INICIAR SESIÓN‘Lagi??’Darah Alea langsung mendidih.Sejak kemarin, ia terus-menerus dikaitkan dengan Andra dalam hal-hal buruk. Tuduhan demi tuduhan dari Emma, yang menganggapnya mengganggu rumah tangganya, masih sanggup ia tahan.Namun, kali ini berbeda. Bari bahkan nyaris tidak pernah berinteraksi dengannya, tetapi tiba-tiba menyiratkan bahwa Alea mendapatkan kesempatan di Writing Camp karena kedekatannya dengan Andra.Kedua tangan Alea mengepal. Ia merendahkan tubuh, menumpukan berat badannya ke depan, bersiap menerjang Bari.“YAAAAK!”Alea baru saja hendak melompat ketika sebuah kotak susu melesat melewati bahunya.Plak!Kotak itu menghantam wajah Bari sebelum pecah. Susu menyembur ke mana-mana, membasahi wajah, rambut, dan bagian depan kemeja pria itu.Kantin mendadak sunyi.“Apa-apaan ini?!”Bari terperangah. Wajahnya yang semula merah karena marah kini semakin merah, kali ini bercampur susu yang menetes dari dahinya. Perempuan di sampingnya sampai menganga, seolah tidak percaya ada orang ya
Jam makan siang kali ini, Alea memutuskan untuk makan di kantin kantor. Ini pertama kalinya ia makan di sana sejak bekerja di Storyla. Biasanya, ia memilih pergi ke kafe atau memesan makanan lewat aplikasi.Namun, hari ini ia bahkan tidak benar-benar memperhatikan menu yang dipilihnya. Pikirannya masih tertinggal di ruang rapat pagi tadi, terjebak pada kalimat Andra tentang Darrel.“Meski Darrel terlahir sebagai darah daging saya atau bukan.”Kenapa Pak Andra mengatakan hal seperti itu?Alea menyendok chicken teriyaki ke mulutnya. Menu yang sama dengan Keisha. Ia mengunyah tanpa benar-benar menikmati rasanya.“Enak, kan?” tanya Keisha sambil menyikut lengannya pelan.Alea mengangguk, lalu menyuapkan satu sendok lagi. “Di sini pilihan menunya banyak, ya.”“Iya, sih. Cuma ramai banget. Makanya kita jarang ke kantin.”Alea mengangguk mengerti. Suara percakapan dari berbagai meja bercampur dengan bunyi peralatan makan, menciptakan keramaian yang membuatnya sedikit kesulitan berkonsentras
Alea menutup pintu ruang rapat perlahan, lalu berbalik. Andra sudah duduk di ujung meja.“Kenapa Bapak memanggil saya pagi-pagi begini?”Andra tidak segera menjawab. Ia mengetuk jarinya di atas meja beberapa kali. Lalu berhenti.“Duduk dulu.”Alea akhirnya mendekat dan menarik kursi di seberang Andra.“Kamu baca pesanku semalam kan?” tanya Andra.Perempuan itu mengatupkan bibirnya membentuk garis lurus. Ia ingat, semalam ia langsung mematikan ponselnya begitu selesai membaca pesan terakhir Andra. Ia tak tahu harus menjawab apa. Dan itu berakhir membuatnya tidak tidur semalaman.“Ah, iya. Semalam saat akan mematikan ponsel, notifnya kepencet. Jadi saya baru baca tadi pagi.” Ia berbohong. Entah kenapa rasanya ia belum siap mendengar alasan menghilangnya Andra. Walaupun ia terus penasaran dengan itu selama ini.“Tapi sebelum itu, saya ingin meminta maaf dengan benar soal kehadiran Emma—”“Pak.”Alea menyela dengan cepat. Menoleh ke arah Andra.“Bisa langsung ke intinya saja? Saya merasa
“Lagi?”Keisha langsung menegakkan punggung.Alea langsung menggigit bibir bawahnya. Menyesali ucapannya barusan. ‘Apa aku boleh bilang seperti itu?’“Kenapa dia bisa tiba-tiba di sana?” Kali ini Sera yang bertanya.Alea menjatuhkan tubuhnya di sofa. Menghela napas panjang. Tak ada waktu untuknya menimbang-nimbang.“Entahlah. Sepertinya dia panik dan menelepon Pak Andra. Lalu muncul di kafe. Marah, menuduhku macam-macam.” Ia menyisir rambutnya ke belakang. “Padahal aku cuma memasak untuk Darrel karena melihat anak itu kelaparan.”“Kelaparan?”Alea mengangguk. Menceritakan ulang pertemuannya dengan Darrel di kantor hingga kemunculan Emma di kafe.“Jangan-jangan,” Keisha menarik kursi, mendekat ke arah Alea. “Bu Emma menelantarkannya.”“Karena itu ia datang ke kantor menemui Pak Kala,” lanjut Sera.“Hei, jangan berprasangka buruk dulu. Nggak mungkin Bu Emma sejahat itu. Bagaimanapun itu anaknya kan?” Dikta membantah.“Melihat dia sudah melabrak Alenta dua kali, aku nggak bisa lihat dia
[Kak, aku udah baca pengumuman Writing Camp. Aku mau tanya beberapa hal soal itu boleh?]Pesan singkat dari Noah sedikit mengalihkan fokus Alea. Ia dan Sera sudah berdiri di depan pintu lift apartemen.Tatapan Alea terpaku pada layar ponselnya. Ia mengetik balasan untuk Noah.[Boleh. Mau tanya apa?]Tulisan ‘Mengetik…’ berkedip cukup lama.“Ayo, masuk.” Sera menarik ujung kemeja Alea ke dalam lift. Begitu pintunya terbuka, ia mengulurkan tangan. “Kartu aksesmu mana?”Alea segera mengeluarkan kartu akses dan menempelkannya pada panel di lift. Setelah itu, ia kembali menatap layar ponselnya, menunggu jawaban Noah.“Siapa, sih, Al? Serius amat?” tanya Sera, sedikit menyenggol lengan Alea dengan sikunya.“Noah. Dia mau nanya soal Writing Camp.”“Ah, benar juga. Pengumumannya sudah keluar, ya?”Sebelum Alea sempat menjawab, sebuah gelembung pesan muncul di layar.[Aku ke apartemen Kak Alea aja deh. Pertanyaanan banyak soalnya!]Alea mengernyit. Sedikit aneh dengan balasan Noah.Tapi ia tak
Tangan Alea mencengkeram lap tanpa sadar.Semuanya terjadi begitu cepat. Baru saja Emma menatapnya dengan dingin, kini wanita itu sudah berdiri tepat di hadapannya.“Niat kamu sebenarnya apa, sih, Alenta?” Suara Emma terdengar tajam. “Kamu sudah bikin suami saya jarang pulang ke rumah, bahkan ketika anaknya sakit.”Emma menggeser tubuhnya menghadap Darrel.“Sekarang kamu kasih makan anak saya sembarangan!”Alea terdiam. Lap di tangannya semakin erat tergenggam hingga buku-buku jarinya memutih.“Anda sudah tanya pada suami Anda?” tanya Alea dengan nada bergetar, menahan kemarahan yang hampir menguasai tubuhnya.Sepasang mata Emma tambah melebar.“Kamu pikir saya bodoh tidak tahu apa yang telah kalian lakukan?”“Emma.”Andra segera menghampiri mereka. Ia meraih lengan istrinya dan menariknya menjauh dari Alea.“Darrel tiba-tiba datang ke kantor dalam keadaan lapar. Seharusnya kamu sadar dengan apa yang sudah kamu lakukan sebelum menyalahkan orang lain.”Emma langsung menoleh kepadanya.“







