Sweet Escape

Sweet Escape

last updateLast Updated : 2026-09-28
By:  SerafinaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
9Chapters
10views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Terkenal dengan julukan Queen of Cashback, Carina nekat terbang ke London untuk membuktikan bahwa dia bukanlah cewek pelit. Namun, alih-alih menikmati liburan mewahnya, Carina justru terjebak dalam pusaran asmara rumit bersama James Alfred, sang Duke of Wellington. Cinta James yang terobsesi dan begitu membelenggu membuat Carina sesak—hingga melarikan diri menjadi satu-satunya pilihan. Bisakah Carina lolos dari cengkeraman cinta sang bangsawan Inggris, atau justru makin terjerat di dalamnya?

View More

Chapter 1

The Office

Pagi ini matahari sudah bersinar terik, tapi buat Carina, pagi hari ini terlihat cerah dan menyenangkan. Dia mengayuh sepedanya dengan bersemangat membelah jalanan Ibukota yang mulai macet. Dengan lincah, Carina ber-maneuver melewati mobil-mobil yang sudah terjebak kemacetan, adu cepat dengan ojek-ojek online yang meliuk-meliuk di antara trotoar dan bahu jalan. Sesekali dia berhenti karena jalan terlalu padat hingga tidak ada tempat untuk menyelip. Carina duduk di sadelnya dan bersiul-siul, seorang penumpang Gojek yang sama-sama terjebak macet meliriknya dengan pandangan sinis. Carina tersenyum padanya sebelum membetulkan letak maskernya.

Alunan lagu So Am I dari Ava Max terdengar dari headphone yang dipakainya. Tatapan mata sinis yang diterimanya sepagi ini tidak akan melunturkan semangatnya. Hari ini terlalu berharga untuk nyolot sama orang. Carina punya motto ‘kill ‘em with kindness’ lebih baik berusaha bersikap baik pada orang yang jahat sama kita, kalau masih ngeyel juga baru deh jurus senggol bacoknya keluar.

Mobil mulai bergerak walau tersendat-sendat, tapi itu adalah kesempatan baik bagi Carina untuk menyelinap dan naik ke atas trotoar. Dengan cepat dia mengayuh sepedanya mumpung trotoar sepi. Dia masuk ke dalam gang-gang kecil di belakang gedung kantornya. Melewati kesibukan di dalam gang. Carina memencet bel sepedanya pada segerombolan anak-anak SD yang berangkat sekolah, mereka memberi jalan sambil menyorakinya, Carina tertawa dan berhenti di depan warung nasi uduk langganannya.

Dia memarkirkan sepedanya di dekat pagar sambil berseru “Buu... satu kaya biasa, yaa!”

“Siiaap, Neng!” jawab Ibu Ningsih penjual nasi uduk langganannya, dia langsung sibuk menyendok nasi ke dalam piring.

“Kerupuknya yang banyak,” ujar Carina sambil duduk di meja panjang yang penuh dengan aneka gorengan dan mangkuk sambal.

Tak lama, sepiring nasi uduk lengkap dengan kerupuk sudah tersaji di hadapannya. Segelas teh tawar hangat datang tak lama kemudian, Carina tersenyum dan makan dengan lahap.

***

Sementara itu di jalan di depan gang makin padat oleh mobil-mobil mewah yang antri untuk masuk ke dalam gedung kantor Carina. Berbagai merek dan warna. Penumpangnya tak lain dan tak bukan adalah penyiar-penyiar dan petinggi-petinggi stasiun televisi tempat Carina bekerja. Di dalam pos satpam, Pak Yoga sedang memberikan pengarahan kepada satpam muda yang baru bekerja.

“Jadi gini, Bud. Kalau ada tamu yang baru datang kemari, mereka wajib ngisi data diri dan kamu kasih kartu pengunjung. Jangan lupa juga kamu tanya dia mau ketemu siapa dan divisi apa. Kalau dia udah ngisi data, kamu hubungi resepsionis, ini nomornya...” Pak Yoga dengan sabar memberikan instruksi pada Budi.

Budi mengangguk-angguk tanda mengerti. Mukanya serius, ini adalah jabatan barunya yang dia banggakan. Emaknya di kampung sampai selametan pas denger dia dapat kerja jadi satpam di stasiun televisi. Mendadak Budi jadi seleb di kampungnya, apalagi stasiun ini menayangkan program acara favorit emak-emak sekampung, makin bangga aja keluarga Budi.

“Nah, kalau lagi gak ada tamu, kamu monitor tuh CCTV yang ini, ya.” ujar Pak Yoga sambil menunjuk layar. “Ini posisinya di deket pintu masuk motor. Kebanyakan yang tamu ini kalau bukan ojol, mahasiswa, anak sekolah yang suka jadi extra. Jadi kamu harus pantau terus CCTV ini supaya mereka gak nyelonong masuk, ya.”

“Siap, pak!” seru Budi semangat sambil hormat dengan khidmat.

Pak Yoga tersenyum bangga dan menepuk bahu Budi, “Saya tinggal dulu sebentar, ya.”

Budi mengangguk dan duduk di depan layar, memeloti gerbang masuk motor yang menjadi tanggung jawabnya.

Sementara itu Pak Yoga asyik bikin kopi di dapur.

***

Carina masih makan nasi uduknya sambil membuka aplikasi E-money-nya, seperti biasa dia mengecek diskonan. Carina tersenyum saat memeriksa notifikasi yang masuk ke dalam email dan akunnya. Banyak kupon diskon yang menggoda iman. Tangannya sibuk memeriksa dimana dan kapan saja kupon itu berlaku.

Jam menunjukkan pukul 07.30, waktunya berangkat kerja. Carina bergegas menghabiskan sarapan paginya dan membayar pada bu Ningsih.

“Bu, saya bayarnya pake OVO, ya.” ujar Carina sambil mengeluarkan ponselnya.

“Ya, Neng. Tahu aja lagi promo,” ujar bu Ningsih sambil terkekeh

Carina cengengesan, dia gak tahan kalau denger kata promo, diskon, kupon dan teman-temannya. Pokoknya sikat!

Setelah membayar dan ngobrol sebentar dengan bu Ningsih, Carina keluar mengambil sepedanya. Jalanan di depan gang semakin macet, dia bisa melihat antrean mobil-mobil mentereng menuju gedung stasiun tevenya. Carina mengayuh sepedanya dengan santai, perutnya masih kenyang dan masih ada waktu sebelum absen fingerprint. Sepedanya memasuki gerbang, tanpa melepaskan maskernya, Carina melewati pos satpam.

“Eit..eit!” seru seorang satpam yang merentangkan tangannya, mencegah Carina untuk masuk.

Carina berhenti.

“Mau kemana, Dek?” tanya satpam itu

“Masuk,” jawab Carina, suaranya teredam dengan maskernya.

“Udah ada janji?”

Carina mengernyitkan dahinya “Janji?”

Satpam itu menyuruh Carina untuk menepi, “Sini, daftar dulu, mana KTP nya? Udah punya KTP belum?”

Sialan. Gerutu Carina, dia melepaskan masker dan helm-nya, “Pak, saya pegawai sini.”

Satpam itu terkejut, “Ah, masa?”

Carina cemberut.

Seorang satpam yang sudah senior menghampiri mereka sambil mengulum senyum, “Mbak Carina!” serunya.

Carina menoleh dan melihat Pak Yoga berjalan dengan senyum lebar di wajahnya, dia melambai, “Halo, Pak Yoga!”

Satpam yang sedang memegangi sepedanya terkejut, “Lho?”

Pak Yoga menepuk bahu Budi “Maaf Mbak Carin, ini satpam baru kita, namanya Budi. Kenalin. Bud, ini mbak Carina, salah satu penyiar kita.”

Budi langsung salah tingkah, dia memberi hormat, “Siap!”

Carina menyipitkan matanya, “Dia kira saya anak SMA kali, Pak, sampe tanya saya udah punya KTP belum.”

Pak Yoga tergelak, “Hahahaha... maklum, Mbak, kan belum kenal. Lagian, Mbak badannya kecil mungil kayak anak SMA. Keliatan imut banget, gitu. Ya, kan, Bud?”

Budi mengangguk dengan wajah memerah, “Ma.. maaf, Bu.”

Carina masih sebel sebenarnya tapi karena Pak Yoga itu satpam senior dan cukup akrab dengannya, dia jadi gak enak untuk marah, “Ya udah deh, Pak, saya mau masuk dulu, udah telat nih.”

“Baik, Mbak. Selamat bekerja,” ujar Pak Yoga sambil tersenyum lebar.

Budi hormat dengan sikap sempurna, mengiringi kepergian Carina. Emaknya gak boleh tahu dia buat kesalahan di hari pertamanya kerja.

***

Carina selesai memarkir sepedanya dan bergegas naik ke dalam lift. Di dalam dia berpapasan dengan Dina, salah satu kru siaran.

“Hai,” sapa Carina

Dina melambai “Tadi gue liat lo dicegat di depan, Rin. Ada apa?”

Carina hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh, “Biasa deh, ada satpam baru yang gak tahu kalau gue itu karyawan sini, dikiranya gue anak sekolah, kali!”

Dina terkikik geli, “Ya ampun, masih ya, lo dikira anak sekolah?”

Carina hanya mencibir, “Salah ya, badan gue yang kecil ini?”

“Gak ada yang salah sih, coba kalau lo bawa mobil ke sini, gak akan dikira anak sekolah,” jawab Dina

“Eh, bersepeda itu menyehatkan, tahu. Gak perlu diet, gak perlu mahal-mahal bayar gym. Sepedaan aja tiap hari ke kantor, dijamin badan lo langsing kaya gue, nih,” ujar Carina gak mau kalah, dia sudah sebal sama omongan orang sekantor yang nyinyirin soal sepedanya.

Senyum Dina masih lebar, “Cuma jomplang aja, beb, anchor-anchor semua pada pake BMW, paling banter Xpander atau Mazda, lo itu kan udah selevel sama mereka, malah junior lo tuh, si Jenny udah pede bawa Mercy, masa lo masih sepedaan?”

Carina menghela nafas, “Gue gak bawa mobil itu bukan berarti gue gak mampu. Gue cuma gak mau boros aja. Bayangin... belum bayar cicilan, bensin, tol, parkir, asuransi, service. Aduh, pusing deh. Mending sepeda kemana-mana; irit, gak ada polusi, gak kena parkir, dan bebas macet!”

Ting!

Pintu lift terbuka di lantai ruang studio Carina, dia melangkah keluar dan melambai pada Dina, “Bye, Din!”

Dina melambai sambil menggerutu, “Dasar pelit.”

***

To be continued~

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status