LOGINTerkenal dengan julukan Queen of Cashback, Carina nekat terbang ke London untuk membuktikan bahwa dia bukanlah cewek pelit. Namun, alih-alih menikmati liburan mewahnya, Carina justru terjebak dalam pusaran asmara rumit bersama James Alfred, sang Duke of Wellington. Cinta James yang terobsesi dan begitu membelenggu membuat Carina sesak—hingga melarikan diri menjadi satu-satunya pilihan. Bisakah Carina lolos dari cengkeraman cinta sang bangsawan Inggris, atau justru makin terjerat di dalamnya?
View MorePagi ini matahari sudah bersinar terik, tapi buat Carina, pagi hari ini terlihat cerah dan menyenangkan. Dia mengayuh sepedanya dengan bersemangat membelah jalanan Ibukota yang mulai macet. Dengan lincah, Carina ber-maneuver melewati mobil-mobil yang sudah terjebak kemacetan, adu cepat dengan ojek-ojek online yang meliuk-meliuk di antara trotoar dan bahu jalan. Sesekali dia berhenti karena jalan terlalu padat hingga tidak ada tempat untuk menyelip. Carina duduk di sadelnya dan bersiul-siul, seorang penumpang Gojek yang sama-sama terjebak macet meliriknya dengan pandangan sinis. Carina tersenyum padanya sebelum membetulkan letak maskernya.
Alunan lagu So Am I dari Ava Max terdengar dari headphone yang dipakainya. Tatapan mata sinis yang diterimanya sepagi ini tidak akan melunturkan semangatnya. Hari ini terlalu berharga untuk nyolot sama orang. Carina punya motto ‘kill ‘em with kindness’ lebih baik berusaha bersikap baik pada orang yang jahat sama kita, kalau masih ngeyel juga baru deh jurus senggol bacoknya keluar.
Mobil mulai bergerak walau tersendat-sendat, tapi itu adalah kesempatan baik bagi Carina untuk menyelinap dan naik ke atas trotoar. Dengan cepat dia mengayuh sepedanya mumpung trotoar sepi. Dia masuk ke dalam gang-gang kecil di belakang gedung kantornya. Melewati kesibukan di dalam gang. Carina memencet bel sepedanya pada segerombolan anak-anak SD yang berangkat sekolah, mereka memberi jalan sambil menyorakinya, Carina tertawa dan berhenti di depan warung nasi uduk langganannya.
Dia memarkirkan sepedanya di dekat pagar sambil berseru “Buu... satu kaya biasa, yaa!”
“Siiaap, Neng!” jawab Ibu Ningsih penjual nasi uduk langganannya, dia langsung sibuk menyendok nasi ke dalam piring.
“Kerupuknya yang banyak,” ujar Carina sambil duduk di meja panjang yang penuh dengan aneka gorengan dan mangkuk sambal.
Tak lama, sepiring nasi uduk lengkap dengan kerupuk sudah tersaji di hadapannya. Segelas teh tawar hangat datang tak lama kemudian, Carina tersenyum dan makan dengan lahap.
***
Sementara itu di jalan di depan gang makin padat oleh mobil-mobil mewah yang antri untuk masuk ke dalam gedung kantor Carina. Berbagai merek dan warna. Penumpangnya tak lain dan tak bukan adalah penyiar-penyiar dan petinggi-petinggi stasiun televisi tempat Carina bekerja. Di dalam pos satpam, Pak Yoga sedang memberikan pengarahan kepada satpam muda yang baru bekerja.
“Jadi gini, Bud. Kalau ada tamu yang baru datang kemari, mereka wajib ngisi data diri dan kamu kasih kartu pengunjung. Jangan lupa juga kamu tanya dia mau ketemu siapa dan divisi apa. Kalau dia udah ngisi data, kamu hubungi resepsionis, ini nomornya...” Pak Yoga dengan sabar memberikan instruksi pada Budi.
Budi mengangguk-angguk tanda mengerti. Mukanya serius, ini adalah jabatan barunya yang dia banggakan. Emaknya di kampung sampai selametan pas denger dia dapat kerja jadi satpam di stasiun televisi. Mendadak Budi jadi seleb di kampungnya, apalagi stasiun ini menayangkan program acara favorit emak-emak sekampung, makin bangga aja keluarga Budi.
“Nah, kalau lagi gak ada tamu, kamu monitor tuh CCTV yang ini, ya.” ujar Pak Yoga sambil menunjuk layar. “Ini posisinya di deket pintu masuk motor. Kebanyakan yang tamu ini kalau bukan ojol, mahasiswa, anak sekolah yang suka jadi extra. Jadi kamu harus pantau terus CCTV ini supaya mereka gak nyelonong masuk, ya.”
“Siap, pak!” seru Budi semangat sambil hormat dengan khidmat.
Pak Yoga tersenyum bangga dan menepuk bahu Budi, “Saya tinggal dulu sebentar, ya.”
Budi mengangguk dan duduk di depan layar, memeloti gerbang masuk motor yang menjadi tanggung jawabnya.
Sementara itu Pak Yoga asyik bikin kopi di dapur.
***
Carina masih makan nasi uduknya sambil membuka aplikasi E-money-nya, seperti biasa dia mengecek diskonan. Carina tersenyum saat memeriksa notifikasi yang masuk ke dalam email dan akunnya. Banyak kupon diskon yang menggoda iman. Tangannya sibuk memeriksa dimana dan kapan saja kupon itu berlaku.
Jam menunjukkan pukul 07.30, waktunya berangkat kerja. Carina bergegas menghabiskan sarapan paginya dan membayar pada bu Ningsih.
“Bu, saya bayarnya pake OVO, ya.” ujar Carina sambil mengeluarkan ponselnya.
“Ya, Neng. Tahu aja lagi promo,” ujar bu Ningsih sambil terkekeh
Carina cengengesan, dia gak tahan kalau denger kata promo, diskon, kupon dan teman-temannya. Pokoknya sikat!
Setelah membayar dan ngobrol sebentar dengan bu Ningsih, Carina keluar mengambil sepedanya. Jalanan di depan gang semakin macet, dia bisa melihat antrean mobil-mobil mentereng menuju gedung stasiun tevenya. Carina mengayuh sepedanya dengan santai, perutnya masih kenyang dan masih ada waktu sebelum absen fingerprint. Sepedanya memasuki gerbang, tanpa melepaskan maskernya, Carina melewati pos satpam.
“Eit..eit!” seru seorang satpam yang merentangkan tangannya, mencegah Carina untuk masuk.
Carina berhenti.
“Mau kemana, Dek?” tanya satpam itu
“Masuk,” jawab Carina, suaranya teredam dengan maskernya.
“Udah ada janji?”
Carina mengernyitkan dahinya “Janji?”
Satpam itu menyuruh Carina untuk menepi, “Sini, daftar dulu, mana KTP nya? Udah punya KTP belum?”
Sialan. Gerutu Carina, dia melepaskan masker dan helm-nya, “Pak, saya pegawai sini.”
Satpam itu terkejut, “Ah, masa?”
Carina cemberut.
Seorang satpam yang sudah senior menghampiri mereka sambil mengulum senyum, “Mbak Carina!” serunya.
Carina menoleh dan melihat Pak Yoga berjalan dengan senyum lebar di wajahnya, dia melambai, “Halo, Pak Yoga!”
Satpam yang sedang memegangi sepedanya terkejut, “Lho?”
Pak Yoga menepuk bahu Budi “Maaf Mbak Carin, ini satpam baru kita, namanya Budi. Kenalin. Bud, ini mbak Carina, salah satu penyiar kita.”
Budi langsung salah tingkah, dia memberi hormat, “Siap!”
Carina menyipitkan matanya, “Dia kira saya anak SMA kali, Pak, sampe tanya saya udah punya KTP belum.”
Pak Yoga tergelak, “Hahahaha... maklum, Mbak, kan belum kenal. Lagian, Mbak badannya kecil mungil kayak anak SMA. Keliatan imut banget, gitu. Ya, kan, Bud?”
Budi mengangguk dengan wajah memerah, “Ma.. maaf, Bu.”
Carina masih sebel sebenarnya tapi karena Pak Yoga itu satpam senior dan cukup akrab dengannya, dia jadi gak enak untuk marah, “Ya udah deh, Pak, saya mau masuk dulu, udah telat nih.”
“Baik, Mbak. Selamat bekerja,” ujar Pak Yoga sambil tersenyum lebar.
Budi hormat dengan sikap sempurna, mengiringi kepergian Carina. Emaknya gak boleh tahu dia buat kesalahan di hari pertamanya kerja.
***
Carina selesai memarkir sepedanya dan bergegas naik ke dalam lift. Di dalam dia berpapasan dengan Dina, salah satu kru siaran.
“Hai,” sapa Carina
Dina melambai “Tadi gue liat lo dicegat di depan, Rin. Ada apa?”
Carina hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh, “Biasa deh, ada satpam baru yang gak tahu kalau gue itu karyawan sini, dikiranya gue anak sekolah, kali!”
Dina terkikik geli, “Ya ampun, masih ya, lo dikira anak sekolah?”
Carina hanya mencibir, “Salah ya, badan gue yang kecil ini?”
“Gak ada yang salah sih, coba kalau lo bawa mobil ke sini, gak akan dikira anak sekolah,” jawab Dina
“Eh, bersepeda itu menyehatkan, tahu. Gak perlu diet, gak perlu mahal-mahal bayar gym. Sepedaan aja tiap hari ke kantor, dijamin badan lo langsing kaya gue, nih,” ujar Carina gak mau kalah, dia sudah sebal sama omongan orang sekantor yang nyinyirin soal sepedanya.
Senyum Dina masih lebar, “Cuma jomplang aja, beb, anchor-anchor semua pada pake BMW, paling banter Xpander atau Mazda, lo itu kan udah selevel sama mereka, malah junior lo tuh, si Jenny udah pede bawa Mercy, masa lo masih sepedaan?”
Carina menghela nafas, “Gue gak bawa mobil itu bukan berarti gue gak mampu. Gue cuma gak mau boros aja. Bayangin... belum bayar cicilan, bensin, tol, parkir, asuransi, service. Aduh, pusing deh. Mending sepeda kemana-mana; irit, gak ada polusi, gak kena parkir, dan bebas macet!”
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai ruang studio Carina, dia melangkah keluar dan melambai pada Dina, “Bye, Din!”
Dina melambai sambil menggerutu, “Dasar pelit.”
***
To be continued~
SE 09 – The PlanJakarta. Juli, 2019.Sara berdiri di lorong, kaget dengan peristiwa yang baru saja dia curi dengar. Suara Carina terdengar sampai luar. Dia nggak menyangka Carina punya cukup nyali untuk protes keras pada Marco. Sara mencegat Carina yang hendak berjalan melewatinya.“Say, tunggu,” tahan Sara, “lo gak apa-apa?” tanyanya prihatin.Carina mengusap wajahnya, dia berusaha keras menahan air matanya, “Ya,” suaranya tercekat di tenggorokan.Sara menariknya untuk masuk ke dalam kubikelnya, “Sini, minum dulu.”Carina menurut, dia membiarkan dirinya dibimbing oleh Sara untuk duduk di kursi sementara Sara mengeluarkan sebotol Evian dari kulkas mininya. Dia menyodorkan botol air mineral premium itu pada Carina, “Sorry gue tadi denger suara lo,”Carina meneguk airnya dan mengangguk, “Ya, gue tadi gak kontrol suara gue.”Sara mengangguk, “Tapi kadang Marco memang harus diingetin. Dia terlalu menganak-emaskan Shelly. Lo tahu kan kalau Shelly ngabisin banyak uang untuk Marco?”Carina
SE 08 – Phobia of WomenLondon. Juli, 2019 Sepeninggal Pamannya, Alfred pergi ke kamarnya dan mengurung diri di sana sampai waktu makan malam tiba. Veronica Wellington, yang akrab disapa Vera, adik bungsunya mengetuk pintu dan menyuruh Alfred keluar untuk makan malam.“Hai,” sapa Alfred, dia membuka pintu sedikit, “can you tell Mummy I skip dinner tonight?”Vera memandangnya sambil bersedekap.“Please?” tanya Alfred dengan wajah memelas.Vera mendesah, “What is it this time?” tanyanya setengah menggerutu.Alfred hanya tersenyum lemah, “Thank you, Sis. See you tomorrow.”Vera memutar bola matanya dengan jengkel dan melangkah pergi meninggalkan kamar Alfred, “Aku gak tanggung jawab kalau Mummy datang menjemputmu, ya!” serunya sambil melambai.Alfred menyeringai dan menutup pintu kamarnya, tidak lupa menguncinya agar ibunya tidak bisa sembarangan masuk. Dia duduk di meja kerjanya yang menghadap jendela dan balkon kamar, termenung sejenak dan membuka sebuah jurnal bersampul kulit milikny
SE 07 – ON AIRJakarta. Juli, 2019. Carina tidak mempercayai pendengarannya. Arya baru saja memberikan syarat paling konyol yang pernah dia dengar. Apa dia bilang? Mereka bisa jalan lagi kalau dia lepas dari ketergantungannya dengan voucher. Ketergantungan? Memangnya dia apa? Pemakai narkoba sampai ketergantungan begitu?Carina menatap Arya, dalam sekejap, laki-laki tampan itu berubah menjadi menyebalkan. Tangannya gatal ingin menghapuskan senyum sombong itu dari wajahnya. Dia mengepalkan tangannya menahan marah.“Carin,” Arya menghela napas lelah, “kamu sadar gak sih, dari awal kita pacaran kamu selalu bicara tentang voucher, diskon, cashback. Setiap kita jalan keluar dan makan, harus pakai kupon potongan harga dan kamu pasti cari restoran yang suka ngasih cashback. Bahkan sekarang, kamu pakai voucher yang hampir habis masa kadaluarsanya. Kamu itu luar biasa, ya. Mending kamu hidup sama voucher dan diskonanmu itu aja. Jadi orang kok pelit banget!”Carina tidak menjawab, dia berdiri,
SE 06 – Duke of WellingtonLondon. Juli, 2019. Duke of Wellington sedang mencoba jam tangan barunya, dia memutar-mutar pergelangan tangannya, memeriksa tampilan jam tangannya yang mewah dan bertabur berlian. Dia mengangguk-angguk, mengagumi karya terbaik dari produsen jam tangan terkenal asal Swiss itu.“This is okay, I’ll take it,” ujarnya dengan logat British yang kental.Pramuniaga laki-laki itu mengangguk dengan takzim, dia membantu melepas jam tangan dari pergelangan tangan sang Duke yang masih muda itu.“Mungkin Anda ingin melihat-lihat arloji yang lain untuk dihadiahkan pada Lady Wellington, Sir?” tawar si manajer toko. Dia berpakaian khas butler lengkap dengan sarung tangan putihnya.“Hmm... ada yang baru?” Duke yang punya nama asli James Alfred Wellington bertanya.Si manajer toko menjetikkan jarinya dan pramuniaga lain langsung bergegas mengambil sebuah arloji buatan tangan bertabur swarovski, “Baru saja datang dari pengrajin kami di Swiss. Hanya ada dua puluh buah di dunia






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.