Bos yang Memecatku, Kini Memaksaku Jadi Istrinya

Bos yang Memecatku, Kini Memaksaku Jadi Istrinya

last updateLast Updated : 2026-05-15
By:  Mitha CotyUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
23Chapters
136views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Dipecat dan dipermalukan oleh CEO arogan bernama Ararya Saguna Bimantara, Btari Ayu Nareswari tak pernah menyangka pria itu akan kembali dan memintanya menikah demi sebuah ramalan weton yang dipercaya bisa menyelamatkan keluarganya dari kehancuran. Di balik pernikahan kontrak yang terlihat sempurna, Btari justru terseret ke dalam rahasia kelam keluarga Bimantara, intrik perebutan kekuasaan, dan masa lalu yang kembali mengancam hidupnya. Namun saat cinta mulai tumbuh di antara mereka, Ararya harus memilih—mematuhi takdir yang menyelamatkannya atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dulu ia hancurkan.

View More

Chapter 1

Pemecatan

"Sudah berapa kali saya katakan, cek dulu sebelum kamu mengirim laporan itu!"

Suara bariton itu menggelegar, membelah kesunyian ruang kerja CEO Bimantara Group yang biasanya sedingin es.

Belum sempat Btari Ayu Nareswari menarik napas untuk membela diri, seberkas dokumen tebal melayang di udara sebelum akhirnya mendarat kasar di atas lantai marmer, berhamburan tepat di depan ujung sepatu kerja Btari.

Btari mematung. Jemarinya yang bertaut di depan tubuh gemetar hebat. Ia hanya mampu menundukkan wajahnya dalam-dalam, menatap lembaran kertas yang kini kotor terinjak bayangannya sendiri.

"Maaf, Pak Ararya. Saya sudah memeriksa data itu tiga kali semalam, tapi—"

"Tapi apa? Tapi kamu ceroboh?" Ararya Saguna Bimantara memotong dengan nada merendahkan.

Pria itu berdiri dari kursi kebesarannya, melangkah mengitari meja kerja kayu ek yang kokoh. Setiap langkah sepatunya yang mengilat terdengar seperti dentang lonceng kematian bagi karier Btari.

Ararya berhenti tepat di depan Btari. Aroma parfum sandalwood yang mahal dan maskulin menyerbu indra penciuman Btari, namun alih-alih menenangkan, aroma itu justru terasa mencekik, membuat ia seakan sesak napas.

"Nilai investasi di sub-bab empat meleset nol koma lima persen. Kamu tahu artinya itu bagi saya? Itu artinya saya terlihat seperti amatir di depan dewan komisaris besok pagi!" Ararya mencengkeram pinggiran meja, tubuhnya condong ke arah Btari. Aura pria ini benar-benar mengintimidasi. "Kamu adalah karyawan dengan performa terbaik di departemen audit, Btari. Begitu kata HRD. Tapi melihat sampah yang kamu berikan ini, saya rasa mereka salah menilai orang."

Btari menggigit bibir dalamnya, berusaha sekuat tenaga menahan panas yang mulai menjalar di kelopak matanya. Ia ingin mengatakan bahwa ia baru saja kehilangan waktu tidur karena harus mengurus ibunya yang sakit, atau tentang sistem internal perusahaan yang sempat glitch malam itu. Namun, ia tahu Ararya bukan pria yang menerima begitu saja alasan. Di mata Ararya, hanya ada hasil sempurna atau kegagalan total.

"Saya akan segera memperbaikinya, Pak. Berikan saya waktu satu jam—"

"Satu jam?" Ararya tertawa sumbang, sebuah tawa yang tidak mencapai matanya yang tajam dan kelam. "Waktu saya lebih berharga daripada satu jam untuk menunggu seorang karyawan amatir memperbaiki kecerobohannya. Kesalahan sekecil apa pun di Bimantara Group adalah pengkhianatan terhadap standar saya."

Ararya kembali ke kursinya, lalu menyandarkan punggung dengan gaya angkuh. Ia menatap Btari seolah wanita itu hanyalah debu yang mengganggu pemandangan di kantor mewahnya yang menghadap langsung ke gedung-gedung pencakar langit Jakarta.

"Keluar, Btari. Dan jangan kembali ke meja kerja kamu. Saya sudah mengirimkan memo ke bagian personalia. Kamu dibebastugaskan mulai detik ini."

Dunia Btari seolah runtuh. Ia mendongak, matanya yang berkaca-kaca kini bertemu dengan tatapan Ararya yang sedingin kutub. "Pak, tolong... ini kesalahan pertama saya selama tiga tahun. Saya mohon kebijakan Anda."

"Kebijakan saya adalah efisiensi. Dan kamu," Ararya menunjuk dokumen yang berserakan di lantai dengan dagunya, "sudah tidak lagi efisien bagi saya."

Btari terdiam, tenggorokannya tercekat. Di tengah kehancuran harga dirinya, ia tidak tahu bahwa di balik kemarahan Ararya yang meluap-luap, pria itu sebenarnya sedang menyembunyikan kegelisahan yang lebih besar—tentang nasib perusahaannya yang mulai goyah.

Kata "dibebastugaskan" berdenging di telinga Btari, lebih kencang dari suara bising mesin fotokopi yang pernah ia perbaiki di tengah malam demi laporan ini. Tiga tahun. Tiga tahun ia berikan hidupnya untuk Bimantara Group, mengorbankan waktu tidur, kesehatan, dan kehidupan sosial, hanya untuk diinjak-injak seperti serangga tak berarti di bawah sepatu mengilat pria di hadapannya.

Btari menatap dokumen yang berserakan di lantai. Setiap lembar kertas itu adalah jejak air mata dan peluhnya. Dan sekarang, laporan itu hanya sampah. Harga dirinya baru saja diturunkan secara paksa hanya karena nol koma lima persen kesalahan administratif.

Rasa hormat yang selama ini ia jaga, benteng profesionalisme yang ia bangun dengan susah payah, runtuh seketika. Menguap, digantikan oleh gelombang amarah yang panas dan pekat.

"Dia sudah memecatku. Aku tidak punya beban apa pun lagi di sini," pikir Btari, matanya memicing tajam.

Btari perlahan mendongakkan kepalanya. Ia tidak lagi menunduk. Ia menatap Ararya dengan pandangan lurus, menembus manik mata cokelat gelap pria itu.

Ararya Saguna Bimantara. Pria itu berdiri di balik meja jatinya yang luas, terlihat begitu berkuasa dalam balutan setelan jas berwarna hitam pekat yang dijahit sempurna, menampilkan siluet tubuhnya yang gagah dan kaku. Rambut hitam pekatnya yang panjang diikat rapi ke belakang dalam kunciran man-bun yang maskulin, memberikan kesan rapi namun liar. Ada pin emas kecil yang berkilau di kerah jas-nya, sebuah simbol status yang kini terasa sangat memuakkan di mata Btari.

Visual Ararya saat ini benar-benar definisi dari keangkuhan korporat yang bersembunyi di balik kemasan adat yang elegan.

"Ada lagi yang ingin Anda sampaikan, Pak Ararya Saguna Bimantara?" tanya Btari. Suaranya tidak lagi gemetar.

Ararya sedikit tersentak. Ia terbiasa melihat karyawan yang gemetar ketakutan atau memohon-mohon saat ia pecat. Tidak ada yang pernah menatapnya berani seperti ini.

"Keluar," jawab Ararya singkat, nada suaranya tak kalah dingin, meskipun ada sedikit kilatan heran di matanya.

Btari tersenyum. Sebuah senyum miring yang penuh penghinaan. Ia melangkah satu langkah maju, tidak peduli lagi dengan aturan jarak sosial atau SOP perusahaan.

"Tentu saja saya akan keluar. Menghirup udara yang sama dengan Anda selama tiga tahun ini adalah polusi terburuk dalam hidup saya," desis Btari.

"Btari, jaga bicara—"

"Jaga bicara?" Btari memotong, tertawa sumbang. "Saya sudah tidak bekerja di sini, Ararya. Tidak satu detik pun saya berutang rasa hormat pada pria angkuh seperti Anda."

Btari menunjuk dokumen di lantai dengan jari telunjuknya yang gemetar karena amarah. "Laporan itu adalah hasil terbaik saya. Tapi Anda... Anda hanya seorang CEO pengecut yang takut pada kegagalan kecil karena Anda tahu kehebatan Anda hanya sebatas warisan keluarga, bukan usaha sendiri."

Wajah Ararya mengeras. Rahangnya mengatup rapat, urat-urat di lehernya menegang di balik kerah kemejanya. Pin emas di kerahnya seolah ikut gemetar menahan amarahnya.

"Anda," Btari melanjutkan dengan suara yang semakin meninggi, melepaskan semua beban yang selama ini ia kunci, "adalah manusia paling menyedihkan yang pernah saya temui. Saya harap semua kekayaan dan kekuasaan yang Anda agung-agungkan itu akan runtuh bersama keangkuhan Anda. Semoga Anda merasakan bagaimana rasanya menjadi debu di bawah kaki orang lain."

"Cukup!" bentak Ararya, melangkah maju dari balik mejanya, matanya menyalang penuh amarah.

Tapi Btari sudah selesai. Ia tidak memberikan Ararya kesempatan untuk membalas. Dengan sekali sentakan, ia membalikkan tubuhnya, meninggalkan Ararya yang mematung dengan wajah kaku di tengah ruangannya yang mewah.

"Sumpah saya, Ararya Saguna Bimantara, suatu hari nanti Anda akan merangkak kembali pada saya," gumam Btari pelan saat ia melangkah keluar pintu kaca besar itu, membiarkan pintu itu menutup dengan dentuman pelan, menandai akhir dari satu babak kehidupannya dan awal dari permainan takdir yang hanya Tuhan yang tau.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
23 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status