Bought by the Devil CEO

Bought by the Devil CEO

last updateLast Updated : 2026-03-09
By:  Shmoukh Ongoing
Language: English
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
70Chapters
397views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

I married Adrian Blackwood to survive. He married me for revenge. Adrian Blackwood is a ruthless CEO powerful, cold, and untouchable. Our marriage was never about love. It was a contract designed to punish a family that destroyed his past, and I was the price they had to pay. Trapped in a life of control, secrets, and psychological warfare, I quickly learned that surviving Adrian was harder than fearing him. Every rule he set was meant to break me. Every silence hid another truth. But when enemies rise and buried crimes begin to surface, the line between hatred and protection starts to blur. Loving him could destroy me. Leaving him might kill me. This is not a sweet romance. It is a dark story of power, obsession, and the painful cost of redemption.

View More

Chapter 1

The Contract

Bab 1

“Aku akan menceraikannya. Aku hanya mencintaimu.”

Suara Calvin Ashford terdengar jelas.

Camelia Collyn membeku di balik pintu ruang VIP yang sedikit terbuka di sebuah club. Jemarinya mencengkeram gagang tas kecil di sisi tubuhnya hingga memucat, pundaknya menegang tanpa sadar. Ia baru saja tiba, berniat memberi kejutan kecil—sebuah kue yang masih ia pegang karena hari ini adalah anniversary pernikahan mereka yang ketiga.

Namun kalimat yang ia dengar barusan menghantam dadanya tanpa ampun, membuat napasnya tertahan di tenggorokan.

Ia sangat mengenali suara itu. Suara yang selama tiga tahun menjadi bagian dari hidupnya, meski hampir tak pernah diberikan padanya dengan kehangatan.

Perlahan, Camelia melangkah mendekat, hanya satu langkah, cukup untuk melihat ke dalam. Calvin berdiri menghadap seorang wanita dengan rambut panjang terurai rapi, wajah cantik dengan senyum lembut yang terasa menyakitkan di mata Camelia.

“Benarkah?” tanya Samantha pelan dengan nada manja. “Lalu bagaimana dengan istrimu?”

Calvin mendengus kecil, ekspresinya datar seolah pertanyaan itu tidak penting. “Sudah aku katakan, sejak awal ia hanya pengganti,” jawabnya ringan, tanpa ragu. “Aku menikahinya karena terpaksa. Kalau tiga tahun lalu kamu tidak pergi, aku tidak akan pernah menikah dengannya.”

Tenggorokan Camelia terasa kering. Ujung jarinya bergetar, tapi ia memaksa dirinya tetap diam, bahkan untuk bernapas pun terasa sulit.

Calvin melanjutkan, suaranya lebih mantap, seolah sedang menyatakan sesuatu yang sudah lama ia yakini. “Percayalah. Selama tiga tahun ini, aku menjaga hati dan tubuhku hanya untukmu. Aku tahu suatu saat kamu akan kembali. Itu alasan aku selama tiga tahun tidak menyentuhnya.”

Kalimat itu seperti pisau yang mengiris perlahan. Tiga tahun—tiga tahun ia mencoba menjadi istri yang sempurna, menjaga sikap, menahan harapan, meyakinkan dirinya bahwa jarak di antara mereka hanyalah soal waktu.

Tapi ternyata bukan. Ia hanya pengganti, dan bahkan tanpa ia sadari, suaminya sudah menentukan akhir dari pernikahan ini.

Camelia tidak bergerak saat Samantha tersenyum dan melangkah mendekat. Ia melihat jelas ketika wanita itu berjinjit dan mengecup pipi Calvin.

Ia melihat tidak ada penolakan dari suaminya. Calvin justru tersenyum—senyum yang tidak pernah ia dapatkan. Jari-jari Camelia mengepal, kukunya menekan telapak tangan hingga terasa nyeri, tapi rasa itu kalah jauh dibanding sesak di dadanya. Ia ingin masuk, ingin bertanya, ingin menghancurkan semuanya, tetapi kakinya terasa berat, seolah tertanam di lantai. Akhirnya ia mundur satu langkah, lalu satu lagi, sebelum berbalik tanpa suara.

Di luar, udara malam terasa dingin meski tidak hujan. Camelia berjalan cepat menuju mobilnya, membuka pintu, lalu duduk tanpa langsung menyalakan mesin. Dadanya naik turun, napasnya tidak teratur, matanya panas tetapi tidak ada air mata yang jatuh.

“Sudah cukup,” gumamnya pelan. Kata-kata Calvin kembali terngiang di kepalanya—menjaga hati dan tubuh hanya untuk wanita lain. Camelia tertawa kecil, pahit. Jadi itu alasannya. Bukan karena ia kurang, bukan karena ia gagal, tapi karena semua itu memang tidak pernah ditujukan untuknya.

“BRENGSEK! KAU LAKI-LAKI BAJINGAN CALVIN ASHFORD!” teriaknya, tangannya menghantam setir sekali dengan keras.

Ia menarik napas panjang, menghapus sudut matanya dengan kasar. Tidak ada gunanya menangisi laki-laki seperti Calvin. Ia menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan tempat itu, lampu kota memanjang di balik kaca depan sementara pikirannya dipenuhi kenangan yang tidak ingin ia ingat.

Sepuluh tahun?

Ia tersenyum tipis tanpa suara. Sepuluh tahun lalu, Calvin Ashford pernah menyelamatkannya saat hampir tenggelam di laut. Saat itu ia panik, kehilangan arah, lalu pria itu menariknya ke permukaan, memeluknya agar tetap bernapas.

“Pegang aku. Jangan lepaskan.”

Sejak hari itu, Camelia tidak pernah benar-benar melepaskannya. Cinta yang ia simpan diam-diam selama sepuluh tahun kini terasa seperti lelucon kejam.

“Lucu sekali,” gumamnya lirih.

Camelia sampai di rumah, menutup pintu, lalu meletakkan tas dan kotak kue yang masih utuh di atas meja. Ia menatapnya sejenak sebelum memalingkan wajah. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah ke kamar mandi. Air hangat mengalir membasahi tubuhnya, ia menyandarkan dahi ke dinding keramik, membiarkan air jatuh di punggungnya sementara pikirannya perlahan menjadi lebih jernih.

“Menjaga hati dan tubuh…” ucapnya lirih, menirukan suara Calvin, sudut bibirnya terangkat tipis, bukan senyum, lebih seperti ejekan. “Baiklah… kalau begitu, malam ini kita akhiri semuanya Tuan Calvin.”

Ia menggosok tubuhnya perlahan, aroma sabun memenuhi ruangan, lembut dan hangat.

Setelah selesai, ia berdiri di depan cermin, rambutnya masih basah, kulitnya bersih, dan tatapannya berubah—dingin, tegas. “Aku sudah cukup bersabar. Dan maaf, kesabaranku sudah habis.”

Ia membuka lemari, mengambil gaun tidur tipis berwarna maroon yang jatuh mengikuti lekuk tubuhnya, lalu memakainya tanpa ragu. Setetes parfum ia semprotkan di pergelangan tangan dan belakang telinga, aromanya lembut namun memikat.

Tak lama, langkah kaki terdengar dari luar. Pintu kamar terbuka, dan Calvin masuk sambil melonggarkan dasinya, lalu berhenti ketika melihat Camelia.

“Kau belum tidur?” tanyanya datar.

Camelia menoleh perlahan, senyum kecil muncul di bibirnya tidak seperti biasanya.

“Apakah kamu lupa? Hari ini anniversary kita,” jawabnya tenang sambil berdiri. “Aku menunggumu.”

Calvin mengernyit, pandangannya turun sejenak sebelum kembali naik, terlihat tidak nyaman. “Oh, maaf, aku lupa. Aku lelah, tidak ada waktu untuk merayakannya.”

Camelia melangkah mendekat, gerakannya pelan dan pasti. “Lelah?” ulangnya, berhenti tepat di depannya. “Aku juga lelah… sangat lelah.”

Calvin menghela napas. “Kalau begitu istirahat saja.”

“Tidak mau,” jawab Camelia lembut. “Aku ingin merayakannya.”

Tatapan mereka bertemu, Calvin terlihat tidak sepenuhnya tenang. Jari Camelia terangkat, menyentuh bibir Calvin, turun perlahan ke leher lalu ke dadanya.

“Camelia… jangan menggodaku.” Suara Calvin lebih berat dari sebelumnya.

Camelia tersenyum tipis. “Aku hanya ingin merayakan anniversary kita.”

Calvin memalingkan wajah. “Aku tidak ingin.”

Camelia tidak membalas. Ia berbalik, berjalan ke meja kecil, mengambil segelas air yang sudah ia siapkan. Tangannya stabil. Ia menoleh kembali, tatapannya tajam.

“Bukankah kau pernah bilang… kita harus mencoba lebih keras sebagai suami istri?”

Calvin menatapnya. “Apa maksudmu?”

Camelia mengangkat bahu ringan. “Tidak ada. Aku hanya ingin jadi istri yang baik. Setidaknya untuk malam ini.” Ia mengangkat gelas itu sedikit, matanya tidak pernah lepas dari Calvin.

“Sudahlah, Camelia! Jangan terus menggodaku! Aku tidak akan pernah tergoda,” ucap Calvin, namun rahangnya mengeras, tenggorokannya bergerak menelan ludah.

Camelia melihat itu dengan jelas. Ia melangkah mendekat lagi, kini tanpa jarak, lengannya melingkar di tengkuk Calvin. “Apakah salah jika aku menggoda suamiku sendiri?” bisiknya sebelum mencium bibir Calvin sekilas.

Sentuhan singkat itu cukup untuk mengubah segalanya.

“CAMELIA COLLYN!” suara Calvin meninggi, napasnya berat. “BAIK! JIKA INI YANG KAU MAU, MAKA AKU AKAN MEWUJUDKANNYA!”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
70 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status