LOGINDipecat dan dipermalukan oleh CEO arogan bernama Ararya Saguna Bimantara, Btari Ayu Nareswari tak pernah menyangka pria itu akan kembali dan memintanya menikah demi sebuah ramalan weton yang dipercaya bisa menyelamatkan keluarganya dari kehancuran. Di balik pernikahan kontrak yang terlihat sempurna, Btari justru terseret ke dalam rahasia kelam keluarga Bimantara, intrik perebutan kekuasaan, dan masa lalu yang kembali mengancam hidupnya. Namun saat cinta mulai tumbuh di antara mereka, Ararya harus memilih—mematuhi takdir yang menyelamatkannya atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dulu ia hancurkan.
View MoreSari masih terpaku di depan layar monitornya yang sepenuhnya sudah gelap. Pikirannya tidak di sana. Kata-kata Nadira dan antek-anteknya di toilet bebwrapa waktu lalu terus terngiang seperti kaset rusak. "Wanita rendahan, parasit, nggak punya harga diri."Sari tahu Btari kuat, tapi mendengar sahabatnya dihina sebegitu kejamnya membuat dadanya sesak. Ia bimbang, antara menceritakan atau memilih diam. Jika ia bercerita, Btari pasti akan meledak atau lebih buruknya lagi akan terjadi keributan dan pastinya, hatinya hancur. Jika tidak cerita, ia merasa mengkhianati persahabatan mereka.Tiba-tiba, sebuah tepukan di bahu membuyarkan lamunannya."Nggak pulang? Ayo pulang," suara Btari terdengar renyah, meski ada gurat kelelahan di matanya. Ia sudah berdiri di samping meja Sari dengan tas kantor yang tersampir rapi di bahunya.Sari tersentak, mengerjap-erjap bingung. "Emang udah jam berapa?"Btari menggeleng-gelengkan kepala, lalu melirik jam tangan peraknya. "Astaga, udah jam lima lewat lima
Suasana di dalam ruangan luas itu mendadak hening, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan dan bunyi gesekan pena di atas kertas. Ararya menyandarkan punggungnya pada kursi kulit, sementara ponsel di atas meja bergetar hebat. Nama "Romo" tertera di layar. Tak lain dan tidak bukan yang menelepon adalah ayah kandungnya. Ararya meraih ponselnya, namun matanya tidak sedetik pun beralih dari sosok Btari yang kini duduk tepat di hadapannya. Atas perintah Ararya yang tidak bisa dibantah, Btari terpaksa mengerjakan laporan vendor di meja tamu yang terletak persis di depan meja kerja Ararya. Jarak mereka hanya terpaut beberapa meter, cukup dekat bagi Ararya untuk mengawasi setiap gerak-gerik, kerutan di dahi, hingga helaan napas kesal istrinya itu."Ya, Romo," ucap Ararya saat mengangkat telepon. Suaranya berubah menjadi lebih berat dan penuh hormat, meski tatapannya pada Btari tetap tajam dan mengunci.Btari berusaha fokus pada angka-angka di layar laptopnya, namun ia bisa merasakan se
Btari berjalan dengan langkah menghentak, mengabaikan Bima yang berdiri mematung di dekat lift dengan tatapan penuh simpati. Ia bahkan tidak menoleh saat Bima mencoba membuka mulut untuk menenangkan keadaan. Baginya, setiap detik yang ia habiskan untuk melihat wajah-wajah orang di gedung ini hanya menambah bahan bakar pada api amarahnya.Ararya menyusul beberapa langkah di belakangnya, auranya masih gelap, sama seperti wanita yang sebelumnya melewati dirinya. Namun, alih-alih langsung masuk ke dalam ruangannya, Ararya mendadak berhenti tepat di depan meja Btari. Ia berdiri dengan angkuh, kedua tangannya masuk ke dalam saku celana bahan mahalnya."Bawa laporan analisis vendor dan jadwal rapat direksi untuk bulan depan ke dalam. Sekarang," perintah Ararya tanpa menoleh, suaranya sedingin es.Btari yang baru saja mendaratkan bokongnya di kursi kerja, menarik napas dalam-dalam. Tangannya gemetar menahan geram. Tanpa suara, ia menyambar beberapa map plastik tebal yang berada di sudut mejan
Btari berjalan dengan langkah menghentak, mengabaikan Bima yang berdiri mematung di dekat lift dengan tatapan penuh simpati. Ia bahkan tidak menoleh saat Bima mencoba membuka mulut untuk menenangkan keadaan. Baginya, setiap detik yang ia habiskan untuk melihat wajah-wajah orang di gedung ini hanya menambah bahan bakar pada api amarahnya.Ararya menyusul beberapa langkah di belakangnya, auranya masih gelap, sama seperti wanita yang sebelumnya melewati dirinya. Namun, alih-alih langsung masuk ke dalam ruangannya, Ararya mendadak berhenti tepat di depan meja Btari. Ia berdiri dengan angkuh, kedua tangannya masuk ke dalam saku celana bahan mahalnya."Bawa laporan analisis vendor dan jadwal rapat direksi untuk bulan depan ke dalam. Sekarang," perintah Ararya tanpa menoleh, suaranya sedingin es.Btari yang baru saja mendaratkan bokongnya di kursi kerja, menarik napas dalam-dalam. Tangannya gemetar menahan geram. Tanpa suara, ia menyambar beberapa map plastik tebal yang berada di sudut mejan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.