เข้าสู่ระบบBtari menatap sosok wanita yang kini berlutut di hadapannya dengan tatapan nanar. Sisa-sisa kesabaran yang selama ini ia tanam perlahan-lahan terkikis habis, menyisakan kehampaan yang teramat pekat di dalam dadanya."Berdiri, Bu," ucap Btari dengan suara yang terdengar dingin, datar, dan begitu asing di telinga ibunya sendiri. Tidak ada kelembutan di sana, hanya ada lelah yang teramat sangat. "Jangan lakukan hal seperti ini lagi. Ibu tidak perlu bersujud atau merendahkan diri seperti ini."Sang ibu mendongak, mencoba menangkap secercah iba dari mata putrinya. "Tari... kalau begitu bawa kami—""Aku bilang berdiri!" potong Btari sedikit lebih tegas, membuat ibunya kontan tertegun dan perlahan bangkit dibantu oleh Dimas.Btari menghela napas panjang, merapikan letak blazernya untuk menegakkan kembali pertahanannya di hadapan dua anggota keluarganya itu. Kepahitan yang bergejolak di dadanya mendesak keluar lewat setiap kata yang ia ucapkan selanjutnya."Ibu bilang hidup di desa kesusahan,
Suasana di dalam kamar kos yang sempit itu mendadak terasa semakin sesak. Keheningan yang sempat tercipta akibat gertakan Btari pecah tatkala sang ibu menarik napas panjang, mencoba memasang ekspresi paling menyedihkan yang ia miliki demi meruntuhkan pertahanan sang putri."Tari... bukan maksud Ibu mendahului atau menuntut macam-macam," ucap sang ibu dengan suara yang sengaja dilembutkan, jemarinya meremas ujung daster usang yang ia kenakan. Wanita paruh baya itu melangkah maju selangkah, meski langsung diwaspadai oleh tatapan tajam dua pengawal berjas di belakang Btari. "Ibu ke Jakarta bukan cuma sekadar nyari kamu... Ibu sudah lelah, Nduk. Hidup di desa terus-terusan dalam kesusahan, utang di mana-mana, rumah nyaris diambil pihak Bank. Melihat kamu sekarang hidup berkecukupan di kota besar... Ibu cuma ingin ikut denganmu. Tinggal di sini, menikmati hari tua bersama anak sulung Ibu."Btari menatap wanita yang telah melahirkannya itu dengan mata menyipit. Belum sempat ia merespons ka
Siang menjelang sore, di sebuah kawasan kos sederhana berlantai dua di sudut Jakarta Selatan. Udara terasa pengap oleh debu jalanan dan deru kendaraan yang lalu lalang. Di salah satu kamar berukuran petak dengan cat dinding yang mulai mengelupas, seorang paruh baya tengah duduk di atas ranjang usang sembari merapikan beberapa pakaian ke dalam tas koper plastik.Itu adalah ibunya Btari. Wanita itu tampak lebih kurus, dengan guratan lelah yang tercetak jelas di wajahnya, ditemani oleh Dimas—anak lelaki kesayangannya yang tengah merebahkan diri di lantai sambil memainkan ponsel murah dengan wajah masam.Tok... tok... tok.Ketukan pintu di luar membuat sang ibu menoleh malas. Ia mengira itu adalah penjaga kos yang datang untuk menagih tambahan biaya sewa mingguan."Buka sana, Dimas. Paling bapak kos nagih kamar lagi," gerutu sang ibu tanpa mengalihkan pandangannya dari koper.Dimas berdecak kesal, bangkit dengan malas dan membuka pintu kamar lebar-lebar. Namun, begitu manik matanya menang
Cahaya matahari pagi merayap masuk melalui celah tirai kamar tidur yang luas, menyinari hamparan seprai kusut dan sisa-sisa jejak gairah semalam. Btari duduk di tepi ranjang, mengenakan jubah tidur satin yang membalut tubuhnya, sementara Ararya berdiri di hadapannya dengan kemeja rapi yang baru saja dikancingkan. Suasana pagi itu langsung menegang ketika topik yang dihindari akhirnya terucap dari bibir sang istri.Btari meremas ujung kain bajunya, menelan ludah susah payah sebelum kembali memberanikan diri menatap suaminya. "Mas... Ibu mengirim pesan, dan Sari bilang beliau sedang ada di Jakarta. Aku... aku hanya ingin meminta izin untuk menemuinya sebentar saja," ucap Btari dengan suara bergetar, memancarkan permohonan yang kentara di matanya.Ararya menghentikan gerakannya. Pria itu menoleh perlahan, sorot matanya yang tajam langsung mengunci pergerakan Btari. Alih-alih melunak, rahang Ararya justru mengeras, dan aura dingin langsung mendominasi ruangan."Kau ingin menemuinya?" Ara
Desahan serta erangan manja lolos begitu saja dari bibir Btari. Sensasi menggelitik yang tercipta dari gerakan jemarinya sendiri berpadu dengan pemandangan visual yang teramat vulgar di hadapannya, merontokkan seluruh sisa pertahanan kewarasannya.Di bawah pendar lampu kamar yang temaram, mata Btari terpaku pada tangan Ararya yang bergerak naik-turun secara berirama, mengurut miliknya sendiri dengan tatapan mata yang menggelap penuh nafsu. Pemandangan itu justru menjadi bahan bakar tambahan yang memicu api liarnya semakin membakar.Tanpa memedulikan rasa malu yang sedari tadi mengekang, Btari mengubah posisinya. Ia menggeser tubuhnya hingga duduk menghadap penuh ke arah sang suami, merentangkan kedua kakinya dan menangkup sisi wajah Ararya dengan kedua tangannya yang sedikit bergetar."Mas..." bisik Btari serak, napasnya memburu panas. "Mendekatlah..."Ararya menuruti instruksi itu tanpa membantah. Ia merayap maju, membiarkan tubuhnya berada dalam kendali sang istri. Belum sempat Arar
Lampu meja kerja di sudut kamar memancarkan pendar berawarna kuning hangat, menciptakan bayangan panjang Ararya yang masih sibuk membolak-balik lembar dokumen terakhir. Namun, begitu derap langkah berbalut suara hak tinggi berketukan tajam terdengar mendekat dari arah walk-in closet, jemari pria itu di atas meja seketika terhenti.Ararya tidak langsung menoleh. Ia tahu betul suara langkah itu, tetapi aura yang mengikutinya terasa sangat berbeda—jauh lebih berani, memikat, dan menantang kewarasannya.Btari berdiri di ambang batas ruangan, menampilkan dirinya seutuhnya. Renda hitam dan motif macan tutul yang memeluk tubuhnya berpadu sempurna dengan garter belt dan stocking tinggi yang membungkus jenjang pahanya. Bibirnya menyala merah menggoda, dan posturnya terlihat jauh lebih percaya diri di atas sepasang heels lancip.Ararya perlahan memutar kursi kerjanya. Detik berikutnya, napas pria itu tertahan di tenggorokan. Rahangnya mengeras seketika, dan sorot mata gelapnya berubah menjadi t
Ararya tidak memiliki waktu untuk bernegosiasi. Tekanan dari Raden Mahendra dan bayang-bayang kehancuran Bimantara Group yang disampaikan Pak Wiryo membuatnya bertindak di luar nalar. Sebelum Btari sempat menutup pagar, tangan kekar Ararya sudah lebih dulu mencekal pergelangan tangan wanita itu den
Matahari sudah merangkak naik, menyelinap melalui celah-celah ventilasi kamar kos Btari. Namun, sang pemilik kamar masih enggan melepaskan diri dari dekapan selimut tebalnya. Matanya terasa berat dan perih, sisa dari tangisan semalam yang menguras seluruh energinya. Bagi Btari, hari ini bukan lagi
Langkah kaki Btari terasa berat, seolah setiap jengkal trotoar yang ia lewati menahan kepergiannya dari kawasan segitiga emas Jakarta itu. Kardus di pelukannya terasa kian membebani, bukan karena isinya, melainkan karena harga diri yang remuk di dalamnya. Angin siang disela-sela terik matahari m
Blam! Pintu kaca ruangan CEO itu bergetar hebat saat Btari menghempaskannya dengan seluruh sisa tenaga. Napasnya memburu, paru-parunya terasa terbakar bukan karena lelah, melainkan karena amarah yang mendidih hingga ke ubun-ubun. Tanpa memedulikan tatapan bingung para staf di kubikel luar, Btari







