ログインSeorang budak tak bernama… tiba-tiba dipilih oleh lima wanita dari langit untuk menjadi suami mereka. Di dunia yang memandangnya hina, ia justru menjadi pusat dari kekuatan yang tak terbayangkan. Namun di balik kecantikan dan pesona kelima wanita itu, tersembunyi rahasia gelap, perjanjian kuno, dan kutukan yang bisa menghancurkan segalanya.
もっと見る“Akan kami beli budak itu!”
Suara tegas seorang wanita langsung menyadarkan Ashlan kembali. Padahal sebelumnya kesadarannya hampir hilang karena lebih dari tiga hari ia tidak diberi makan oleh tuannya. Pemuda itu pun terbangun. Saat matanya terbuka, dia melihat seorang wanita menunjuk ke arah dirinya. ‘Apakah ini efek samping karena aku sudah tidak makan dan minum selama beberapa hari? Tidak mungkin nona muda itu ingin membeliku,’ pikir Ashlan lemah. “Yang ini hampir mati!” teriak pedagang, setengah kesal, setengah putus asa karena sampai detik ini budak itu belum juga laku terjual. “Murah saja! Siapa yang mau mengambilnya, cukup dua keping perak saja!” “Baiklah. Dua keping perak. Aku akan membelinya dengan lima koin emas.” Wanita itu terdengar seperti wanita bangsawan yang kurang waras, tetapi nadanya tetap tenang. Bagaimana tidak? Dia begitu bodoh ingin membeli budak seperti Ashlan dengan harga mahal, padahal tidak ada kelebihan apa pun yang pria itu miliki. “Nona, jangan bercanda. Untuk apa beli budak seperti ini? Jika nona punya uang sebanyak itu, aku akan berikan budak terbaik yang aku punya.” “Tidak. Tidak perlu.” Nada wanita itu tidak berubah, tetap tegas. “Aku dan saudariku hanya ingin budak yang kau jual seharga dua keping perak itu saja; dan ini uangnya.” Wanita itu tidak sedang bercanda. Dia benar-benar membeli Ashlan. “Hey, apa lagi yang kau tunggu? Cepat lepaskan tali yang mengikat tangannya. Aku akan langsung membawanya pergi.” Pedagang itu tampaknya masih belum yakin dengan keputusan para wanita bangsawan cantik itu. Tatapannya sempat beralih dari wajah satu ke yang lain. “Sebelum itu, nona-nona sekalian tidak boleh mengembalikan budak ini lagi kepadaku, ya! Jika dia mati setelah ini, aku tidak akan bertanggung jawab untuk mengembalikan uang nona-nona sekalian,” pungkas sang pedagang. “Baiklah. Kita sepakat.” Rantai di tangan Ashlan dilepas dengan kasar, menimbulkan bunyi logam yang beradu. Rasa perih menjalar di pergelangan tangannya. “Ambil,” kata pedagang itu cepat, seolah ingin segera menyingkir dari situasi yang tidak bisa dia pahami. Bersamaan dengan pelepasan budak itu, salah satu dari mereka melemparkan lima koin emas tanpa melihat kepada pedagang itu lagi. Dengan cepat, transaksi itu pun selesai. “Ayo, kita pulang sekarang,” ucap salah satu dari lima wanita itu singkat. Budak itu tidak menjawab apa yang wanita itu katakan, dan ia juga tidak mengabaikan ucapan itu; ia tetap ikut berjalan dengan langkah pelan di belakang para tuan barunya. Ia tidak punya pilihan lain. Daripada mati sia-sia dan diperlakukan lebih buruk dibandingkan perlakuan manusia kepada anjing, pria itu berpikir bahwa mungkin kehidupannya akan sedikit lebih baik jika ikut dengan para wanita itu. Perjalanan itu terasa sangat sunyi. Mereka tidak saling bicara satu sama lain; dan di belakang lima wanita itu, Ashlan mengikuti dengan keringat dingin di tubuhnya. Tubuhnya sangat lemah, langkahnya beberapa kali goyah, hampir jatuh... tetapi ia tetap memaksakan diri sampai tujuan. Rumah itu berada di ujung kota. Berdiri dengan kokoh dan tampak sangat menyeramkan jika dilihat dari luar. Namun saat pemuda itu masuk untuk pertama kali ke dalam rumah itu, ia benar-benar terkejut melihat betapa mewahnya tempat itu. Bahkan ia berani bilang jika rumah itu jauh lebih mewah dibandingkan istana raja! “Duduk.” Suara itu kembali terdengar, tenang namun tidak bisa ditolak. Saat diberi perintah, Ashlan tidak membantah. Ia langsung duduk di kursi kayu sederhana dengan lima orang wanita cantik yang berdiri di hadapannya. Salah satu dari lima wanita itu perlahan-lahan maju mendekati dirinya; rambutnya hitam panjang dengan raut wajah yang tenang, namun ada ketegasan yang jelas terlihat dalam sorot matanya. “Aku Lira.” Selanjutnya Lira menunjuk yang lain, satu per satu. “Nara.” Wanita itu menatap lembut, tetapi tetap tegap. “Vea.” Tatapannya tajam, dingin, seolah sulit percaya pada siapa pun. “Sia.” Ia tampak sedikit ragu, matanya bergerak pelan, terlihat paling lugu. “Elen.” Wanita itu hanya diam, memperhatikan tanpa banyak bicara. Saat para tuannya memperkenalkan nama mereka masing-masing kepada dirinya, tentu saja Ashlan tidak akan diam saja. Dengan insting bertahan hidup yang ia miliki, ia segera memperkenalkan dirinya. “Salam kepada nona-nona.” Ashlan memberikan hormat, bersujud di hadapan Lira, Nara, Vea, Sia, dan Elen. “Nama hamba adalah Ashlan. Hamba berjanji akan melayani nona semua dengan baik.” Setelah memperkenalkan dirinya, pria itu diam. Menunggu beberapa saat. Dan akhirnya jawaban yang ia nantikan datang juga. Namun... jawaban yang datang berbeda dengan yang ia perkirakan. “Satu hal penting yang harus kamu tahu, Ashlan, kami bukan orang biasa.” Kalimat itu datar, tetapi cukup untuk menumbuhkan kebingungan di pikiran Ashlan. “Atau lebih tepatnya... kami bukan manusia biasa. Dan lebih pasnya, kami ini bukan manusia.” Sesaat sunyi. Pemuda itu mengernyit tipis; namun untungnya ia tidak tertawa. Ia menahan diri. “Kami berasal dari tempat yang tidak bisa kamu capai,” lanjut Lira. “Dan sudah terjebak di dunia ini... hampir 100 tahun.” Mendengar itu, kali ini Ashlan tidak bisa mengontrol ekspresi wajahnya. Tatapannya berubah. 100 tahun?! Mustahil! Namun ekspresi wajah lima wanita itu tidak berubah, seakan-akan mereka benar-benar serius. Wajah mereka tidak menunjukkan kebohongan. “Kami tidak bisa kembali,” kata Nara dengan raut wajah penuh kesedihan. “Sampai kami bisa menemukan satu hal.” “Manusia yang lahir dengan jiwa yang bersih, tidak ternoda, dan tidak rusak.” Sesaat sunyi kembali turun... dan perlahan semua tatapan jatuh kepada Ashlan. Kebingungan langsung menyerangnya. Dan akhirnya ia bicara. “Salah orang.” Suaranya serak karena belum minum berhari-hari lamanya. “Aku hanya budak.” Ia mengangkat tangannya, memperjelas. “Aku tidak mungkin keturunan orang suci yang kalian cari. Aku hanya budak kotor. Aku tidak sebersih yang nona-nona pikir.” “Lihatlah.” Ia menunjukkan luka bekas rantai dan darah di tangannya. “Jika keturunan suci yang kalian cari, maka bukan aku jawabannya.” Sesaat ia sempat takut. Takut mereka tersinggung. Namun tidak. Tidak ada yang tersinggung. Tidak ada yang menyangkal. Di tengah kekhawatirannya, Lira justru tersenyum tipis. “Justru karena itu,” ucapnya tetap tenang. Ashlan terdiam. Ia benar-benar tidak mengerti. “Tubuhmu mungkin kotor,” lanjut Lira. “Hidupmu mungkin hancur.” “Namun jiwamu...” Lira menatap lebih dalam, “... tidak.” Kali ini pemuda itu benar-benar buntu. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Dan di tengah kebingungan itu, tiba-tiba— “Kamu akan menikahi kami.” Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa peringatan dan tanpa pilihan. Ashlan langsung mengangkat kepalanya. “Apa?!” “Dengan pernikahan ini, jiwamu yang suci akan membersihkan jiwa kami yang sudah ternoda. Dan perlahan-lahan, dengan bantuanmu, kami bisa mendapatkan kembali seluruh kekuatan kami,” kata Vea dengan nada dingin. Kemudian Nara melanjutkan dengan lebih lembut. “Kami benar-benar membutuhkan bantuan darimu, Ashlan.” Kepala pemuda itu terasa kosong. Ia mencoba menatap mereka satu per satu, mencari tanda kebohongan. Namun... tidak ada. Mereka serius. Semuanya. —Bersambung—Setelah dengan berani membuat sumpah, Nadia langsung pergi meninggalkan tempat itu. Dan tidak lama setelah Nadia pergi ....Vea membalikkan badan, menatap Ashlan yang masih berdiri di belakangnya."Jangan pernah goyah hanya karena dia terang-terangan mengaku menyukaimu," tegur Vea, memecah keheningan. "Dia cuma putri manja yang tidak terbiasa ditolak."Elen melangkah mendekat, melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap Ashlan dengan tatapan yang jauh lebih serius."Vea benar. Dan ingat satu hal lagi, Ashlan," potong Elen dengan nada menekan. "Jika sampai kamu terbuai oleh rayuannya, bahkan sedikit saja! Kita semua yang ada di sini akan mati. Jiwa suci milikmu akan ternoda begitu disentuh oleh wanita lain."Lira, Nara, dan Sia tidak mengucapkan satu kata pun. Mereka hanya berdiri diam di posisinya masing-masing, menatap Ashlan dengan tatapan berat. Sikap diam ketiganya sudah cukup menjadi tanda bahwa mereka menyetujui setiap kata yang diucapkan oleh Vea dan Elen.Ashlan mengepalk
Satu minggu setelah kejadian di acara jamuan istana; Ashlan dan kelima istrinya melanjutkan hidup seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Namun, pada saat itu para pekerja di kebun tidak bisa menyembunyikan rasa kaget mereka ketika melihat perubahan wajah Ashlan yang kini semakin menua hanya dalam waktu satu minggu. ... Hari itu adalah pertama kali sejak terakhir kali Ashlan keluar saat ingin pergi ke istana. Karena satu minggu terakhir, Ashlan fokus menyembuhkan diri dengan melakukan meditasi bersama kelima istrinya. Walaupun pada saat itu efeknya tidak terlalu kuat, tetapi setidaknya hal itu bisa menutupi kurangnya usia Ashlan yang begitu banyak. Walaupun wajahnya tetap berubah, tetapi setidaknya perubahan itu tidak terlalu terlihat jelas. ... Setelah seminggu penuh beristirahat, Ashlan akhirnya kembali bekerja di lahan bersama dengan orang-orang lainnya ikut bekerja di sana. Dan sebelum bekerja ia ingin memastikan apakah permintaannya benar-benar telah dikabulkan oleh Raja Salman a
Walaupun pada saat itu rasanya kulit tubuh Ashlan tergoreng habis, dengan sisa tenaga yang ada ia langsung berlari untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi di aula jamuan sampai-sampai membuat Vea dan juga Elen berteriak dengan suara yang keras. Dan ketika ia baru sampai di sana, Ashlan benar-benar sangat terkejut melihat bahwa, Lira, dan Sia sudah tidak sadarkan diri di tempat itu. Dan bahkan Nara pun tampak lemah. Dan pada saat itu hanya Vea dan Elen yang baik-baik saja diantara mereka berenam. Dengan menggunakan sisa tenaga yang ada, Ashlan meminta bantuan kepada Raja Salman untuk membiarkan dirinya dan juga kelima istrinya untuk segera pergi dari istana. Dan beruntung pada saat itu Raja Salman memberikan izin dan bahkan membantu dengan memberikan seorang kusir untuk mengendarai kuda yang digunakan oleh Ashlan dan kelima istrinya. ... Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya mereka sampai kembali di rumah. Ashlan mengucapkan banyak terima kasih kepada kusir itu dan jug
"Tuan Ashlan adalah tamu terhormat yang kuundang secara pribadi ke istana ini. Siapa pun yang menghina Tuan Ashlan, itu artinya kalian telah menghina keputusanku dan menghina Kerajaan Jayakarta!" pangkas Raja Salman penuh penekanan.Tuan Bara dan Arka membeku di tempatnya. Hinaan yang ingin mereka lontarkan untuk mempermalukan Ashlan justru berbalik menjadi tamparan keras yang meruntuhkan harga diri mereka di hadapan seluruh pejabat dan bangsawan kerajaan. Tuan Bara cepat-cepat menundukkan kepalanya dalam-dalam, menahan rasa malu yang teramat sangat.Sementara itu, Ashlan hanya bisa terpana melihat ketegasan dari sang raja. Hatinya tersentuh melihat seorang penguasa tertinggi membela dirinya yang biasa ini dengan begitu megah.... Setelah kekacauan itu terjadi dan kemudian di atasi, semua orang duduk di tempat masing-masing sambil diam menyantap hidangan yang telah disiapkan khusus oleh Raja Salman untuk semua orang, terutama untuk Ashlan dan juga kelima istrinya. Dan di tengah-te
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.