Mag-log in"Kenapa aku? Kenapa harus aku?" tanya Ashlan.
Mata pemuda itu sibuk melihat kepada lima wanita sekaligus secara bergantian—menuntut jawaban yang membuatnya penasaran. "Aku yakin, di luar sana banyak orang-orang yang terlahir seperti diriku. Kenapa nona-nona sekalian memilihku?" Lira kemudian menjawab tanpa ragu. "Jika memang mudah menemukan orang seperti kamu, maka kami tidak mungkin terjebak di tempat ini hampir 100 tahun, Ashlan." Sesaat kemudian... sunyi. Cukup lama. Kemudian, dengan suara yang sedikit bergetar, pemuda itu bertanya, "Bagaimana jika aku menolak?" Pertanyaan itu keluar pelan, namun cukup tajam. Awalnya ada perasaan takut untuk bertanya. Tetapi daripada menyesal seumur hidup... lebih baik dicoba saja. Kelima wanita itu saling bertukar pandang setelah mendengar pertanyaan tersebut. Lalu, Lira kembali menatap Ashlan dalam. "Kamu tidak akan menolak." Terdengar seperti ancaman, tetapi juga bukan. Lebih seperti kepastian yang meyakinkan. Sesaat, sunyi kembali datang. Pria itu tak bersuara. Matanya tak tahu harus memandang ke mana. Selanjutnya, suara langkah Lira terdengar jelas di telinganya. Wanita itu mengambil satu langkah lebih dekat. "Dengarkan baik-baik," ucapnya tenang. "Karena setelah ini tidak ada jalan mundur lagi untukmu, Ashlan." Saat Lira bicara, mulut Ashlan seakan tertutup rapat. Ia tidak bisa menyahut atau membalas. Hanya bisa mendengarkan tanpa berpaling. "Kamu tidak menjawab apa-apa. Dan aku anggap kamu menerima," lanjutnya singkat. Lira telah menyimpulkan semuanya sendiri, bahkan tanpa bertanya lebih dulu. "Kamu akan menjadi suami kami." Nara yang berbicara kali ini. Suaranya lembut, tetapi tetap tegas. "Kamu harus bisa melakukan tugasmu sebagai suami. Dan jika sulit bagimu untuk mengerti, anggap saja kamu sedang melakukan tugasmu sebagai seorang budak." "Kupikir akan jauh lebih mudah bagimu untuk mengerti jika dijelaskan dengan sudut pandang seorang budak." "Setelah pernikahan dilakukan, kehidupanmu tidak akan sama lagi seperti sebelumnya," ungkap Vea dengan nada dingin. Sia menatap lurus ke arah Ashlan, sedikit ragu namun tetap berbicara. "Setelah pernikahan itu terjadi... maka hidupmu tidak lagi sepenuhnya milikmu." Elen kemudian menambahkan dengan pelan, hampir seperti bisikan, "Dan tubuhmu pun tidak bisa kamu gunakan sesuka hatimu." Segala hal yang dijelaskan... maknanya jelas, dan Ashlan mengerti. Pemuda itu menghela napas pendek. "Lanjutkan." Lira mengangguk tipis. "Sebagai suami kami, ada beberapa hal yang harus kamu lakukan. Dan ada juga beberapa hal yang tidak boleh kamu lakukan. Jika melanggar, bukan hanya kamu saja yang akan mendapatkan hukuman, tetapi kami berlima juga akan mendapatkan hukuman yang jauh lebih buruk darimu." Selanjutnya, Lira berhenti sejenak. Memberi ruang agar kata-katanya bisa dipahami dengan jelas. "Kamu harus berbagi ikatan mendalam dengan kami berlima... sepenuhnya." Selanjutnya, Nara mendekati Ashlan, membantu pemuda itu berdiri, lalu kembali duduk di kursi kayu sederhana itu. "Dan satu hal penting lagi yang harus kamu ketahui, Ashlan: sebagai seorang suami, kamu wajib memberikan nafkah batin kepada kami. Hanya dengan cara itu kami bisa kembali bersih." Nara menjelaskan dengan tatapan penuh harapan. Di waktu yang sama, wajah Ashlan memerah. Walaupun tidak dijelaskan dengan detail, ia sudah mengerti maksud sebenarnya dari apa yang Nara katakan. Dan bagaimana mungkin ia bisa melakukan itu? Ia hanya seorang budak. Budak yang harganya hanya dua keping perak. Bahkan harga anjing jauh lebih mahal dibanding dirinya. Lalu... seseorang seperti dirinya malah mendapatkan hal seperti ini? Bodoh jika menolak. Aneh jika menerima. Di tengah keheningan itu, tiba-tiba Lira kembali berbicara. "Itu saja belum cukup," ungkap Lira. Tatapan matanya kini sedikit lebih tajam. "Masih ada beberapa aturan yang harus kamu patuhi!" tekannya. "Kamu tidak boleh menyentuh wanita lain." Kalimat itu terdengar sangat dingin. Tanpa kompromi. Ashlan mengangkat alisnya. "Kenapa?" "Karena kamu harus tetap bersih." Jawabannya sederhana, tetapi tegas. "Kamu adalah satu-satunya manusia yang lahir dengan jiwa yang bersih. Jika berada di dekat wanita lain, akan timbul keinginan untuk melakukan hal tak pantas; dan jika hal itu terjadi, maka jiwamu akan ikut kotor dan tercemar," ungkap Vea. "Dan jika sudah ternoda... kamu tidak berguna lagi..." lanjutnya dingin. "Jika kemungkinan terburuk itu terjadi... maka kamu dan juga kami akan mendapatkan hukuman yang besar," tambah Sia pelan. "Jadi aku dibeli untuk menikah dengan nona-nona sekalian?" tanya Ashlan. Tidak ada yang menyangkal. Dan itu sudah lebih dari cukup. "Bukan hanya membeli tubuhku, tetapi kalian juga ingin membeli jiwa dan hidupku?" "Ya," jawab Lira tanpa ragu. "Tapi kamu tidak perlu khawatir. Setelah kami mendapatkan kembali seluruh kekuatan kami, kamu akan bebas dari ikatan ini. Kamu bisa menjalani hidupmu seperti biasa, dan kehidupanmu akan makmur tanpa kekurangan apa pun," tambah Elen dengan tenang. Sunyi kembali datang. Beberapa detik berlalu, lalu Ashlan tertawa. Bukan karena lucu. Bukan juga karena bahagia. "Dari budak... tiba-tiba saja aku harus menikahi kalian berlima?" Tatapannya tampak kosong. "Haruskah aku menyebut ini takdir buruk... atau justru terlalu menarik untuk seorang budak yang tidak berharga?" "Bukan takdir," ucap Lira, melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka hampir hilang. "Ini kesempatan. Pilihan yang akan menentukan masa depanmu." Mendengar itu, Ashlan menatapnya balik. Ia sudah membuat keputusan. "Baiklah," ucapnya akhirnya. Satu kata itu sudah cukup untuk membuka jalan menuju kehidupan baru. Lira mengangguk. "Kalau begitu... bersiaplah." Nara mendekat, membuat Ashlan bisa mencium harum tubuhnya. "Pernikahan akan dilakukan malam ini." "Tidak akan ada saksi. Pernikahan ini tidak sama seperti pernikahan manusia biasa," jelas Sia. Saat kelima majikannya menjelaskan, Ashlan mendengarkan dengan seksama. Ia berusaha memahami setiap hal yang terasa tidak nyata... namun anehnya tetap terasa meyakinkan. ___ Ashlan dibawa masuk ke dalam ruangan di bawah tanah yang terhubung langsung dengan sebuah kolam kecil. Permukaan airnya memantulkan cahaya bulan purnama yang sempurna di langit malam. Ia duduk diam di tempat, sementara kelima majikannya sibuk menyiapkan bunga dan lilin di sekitar kolam itu. Kemudian, Sia tiba-tiba mendekat. "Ulurkan tanganmu," katanya pelan. Ashlan patuh. Ia memberikan tangannya. Beberapa detik kemudian... sesuatu yang ajaib terjadi. Saat Sia menggenggam erat tangannya, seluruh luka di tubuh Ashlan perlahan menghilang. "Bagaimana bisa...?" Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Itu bukan apa-apa!" seru Lira. "Jika kekuatan kami kembali sepenuhnya, kami bisa melakukan hal yang jauh lebih luar biasa dari itu," lanjutnya. Mendengar itu, akhirnya Ashlan benar-benar percaya. Lima wanita itu memang bukan manusia biasa. Terlebih lagi saat Lira mengatakan kekuatan mereka akan jauh lebih besar jika telah pulih sepenuhnya. "Jadi kekuatan nona-nona semua akan kembali seutuhnya hanya dengan bantuan dariku? Apa benar begitu?" tanya Ashlan. —Bersambung—Setelah dengan berani membuat sumpah, Nadia langsung pergi meninggalkan tempat itu. Dan tidak lama setelah Nadia pergi ....Vea membalikkan badan, menatap Ashlan yang masih berdiri di belakangnya."Jangan pernah goyah hanya karena dia terang-terangan mengaku menyukaimu," tegur Vea, memecah keheningan. "Dia cuma putri manja yang tidak terbiasa ditolak."Elen melangkah mendekat, melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap Ashlan dengan tatapan yang jauh lebih serius."Vea benar. Dan ingat satu hal lagi, Ashlan," potong Elen dengan nada menekan. "Jika sampai kamu terbuai oleh rayuannya, bahkan sedikit saja! Kita semua yang ada di sini akan mati. Jiwa suci milikmu akan ternoda begitu disentuh oleh wanita lain."Lira, Nara, dan Sia tidak mengucapkan satu kata pun. Mereka hanya berdiri diam di posisinya masing-masing, menatap Ashlan dengan tatapan berat. Sikap diam ketiganya sudah cukup menjadi tanda bahwa mereka menyetujui setiap kata yang diucapkan oleh Vea dan Elen.Ashlan mengepalk
Satu minggu setelah kejadian di acara jamuan istana; Ashlan dan kelima istrinya melanjutkan hidup seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Namun, pada saat itu para pekerja di kebun tidak bisa menyembunyikan rasa kaget mereka ketika melihat perubahan wajah Ashlan yang kini semakin menua hanya dalam waktu satu minggu. ... Hari itu adalah pertama kali sejak terakhir kali Ashlan keluar saat ingin pergi ke istana. Karena satu minggu terakhir, Ashlan fokus menyembuhkan diri dengan melakukan meditasi bersama kelima istrinya. Walaupun pada saat itu efeknya tidak terlalu kuat, tetapi setidaknya hal itu bisa menutupi kurangnya usia Ashlan yang begitu banyak. Walaupun wajahnya tetap berubah, tetapi setidaknya perubahan itu tidak terlalu terlihat jelas. ... Setelah seminggu penuh beristirahat, Ashlan akhirnya kembali bekerja di lahan bersama dengan orang-orang lainnya ikut bekerja di sana. Dan sebelum bekerja ia ingin memastikan apakah permintaannya benar-benar telah dikabulkan oleh Raja Salman a
Walaupun pada saat itu rasanya kulit tubuh Ashlan tergoreng habis, dengan sisa tenaga yang ada ia langsung berlari untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi di aula jamuan sampai-sampai membuat Vea dan juga Elen berteriak dengan suara yang keras. Dan ketika ia baru sampai di sana, Ashlan benar-benar sangat terkejut melihat bahwa, Lira, dan Sia sudah tidak sadarkan diri di tempat itu. Dan bahkan Nara pun tampak lemah. Dan pada saat itu hanya Vea dan Elen yang baik-baik saja diantara mereka berenam. Dengan menggunakan sisa tenaga yang ada, Ashlan meminta bantuan kepada Raja Salman untuk membiarkan dirinya dan juga kelima istrinya untuk segera pergi dari istana. Dan beruntung pada saat itu Raja Salman memberikan izin dan bahkan membantu dengan memberikan seorang kusir untuk mengendarai kuda yang digunakan oleh Ashlan dan kelima istrinya. ... Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya mereka sampai kembali di rumah. Ashlan mengucapkan banyak terima kasih kepada kusir itu dan jug
"Tuan Ashlan adalah tamu terhormat yang kuundang secara pribadi ke istana ini. Siapa pun yang menghina Tuan Ashlan, itu artinya kalian telah menghina keputusanku dan menghina Kerajaan Jayakarta!" pangkas Raja Salman penuh penekanan.Tuan Bara dan Arka membeku di tempatnya. Hinaan yang ingin mereka lontarkan untuk mempermalukan Ashlan justru berbalik menjadi tamparan keras yang meruntuhkan harga diri mereka di hadapan seluruh pejabat dan bangsawan kerajaan. Tuan Bara cepat-cepat menundukkan kepalanya dalam-dalam, menahan rasa malu yang teramat sangat.Sementara itu, Ashlan hanya bisa terpana melihat ketegasan dari sang raja. Hatinya tersentuh melihat seorang penguasa tertinggi membela dirinya yang biasa ini dengan begitu megah.... Setelah kekacauan itu terjadi dan kemudian di atasi, semua orang duduk di tempat masing-masing sambil diam menyantap hidangan yang telah disiapkan khusus oleh Raja Salman untuk semua orang, terutama untuk Ashlan dan juga kelima istrinya. Dan di tengah-te
Pada saat Ashlan merasa takut dengan semua bandit itu, dan berpikir untuk menyerahkan semua harta bawaan mereka, serta juga hadiah-hadiah yang telah disiapkan—untuk diberikan kepada Raja Salman; kelima istri Ashlan justru tidak takut sama sekali dan bahkan langsung menghadapi para bandit tersebut dengan hanya menggerakkan beberapa jari tangan mereka hingga membuat semua bandit itu terlempar jauh. Ketika melihat apa yang baru saja dilakukan oleh kelima istrinya, Ashlan benar-benar dilihat bisa menahan diri untuk tidak terkejut. Ia benar-benar tidak bisa terbiasa dengan kejutan dan juga kekuatan yang ditujukan oleh para istrinya saat itu. Padahal sebenarnya ia telah beberapa kali melihat para istrinya menggunakan kekuatan mereka; tetapi tetap saja hal itu masih mengejutkan bagi Ashlan."Semua sudah beres sekarang. Kamu tidak perlu lagi memegangi tongkat itu. Dan ngomong-ngomong... kemana hilangnya kusir kita?" tanya Vea. "Emm... i-itu... tadi kurasa dia telah melarikan diri karena te
Ashlan benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Undangan dari Raja Salman?Bahkan sampai beberapa saat lamanya, Ashlan masih berdiri mematung di depan pintu rumahnya. Tatapan matanya terus berpindah dari wajah prajurit kerajaan ke gulungan surat bersegel emas yang berada di tangan pria itu.Baginya, semua ini terasa seperti mimpi.Dalam hatinya, Ashlan bertanya-tanya, kenapa seorang Raja Salman ingin mengundang dirinya yang tidak suci ini ke istana megah itu? Dulu, jangankan mendapatkan undangan dari raja. Berdiri di depan gerbang istana saja adalah sesuatu yang tidak pernah berani ia bayangkan.Namun sekarang...Seorang prajurit kerajaan benar-benar datang langsung ke rumahnya hanya untuk mengantarkan undangan resmi."Tuan Ashlan?" panggil prajurit itu sekali lagi ketika melihat Ashlan tidak kunjung menerima surat yang ia sodorkan.Ashlan tersentak."Oh... maaf."Dengan sedikit gugup, Ashlan mengulurkan kedua tangannya untuk menerima gulungan surat tersebut.