Share

Menikahi Lima Majikan

Penulis: Refina Seftiani
last update Tanggal publikasi: 2026-05-24 08:38:24

"Kenapa aku? Kenapa harus aku?" tanya Ashlan.

Mata pemuda itu sibuk melihat kepada lima wanita sekaligus secara bergantian—menuntut jawaban yang membuatnya penasaran.

"Aku yakin, di luar sana banyak orang-orang yang terlahir seperti diriku. Kenapa nona-nona sekalian memilihku?"

Lira kemudian menjawab tanpa ragu. "Jika memang mudah menemukan orang seperti kamu, maka kami tidak mungkin terjebak di tempat ini hampir 100 tahun, Ashlan."

Sesaat kemudian... sunyi. Cukup lama.

Kemudian, dengan suara yang sedikit bergetar, pemuda itu bertanya, "Bagaimana jika aku menolak?" Pertanyaan itu keluar pelan, namun cukup tajam.

Awalnya ada perasaan takut untuk bertanya. Tetapi daripada menyesal seumur hidup... lebih baik dicoba saja.

Kelima wanita itu saling bertukar pandang setelah mendengar pertanyaan tersebut.

Lalu, Lira kembali menatap Ashlan dalam. "Kamu tidak akan menolak." Terdengar seperti ancaman, tetapi juga bukan. Lebih seperti kepastian yang meyakinkan.

Sesaat, sunyi kembali datang. Pria itu tak bersuara. Matanya tak tahu harus memandang ke mana.

Selanjutnya, suara langkah Lira terdengar jelas di telinganya. Wanita itu mengambil satu langkah lebih dekat.

"Dengarkan baik-baik," ucapnya tenang. "Karena setelah ini tidak ada jalan mundur lagi untukmu, Ashlan."

Saat Lira bicara, mulut Ashlan seakan tertutup rapat. Ia tidak bisa menyahut atau membalas. Hanya bisa mendengarkan tanpa berpaling.

"Kamu tidak menjawab apa-apa. Dan aku anggap kamu menerima," lanjutnya singkat.

Lira telah menyimpulkan semuanya sendiri, bahkan tanpa bertanya lebih dulu.

"Kamu akan menjadi suami kami." Nara yang berbicara kali ini. Suaranya lembut, tetapi tetap tegas. "Kamu harus bisa melakukan tugasmu sebagai suami. Dan jika sulit bagimu untuk mengerti, anggap saja kamu sedang melakukan tugasmu sebagai seorang budak."

"Kupikir akan jauh lebih mudah bagimu untuk mengerti jika dijelaskan dengan sudut pandang seorang budak."

"Setelah pernikahan dilakukan, kehidupanmu tidak akan sama lagi seperti sebelumnya," ungkap Vea dengan nada dingin.

Sia menatap lurus ke arah Ashlan, sedikit ragu namun tetap berbicara. "Setelah pernikahan itu terjadi... maka hidupmu tidak lagi sepenuhnya milikmu."

Elen kemudian menambahkan dengan pelan, hampir seperti bisikan, "Dan tubuhmu pun tidak bisa kamu gunakan sesuka hatimu."

Segala hal yang dijelaskan... maknanya jelas, dan Ashlan mengerti.

Pemuda itu menghela napas pendek. "Lanjutkan."

Lira mengangguk tipis. "Sebagai suami kami, ada beberapa hal yang harus kamu lakukan. Dan ada juga beberapa hal yang tidak boleh kamu lakukan. Jika melanggar, bukan hanya kamu saja yang akan mendapatkan hukuman, tetapi kami berlima juga akan mendapatkan hukuman yang jauh lebih buruk darimu."

Selanjutnya, Lira berhenti sejenak. Memberi ruang agar kata-katanya bisa dipahami dengan jelas.

"Kamu harus berbagi ikatan mendalam dengan kami berlima... sepenuhnya."

Selanjutnya, Nara mendekati Ashlan, membantu pemuda itu berdiri, lalu kembali duduk di kursi kayu sederhana itu.

"Dan satu hal penting lagi yang harus kamu ketahui, Ashlan: sebagai seorang suami, kamu wajib memberikan nafkah batin kepada kami. Hanya dengan cara itu kami bisa kembali bersih." Nara menjelaskan dengan tatapan penuh harapan.

Di waktu yang sama, wajah Ashlan memerah. Walaupun tidak dijelaskan dengan detail, ia sudah mengerti maksud sebenarnya dari apa yang Nara katakan.

Dan bagaimana mungkin ia bisa melakukan itu?

Ia hanya seorang budak. Budak yang harganya hanya dua keping perak. Bahkan harga anjing jauh lebih mahal dibanding dirinya.

Lalu... seseorang seperti dirinya malah mendapatkan hal seperti ini?

Bodoh jika menolak. Aneh jika menerima.

Di tengah keheningan itu, tiba-tiba Lira kembali berbicara.

"Itu saja belum cukup," ungkap Lira. Tatapan matanya kini sedikit lebih tajam.

"Masih ada beberapa aturan yang harus kamu patuhi!" tekannya.

"Kamu tidak boleh menyentuh wanita lain." Kalimat itu terdengar sangat dingin. Tanpa kompromi.

Ashlan mengangkat alisnya. "Kenapa?"

"Karena kamu harus tetap bersih." Jawabannya sederhana, tetapi tegas.

"Kamu adalah satu-satunya manusia yang lahir dengan jiwa yang bersih. Jika berada di dekat wanita lain, akan timbul keinginan untuk melakukan hal tak pantas; dan jika hal itu terjadi, maka jiwamu akan ikut kotor dan tercemar," ungkap Vea.

"Dan jika sudah ternoda... kamu tidak berguna lagi..." lanjutnya dingin.

"Jika kemungkinan terburuk itu terjadi... maka kamu dan juga kami akan mendapatkan hukuman yang besar," tambah Sia pelan.

"Jadi aku dibeli untuk menikah dengan nona-nona sekalian?" tanya Ashlan.

Tidak ada yang menyangkal. Dan itu sudah lebih dari cukup.

"Bukan hanya membeli tubuhku, tetapi kalian juga ingin membeli jiwa dan hidupku?"

"Ya," jawab Lira tanpa ragu.

"Tapi kamu tidak perlu khawatir. Setelah kami mendapatkan kembali seluruh kekuatan kami, kamu akan bebas dari ikatan ini. Kamu bisa menjalani hidupmu seperti biasa, dan kehidupanmu akan makmur tanpa kekurangan apa pun," tambah Elen dengan tenang.

Sunyi kembali datang.

Beberapa detik berlalu, lalu Ashlan tertawa. Bukan karena lucu. Bukan juga karena bahagia.

"Dari budak... tiba-tiba saja aku harus menikahi kalian berlima?" Tatapannya tampak kosong.

"Haruskah aku menyebut ini takdir buruk... atau justru terlalu menarik untuk seorang budak yang tidak berharga?"

"Bukan takdir," ucap Lira, melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka hampir hilang.

"Ini kesempatan. Pilihan yang akan menentukan masa depanmu."

Mendengar itu, Ashlan menatapnya balik. Ia sudah membuat keputusan.

"Baiklah," ucapnya akhirnya.

Satu kata itu sudah cukup untuk membuka jalan menuju kehidupan baru.

Lira mengangguk. "Kalau begitu... bersiaplah."

Nara mendekat, membuat Ashlan bisa mencium harum tubuhnya.

"Pernikahan akan dilakukan malam ini."

"Tidak akan ada saksi. Pernikahan ini tidak sama seperti pernikahan manusia biasa," jelas Sia.

Saat kelima majikannya menjelaskan, Ashlan mendengarkan dengan seksama. Ia berusaha memahami setiap hal yang terasa tidak nyata... namun anehnya tetap terasa meyakinkan.

___

Ashlan dibawa masuk ke dalam ruangan di bawah tanah yang terhubung langsung dengan sebuah kolam kecil. Permukaan airnya memantulkan cahaya bulan purnama yang sempurna di langit malam.

Ia duduk diam di tempat, sementara kelima majikannya sibuk menyiapkan bunga dan lilin di sekitar kolam itu.

Kemudian, Sia tiba-tiba mendekat.

"Ulurkan tanganmu," katanya pelan.

Ashlan patuh. Ia memberikan tangannya.

Beberapa detik kemudian... sesuatu yang ajaib terjadi.

Saat Sia menggenggam erat tangannya, seluruh luka di tubuh Ashlan perlahan menghilang.

"Bagaimana bisa...?" Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Itu bukan apa-apa!" seru Lira.

"Jika kekuatan kami kembali sepenuhnya, kami bisa melakukan hal yang jauh lebih luar biasa dari itu," lanjutnya.

Mendengar itu, akhirnya Ashlan benar-benar percaya. Lima wanita itu memang bukan manusia biasa.

Terlebih lagi saat Lira mengatakan kekuatan mereka akan jauh lebih besar jika telah pulih sepenuhnya.

"Jadi kekuatan nona-nona semua akan kembali seutuhnya hanya dengan bantuan dariku? Apa benar begitu?" tanya Ashlan.

—Bersambung—​

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Budak & Lima Istri Dari Langit   Dibilang Loyo

    Ashlan dan kelima majikannya berkeliling pasar, membeli beberapa barang dan juga beberapa herbal yang bisa membantu meningkatkan stamina pria.Pasar hari itu ramai seperti biasa. Suara pedagang saling bersahutan menawarkan dagangan, aroma rempah dan makanan bercampur di udara, serta langkah kaki orang-orang yang hilir mudik tanpa henti.Namun di tengah keramaian itu, ada satu kelompok yang mencuri perhatian siapa pun yang melihat.Lima wanita dengan kecantikan luar biasa berjalan bersama seorang pria yang penampilannya masih sederhana. Kontras itu terlalu mencolok untuk diabaikan.Beberapa orang mulai berbisik.“Apa kau lihat itu?”“Bukankah dia budak yang kemarin dijual?”“Kenapa bisa bersama wanita-wanita itu?”Bisikan itu tidak terlalu pelan. Cukup untuk didengar.Pria itu—Ashlan—menunduk. Ia tidak berani menatap balik siapa pun. Tangannya sibuk membawa barang belanjaan, walaupun sebenarnya barang itu tidak seberapa berat dibandingkan beban hidup yang pernah ia tanggung sebelumnya.

  • Budak & Lima Istri Dari Langit   Membuat Semua Orang Iri

    "Ayo, Ashlan. Bukan bajumu."Lira mengambil beberapa langkah mendekati Ashlan. Langkahnya tenang, tetapi penuh kepastian. Di sisi lain, pria itu justru mengambil beberapa langkah mundur secara refleks untuk menghindari Lira. Jarak di antara mereka sempat terjaga, walaupun tidak lama.Ia belum siap.Benar-benar belum siap untuk melakukan ritual malam pertama yang biasa dilakukan oleh pasangan pengantin baru. Bahkan hanya dengan membayangkannya saja, jantungnya sudah berdegup tidak teratur.Lagipula, bagaimana bisa Ashlan melayani lima wanita sekaligus?Pikiran itu terus berputar di kepalanya.Ashlan tidak yakin jika ia punya cukup energi untuk memuaskan kelima majikannya itu. Tubuhnya bahkan baru saja pulih dari kondisi lemah akibat tidak makan dan minum selama berhari-hari."Kupikir... aku belum siap, nona," ucap Ashlan dengan suara yang sangat pelan—nyaris seperti bisikan. Ia takut jika penolakan yang diucapkannya akan membuat kelima majikannya itu marah.Suasana sempat hening.“Kena

  • Budak & Lima Istri Dari Langit   Tuntutan Malam Pertama

    Ashlan yang sudah mengerti dengan situasi yang ada akhirnya setuju untuk melakukan ritual pernikahan dengan kelima wanita cantik yang mengaku jika mereka bukanlah manusia biasa.Klaim itu telah dibuktikan secara nyata oleh salah satu dari mereka sebelumnya, membuat pria itu tidak punya alasan lagi untuk menyangkal.Ritual pernikahan itu sangatlah berbeda dengan ritual pernikahan pada umumnya.Ashlan yang tidak tahu apa-apa hanya bisa terus mengikuti setiap arahan yang diberikan oleh Lira.Budak itu tidak berani membantah, tidak berani menolak, bahkan untuk sekadar mempertanyakan pun ia harus berpikir dua kali. Bahkan di saat Lira meminta kepada Ashlan untuk melepaskan semua benang yang menutupi tubuhnya, pria itu tetap tidak bisa menolak.Tangan pemuda itu sempat ragu, tetapi pada akhirnya ia tetap menurut.“Kenapa aku harus bertelanjang bulat seperti ini?” tanya Ashlan, suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya, seolah ia sendiri tidak yakin dengan pertanyaannya.“Semua ini ada s

  • Budak & Lima Istri Dari Langit   Menikahi Lima Majikan

    "Kenapa aku? Kenapa harus aku?" tanya Ashlan.Mata pemuda itu sibuk melihat kepada lima wanita sekaligus secara bergantian—menuntut jawaban yang membuatnya penasaran. "Aku yakin, di luar sana banyak orang-orang yang terlahir seperti diriku. Kenapa nona-nona sekalian memilihku?"Lira kemudian menjawab tanpa ragu. "Jika memang mudah menemukan orang seperti kamu, maka kami tidak mungkin terjebak di tempat ini hampir 100 tahun, Ashlan."Sesaat kemudian... sunyi. Cukup lama.Kemudian, dengan suara yang sedikit bergetar, pemuda itu bertanya, "Bagaimana jika aku menolak?" Pertanyaan itu keluar pelan, namun cukup tajam.Awalnya ada perasaan takut untuk bertanya. Tetapi daripada menyesal seumur hidup... lebih baik dicoba saja. Kelima wanita itu saling bertukar pandang setelah mendengar pertanyaan tersebut.Lalu, Lira kembali menatap Ashlan dalam. "Kamu tidak akan menolak." Terdengar seperti ancaman, tetapi juga bukan. Lebih seperti kepastian yang meyakinkan.Sesaat, sunyi kembali datang. Pri

  • Budak & Lima Istri Dari Langit   Dibeli Oleh Lima Wanita

    “Akan kami beli budak itu!” Suara tegas seorang wanita langsung menyadarkan Ashlan kembali. Padahal sebelumnya kesadarannya hampir hilang karena lebih dari tiga hari ia tidak diberi makan oleh tuannya.Pemuda itu pun terbangun. Saat matanya terbuka, dia melihat seorang wanita menunjuk ke arah dirinya. ‘Apakah ini efek samping karena aku sudah tidak makan dan minum selama beberapa hari? Tidak mungkin nona muda itu ingin membeliku,’ pikir Ashlan lemah.“Yang ini hampir mati!” teriak pedagang, setengah kesal, setengah putus asa karena sampai detik ini budak itu belum juga laku terjual.“Murah saja! Siapa yang mau mengambilnya, cukup dua keping perak saja!”“Baiklah. Dua keping perak. Aku akan membelinya dengan lima koin emas.” Wanita itu terdengar seperti wanita bangsawan yang kurang waras, tetapi nadanya tetap tenang.Bagaimana tidak? Dia begitu bodoh ingin membeli budak seperti Ashlan dengan harga mahal, padahal tidak ada kelebihan apa pun yang pria itu miliki.“Nona, jangan bercanda

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status