LOGIN"Jadilah Kangamasku, akan kuberi semua yang kamu mau!" Banyu yang hanya seorang kusir, terpaksa harus mengabdi pada istri Juragan Jayendra. Di sana, ia melakukan semua tugas pelayan, sampai suatu ketika Wening memintanya untuk jadi kusir pribadinya. Tanpa Wening Tahu, Banyu sebenarnya bukanlah kusir biasa...
View More"Apa tidak bisa lebih lama lagi, Kangmas? Masa cuma sebentar," protes Wening, istri Jayendra. Wanita berparas ayu yang hanya berbalut kain jarik sebatas dada itu merengek, enggan ditinggal secepat itu oleh sang suami. "Aku loh, belum puas."
Di dekat sana, Banyu—kusir Jayendra sempat menoleh ke arah majikannya yang tengah berdiri di ambang pintu gapura. Namun, manik hitamnya tak sengaja menangkap gundukan indah yang menyembul di balik kain jarik istri majikannya. Ia tahu diri, jika terus menatap aset sang majikan sama saja dengan mengundang golok melingkar di lehernya. "Waduh, Ndoro Ayu ini sengaja atau lupa sih? Kok keluar cuma pakai kain. Mana kelihatan lagi. Ini sih namanya menggoda iman duda yang hampir berkarat ini," batin Banyu. "Tidak dilihat sayang, dilihat nyawa bisa melayang," gumam Banyu seraya mengelus leher kuda yang menarik kereta milik Juragan Jayendra. "Besok malam bisa kita lanjut lagi. Siang ini Kangmas harus ke Kadipaten karena ada barang dagangan baru yang masuk. Kangmas harus mengeceknya sendiri. Mungkin baru kembali besok sore." Wening berdecak. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya. Terus saja pergi meninggalkannya dengan dalih pekerjaan. Setelah perjalanan jauh besok, belum tentu kondisi tubuh pria itu masih bugar. Yang ada, sang suami pasti langsung bertolak tidur tanpa ingat ada istri yang tengah merana menunggu. Jayendra mencengkeram lembut dagu istrinya yang tengah merajuk. "Mintalah Banyu untuk mengantarmu ke pasar. Belilah apa saja yang kamu suka." Mendengar namyanya disebut, Banyu menoleh sesaat, ia sempatkan menatap wajah ayu sang majikan yang terlihat lesu tak bergairah. Iris mata Wening seketika bergeser pada pria yang berdiri tak jauh dari kereta kuda. Kusir baru, bertubuh tinggi tegap itu tampak berdiri membelakangi mereka. "Tapi—" "Sudahlah, Sayang. Kangmas pergi untuk bekerja. Semua ini Kangmas lakukan untukmu, demi memenuhi semua keinginanmu." Jayendra mengulurkan tangannya ke arah pelayan yang berdiri sigap di belakang mereka, meminta selembar kain untuk menutupi bahu mulus Wening yang terekspos. "Tunggu Kangmas besok malam. Jadilah istri yang penurut," pesan Jayendra lembut namun tegas. Jayendra kemudian berbalik dan berseru, "Banyu! Antar aku ke rumah Juragan Broto. Setelah itu, baru kamu antar Ndoro Ayu ke pasar!" "Baik, Ndoro Juragan," jawab Banyu patuh meskipun sedikit tersentak kaget. Banyu kembali ke kediaman Jayendra setelah menjalankan tugas dari sang majikan. Kini ia siap untuk tugas keduanya. Ia berdiri di depan pendopo utama, menanti istri Juragan Jayendra yang katanya akan pergi ke pasar. Beberapa menit menunggu, Wening keluar dengan kebaya kutu baru berwarna hijau zamrud yang dipadukan dengan kain jarik sidomukti kualitas premium. Rambut yang disanggul sederhana menambah kesan elegan. Anting serta kalung emas pun tak luput dari tubuh wanita muda itu. Banyu terpesona, melihat Wening dengan penampilan terbaiknya. Maklum saja, pria dari desa sepertinya tidak pernah melihat wanita seanggun dan secantik Ndoro Ayu Wening. Bukan tidak ada gadis yang menarik di desanya, melainkan tidak ada yang bisa menandingi karisma dari istri majikannya tersebut. Postur tubuh Wening tampak proporsional, tanpa ada satu pun yang terlihat berlebihan. Kebaya yang membalut tubuhnya dengan pas semakin menegaskan pesona anggun yang dimilikinya. Pemandangan itu membuat Banyu sejenak terpaku, sulit mengalihkan pandangannya. "Kenapa kamu itu? Ilermu loh itu netes," goda Wening saat melihat Banyu yang terpaku menatapnya. Ia menyembunyikan tawa itu dibalik telapak tangannya. Wajah Banyu memerah, merasa malu karena kepergok tengah menatap istri majikannya. Banyu menunduk, "Ma-maaf, Ndoro Ayu. Bukan bermaksud lancang. Ta-tapi—" "Sudah. Ayo berangkat. Aku nggak mau kesorean," ajak Wening pada Banyu. "Aku mau ke Juragan Sandang, mau beli beberapa kain," imbuhnya seraya berjalan menuju gapura. Sepanjang perjalanan, pikiran Banyu hanya di penuhi dengan Wening yang tersenyum menggoda ke arahnya. "Juragan beruntung punya istri cantik dan menggoda. Tapi sayang, sering dianggurin dengan ditinggal pergi ke kota sebelah. Coba kalau itu istriku, mana betah aku tinggal lama-lama." Banyu membatin. Banyu yang baru bekerja dua hari jadi kusir di kediaman Juragan Jayendra saja sudah tergoda dengan kecantikan Ndoro Ayu Wening. Yang hanya bertemu sekali dua kali, apalagi Juragan Jayendra yang bisa menyentuh bahkan menciumnya. "Banyu, bawa kain-kain ini ke pendopo samping, ya. Jangan lupa tata yang rapi," perintah Wening. Ia membungkuk, menunjuk barang-barang apa saja yang harus dipindahkan oleh Banyu sesuai perintah. Alih-alih fokus mendengarkan perintah majikan, fokus Banyu justru berada di tempat lain. Manik hitamnya tak lepas dari salah satu bagian tubuh Wening. Banyu kembali melihat sesuatu yang sedari tadi siang terus berputar di otaknya.Darah Jayendra yang tadinya sempat mendingin akibat rasa frustrasi, mendadak berdesir panas. Ia mengangkat kepala dengan gerakan lambat namun kaku. Mata pria itu membelalak tajam, menatap lurus ke arah abdi setianya dengan sorot penuh ketidakpercayaan yang bercampur curiga. "Apa yang baru saja kamu katakan, Darna? Kamu masih belum puas dengan hukumanmu kemarin?" suara Jayendra berbisik rendah, namun sarat akan tekanan berat yang siap meledak. Kang Darna menelan ludah, merapikan letak iket kepalanya sejenak untuk mengumpulkan keberanian, lalu kembali mendekatkan wajahnya ke meja. "Jangan buta oleh rasa percaya, Ndoro," bisik Darna penuh racun. "Ndoro masih ingat dengan ucapan Marni yang melihat Ndoro Ayu dan Banyu berdua di gubuk pinggur sungai? Saya sangat yakin kalau Marni tidak berbohong. Pasti yang dikatakan olehnya adalah kebenaran." "Darna, Marni saja berani membohongiku masalah kehamilan, bisa saja itu juga hanya akal-akalannya untuk menjatuhkan Wening. Dia sangat ingin menj
"Ampun, Ndoro Juragan. Saya tidak bermaksud untuk lancang." Ia menjatuhkan dirinya ke lantai. Menangkupkan kedua tangannya di atas kepala meminta ampun. "Tapi, Ndoro, Tuan Jadipura memberikan pilihan dan juga kemudahan. Kenapa Ndoro harus mengambil cara yang sulit?" ucap Kang Darna. Jayendra mendengus kasar. Ucapan Kang Darna memang tidak salah, tapi harus menyerahkan Wening ke pangkuan pria brengsek itu, ia merasa tidak rela. "Dia itu istriku, Darna. Lancang sekali kamu. Menyuruh untuk memberikan istriku pada pria lain!" Teriakan Jayendra menggema di seluruh ruangan berdinding kayu itu. Bukan hanya menggema, suara Jayendra bocor melalui celah-celah kecil di dinding. Dan di balik dinding luar itu, seseorang berdiri mematung. Wening, yang baru saja berniat membawa secangkir teh hangat untuk suaminya, menghentikan langkahnya seketika. Nampan di tangannya bergetar hebat. Matanya membelalak lebar, sementara darah di tubuhnya terasa membeku. "Menyerahkanku?" ulangnya lirih. Ia merapatk
Malam kembali merayap turun, menyelimuti kediaman Jayendra dengan bayang-bayang gelap. Di ruang kerja pribadinya yang temaram, Juragan Jayendra duduk seorang diri di balik meja kayu jati. Pelita kecil di atas meja memantulkan bayangan wajahnya yang kuyu, memperlihatkan garis-garis kelelahan dan kantung mata hitam akibat malam-malam panjang yang dilalui tanpa ketenangan. Pikiran Jayendra masih kacau balau akibat kekacauan pagi tadi soal Banyu dan raibnya surat tanah Wening. Namun, sebelum ia sempat menarik napas panjang, ia kembali teringat kejadian sore tadi. Seorang penjaga gerbang depan setengah berlari ke ruang kerjanya dengan napas yang memburu. "Ndoro Juragan... ada tamu memaksa masuk. Beliau... beliau tidak mau menunggu di luar," lapor pengawal itu dengan suara bergetar. Jayendra mengernyitkan dahi, hendak membentak, namun terlambat. Langkah kaki berat yang santai namun berwibawa telah memecah keheningan di luar, disusul suara tawa kering yang menggema di teras pendopo. "Wa
Banyu berjalan kembali ke bilik bambu tempatnya biasa merawat kuda. Ia meraih kendi air kecil untuk membasuh darah yang masih mengering di sudut bibirnya, meringis pelan saat air dingin menyentuh luka robek akibat hantaman kepalan tangan Darna tadi."Banyu."Sebuah suara lembut namun tegas menghentikan gerakan tangan Banyu.Banyu menoleh perlahan. Di ambang pintu bilik yang remang, Wening berdiri dengan sehelai kain bersih dan mangkuk kecil berisi air hangat di tangannya. Sorot mata wanita itu menyiratkan kecemasan yang selama ini berusaha ia sembunyikan di balik wibawanya sebagai nyonya rumah."Ndoro Ayu..." Banyu berbisik, hendak menegakkan tubuhnya, namun Wening dengan cepat melangkah mendekat."Diam di situ, Banyu," desis Wening lembut.Wanita itu meletakkan mangkuk di atas meja kayu kecil, lalu merogoh lipatan kainnya untuk mengambil selembar kain katun bersih. Ia berdiri sangat dekat dengan Banyu. Begitu dekat hingga aroma wangi bunga kenanga yang melekat di tubuh Wening tercium






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews