登入Dipecat dan dipermalukan oleh CEO arogan bernama Ararya Saguna Bimantara, Btari Ayu Nareswari tak pernah menyangka pria itu akan kembali dan memintanya menikah demi sebuah ramalan weton yang dipercaya bisa menyelamatkan keluarganya dari kehancuran. Di balik pernikahan kontrak yang terlihat sempurna, Btari justru terseret ke dalam rahasia kelam keluarga Bimantara, intrik perebutan kekuasaan, dan masa lalu yang kembali mengancam hidupnya. Namun saat cinta mulai tumbuh di antara mereka, Ararya harus memilih—mematuhi takdir yang menyelamatkannya atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dulu ia hancurkan.
查看更多Ararya berdiri tegak di belakang Btari, lengannya yang kokoh melingkar di pinggang sang istri dengan protektif, sementara tatapannya yang tajam bak elang menyapu dapur yang mendadak sedingin es. Sita dan Rina gemetar hebat, kepala mereka menunduk dalam, bahkan tidak berani bernapas lebih keras.Btari merasakan otot pinggangnya menegang karena sentuhan Ararya. Ia tahu, meskipun ia berusaha menutupi dengan nada bicara yang tegas tadi, Ararya sudah pasti menangkap sisa-sisa ketegangan di ruangan ini."Tidak ada apa-apa, Mas," ujar Btari cepat, berusaha tersenyum meski sudut bibirnya terasa kaku. "Hanya... ada sedikit kesalahpahaman soal memotong sayuran. Sita dan Rina hanya sedikit... kurang teliti saja."Ararya tidak langsung menjawab. Ia justru mempererat pelukannya, jemarinya yang besar meremas pinggang Btari dengan posesif, seolah ingin menegaskan kepada siapa pun di ruangan itu bahwa wanita di pelukannya adalah miliknya yang sah. Ia mengabaikan jawaban Btari dan terus menatap dua pe
Satu jam setelah badai gairah yang meluluhlantakkan isi ruang kerja itu, mansion kembali sunyi. Hanya ada suara gesekan kertas yang dikumpulkan oleh Btari.Ia berdiri di samping meja eksekutif yang kini tampak kembali rapi, meski di sudut hatinya, ia tahu meja itu baru saja menjadi altar bagi obsesi suaminya. Btari mengenakan blus putih bersih dan celana kain yang ia ambil dari walk-in closet. Rambutnya yang tadi berantakan kini sudah tersanggul rapi kembali, namun sisa-sisa kemerahan di leher dan bahunya menjadi saksi bisu tentang apa yang terjadi tepat di titik ia berdiri sekarang."Gila," gumam Btari sambil memunguti lembaran laporan keuangan yang sempat terlempar ke lantai. "Benar-benar nggak waras."Ia merapikan tumpukan kertas itu dengan gerakan kasar, menggerutu tanpa henti. "Tadi bilang ada meeting kontrak, tadi bilang ada dokumen penting yang harus selesai, tapi ujung-ujungnya meja ini malah jadi tempat dia melampiaskan kegilaannya. Dasar pria nggak bisa nahan dikit aja napa!
Rancauan Btari pecah di sela-sela napasnya yang putus asa. Suaranya yang biasanya formal dan terkendali kini berubah menjadi lenguhan-lenguhan rendah yang tak lagi ia pedulikan. Ia mencengkeram tumpukan berkas di atas meja hingga kertas-kertas itu kusut tak karuan, sementara tubuhnya bergetar hebat menerima serangan ganda dari lidah dan jari Ararya."Mas... Ararya... berhenti... ah, tidak, jangan berhenti! Aku... aku tidak kuat!" rintih Btari, kepalanya tertunduk menatap Ararya yang sedang tenggelam dalam gairahnya.Ararya menghentikan gerakannya sejenak, menatap istrinya dengan sorot mata yang penuh kemenangan. Ia menarik jari-jarinya keluar dengan suara basah yang erotis, lalu memutar tubuh Btari hingga kini istrinya terduduk di atas meja kerja, dengan kedua kaki yang terbuka lebar dan bergetar hebat. Ararya menarik kursinya mendekat, menempatkan dirinya tepat di antara celah paha Btari.Pemandangan di depannya—milik Btari yang terbuka, basah, dan tampak begitu memohon—membuat napas
Matahari pagi di Jakarta menyelinap masuk melalui celah gorden tebal kamar utama mansion, namun bagi Btari, pagi ini bukan berarti kebebasan. Ia terduduk di kursi kerja kayu jati yang berada di sudut ruangan, menghadap laptop. Di hadapannya, Ararya sudah duduk di balik meja kerja eksekutifnya sendiri, tampak begitu serius dengan setumpuk berkas Bimantara Group yang harus ia periksa.Mansion yang megah itu mendadak berubah menjadi kantor privat. Ararya menolak untuk kembali ke gedung pusat sebelum urusan kontrak kerja samanya selesai, dan ia memaksa Btari untuk menemaninya—bukan sebagai sekretaris, melainkan sebagai "penenang" di sisinya.Btari menghela napas, jemarinya lincah mengetik laporan keuangan, namun fokusnya terpecah. Terutama karena setiap sepuluh menit sekali, Ararya akan melakukan "interupsi".Ararya berdiri, berjalan memutari meja, dan tanpa sepatah kata pun, ia menyandarkan tubuhnya di belakang kursi Btari. Tangan pria itu dengan luwes menjalar dari pundak, meremas lembu
Ararya tidak memiliki waktu untuk bernegosiasi. Tekanan dari Raden Mahendra dan bayang-bayang kehancuran Bimantara Group yang disampaikan Pak Wiryo membuatnya bertindak di luar nalar. Sebelum Btari sempat menutup pagar, tangan kekar Ararya sudah lebih dulu mencekal pergelangan tangan wanita itu den
Matahari sudah merangkak naik, menyelinap melalui celah-celah ventilasi kamar kos Btari. Namun, sang pemilik kamar masih enggan melepaskan diri dari dekapan selimut tebalnya. Matanya terasa berat dan perih, sisa dari tangisan semalam yang menguras seluruh energinya. Bagi Btari, hari ini bukan lagi
Langkah kaki Btari terasa berat, seolah setiap jengkal trotoar yang ia lewati menahan kepergiannya dari kawasan segitiga emas Jakarta itu. Kardus di pelukannya terasa kian membebani, bukan karena isinya, melainkan karena harga diri yang remuk di dalamnya. Angin siang disela-sela terik matahari m
Blam! Pintu kaca ruangan CEO itu bergetar hebat saat Btari menghempaskannya dengan seluruh sisa tenaga. Napasnya memburu, paru-parunya terasa terbakar bukan karena lelah, melainkan karena amarah yang mendidih hingga ke ubun-ubun. Tanpa memedulikan tatapan bingung para staf di kubikel luar, Btari
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
評論