didepak dari semua bisnis Haris.Ara menggelengkan kepalanya. "Maaf, Mama. Aku tidak bisa mengantarkan Mama pulang. Aku harus menemani Papaku di sini. Terima kasih atas semuanya, Ma. Maafkan aku kalau aku tidak sesuai dengan harapan Mama. Semoga Yuda segera menemukan wanita yang cocok untuknya."Air mata Ara terus mengalir, tidak berhenti. Ada rasa sakit yang begitu menyayat hati.Dia tahu sejak awal keluarga Yuda memang sedikit keberatan menerimanya. Entah dari mana mereka tahu kalau Ara pernah mengandung sehingga deng
Ara mendongak, tetapi ia tidak protes. Namun, air matanya tanpa terasa mengalir."Kenapa dibatalkan, Pak?" tanya Bu Riska."Bu, saya sudah tua dan meskipun saya sakit seperti ini, saya masih mampu menganalisis ucapan seseorang. Jika Ibu tidak setuju dengan Ara, sejak awal tidak perlu berikan restu mereka untuk menikah," jawab Pak Benny dengan suara pelan.Kedua tangan Ara saling bertaut, saling menggenggam dengan erat."Ara, di mana Yuda? Suruh dia temuin Papa," ucap Pak Benny kepada Ara."Iya, Pa. Ini lagi aku kirim pesan karena tadi katanya pagi ini ada meeting," jawab Ara dengan suara serak."Jadi, Bapak mau pernikahan ini dibatalkan, sedangkan persiapan sudah sembilan puluh persen?" tanya Bu Riska.Pak Benny tersenyum lemah. "Ya, kalau Ibu merasa ada kerugian dengan persiapan yang sudah dilakukan, nanti biarkan Yuda berikan jumlahnya pada saya dan saya akan menggantikannya," jawab Pak Benny."Pak, kami tidak pernah ingin membatalkan pernikahan ini. Kami hanya ingin meminta waktu p
"Silakan masuk, Bu," ujar Selena mempersilakan calon mertua Ara masuk.Wanita cantik dengan penampilan elegan itu melenggang. Beliau menyunggingkan senyumnya pada Selena dan Pak Benny secara bergantian."Maaf, Pak. Semalam nggak sempat langsung ke sini karena jet lag, jadi langsung istirahat di hotel," ujar Bu Riska.Pak Benny menganggukkan kepalanya. "Iya, Bu. Tidak masalah.""Ini Selena, ya? Istrinya Haris, temannya Yuda?" tanya Bu Riska kepada Selena. Mereka memang belum pernah bertemu secara langsung karena waktu keluarga Yuda datang untuk membahas tentang rencana pernikahan Yuda dan Ara, Selena tidak datang."Iya, Bu," jawab Selena ramah.Wanita itu menganggukkan kepalanya. Beberapa kali ia melirik Selena seolah kehadiran Selena disana mengganggu pembicaraan. Bahkan, beliau tidak mengeluarkan suaranya sama sekali.Selena menyadari itu dan tersenyum."Aku sama Aksa pulang dulu, Pa. Sekalian aku mau beli jajanan Aksa di supermarket," ucap Selena.Selena juga berpamitan pada Ara.Pa
“Jadi, Papa semalam sendirian?” tanya Selena lagi.“Afran yang disini semalam, tapi pagi-pagi sekali tadi dia langsung pulang karena harus kerja.”Selena menganggukkan kepalanya. Dia merasa lega, setidaknya ada yang menjaga ayahnya. Meskipun sebenarnya tanpa dijaga juga tidak masalah, sebab perawat hanya tinggal pencet bel saja. Tapi. Berbeda kalau ada yang standby di dekatnya.“Oh. Apakah hari ini keluarga Yuda akan kesini?”“Gak tahu, Ara belum memberikan kabar.”Selena duduk di sebelah Pak Benny. “Gimana keadaan Papa? Sudah lebih baik?”“Iya, malah pengen pulang aja rasanya. Senyaman-nyamannya di rumah sakit, lebih enak di rumah,” kekeh pak Benny.“Minggu ini aku mau ke desa, gapapa ya aku tinggalin beberapa hari?”“Gapapa, Nak. Kamu sudah lama gak berkunjung ke Pak Herman dan Bu Wati, mereka pasti rindu dengan cucu-cucunya,” jawab Pak Herman.Selena mengangguk, ia mengambil satu buah apel dan mengupasnya. “Papa tenang aja, nanti setelah Tyas pulang kesana nanti, aku dan Haris akan







