LOGINWARNIN!!? AREA DEWASA.... PEMBACA DI HARAP BIJAK... CERITA INI MURNI IMAJINASI LIAR PENULIS... "Aku akan berikan semua yang kamu mau. Tanah, sawah, rumah. Semua akan aku berikan asal kamu tutup mulut dan berhasil membuatku hamil, aku tidak keberatan dengan semua itu." Wening—istri Juragan Jayendra, tempat Banyu bekerja memberi tawaran. Karena ambisi liar itu, membuat Wening tak bisa lepas dari pesona Banyu si kusir baru di kediaman. Tanpa Wening Tahu, Banyu sebenarnya bukanlah kusir biasa...
View More"Apa tidak bisa lebih lama lagi, Kangmas? Masa cuma sebentar," protes Wening, istri Jayendra. Wanita berparas ayu yang hanya berbalut kain jarik sebatas dada itu merengek, enggan ditinggal secepat itu oleh sang suami. "Aku loh, belum puas."
Di dekat sana, Banyu—kusir Jayendra sempat menoleh ke arah majikannya yang tengah berdiri di ambang pintu gapura. Namun, manik hitamnya tak sengaja menangkap gundukan indah yang menyembul di balik kain jarik istri majikannya. Ia tahu diri, jika terus menatap aset sang majikan sama saja dengan mengundang golok melingkar di lehernya. "Waduh, Ndoro Ayu ini sengaja atau lupa sih? Kok keluar cuma pakai kain. Mana kelihatan lagi. Ini sih namanya menggoda iman duda yang hampir berkarat ini," batin Banyu. "Tidak dilihat sayang, dilihat nyawa bisa melayang," gumam Banyu seraya mengelus leher kuda yang menarik kereta milik Juragan Jayendra. "Besok malam bisa kita lanjut lagi. Siang ini Kangmas harus ke Kadipaten karena ada barang dagangan baru yang masuk. Kangmas harus mengeceknya sendiri. Mungkin baru kembali besok sore." Wening berdecak. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya. Terus saja pergi meninggalkannya dengan dalih pekerjaan. Setelah perjalanan jauh besok, belum tentu kondisi tubuh pria itu masih bugar. Yang ada, sang suami pasti langsung bertolak tidur tanpa ingat ada istri yang tengah merana menunggu. Jayendra mencengkeram lembut dagu istrinya yang tengah merajuk. "Mintalah Banyu untuk mengantarmu ke pasar. Belilah apa saja yang kamu suka." Mendengar namyanya disebut, Banyu menoleh sesaat, ia sempatkan menatap wajah ayu sang majikan yang terlihat lesu tak bergairah. Iris mata Wening seketika bergeser pada pria yang berdiri tak jauh dari kereta kuda. Kusir baru, bertubuh tinggi tegap itu tampak berdiri membelakangi mereka. "Tapi—" "Sudahlah, Sayang. Kangmas pergi untuk bekerja. Semua ini Kangmas lakukan untukmu, demi memenuhi semua keinginanmu." Jayendra mengulurkan tangannya ke arah pelayan yang berdiri sigap di belakang mereka, meminta selembar kain untuk menutupi bahu mulus Wening yang terekspos. "Tunggu Kangmas besok malam. Jadilah istri yang penurut," pesan Jayendra lembut namun tegas. Jayendra kemudian berbalik dan berseru, "Banyu! Antar aku ke rumah Juragan Broto. Setelah itu, baru kamu antar Ndoro Ayu ke pasar!" "Baik, Ndoro Juragan," jawab Banyu patuh meskipun sedikit tersentak kaget. Banyu kembali ke kediaman Jayendra setelah menjalankan tugas dari sang majikan. Kini ia siap untuk tugas keduanya. Ia berdiri di depan pendopo utama, menanti istri Juragan Jayendra yang katanya akan pergi ke pasar. Beberapa menit menunggu, Wening keluar dengan kebaya kutu baru berwarna hijau zamrud yang dipadukan dengan kain jarik sidomukti kualitas premium. Rambut yang disanggul sederhana menambah kesan elegan. Anting serta kalung emas pun tak luput dari tubuh wanita muda itu. Banyu terpesona, melihat Wening dengan penampilan terbaiknya. Maklum saja, pria dari desa sepertinya tidak pernah melihat wanita seanggun dan secantik Ndoro Ayu Wening. Bukan tidak ada gadis yang menarik di desanya, melainkan tidak ada yang bisa menandingi karisma dari istri majikannya tersebut. Postur tubuh Wening tampak proporsional, tanpa ada satu pun yang terlihat berlebihan. Kebaya yang membalut tubuhnya dengan pas semakin menegaskan pesona anggun yang dimilikinya. Pemandangan itu membuat Banyu sejenak terpaku, sulit mengalihkan pandangannya. "Kenapa kamu itu? Ilermu loh itu netes," goda Wening saat melihat Banyu yang terpaku menatapnya. Ia menyembunyikan tawa itu dibalik telapak tangannya. Wajah Banyu memerah, merasa malu karena kepergok tengah menatap istri majikannya. Banyu menunduk, "Ma-maaf, Ndoro Ayu. Bukan bermaksud lancang. Ta-tapi—" "Sudah. Ayo berangkat. Aku nggak mau kesorean," ajak Wening pada Banyu. "Aku mau ke Juragan Sandang, mau beli beberapa kain," imbuhnya seraya berjalan menuju gapura. Sepanjang perjalanan, pikiran Banyu hanya di penuhi dengan Wening yang tersenyum menggoda ke arahnya. "Juragan beruntung punya istri cantik dan menggoda. Tapi sayang, sering dianggurin dengan ditinggal pergi ke kota sebelah. Coba kalau itu istriku, mana betah aku tinggal lama-lama." Banyu membatin. Banyu yang baru bekerja dua hari jadi kusir di kediaman Juragan Jayendra saja sudah tergoda dengan kecantikan Ndoro Ayu Wening. Yang hanya bertemu sekali dua kali, apalagi Juragan Jayendra yang bisa menyentuh bahkan menciumnya. "Banyu, bawa kain-kain ini ke pendopo samping, ya. Jangan lupa tata yang rapi," perintah Wening. Ia membungkuk, menunjuk barang-barang apa saja yang harus dipindahkan oleh Banyu sesuai perintah. Alih-alih fokus mendengarkan perintah majikan, fokus Banyu justru berada di tempat lain. Manik hitamnya tak lepas dari salah satu bagian tubuh Wening. Banyu kembali melihat sesuatu yang sedari tadi siang terus berputar di otaknya.Wening yang ingin menghindar dari Jayendra, pergi mengajak Banyu dengan alasan minta diantar oleh sang kusir. Mereka menaiki kuda berkeliling ke sekitar desa. Ia juga pergi ke ladang untuk mengecek padinya yang sedang di panen. "Menurutmu, apa Marni benar-benar hamil, Nyu?" tanya Wening. Tubuhnya naik turun seirama dengan langkah kaki kuda yang membawanya. Ia duduk di depan Banyu seraya bersandar pada dada pria itu. Dada yang hangat itu terasa begitu menenangkan. Aroma keringat dan matahari dari tubuh Banyu berpadu dengan udara persawahan. Rasanya Wening ingin berlama-lama bersandar pada dada bidang pria itu, melarikan diri sejenak dari jerat kemunafikan di kediaman suaminya. "Kenapa Ndoro Ayu bertanya seperti itu?" tanya Banyu pelan, memecah hening di antara mereka berdua di atas punggung kuda yang berjalan santai. Wening menghela napas panjang. "Entahlah. Saya juga tidak yakin dengan perasaan saya, Banyu. Tapi, gelagat Marni sangat aneh." "Benar atau tidak dugaan itu, bukan lag
Setelah selesai memeriksa Marni, pandangan Mbok dukun kembali menghadap Kanjeng Ibu. "Bagaiamana, Mbok? Benar, bocah ini hamil?" tuntut Kanjeng tidak sabar. "Nuwun sewu, Ndoro besar. Belum terlihat jelas, mungkin karena baru sepuluh hari. Bisa menunggu satu bulan lagi untuk memastikan. Tapi, dari wajah pucatnya sepertinya iya." Suasana mendadak hening. Wajah Marni semakin pucat, tangannya berkeringat dingin. Debaran jantungnya, tidak usah ditanyakan lagi. Rasanya seperti ada genderang perang sedang ditabuh di dalam dada Marni. Namun, ada secuil rasa lega di hatinya setelah mendengar jawaban dari paraji yang memeriksanya. Namun, dari pengamatan Wening, tatapan Mbok dukun terlihat aneh. Matanya menyimpan keraguan, namun sepertinya terlalu takut untuk diungkapkan. Sedangkan Marni hanya tersenyum canggung sembari mengangguk. "Rum, ambilkan upah buat Mbok dukun!" titah Kanjeng Ibu pada pelayan kepercayaannya. Rum membawa satu ekor ayam jago, beras satu karung goni, masih ditamb
Disaat tatapan semua orang itu terlihat penuh penghakiman, Mbok Suti menghampiri Marni dan meraih tangannya. Menariknya untuk duduk di kursi kayu panjang berhadapan dengan Banyu. Tatapan canggung juga terjadi saat bola matanya beradu dengan manik hitam Banyu. Membuat bola mata itu bergerak liar ke sembarang arah karena gugup. "Apa aku juga harus hamil anak Juragan supaya naik pangkat?" Sebuah cibiran meluncur begitu saja dari bibir salah satu abdi yang sedang mengupas bawang. Nada dan tatapannya penuh cibiran yang membuat Marni menundukan pandangannya. "Jangan, Tin. Nasibnya tidak jelas. Iya kalau benar-benar dinikahi, kalau cuma diambil anaknya saja gimana? Jongos kaya kita mana ada harganya." Temannya ikut menimpali. Lalu tawa itu menggema di ruangan berdinding kayu tersebut. "Tin!" Suara Mbok Suti menjadi alarm berhentinya gunjingan yang terjadi di dapur. "Makan. Bagaimana nasibmu, tunggu keputusan Ndoro Besar dan Ndoro Juragan." Mbok Suti menyodorkan sepiring nasi dengan
Pagi ini Wening keluar kamar dengan wajah sumringah. Kebersamaannya dengan Banyu semalam membuat ia melupakan masalah yang terjadi di rumah tangganya. Wening mengenakan kebaya terbaiknya kali ini. Tidak seperti biasanya, Wening hari ini bersolek. Setelah semalam ia berbicara panjang lebar dengan Banyu setelah pertempuran panas mereka. Saat ia baru selangkah keluar dari kamarnya, Marni sudah berdiri di depan kamar seolah tengah menunggu Wening dengan sebuah senyuman yang membuat darah Wening mendidih. "Ndoro Ayu, Marni ingin bicara empat mata dengan Ndoro Ayu," pinta gadis itu pada Wening. Dada Wening terasa panas seolah terbakar. Namun, ia harus meredam bara api itu demi rencana balas dendamnya. "Apa?!" jawab Wening dengan nada ketus. Tatapannya memindai penampilan pelayan itu. Kemben kusut dengan warna yang sudah memudar. Kain jarik berwarna putih yang sudah berubah warna. Ia kemudian membuang wajahnya ke arah lain. Ia merasa muak secara tiba-tiba ketika melihat wajah Marn
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews