Mag-log inDi mata semua orang, Gantari Kirana memiliki segalanya bersama Raditya Sadewa. Namun, Radit menuntut kendali penuh atas tubuh dan pikiran Riri dengan dalih komitmen menuju pernikahan. Ia tidak bisamenolak kekasihnya itu karena doktrin kuat dari sang Ibu. Hingga pada suatu saat, Riri berakhir di ranjang yang sama dengan sahabatnya, Kamandanu Bratajaya yang memberinya kenikmatan dan membuatnya merasa lebih hidup. Akankah dia melanjutkan komitmennya dengan Radit yang telah mengantongi restu Ibu? Atau akan berlari ke Danu yang menawarkan hal-hal yang tidak mampu Radit berikan?
view more`Aku tidak percaya, tubuhku lebih menikmati sentuhan pria lain daripada sentuhan kekasihku sendiri,’ batin Riri di bawah guyuran shower hangat yang membasahi seluruh tubuhnya.
Uap panas mengepul tebal, mengaburkan cermin wastafel dan dinding kaca kamar mandi resort yang di sewa untuk beberapa waktu ke depan itu.
Sudah hampir setengah jam dia berdiri mematung di sana, membiarkan aliran air membilas sisa-sisa aroma alkohol, keringat, dan jejak sentuhan semalam yang masih terasa membakar di permukaan kulitnya.
`Arrghh, bisa-bisanya aku tidur sama rekan kerjaku sendiri?! Kacau kamu Gantari!` Pikirannya berputar liar, terlempar kembali pada kekacauan semalam.
Riri masih mengingat lumatan bibir Danu. Rasa manis nikotin bercampur tequila dari bibir pria itu masih terasa walaupun dia sudah berkumur berkali-kali.
Belum lagi sentuhan dan gerakan Danu yang seirama dengannya, membuat perempuan itu masih merasakan getaran kenikmatan pelepasannya semalam.
Beda halnya saat bersama Radit, kekasihnya. Hanya ada rasa sakit yang menusuk di sekujur tubuh perempuan itu, terutama di bagian sensitif dan hatinya yang selalu terasa hampa.
“Ri, kamu baik-baik aja? Lama banget mandinya,” suara Danu menarik kembali kesadaran Riri ke dunia nyata.
Ia buru-buru menyelesaikan mandinya, sebelum menarik handuk yang terlipat rapi di salah satu sisi ruangan, dan mengenakan pakaian yang sengaja ia bawa masuk ke dalam kamar mandi tadi.
Ketika dia melangkah keluar dengan kaus dusty pink oversizednya, Danu tengah duduk santai bertelanjang dada di teras kamar. Tak lupa dia menjangkau ponselnya sebelum bergabung dengan pria itu.
Di samping Danu, laptop terbuka di atas meja kecil bersanding dengan secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap-uap hangat beraroma samar.
Riri menghembuskan napas pelan. Entah kenapa, melihat Danu bersikap setenang itu justru membuat pikirannya semakin kacau.
“Udah mandinya? Sarapan dulu. Udah aku pesenin,” ucap Danu tanpa menatapnya, sambil tetap menatap layar laptop.
Riri hanya mengangguk kecil dan duduk di sisinya. Namun, bukannya menyentuh makanan yang sudah tersaji di meja, pandangannya justru tertuju pada wajah Danu.
Ada sesuatu yang harus mereka bicarakan. Sesuatu yang sejak tadi berusaha ia hindari.
“Nu...” panggil Riri akhirnya. Jarinya meremas lengan kursi rotan yang dia duduki. “Kita harus ngomong deh.”
Tanpa banyak menunda, Danu menghentikan gerakan jarinya di atas keyboard lalu menutup laptop tersebut sebelum memutar tubuh menghadap Riri.
“Ri, ini salahku,” katanya serius. To the point. “Kejadian semalam itu murni karena aku nggak bisa kontrol diriku sendiri.”
Riri terdiam sejenak. Ia bahkan menelan ludah sebelum menggeleng.
“Nggak, Nu. Bukan masalah itu…” perempuan itu menunduk dan menggigit bibir bawahnya sejenak. “Tolong rahasiain dari Mas Radit.”
Begitu nama itu disebut, alis Danu langsung mengerut.
Mereka bertiga bekerja di kantor yang sama. Kalau masalah semalam sampai diketahui Radit, bukan hanya hubungan pribadi mereka yang akan berantakan. Pekerjaan pun bisa ikut terseret.
“Enggak,” jawab Danu tegas. “Itu biar jadi urusanku sama Radit. Kamu nggak usah pikirin itu.”
“Maksud kamu apa?” Jantung Riri seketika terasa jatuh ke lututnya. Danu bersandar pada kursi dengan tatapan yang tidak sedikit pun bergeser dari Riri.
“Ri, aku nggak mau dianggap nggak bertanggung jawab.”
Tubuh Riri mendadak menegang. Untuk sesaat, pikirannya seperti berhenti bekerja.
Bayangan wajah Radit ketika mengetahui semua langsung melintas di kepalanya. Kemudian bayangan kantor mereka. Tatapan rekan-rekan kerja. Bisik-bisik. Pertengkaran yang mungkin terjadi. Belum lagi respon keluarga.
`Tidak. Tidak boleh sampai sejauh itu,` ucap Riri dalam hati. “Jangan!” Riri berseru panik. Ia bahkan sampai bangkit setengah berdiri sebelum buru-buru kembali duduk.
“Kita udah tidur bareng. Kamu masih mau balik ke pacarmu seolah nggak terjadi apa-apa?”
Mendengar itu entah kenapa emosi Riri langsung tersulut.
“Danu, yang semalam antara kita itu kesalahan!” suara Riri meninggi. Ia mengatupkan rahangnya rapat-rapat, mencoba agar tidak terlalu meledak.
“Yang mana yang kesalahan, Ri?” tanya Danu dengan suara yang mulai meninggi. “Ciuman kita? Desahanmu? Kasih tahu!”
Riri hanya memandang lurus-lurus ke arah pria yang baru saja membentaknya.
Danu berdiri dari kursinya, dan berjalan tepat ke hadapan sahabatnya itu. “Ri, aku laki-laki yang punya prinsip.” Suaranya terdengar jauh lebih tenang, tetapi justru semakin tegas. “Sekali aku sama seorang perempuan, aku harus seriusin dia.”
Riri mencari kebohongan di balik mata yang menatapnya. Tidak mungkin yang semalam adalah pengalaman pertama pria itu.
“Gila, kamu?” Ia menggeleng cepat. “Aku udah mau nikah, Danu!”
“Aku tahu, dan justru karena pernikahan itu belum terjadi, kita harus jujur.”
Perkataan Danu menohok ulu hati Riri. Tidak ada yang salah dari ucapan pria itu. Yang salah adalah kebebalan perempuan yang berdiri dihadapannya.
“Kalau kamu benar-benar cinta sama Radit, kamu nggak akan kabur ke sini.” Danu menatap wajah perempuan di hadapannya sebelum melanjutkan kembali ucapannya. “Kamu menikmati apa yang udah kita lakukan semalam kan? Sampai kapan kamu mau menolak fakta itu?”
Riri terdiam tidak mampu membalas. Ucapan Danu barusan menusuk tepat ke bagian yang paling ingin ia sembunyikan.
"Cukup, Nu. Tolong hargai keputusan aku,” perempuan itu berdiri, berhadapan dengannya.
“Silahkan kalau kamu mau begitu. Aku nggak tertarik.”
“Nu…” ucapan Riri terpotong karena bunyi ponselnya. Mereka berdua refleks menunduk. Membaca tulisan di layar ponsel milik Riri.
MAS RADIT.
Riri mematung, ia meremas rok kerjanya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Paspor fisiknya kini ditahan. Tanpa paspor itu, pengurusan visa pelajarnya akan tertunda dan terancam gagal. "Iya, Mas. Aku ngerti," bisik Riri pelan, memaksakan diri agar suaranya tidak bergetar. "Pintar," puji Radit puas, menepuk pipi Riri dua kali. "Makan yang banyak. Badan kamu harus fit…seperti tadi malam," kekeh Radit yang membuat dahi perempuan itu berkeringat. Satu jam kemudian, mereka kembali ke ruang divisi asset management. Begitu Radit melangkah masuk ke ruangannya, Riri berdalih hendak ke toilet. Tapi, ia langsung berbelok menuju tangga darurat. Gantari Kirana: Nu, tangga darurat, sekarang! Perempuan itu meremas ponsel dan dompet yang pegangnya. Tidak lama, pintu tangga darurat terbuka dan Danu muncul dengan wajah yang tidak seperti biasanya. "Kamu kenapa? Radit ngapain lagi?" todong Danu langsung. "Mas Radit... dia pegang paspor aku, Nu," suara Riri bergetar. "Dia minta I
Riri mematikan sambungan. Segera ia mengirimkan lokasi dan beberapa foto sekitar. Perempuan itu berusaha bersembunyi di balik pohon besar, takut Radit mencari dan menariknya paksa kembali ke mobil.Lima menit berlalu, sebuah motor tampak melaju pelan. “Danu!” Teriak perempuan itu. Pengendara motor itu menoleh dan membuka kaca visor. Riri segera berlari dari persembunyiannya, menuju Danu yang langsung memberikannya helm cadangan yang ia kenakan sebelumnya.“Malam ini kamu ikut aku ke apartemen,” ucapnya datar. Riri diam tidak membantah, mengikuti kemanapun kekasih rahasianya itu membawanya.Danu memapah Riri yang masih gemetar dari parkiran motor hingga kamarnya. “Aku mau ke kamar mandi dulu, makasih ya, Nu.”Sebelum mencuci wajahnya, Riri menatap pantulan wajahnya di cermin.‘Kamu kuat, kamu hebat, kamu bisa lepas dari Radit. Tapi aku capek,’ Air mata menggenang di pelupuk mata perempuan itu. Ia buru-buru menghapus air mata dan mencuci wajahnya. Sekali lagi ia menatap pantulan waja
Wajah perempuan itu berubah panik. Ia melihat jam terkirimnya pesan oleh Radit, 18.45 dan langsung melihat jam di ponselnya, 20.10. Buru-buru ia membalas pesan dari kekasihnya itu. Gantari : ‘Aku tunggu kamu, udah di mana Mas?’ Raditya : ‘Paling cepet setengah jam lagi sampe.’ “Ck, Danu!” Teriak Riri segera berlari ke arah pantry menyusul Danu. “Mas Radit pulang malam ini, setengah jam lagi dia sampe kostan aku. Aku balik sekarang, ya.” “Shit, anjritlah! Gue anter pake motor biar cepet. Lo langsung turun tunggu di depan apartemen.” Pria yang sedang menyiapkan makan malam itu, menghentikan kegiatannya. Ia langsung mencari kunci motor dan helm tambahan. Sedangkan Riri, ia sudah berdiri menunggu lift terbuka. ia pun masuk dan memencet tombol G dengan tergesa-gesa. Setelah pintu liftnya kembali terbuka, Riri berlari ke depan jalan raya utama. Danu, sudah menunggunya dan menyodorkan helm tambahan untuk Riri. “Peluk pinggang aku. Kita ngebut malam ini.” Tidak sampai 20 menit pria i
Mbak Ratih berjalan menuju kubikel Riri. Matanya terpusat pada layar komputer milik perempuan yang sedang duduk gelisah did bangkunya.“Kamu mau lanjut S2? Kamukan udah mau nikah, Ri?!” Suara melengking Mbak Ratih terdengar di seluruh sudut ruangan asset management. Riri masih terdiam. ia terus memutar otak mencari alasan yang masuk akal.‘Kalau aku bilang cuma iseng-iseng, dia bakalan laporan ke Mas Radit,’ batin Riri.“Aku minta tolong Mbak Riri, Mbak,” suara Alea terdengar dari kubikel sebelah. Wanita paruh baya itu menoleh, menatap Alea yang duduk santai di kursinya.“Kamu kan masih nyusun skripsi? Ngapain cari S2?” “Ya abis wisuda aku mau lanjut S2 emang nggak boleh?” balas Alea tidak mau kalah. Mbak Ratih mendengus kesal.“Cari sendiri makanya! Jangan nyusahin orang!” seru Mbak Ratih kesal. “Kamu juga, Ri. Nggak usah aneh-aneh! Inget calon suami kamu tuh Mas Radit! Banyak banget yang ngantri jadi istri dia!” Wanita paruh baya itu pun berjalan menuju kubikelnya sendiri. Riri h
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.