LOGINSebagai kusir pribadi yang tangguh, Banyu tak tega melihat istri majikannya terus merana. Padahal Wening, sang istri saudagar, teramat cantik dan setia. Sayang, suaminya justru berpaling pada wanita lain. Hingga suatu kali, Banyu tak sengaja memergoki Wening tengah meratapi nasibnya seorang diri sambil meneteskan air mata. Bukannya marah karena tertangkap basah oleh Banyu, Wening justru menarik Banyu mendekat dan berbisik, "Suamiku saja mencari kepuasan di luar, lalu mengapa aku tidak boleh?" Namun, satu hal yang tidak Wening ketahui... Banyu bukanlah sekadar kusir biasa. Ia sebenarnya adalah...
View More"Kangmas baru pulang tadi malam, sekarang harus pergi lagi? Lalu aku bagaiamana?" rengek Wening pada Jayendra saat pria itu bersiap-siap untuk pergi. "Loh, Kangmas pergi kan untuk mencari uang. Semalam, sebelum pulang, Kangmas dapat kabar kalau ada barang bagus yang datang," jawab Jayendra. Pria itu selalu saja memakai alasan akan datang barang bagus yang membuatnya harus datang ke dermaga untuk melihat barang tersebut. Wening berdecak kesal. "Apa tidak bisa suruh yang lain? Soma pasti bisa urus, kan? Kenapa Kangmas harus datang sendiri? Juragan Sukar juga selalu suruh anak buahnya untuk urusan barang dagangan. Tidak seperti Kangmas yang harus datang sendiri," protes Wening. Wanita berparas ayu itu duduk di bibir tanjang dengan mata berkaca-kaca. Air matanya hampir jatuh, hasrat yang selama beberapa hari ini tertahan, kini terpaksa kembali diredam. Ia sudah habis akal, bagaiamana caranya agar suaminya betah di rumah. Padahal, ia selalu mengutamakan penampilannya yang harus tampi
Hingga pagi, Banyu tidak dapat tidur karena kejadian semalam. Ia berharap jika apa yang ia lihat semalam adalah salah. Namun, mata kepalanya jelas-jelas melihat jika yang keluar dari pondok kosong itu adalah Jayendra, yang diikuti oleh seorang wanita. Tanpa sadar, tangannya mengepal, dadanya tiba-tiba bergemuruh saat kejadian itu kembali terlintas di ingatannya. Rahangnya mengeras, membayangkan bagaimana kecewanya Wening semalam. Padahal wanita itu sudah berharap jika semalam ia akan dimanjakan oleh suaminya. Nyatanya pria itu justru bermain dengan wanita lain. "Benar-benar tiak tahu diuntung Jayendra ini. Punya istri yang cantik tapi lebih memilih wanita yang tidak jelas," batin Banyu. "Kang, pagi-pagi sudah ngelamun," sapa Marni seraya menyodorkan segelas kopi pada pria itu. "Ngelamunin apa sih?" Banyu terhenyak, ia sedikit menggeser duduknya karena kedatangan Marni yang tanpa suara. Meskipun merasa sedikit kesal, ia memutuskan untuk tidak mempermasalahkannya. Namun, ada sesuatu
"Jantungku tadi rasanya mau copot lo, Kang. Tiba-tiba Ndoro Ayu datang marah-marah," ucap Marni seraya menyodorkan segelas air minum pada Banyu.Banyu yang duduk dengan mengangkat kaki di amben dapur hanya tersenyum simpul untuk menanggapi ucapan Marni. Ia tengah menikmati sepiring nasi jagung, jatah sarapannya yang sudah kesiangan."Loh, memangnya kamu lagi ngapain, to Marni?" tanya Mbok Suti ikut bergabung."Ya ndak lagi ngapa-ngapain to, Mbok. Lawong kita lagi ambil jenggernya Ndoro Juragan yang kejempit kayu. Iya kan, Kang Banyu?" ucap Marni seraya meminta pembenaran dari Banyu.Banyu hanya mengangguk seraya mengunyah makanannya. Ia harus cepat-cepat menghabiskan sarapannya karena masih ada pekerjaan yang belum ia selesaikan."Pelan-pelan, ndak ada yang minta makananmu loh," bisik Marni di sembari duduk di samping Banyu. Banyu merasa ada yang berbeda dari gerak-gerik Marni. Entah kenapa pandangannya tiba-tiba terpaku pada gundukan yang sedikit menyembul di balik kemben yang di p
Dada Wening bergemuruh hebat saat mendengar suara samar itu. Tanpa pikir panjang Wening mendorong pintu kayu yang sudah reot itu sekuat tenaga. "Sedang apa kalian?" teriak Wening saat pintu itu sudah terbuka. Pupil matanya melebar, menatap Banyu dan Marni secara bergantian.Marni tersentak, dia jatuh terduduk di atas lantai tanah dengan tumpukan jerami di atasnya. Kemben yang ia pakai untuk menutupi asetnya terlihat sedikit turun. Menampilkan separuh dari dua apel yang tergantung di dada Marni. Sedangkan Banyu segera bangkit dan menghampiri Wening."Ndoro Ayu," panggil Banyu tergagap. "Ndoro Ayu membutuhkan sesuatu?" tanya Banyu seraya merapikan pakaiannya. Satu kancingnya terbuka menampakan separuh dada pria itu. Bau keringat yang bercampur aroma maskulin tercium di indera penciuman Wening. Namun, hal itu tidak lantas membuat Wening menurunkan amarahnya."Kalian berbuat tidak senonoh di tempat ini? Kalian pikir—""Nuwun sewu, Ndoro Ayu," potong Banyu dengan nada tenang. Membuat kal
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.