LOGINI married Adrian Blackwood to survive. He married me for revenge. Adrian Blackwood is a ruthless CEO powerful, cold, and untouchable. Our marriage was never about love. It was a contract designed to punish a family that destroyed his past, and I was the price they had to pay. Trapped in a life of control, secrets, and psychological warfare, I quickly learned that surviving Adrian was harder than fearing him. Every rule he set was meant to break me. Every silence hid another truth. But when enemies rise and buried crimes begin to surface, the line between hatred and protection starts to blur. Loving him could destroy me. Leaving him might kill me. This is not a sweet romance. It is a dark story of power, obsession, and the painful cost of redemption.
View MoreBab 1
“Aku akan menceraikannya. Aku hanya mencintaimu.” Suara Calvin Ashford terdengar jelas. Camelia Collyn membeku di balik pintu ruang VIP yang sedikit terbuka di sebuah club. Jemarinya mencengkeram gagang tas kecil di sisi tubuhnya hingga memucat, pundaknya menegang tanpa sadar. Ia baru saja tiba, berniat memberi kejutan kecil—sebuah kue yang masih ia pegang karena hari ini adalah anniversary pernikahan mereka yang ketiga. Namun kalimat yang ia dengar barusan menghantam dadanya tanpa ampun, membuat napasnya tertahan di tenggorokan. Ia sangat mengenali suara itu. Suara yang selama tiga tahun menjadi bagian dari hidupnya, meski hampir tak pernah diberikan padanya dengan kehangatan. Perlahan, Camelia melangkah mendekat, hanya satu langkah, cukup untuk melihat ke dalam. Calvin berdiri menghadap seorang wanita dengan rambut panjang terurai rapi, wajah cantik dengan senyum lembut yang terasa menyakitkan di mata Camelia. “Benarkah?” tanya Samantha pelan dengan nada manja. “Lalu bagaimana dengan istrimu?” Calvin mendengus kecil, ekspresinya datar seolah pertanyaan itu tidak penting. “Sudah aku katakan, sejak awal ia hanya pengganti,” jawabnya ringan, tanpa ragu. “Aku menikahinya karena terpaksa. Kalau tiga tahun lalu kamu tidak pergi, aku tidak akan pernah menikah dengannya.” Tenggorokan Camelia terasa kering. Ujung jarinya bergetar, tapi ia memaksa dirinya tetap diam, bahkan untuk bernapas pun terasa sulit. Calvin melanjutkan, suaranya lebih mantap, seolah sedang menyatakan sesuatu yang sudah lama ia yakini. “Percayalah. Selama tiga tahun ini, aku menjaga hati dan tubuhku hanya untukmu. Aku tahu suatu saat kamu akan kembali. Itu alasan aku selama tiga tahun tidak menyentuhnya.” Kalimat itu seperti pisau yang mengiris perlahan. Tiga tahun—tiga tahun ia mencoba menjadi istri yang sempurna, menjaga sikap, menahan harapan, meyakinkan dirinya bahwa jarak di antara mereka hanyalah soal waktu. Tapi ternyata bukan. Ia hanya pengganti, dan bahkan tanpa ia sadari, suaminya sudah menentukan akhir dari pernikahan ini. Camelia tidak bergerak saat Samantha tersenyum dan melangkah mendekat. Ia melihat jelas ketika wanita itu berjinjit dan mengecup pipi Calvin. Ia melihat tidak ada penolakan dari suaminya. Calvin justru tersenyum—senyum yang tidak pernah ia dapatkan. Jari-jari Camelia mengepal, kukunya menekan telapak tangan hingga terasa nyeri, tapi rasa itu kalah jauh dibanding sesak di dadanya. Ia ingin masuk, ingin bertanya, ingin menghancurkan semuanya, tetapi kakinya terasa berat, seolah tertanam di lantai. Akhirnya ia mundur satu langkah, lalu satu lagi, sebelum berbalik tanpa suara. Di luar, udara malam terasa dingin meski tidak hujan. Camelia berjalan cepat menuju mobilnya, membuka pintu, lalu duduk tanpa langsung menyalakan mesin. Dadanya naik turun, napasnya tidak teratur, matanya panas tetapi tidak ada air mata yang jatuh. “Sudah cukup,” gumamnya pelan. Kata-kata Calvin kembali terngiang di kepalanya—menjaga hati dan tubuh hanya untuk wanita lain. Camelia tertawa kecil, pahit. Jadi itu alasannya. Bukan karena ia kurang, bukan karena ia gagal, tapi karena semua itu memang tidak pernah ditujukan untuknya. “BRENGSEK! KAU LAKI-LAKI BAJINGAN CALVIN ASHFORD!” teriaknya, tangannya menghantam setir sekali dengan keras. Ia menarik napas panjang, menghapus sudut matanya dengan kasar. Tidak ada gunanya menangisi laki-laki seperti Calvin. Ia menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan tempat itu, lampu kota memanjang di balik kaca depan sementara pikirannya dipenuhi kenangan yang tidak ingin ia ingat. Sepuluh tahun? Ia tersenyum tipis tanpa suara. Sepuluh tahun lalu, Calvin Ashford pernah menyelamatkannya saat hampir tenggelam di laut. Saat itu ia panik, kehilangan arah, lalu pria itu menariknya ke permukaan, memeluknya agar tetap bernapas. “Pegang aku. Jangan lepaskan.” Sejak hari itu, Camelia tidak pernah benar-benar melepaskannya. Cinta yang ia simpan diam-diam selama sepuluh tahun kini terasa seperti lelucon kejam. “Lucu sekali,” gumamnya lirih. Camelia sampai di rumah, menutup pintu, lalu meletakkan tas dan kotak kue yang masih utuh di atas meja. Ia menatapnya sejenak sebelum memalingkan wajah. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah ke kamar mandi. Air hangat mengalir membasahi tubuhnya, ia menyandarkan dahi ke dinding keramik, membiarkan air jatuh di punggungnya sementara pikirannya perlahan menjadi lebih jernih. “Menjaga hati dan tubuh…” ucapnya lirih, menirukan suara Calvin, sudut bibirnya terangkat tipis, bukan senyum, lebih seperti ejekan. “Baiklah… kalau begitu, malam ini kita akhiri semuanya Tuan Calvin.” Ia menggosok tubuhnya perlahan, aroma sabun memenuhi ruangan, lembut dan hangat. Setelah selesai, ia berdiri di depan cermin, rambutnya masih basah, kulitnya bersih, dan tatapannya berubah—dingin, tegas. “Aku sudah cukup bersabar. Dan maaf, kesabaranku sudah habis.” Ia membuka lemari, mengambil gaun tidur tipis berwarna maroon yang jatuh mengikuti lekuk tubuhnya, lalu memakainya tanpa ragu. Setetes parfum ia semprotkan di pergelangan tangan dan belakang telinga, aromanya lembut namun memikat. Tak lama, langkah kaki terdengar dari luar. Pintu kamar terbuka, dan Calvin masuk sambil melonggarkan dasinya, lalu berhenti ketika melihat Camelia. “Kau belum tidur?” tanyanya datar. Camelia menoleh perlahan, senyum kecil muncul di bibirnya tidak seperti biasanya. “Apakah kamu lupa? Hari ini anniversary kita,” jawabnya tenang sambil berdiri. “Aku menunggumu.” Calvin mengernyit, pandangannya turun sejenak sebelum kembali naik, terlihat tidak nyaman. “Oh, maaf, aku lupa. Aku lelah, tidak ada waktu untuk merayakannya.” Camelia melangkah mendekat, gerakannya pelan dan pasti. “Lelah?” ulangnya, berhenti tepat di depannya. “Aku juga lelah… sangat lelah.” Calvin menghela napas. “Kalau begitu istirahat saja.” “Tidak mau,” jawab Camelia lembut. “Aku ingin merayakannya.” Tatapan mereka bertemu, Calvin terlihat tidak sepenuhnya tenang. Jari Camelia terangkat, menyentuh bibir Calvin, turun perlahan ke leher lalu ke dadanya. “Camelia… jangan menggodaku.” Suara Calvin lebih berat dari sebelumnya. Camelia tersenyum tipis. “Aku hanya ingin merayakan anniversary kita.” Calvin memalingkan wajah. “Aku tidak ingin.” Camelia tidak membalas. Ia berbalik, berjalan ke meja kecil, mengambil segelas air yang sudah ia siapkan. Tangannya stabil. Ia menoleh kembali, tatapannya tajam. “Bukankah kau pernah bilang… kita harus mencoba lebih keras sebagai suami istri?” Calvin menatapnya. “Apa maksudmu?” Camelia mengangkat bahu ringan. “Tidak ada. Aku hanya ingin jadi istri yang baik. Setidaknya untuk malam ini.” Ia mengangkat gelas itu sedikit, matanya tidak pernah lepas dari Calvin. “Sudahlah, Camelia! Jangan terus menggodaku! Aku tidak akan pernah tergoda,” ucap Calvin, namun rahangnya mengeras, tenggorokannya bergerak menelan ludah. Camelia melihat itu dengan jelas. Ia melangkah mendekat lagi, kini tanpa jarak, lengannya melingkar di tengkuk Calvin. “Apakah salah jika aku menggoda suamiku sendiri?” bisiknya sebelum mencium bibir Calvin sekilas. Sentuhan singkat itu cukup untuk mengubah segalanya. “CAMELIA COLLYN!” suara Calvin meninggi, napasnya berat. “BAIK! JIKA INI YANG KAU MAU, MAKA AKU AKAN MEWUJUDKANNYA!”The hall was already full when the session began.Hundreds of delegates filled the seats policy advisors, CEOs, regulators, analysts. Screens lit the room with cool light while translation headsets whispered in dozens of languages.From the outside, it looked like a normal conference.Inside, everyone knew something else was happening.Marcus stood at the podium first.Calm. Controlled. The perfect moderator.“Today,” he began, “we explore the future of institutional governance.”His voice carried easily through the hall.“Systems evolve when ideas challenge the structures that built them.”Polite applause followed.Marcus turned slightly toward the large screen behind him where the coalition’s presentation appeared.Their framework was elegant visually impressive, technically detailed, supported by massive investment.Centralized oversight.Global coordination.Strategic authority.It looked powerful.By the time the presentation finished, the room buzzed quietly.Marcus returned to
Geneva always looked calm from above.Lakes. Glass towers. Diplomacy wrapped in quiet architecture. A city designed to make power appear civilized.Adrian watched the skyline through the plane window as we descended.“Strange place for a confrontation,” Elena said from across the aisle.“It’s perfect,” Adrian replied. “Everything here pretends to be reasonable.”The conference venue stood near the water a modern complex built for global summits. Security was discreet but thorough. Cameras everywhere. Delegates already gathering.Inside, the air felt different.Not hostile.Curious.People knew something unusual was about to happen.“They’re watching you,” Elena murmured as we entered the lobby.Adrian didn’t react.Because attention had become normal.What mattered now was control of the room.Badges were issued quickly.Panels listed. Schedules confirmed.Marcus’s name appeared exactly where expected.Moderator Global Governance Futures.“He placed himself in the center,” Elena said
The conference announcement spread faster than anyone expected.Not because of the coalition.Because Adrian had accepted.Within hours, industry channels began speculating. Analysts posted threads. Commentators debated the implications.“The narrative shifted already,” Elena said the next morning, watching the media feeds scroll across her screen.“From what?” Adrian asked.“From their launch… to your presence.”That mattered.Because power didn’t just depend on structure.It depended on attention.“They expected you to sit quietly on a panel,” Elena continued. “Now everyone thinks something bigger might happen.”Adrian smiled slightly.“Good.”The conference would take place in Geneva neutral ground, global stage. Invitations were limited, but influence ensured the right people would be in the room.Policy architects.Corporate leaders.Regulators.And Marcus.My phone buzzed with another message.Not from him this time.Claire.This is turning into something larger than a conferenc
Power never stayed empty for long.The moment a system stabilized, someone somewhere began wondering if they could reshape it.That realization arrived quietly one afternoon.Elena walked into the room with a tablet in her hand and an expression that meant something had shifted.“You should see this,” she said.Adrian looked up from the table. “Problem?”“Not yet,” she replied. “But it could become one.”She placed the tablet in front of us.A headline from a respected financial journal filled the screen.“A New Governance Model Reshapes Institutional Oversight.”At first glance, it looked neutral almost supportive.But halfway through the article, a new name appeared.A coalition.Large investors. Global corporations. Technology groups.“They’re building something similar,” I said slowly.“Not similar,” Elena corrected. “Competitive.”Adrian read the article carefully.“They’re not attacking us,” he said.“No,” I replied.“They’re studying us.”The coalition proposed a framework insp
Power never stayed empty for long.The moment a system stabilized, someone somewhere began wondering if they could reshape it.That realization arrived quietly one afternoon.Elena walked into the room with a tablet in her hand and an expression that meant something had shifted.“You should see thi
Success had a strange gravity.It didn’t explode like victory. It settled slowly, pulling expectations inward until the new reality felt inevitable.By the fourth week, the platform wasn’t being questioned anymore it was being integrated.“That’s faster than predicted,” Elena said one morning as sh
The win didn’t announce itself.It arrived as absence.No new threats. No counter-statements. No late night calls wrapped in concern. The kind of silence that followed recalibration not retreat.“They’re watching,” Elena said. “From farther back.”“Yes,” I replied. “Because they’ve lost proximity.”
The choice arrived disguised as mercy.An email circulated quietly that morning carefully worded, strategically timed. It proposed a “temporary reconciliation framework.” No accusations. No demands. Just an offer to stabilize relationships and reduce friction.“They want us to absorb the fault line

![Mr. CEO, Marry Me On Conditions [The CEO's Replaced Bride]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)




Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.