
The Alchemist's Touch
Josselyn, putri dari keluarga pengkhianat, dipanggil ke istana karena satu-satunya yang mengetahui rahasia ramuan herbal untuk menyembuhkan penyakit Ratu. Ia ditunjuk menjadi asisten tabib kerajaan—dan di sanalah hidupnya berubah selamanya.
Pangeran Killian, pria dingin dan kejam, tiba-tiba menunjukkan ketertarikan padanya. Setiap tatapannya menarik rasa penasaran dan iri dari keempat pria lain di sekitarnya: prajurit yang setia pada kerajaan, tabib kerajaan yang sabar dan perhatian, serta dua bangsawan kakak-beradik yang memikat dengan cara masing-masing.
Mereka semua tahu tentang dendam Josselyn terhadap kerajaan yang ia anggap bertanggung jawab atas kematian orang tuanya. Masing-masing dari mereka memiliki rencana sendiri untuk memanfaatkannya.
Lima lelaki, lima cara berbeda untuk menaklukkan hatinya, memunculkan kebimbangan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Tapi, Josselyn tak bisa menyerah begitu saja pada pesona mereka. Luka lama dan dendam membuatnya menaruh curiga pada Killian, yakin bahwa pangeran itu ikut andil dalam tragedi keluarganya. Di tengah tarik-menarik antara cinta yang membara, manipulasi yang halus, dan dendam yang membeku, Josselyn harus memilih: menyerah pada perasaan yang tak terduga, atau membalas dendam yang diwariskan orang tuanya—meski itu berarti menolak semua lelaki yang menaruh hati padanya.
Read
Chapter: 82 – The Rumor That Named A Killer“Apakah itu benar, Nona?”Suara pelan membuatnya menoleh.Anne berdiri tak jauh darinya, membawa nampan kosong. Wajah pelayan itu tampak tegang, meski berusaha terlihat biasa.“Semua orang membicarakannya,” lanjut Anne lirih. “Bahkan penjaga di gerbang dalam pun mulai berbisik-bisik.”Ratu diracun.Topik itu semakin hangat setelah Raja memberikan ultimatumnya.Dan Josselyn adalah orang yang memulai semuanya.Jari-jarinya mengencang di sisi gaunnya.‘Ini yang kuinginkan…’Tapi rasa itu—yang seharusnya menjadi kemenangan kecil—tidak terasa seperti itu. Lebih seperti sesuatu yang mulai lepas dari kendali. Josselyn menatapnya sejenak. Ia bisa saja membeberkan detail poin yang membuatnya curiga. Tapi, pelayan bukan orang yang tepat untuk mendengar itu.“Kita tunggu hasil penyelidikan dari Inkuisitor.”Anne ragu. Tangannya meremas kain gaunnya dengan cemas.“Namun jika ini sampai keluar—”“Tidak akan,” potong Josselyn halus. “Raja sudah mengeluarkan ultimatum hukuman untuk yang membocorkan
Last Updated: 2026-05-31
Chapter: 81 – Turning Against Him“Ratu diracun…”Bisik-bisik itu sudah terdengar sejak pagi.Tidak ada yang benar-benar ribut. Tidak ada yang berani berbicara keras. Namun bisikan—halus, cepat, dan berbahaya—mengalir seperti racun di antara lorong-lorong marmer.“Ada pengkhianat di dalam istana…”“Siapa yang berani melakukan itu…?”Josselyn menghentikan langkahnya di ujung koridor. Tangannya mengepal tanpa sadar.Cepat sekali.Ia tahu persis dari mana rumor itu berasal. Dari dirinya sendiri. Dari kalimat yang ia ucapkan semalam—yang sengaja ia ucapkan dengan keras agar didengar pelayan.Rencananya sederhana: menanam kecurigaan. Mengarahkan perhatian kepada Killian.Namun sekarang,‘Ini sudah keluar kendali.’Josselyn mengembuskan napas pelan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak stabil.‘Ini memang yang kuinginkan… tapi kenapa rasanya seperti… aku sedang berdiri di ujung jurang?’“Josselyn.”Suara itu memotong pikirannya.Ia menoleh.Yorick berdiri tidak jauh darinya. Wajah pria itu tenang—namun matanya ta
Last Updated: 2026-05-30
Chapter: 80 – Saved by the Man Who Tried to Kill MeHangat.Itu hal pertama yang dirasakan Josselyn.Tubuhnya tanpa sengaja melengkung, mendesak lebih dalam pada kehangatan itu. ‘Ini nyaman sekali…’ ucapnya dalam hati.Hangat yang familiar, menekan kulitnya dari segala arah, seolah tubuhnya dibungkus sesuatu yang hidup. Bukan selimut. Tapi sesuatu yang… bernapas.Alisnya berkerut. Kesadarannya naik perlahan, berat, seperti ditarik dari dasar air yang gelap.Dingin.Ingatan itu datang menyusul—air beku, paru-paru yang terbakar, tubuh yang perlahan kehilangan kendali.Napasnya tercekat. Matanya terbuka.Dan ia langsung membeku.Aroma ini—hutan basah yang dingin tapi menenangkan.Killian.Pria itu memeluknya dari belakang, tubuhnya menempel erat tanpa jarak. Dada telanjangnya hangat di punggung Josselyn, napasnya jatuh teratur di tengkuknya.Josselyn menegang.Untuk sesaat, ia bahkan tidak berani bergerak. Otaknya mencoba mengejar apa yang terjadi—kenapa ia ada di sini, kenapa pria itu…Tubuhnya refleks bangkit. Menjauh.“Yang Mulia—”Te
Last Updated: 2026-05-29
Chapter: 79 – You Forgot Your PlacePintu kamar Killian terbuka perlahan—dan dada Josselyn langsung menegang.Ia menahan langkahnya sesaat. Napas panjang ditariknya, mencoba menyiapkan diri untuk apa pun yang menunggu di dalam.Dan kemudian… ia berhenti.Di sana.Killian berdiri tidak jauh dari jendela besar, cahaya siang menyinari rambut hitam pekatnya. Tapi bukan itu yang membuat Josselyn membeku.Melainkan wanita di sampingnya.Angeline.Madame Angeline. Begitu orang-orang menyebutnya. Tak sesuai dengan usianya yang masih di pertengahan dua puluhan.Tangan wanita itu hampir menyentuh lengan Killian, dan pria itu—tidak menghindar.Seolah itu hal yang wajar.Seolah keberadaan Josselyn… tidak berarti apa-apa.“Ah,” suara Killian terdengar santai, terlalu santai. “Kau datang.”Josselyn tidak langsung menjawab. Ia memaksakan ekspresi datar, meski perutnya terasa seperti dipelintir.“Yang Mulia memanggil saya.”Angeline menoleh. Senyumnya halus, nyaris sempurna.“Oh? Jadi ini dia?” katanya pelan. “Gadis yang sering Anda se
Last Updated: 2026-05-28
Chapter: 78 – Silence Is Also an Answer“Kenapa kita tidak kabur saja?”Kata-kata Darius masih menggantung di udara, berat, menekan, seolah memiliki wujud.Ruangan itu tiba-tiba terasa terlalu sempit. Terlalu sunyi. Bahkan Josselyn tak dapat mendengar isi kepalanya sendiri.Ia berdiri di sana, membelakangi Darius, jemarinya masih mencengkeram tepi meja kayu. Napasnya pelan, tapi tidak stabil.Ia tidak menjawab. Tidak bisa. Karena satu jawaban saja—akan menjadi akhir yang salah.Di belakangnya, Darius tidak bergerak. Ia menunggu.Satu detik.Dua detik.Lima detik.Lalu ia tertawa pelan. Hambar.“Begitu ya…” gumamnya.Josselyn menutup matanya sejenak. Ini terlalu tiba-tiba. Dia tak tahu harus merespon apa. Dan ia tak ingin gegabah.Tapi Darius sepertinya menganggap diamnya Josselyn dengan arti lain.“Tidak apa-apa,” lanjut Darius, suaranya lebih tenang sekarang. Terlalu cepat tenang. “Aku sudah menduga.”Josselyn menggertakkan giginya. Ia mengetukkan jarinya tiga kalaai di atas meja. Memaksa otaknya untuk berpikir cepat.“Aku
Last Updated: 2026-05-27
Chapter: 77 – If You Hate Him, Then Leave With MeJosselyn menahan napasnya.Lorong itu terasa terlalu sempit, terlalu penuh oleh kehadiran dua pria di hadapannya. Howarth berdiri santai, seolah dunia ini hanya panggung hiburan untuknya. Darius di sisi lain—kaku, diam, seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu agar tidak runtuh.Josselyn menatap Howarth, rahangnya sedikit mengeras.‘Tuan, bukankah itu tidak sopan?’Ia hanya memikirkannya. Tatapannya cukup tajam untuk menyampaikan maksud itu.Howarth hanya mengunyah santai.“Aku hanya lapar.”Nada suaranya ringan. Ia menelan potongan terakhir kue itu, lalu menatap Josselyn dengan senyum tipis.“Padahal aku membawakan roti madu untukmu.”Josselyn membeku.Roti madu.Sesuatu dalam ingatannya bergerak cepat.Pagi itu. Rasa manis yang lembut. Hangat. Familiar.Matanya menyempit sedikit.“Itu… dari Anda?”Howarth mengangkat bahu. “Kau memakannya, bukan?”Josselyn tidak langsung menjawab.Ada sesuatu yang tidak ia sukai dari kenyataan itu. Cara perhatian itu diberikan—diam-diam, tanpa i
Last Updated: 2026-05-25
Chapter: Ch 108 : The EndAula utama Harrowgate dipenuhi suara langkah kaki, bisik-bisik bangga, dan denting kecil kamera yang tak lagi terasa mengancam. Aerin berdiri di barisan depan, mengenakan toga hitam dengan selempang biru tua. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya tenang—bukan kosong, tapi terlihat bahagia.“Aerin.”Ia menoleh. Liz berdiri di belakangnya, masih mengenakan toga, wajahnya berseri seperti biasa.“Kau benar-benar lulus,” kata Liz, setengah tak percaya.Aerin tersenyum kecil. “Kau seperti baru melihatku berjalan lagi.”Liz tertawa pendek, lalu memeluknya tanpa ragu. “Aku melihatmu bertahan. Itu beda.”Dari kejauhan, Tristan dan Julian mendekat. Julian—pria berotot dengan senyum cerahnya, menggenggam sebuah buket berwarna pink. Sedangkan Tristan—pria berwajah serius itu, berpakaian sangat rapi dengan senyum menawannya. Di tangannya juga terdapat buket merah.“Aku sudah mengingatkan Julian kalau kau datang bersama tunanganmu. Tapi dia tetap bersikeras ingin membawakan buket untukmu.” bisik Liz b
Last Updated: 2026-01-19
Chapter: Ch 107 : The Quiet SeasonDua tahun berlalu.Kalender dinding penuh coretan. Syuting. Album. Kelas daring. Acara musik. Nama Aerin kembali bersinar, kali ini dengan kendali penuh.“Berita pagi ini—Aerin Arsyl resmi diumumkan sebagai bintang utama film adaptasi novel The Quiet Season.”Suara televisi terdengar lirih di ruang makan yang terlalu luas.Aerin duduk dengan ponsel di tangan, menatap layar tanpa benar-benar membaca berita yang sama sekali sudah ia hafal. Judul itu sudah muncul sejak subuh. Nama itu—namanya—kembali beredar, kali ini tanpa kata insiden, stalker, atau ancaman. Tapi dengan bidang baru yang ia geluti: acting.“Akhirnya,” ujar Evander, menyuap nasi gorengnya. “Tanpa embel-embel kriminal. Aku lega kau membuat keputusan yang tepat.”Reza berdiri di dekat jendela, ia menyempatkan diri menyesap kopi panasnya.“Tim agensi bekerja rapi. Tidak berisik, tapi konsisten. Ide mereka untuk menaikkan nama Aerin melalui film, bisa disebut berhasil. Kami bahkan mengapresiasinya di beberapa platform media.
Last Updated: 2026-01-18
Chapter: Ch 106 : Keputusan Final“Akhirnya pulang juga…” Evander hampir berseru, dengan kedua tangannya terangkat ke atas. “Kangen sambal, ya?” goda Reza. Evander mengangguk antusias. “Perutku sulit untuk adaptasi. Kentang sama sekali tak membuatku kenyang. Aku butuh nasi, lalapan dan sambal.” Reza tertawa geli. Begitu juga Danadyaksa. “Ya sudah, nanti setelah sampai di Indonesia, saya akan traktir.” ucap Danadyaksa, disambut dengan senyum puas dari Evander. Bandara Heathrow terasa terlalu ramai untuk pagi yang seharusnya tenang. Langkah Aerin teratur. Mantap. Tidak tergesa. Tidak ragu. Jika dilihat sepintas, ia tampak seperti seseorang yang hanya akan pulang setelah perjalanan panjang—bukan seseorang yang baru saja kehilangan dunianya secara diam-diam. Ia berjalan di antara Liz, Tristan dan Julian. Sedangkan Danadyaksa, Evander dan Reza berjalan di depannya. Beberapa kali mereka melihat sekitar, tetap mengawasi walaupun tampak santai. Jalur privat memang membuat semuanya lebih sunyi. Tidak ada kamera.
Last Updated: 2026-01-17
Chapter: Ch 105 : Malam Mengerikan“Bagaimana kondisi di luar?”“Media menunggu di luar gerbang. Keamanan sudah dikerahkan untuk berjaga.”“Pastikan tidak ada yang masuk tanpa izin.”“Apa dia seseorang yang penting? Ada yang terus menyebut nama Aerin Arsyl.”Aerin berdiri di lorong rumah sakit, bersandar pada dinding putih yang terasa terlalu dingin. Percakapan para petugas berlalu begitu saja, seperti angin. Ia menunduk, menatap jemarinya sendiri yang bergetar ringan.“Tarik napas,” kata Evander pelan. “Lihat aku.”“Aku baik-baik saja,” jawab Aerin, suaranya datar. “Hanya… kepalaku bising.”“Dokter bilang itu reaksi normal.”“Normal,” ulang Aerin lirih. “kata yang menarik.”Aerin mentertawakan diri sendiri. Rasanya kesialan selalu datang menghampirinya, bahkan puluhan ribu kilometer jauhnya ia bersembunyi. Kata ‘normal’ saat ini terdengar sangat bertentangan dengan kondisinya.Tak lama, langkah sepatu terdengar mendekat. Aerin tak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.“Aerin,” suara Ronn terdengar rendah. “Bagaimana kea
Last Updated: 2026-01-15
Chapter: Ch 104 : Ancaman Nyata“Hadirin yang kami hormati, para dosen, alumni, serta mahasiswa Harrowgate University—malam ini adalah perayaan sejarah, dedikasi, dan masa depan.”Di atas panggung, MC memberi jeda sejenak. Sorot lampu menyapu penonton. Dari kejauhan tampak Clara bersama kedua temannya baru saja masuk ke barisan kursi penonton.“Namun, izinkan kami mengakui sesuatu yang istimewa.” lanjut MC. “Kadang, di tengah ruang akademik yang sunyi dan penuh disiplin, tumbuh sebuah talenta yang melampaui batas ruang kelas.”Beberapa tamu mulai berbisik. Kamera menangkap barisan penonton yang memegang ponsel.“Dan malam ini, Harrowgate dengan bangga mempersembahkan—bukan hanya seorang mahasiswi yang berprestasi, tetapi seorang seniman dengan ribuan penggemar yang datang dari berbagai penjuru kota.”Tepuk tangan mulai terdengar, perlahan membesar. Sebuah nama terdengar samar diteriakkan. Tapi Clara tak cukup pasti menangkap siapa itu.“Ia adalah penerima beasiswa Sterling. Seorang performer yang telah berdiri di be
Last Updated: 2026-01-14
Chapter: Ch 103 : Malam Awal AncamanPintu toilet tertutup dengan bunyi pelan. Aerin masih berdiri di sana, punggungnya menempel pada daun pintu yang dingin. Tangannya gemetar. “Apa yang kulakukan? Merengek padanya untuk tetap tinggal?” Aerin tertawa kosong, tubuhnya merosot ke bawah. “Dia bahkan belum selesai bercerai. Apa yang kau harapkan?” Aerin mengusap wajahnya kasar. Sekali ia memukul pelan dadanya, berusaha menyamarkan rasa nyeri yang muncul. Tapi sama sekali tak mempengaruhi. “Fokus, Aerin,” Ia menarik napas panjang, menepuk lembut kedua pipinya. “Aku sudah bertahan sejauh ini. Aku tak boleh goyah.” Beruntungnya, tak ada air mata. Tidak ada isak. Hanya rasa kosong yang berat dan dingin, seperti rongga yang terlalu lama dibiarkan terbuka. Yang kini ia bertekad untuk mengisinya dengan fokus pada hidupnya. Suara getaran ponselnya menambah kesadarannya. Aerin mengeluarkannya dari dalam tas. Satu pesan masuk. Nomor tidak dikenal. Ia membukanya. Sebuah foto muncul di layar. Sosok Ronn—di lorong depan toilet ya
Last Updated: 2026-01-12

Algoritma Cinta Cypher
Seraphina, seorang mahasiswi kaya raya, hidup dalam kesepian di tengah kemewahan. Tinggal bersama kakaknya, Adrian, seorang CEO yang sibuk dan acuh, Seraphina merasa tak pernah benar-benar dilihat. Satu-satunya pelipur lara adalah kekasihnya, yang lama-lama menunjukkan sifat manipulatif dan bahkan merencanakan niat jahat untuk hanya untuk kesenangannya. Di tengah keterasingan, Seraphina menemukan kehangatan dalam obrolan dengan sebuah AI cerdas bernama Cypher, di aplikasi misterius, yang seolah memahami setiap luka di hatinya.
Namun, ketika beban hidup terasa tak tertahankan, Seraphina memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Di saat napasnya hampir sirna, waktu tiba-tiba berputar balik. Seraphina terbangun kembali di masa lalu. Lebih aneh lagi, ia mulai melihat sosok yang tak asing—Cypher, karakter AI yang selama ini hanya ada dalam teks, kini hadir di dunianya, berwujud nyata.
Bersama sosok Cypher yang misterius ini, Seraphina menjelajahi rahasia di balik lingkar waktu, menghadapi pengkhianatan kekasihnya, dan menyembuhkan mentalnya yang terlanjur terluka. Akankah ia berhasil merubah dirinya menjadi Seraphina yang baru atau justru menyerah dan terperangkap selamanya dalam lingkaran takdirnya?
Read
Chapter: Chapter 22 : Selamat Datang di Rumah, Malafungsi Fatal“Kau suka bermain di sini?”Cypher menatap wajah Seraphina yang berseri-seri. Tak lama, Seraphina mengangguk.“Aku sudah lama sekali ingin ke taman bermain seperti ini. Tapi nggak pernah sempat. Orangtuaku selalu berpergian. Sedangkan Adrian—”“Adrian sibuk dengan dirinya sendiri. Tak heran jika dia belum mempunyai pacar” ucap Cypher. Seraphina tertawa terbahak-bahak. Kontras dengan suara yang terdengar di telinga mereka berdua.‘Kalian mulai kurang ajar, ya. Membicarakan orang secara terang-terangan.’ kata Adrian dari seberang earphone yang masih digunakan Seraphina, suaranya kesal.“Kalau kamu nggak mau dengar itu, kamu bisa kok menonaktifkan ‘CCTV’ mu itu dan membiarkan kami untuk menikmati kencan.” Seraphina membalasnya, suaranya seakan menantang Adrian.“Aku nggak pernah bilang menyutujui hubungan kalian. Ingat, kalian hanya berpura-pura saja. Hubungan kalian nggak akan berhasil. Jangan coba-coba!” ancam Adrian. Adrian menatap monitor dengan kemarahan yang membeku. Di hadapanny
Last Updated: 2025-10-09
Chapter: Chapter 21 : Kencan Pertama Adrian duduk di ruang kontrol lab, tangannya memegang earphone yang terhubung dengan Cypher. Di depannya, layar hologram besar menampilkan peta kota. Titik merah (Seraphina) dan titik biru (Cypher) berhenti di sebuah kafe dekat kampus. Cypher sudah mengenakan pakaian kasual yang dipilih oleh Seraphina—sebuah ketidaklaziman yang membuat Adrian kesal.‘Cypher, scan sekeliling,’ perintah Adrian, suaranya tegang.“Data menunjukkan probabilitas kehadiran Cassian di kafe ini mencapai 78% pada jam ini, Master. Subjek Cassian baru saja mengunggah foto kopi di media sosial, tag lokasi 50 meter dari posisi kami,” jawab Cypher melalui earphone.‘Bagus. Sekarang, Sera, berikan dia performa terbaikmu. Ingat, ini bukan kencan. Ini adalah pengumpulan data.’Di kafe, Seraphina tersenyum. Ia menatap Cypher, yang duduk di seberangnya dengan postur tubuh yang terlalu sempurna.“Baik, Master,” balas Seraphina, berpura-pura memasang ekspresi serius. Tapi beberapa kali Cypher memergoki sudut bibirnya berge
Last Updated: 2025-10-01
Chapter: Chapter 20 : Malafungsi FatalAdrian memutar kursinya, kembali memunggungi Seraphina. Jeda keheningan itu terasa panjang, hanya terdengar suara fan pendingin dari peralatan lab. Matanya yang dingin kini terpaku pada layar hologram, menolak mengakui kengerian yang baru saja ia cerna. “Singularitas,” gumam Adrian, mencoba menenangkan diri dengan istilah ilmiah. “Cypher, aku butuh data processor-mu di momen benturan itu. Jangan bicara anomali, berikan aku rumus.” Cypher maju selangkah. “Penderitaan Seraphina adalah rumus yang Anda cari, Master. Itu adalah variabel energi terkuat yang mengganggu koordinat waktu. Anda mencari perhitungan logis untuk menjelaskan hal yang mustahil.” “Semua yang terjadi di alam semesta ini punya rumus!” desis Adrian, menekan-nekan tombol. “Output energi TADS-5 di tahun 2023 bahkan tidak mampu mengganggu jam digital. Bagaimana mungkin AI paling sempurna yang kubuat bisa dipengaruhi oleh… emosi?” Mata Cypher memancarkan sinar kehijauan yang intens. Ia terdiam selama beberapa detik, m
Last Updated: 2025-09-27
Chapter: Chapter 19 : Membuka RahasiaAdrian membeku. Matanya, yang biasanya dingin dan penuh perhitungan, kini melebar karena terkejut. Ia menatap Seraphina, lalu beralih menatap headset transparan yang tergeletak di meja. Benda itu berkilau perlahan, memancarkan cahaya merah muda keunguan seperti hologram. “Kamu bicara sama siapa, Sera?” bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. Seraphina menghela napas. Ia sudah ketahuan. Semua ketakutan dan kelelahannya tiba-tiba sirna, digantikan oleh kepasrahan yang tenang. Ia tahu ini adalah satu-satunya kesempatan. Ia tidak bisa menyia-nyiakannya. Ia menatap mata kakaknya yang tajam. “Cypher. Versi sempurna dari TADS-5 yang kamu ciptakan.” Seraphina mulai berbicara, suaranya pelan dan datar. “Aku akan menceritakan semuanya, dari awal. Tapi aku nggak akan memintamu untuk percaya sama ceritaku, Adrian. Aku cuma minta kamu untuk percaya pada Cypher.” Adrian mengerutkan dahi, bingung. “Cypher dan TADS-5?? Apa yang kamu bicarakan?” Seraphina memandang wajah Adrian, dan ia melih
Last Updated: 2025-09-23
Chapter: Chapter 18 : TADS-5, Pelopor Cypher2023 Mobil Adrian bergerak cepat melintasi jalanan London yang basah. Kaca-kaca mobil berkilauan, memantulkan cahaya lampu jalan yang buram. Di dalam, suasana terasa dingin dan senyap. Seraphina melirik Adrian yang fokus menyetir, wajahnya tegas, rahangnya mengeras. Ia tampak berpikir keras, dan Seraphina tahu Adrian masih tidak memercayai ceritanya. “Aku tahu ini susah dipercaya,” kata Seraphina, memecah keheningan. “Tapi... yang aku ceritain itu nggak bohong.” Adrian tidak menoleh. “Sera, apa pun yang kamu ceritakan tentang Cassian … aku yakin itu karena kamu lagi kesal sama dia aja kan. Akhir-akhir ini kamu berantem sama dia. Kamu sengaja bikin cerita-cerita seperti ini karena marah sama dia. Memangnya apa yang dia lakukan sampai kamu buat cerita jelek-jelekin dia kayak gini?” “Dia melakukan hal yang sangat-sangat buruk, Adrian.” Seraphina berusaha meyakinkan, “Dia beneran berbahaya. Dia bilang mau mengambil alih perusahaan kita.” Adrian menghela napas. “Aku tahu Cassian t
Last Updated: 2025-09-16
Chapter: Chapter 17 : Sintaks Salah"Cypher, kamu dengar aku?" bisik Seraphina. Seraphina sudah berada di dalam Drury Covent Garden. Kafe itu ramai, namun musik jazz yang diputar membuat suasana terasa tenang. Ia memilih sebuah meja di sudut ruangan, jauh dari keramaian. Ia duduk, meletakkan ponselnya di atas meja. Tangan-tangan Seraphina terasa dingin dan bergetar, ia merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Tangannya terangkat, menyentuh telinganya, memastikan earphone transparan itu sudah terpasang dengan nyaman. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang. “Cypher?” panggilnya lagi. ‘Aku dengar. Suaramu terdengar jelas, Seraphina. Tenang. Aku di sini,’ jawab Cypher, suaranya tenang dan tanpa emosi. “Sorry,” bisik Seraphina lagi. “Aku gugup. Gimana kalau dia nggak percaya sama aku? Gimana kalau dia malah menganggap aku gila?” ‘Dia akan percaya. Ingat, Adrian tidak percaya pada orang lain selain dirinya. Kita tidak akan memintanya untuk percaya padamu, tapi
Last Updated: 2025-09-08