Compartir

Tuntutan Malam Pertama

last update Fecha de publicación: 2026-05-24 08:39:04

Ashlan yang sudah mengerti dengan situasi yang ada akhirnya setuju untuk melakukan ritual pernikahan dengan kelima wanita cantik yang mengaku jika mereka bukanlah manusia biasa.

Klaim itu telah dibuktikan secara nyata oleh salah satu dari mereka sebelumnya, membuat pria itu tidak punya alasan lagi untuk menyangkal.

Ritual pernikahan itu sangatlah berbeda dengan ritual pernikahan pada umumnya.

Ashlan yang tidak tahu apa-apa hanya bisa terus mengikuti setiap arahan yang diberikan oleh Lira.

Budak itu tidak berani membantah, tidak berani menolak, bahkan untuk sekadar mempertanyakan pun ia harus berpikir dua kali.

Bahkan di saat Lira meminta kepada Ashlan untuk melepaskan semua benang yang menutupi tubuhnya, pria itu tetap tidak bisa menolak.

Tangan pemuda itu sempat ragu, tetapi pada akhirnya ia tetap menurut.

“Kenapa aku harus bertelanjang bulat seperti ini?” tanya Ashlan, suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya, seolah ia sendiri tidak yakin dengan pertanyaannya.

“Semua ini ada sebabnya,” jawab Lira dengan tenang, tanpa sedikit pun terlihat ragu. “Kamu tidak perlu merasa cemas, karena bukan hanya kamu saja yang harus melepaskan semua pakaianmu. Kami juga akan melakukan hal yang sama.”

Nada suaranya datar, tetapi penuh kepastian.

Ashlan merasa sulit untuk percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Dalam pikirannya, semua ini terasa tidak masuk akal.

Pemuda masih berpikir jika apa yang ia alami saat ini hanyalah ilusi yang tidak nyata—ilusi yang disebabkan karena dehidrasi dan juga rasa lapar yang terlalu menyiksa tubuhnya selama berhari-hari.

Namun, semua prasangka itu langsung runtuh.

Satu per satu, kelima wanita itu benar-benar melakukan apa yang mereka katakan.

Lira, Nara, Vea, Sia, dan Elen... mereka berlima melepaskan setiap kain yang menutupi tubuh mereka. Gerakan mereka tenang, tanpa rasa ragu, tanpa rasa malu, seolah hal itu adalah sesuatu yang biasa bagi mereka.

Ashlan terdiam. Matanya terbuka lebar.

Ashlan tidak tahu harus melihat ke mana.

Dan tanpa memberikan waktu bagi pria itu untuk mencerna semuanya, kelima wanita itu perlahan mendekat.

Mereka berjalan bersama, mengelilinginya.

Ashlan duduk di atas sebuah batu besar yang berada tepat di tengah lingkaran api yang menyala. Api itu tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk memberikan cahaya yang terang di ruangan bawah tanah itu.

Cahaya api menari-nari, memantulkan bayangan mereka ke dinding batu di sekeliling.

Suasana terasa hangat, tetapi juga menekan.

“Berikan tangan kananmu kepadaku, dan kemudian berikan tangan kirimu kepada Lira.”

Nara memberikan instruksi dengan suara yang lembut, tetapi tetap jelas.

Ashlan menelan ludahnya pelan.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengikuti perintah itu.

Ia memberikan tangan kanannya kepada Nara, dan tangan kirinya kepada Lira. Sentuhan itu terasa hangat, berbeda dari yang ia bayangkan.

Kemudian, dengan tangan yang lain, Nara dan Lira mulai mengalirkan sesuatu—sesuatu yang tidak terlihat, tetapi bisa dirasakan—kepada Vea dan Sia.

Dan dari Vea dan Sia, aliran itu diteruskan kembali kepada Elen.

Sebuah lingkaran terbentuk.

Ashlan berada di tengahnya.

“Sekarang kita hampir mencapai puncak penyatuan,” ucap Lira pelan. “Dan kamu... Ashlan, pusatkan pikiranmu pada kekosongan. Jangan pikirkan apa pun, dan tetap jaga ketenanganmu.”

Elen menambahkan dengan suara yang jauh lebih pelan, hampir seperti bisikan yang tertiup angin, “Jangan terlalu gugup atau gelisah. Jika kamu gugup, ritual ini tidak akan berjalan dengan baik.”

Begitu banyak tekanan yang diberikan.

Namun, mereka mengatakannya seolah itu hal yang mudah.

Ashlan mencoba menarik napas dalam.

Sekali.

Dua kali.

Namun detak jantungnya tetap tidak mau tenang.

Tangannya masih terasa dingin.

Tubuhnya sedikit gemetar.

“Sekarang... aku akan mulai,” ucap Lira.

Sesaat kemudian—

Ashlan langsung merasakan sesuatu di dalam tubuhnya seperti ditarik keluar.

Rasanya aneh.

Tidak sakit, tetapi juga tidak nyaman.

Lebih seperti sesuatu yang perlahan-lahan diambil dari dalam dirinya.

Di saat yang sama, ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Kelima wanita itu memancarkan cahaya.

Lira dengan cahaya putih yang bersih.

Nara dengan cahaya merah yang hangat.

Vea dengan cahaya hijau yang tajam.

Sia dengan cahaya kuning yang lembut.

Dan Elen dengan cahaya biru yang tenang.

Cahaya itu saling terhubung. Mengalir. Berputar. Dan pusatnya... adalah dirinya.

Namun semakin lama, semakin kuat cahaya itu bersinar, tubuh Ashlan justru semakin melemah.

Tenaganya terkuras. Napasnya menjadi lebih berat. Pandangannya mulai kabur. Lingkungan di sekitarnya mulai terasa jauh.

Dan perlahan... kesadarannya mulai menghilang.

Di saat itulah—Lira menghentikan ritual itu.

“Ashlan!”

Suaranya terdengar sedikit lebih keras dari sebelumnya. Lira langsung meraih tangan pria itu.

Sentuhan itu membuat Ashlan sedikit tersentak. Jantungnya kembali berdegup. Dengan pelan, ia menarik tangannya.

“Aku... sebelumnya baik-baik saja,” ucapnya pelan. “Tapi semakin lama... energiku seperti dihisap habis. Rasanya aku ingin pingsan.”

Saat ia berbicara, ia melihat Lira dan Nara saling bertukar pandang.

Tatapan mereka singkat. Namun jelas ada sesuatu yang sedang mereka komunikasikan.

“Baiklah,” ucap Lira akhirnya. “Kita hentikan dulu sampai di sini.”

“Kita akan lanjutkan nanti.”

Lalu ia menatap Ashlan.

“Dan untuk saat ini... kamu sudah sah menjadi suami kami berlima.”

Ashlan terdiam.

Benar-benar tidak mengerti.

“Kapan?” tanyanya. “Seingatku kita belum melakukan apa pun.”

“Ritual kami berbeda,” jawab Sia pelan. “Saat laki-laki dan perempuan saling membuka diri... itu sudah cukup.”

Dan dari penjelasan itu, Ashlan akhirnya mengerti.

Ia tidak berkata apa-apa lagi.

___

Setelah itu, Ashlan berganti pakaian. Tubuhnya terasa lebih ringan dibanding sebelumnya.

Saat ia keluar dari kamar, ia langsung disambut oleh kelima wanita itu.

Mereka sudah menyiapkan makanan. Aroma hangat langsung menyambutnya. Refleks, pria itu langsung bersujud.

Namun—

“Berhenti.”

Suara Lira terdengar tegas.

“Mungkin dahulu kamu adalah budak,” lanjutnya. “Tetapi sekarang tidak lagi.”

“Kamu adalah suami kami. Harga diri kami ada padamu.”

“Jadi jangan tunduk kepada siapa pun.”

Ashlan terdiam.

Perlahan, budak itu mengangkat kepalanya dan mengangguk.

“Ayo, kita makan,” ucap Vea.

Nada suaranya tetap dingin, tetapi kali ini ada sedikit kelembutan yang terasa.

Ashlan duduk. Menatap makanan di hadapannya.

Nasi putih. Sederhana. Namun bagi dirinya... sangat berharga.

Tangannya sedikit gemetar saat mengambilnya.

Pemuda itu mulai makan. Perlahan. Setiap suapan terasa hangat.

Air matanya jatuh tanpa ia sadari. Ia terus makan. Makan malam itu terasa sangat nikmat.

Dan setelah selesai—

“Sepertinya energimu sudah kembali,” ucap salah satu dari mereka.

Ashlan belum sempat menjawab.

“Sekarang... ayo lakukan malam pertama kita.”

Secara bersamaan, kelima wanita itu kembali melepaskan pakaian mereka di hadapannya.

Tanpa ragu. Tanpa malu.

Ashlan terdiam. Jantungnya berdegup lebih kencang. Lebih cepat dari sebelumnya.

Dan kali ini... ia tahu, ia tidak bisa menghindar.

—Bersambung—​

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Budak & Lima Istri Dari Langit   Dibilang Loyo

    Ashlan dan kelima majikannya berkeliling pasar, membeli beberapa barang dan juga beberapa herbal yang bisa membantu meningkatkan stamina pria.Pasar hari itu ramai seperti biasa. Suara pedagang saling bersahutan menawarkan dagangan, aroma rempah dan makanan bercampur di udara, serta langkah kaki orang-orang yang hilir mudik tanpa henti.Namun di tengah keramaian itu, ada satu kelompok yang mencuri perhatian siapa pun yang melihat.Lima wanita dengan kecantikan luar biasa berjalan bersama seorang pria yang penampilannya masih sederhana. Kontras itu terlalu mencolok untuk diabaikan.Beberapa orang mulai berbisik.“Apa kau lihat itu?”“Bukankah dia budak yang kemarin dijual?”“Kenapa bisa bersama wanita-wanita itu?”Bisikan itu tidak terlalu pelan. Cukup untuk didengar.Pria itu—Ashlan—menunduk. Ia tidak berani menatap balik siapa pun. Tangannya sibuk membawa barang belanjaan, walaupun sebenarnya barang itu tidak seberapa berat dibandingkan beban hidup yang pernah ia tanggung sebelumnya.

  • Budak & Lima Istri Dari Langit   Membuat Semua Orang Iri

    "Ayo, Ashlan. Bukan bajumu."Lira mengambil beberapa langkah mendekati Ashlan. Langkahnya tenang, tetapi penuh kepastian. Di sisi lain, pria itu justru mengambil beberapa langkah mundur secara refleks untuk menghindari Lira. Jarak di antara mereka sempat terjaga, walaupun tidak lama.Ia belum siap.Benar-benar belum siap untuk melakukan ritual malam pertama yang biasa dilakukan oleh pasangan pengantin baru. Bahkan hanya dengan membayangkannya saja, jantungnya sudah berdegup tidak teratur.Lagipula, bagaimana bisa Ashlan melayani lima wanita sekaligus?Pikiran itu terus berputar di kepalanya.Ashlan tidak yakin jika ia punya cukup energi untuk memuaskan kelima majikannya itu. Tubuhnya bahkan baru saja pulih dari kondisi lemah akibat tidak makan dan minum selama berhari-hari."Kupikir... aku belum siap, nona," ucap Ashlan dengan suara yang sangat pelan—nyaris seperti bisikan. Ia takut jika penolakan yang diucapkannya akan membuat kelima majikannya itu marah.Suasana sempat hening.“Kena

  • Budak & Lima Istri Dari Langit   Tuntutan Malam Pertama

    Ashlan yang sudah mengerti dengan situasi yang ada akhirnya setuju untuk melakukan ritual pernikahan dengan kelima wanita cantik yang mengaku jika mereka bukanlah manusia biasa.Klaim itu telah dibuktikan secara nyata oleh salah satu dari mereka sebelumnya, membuat pria itu tidak punya alasan lagi untuk menyangkal.Ritual pernikahan itu sangatlah berbeda dengan ritual pernikahan pada umumnya.Ashlan yang tidak tahu apa-apa hanya bisa terus mengikuti setiap arahan yang diberikan oleh Lira.Budak itu tidak berani membantah, tidak berani menolak, bahkan untuk sekadar mempertanyakan pun ia harus berpikir dua kali. Bahkan di saat Lira meminta kepada Ashlan untuk melepaskan semua benang yang menutupi tubuhnya, pria itu tetap tidak bisa menolak.Tangan pemuda itu sempat ragu, tetapi pada akhirnya ia tetap menurut.“Kenapa aku harus bertelanjang bulat seperti ini?” tanya Ashlan, suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya, seolah ia sendiri tidak yakin dengan pertanyaannya.“Semua ini ada s

  • Budak & Lima Istri Dari Langit   Menikahi Lima Majikan

    "Kenapa aku? Kenapa harus aku?" tanya Ashlan.Mata pemuda itu sibuk melihat kepada lima wanita sekaligus secara bergantian—menuntut jawaban yang membuatnya penasaran. "Aku yakin, di luar sana banyak orang-orang yang terlahir seperti diriku. Kenapa nona-nona sekalian memilihku?"Lira kemudian menjawab tanpa ragu. "Jika memang mudah menemukan orang seperti kamu, maka kami tidak mungkin terjebak di tempat ini hampir 100 tahun, Ashlan."Sesaat kemudian... sunyi. Cukup lama.Kemudian, dengan suara yang sedikit bergetar, pemuda itu bertanya, "Bagaimana jika aku menolak?" Pertanyaan itu keluar pelan, namun cukup tajam.Awalnya ada perasaan takut untuk bertanya. Tetapi daripada menyesal seumur hidup... lebih baik dicoba saja. Kelima wanita itu saling bertukar pandang setelah mendengar pertanyaan tersebut.Lalu, Lira kembali menatap Ashlan dalam. "Kamu tidak akan menolak." Terdengar seperti ancaman, tetapi juga bukan. Lebih seperti kepastian yang meyakinkan.Sesaat, sunyi kembali datang. Pri

  • Budak & Lima Istri Dari Langit   Dibeli Oleh Lima Wanita

    “Akan kami beli budak itu!” Suara tegas seorang wanita langsung menyadarkan Ashlan kembali. Padahal sebelumnya kesadarannya hampir hilang karena lebih dari tiga hari ia tidak diberi makan oleh tuannya.Pemuda itu pun terbangun. Saat matanya terbuka, dia melihat seorang wanita menunjuk ke arah dirinya. ‘Apakah ini efek samping karena aku sudah tidak makan dan minum selama beberapa hari? Tidak mungkin nona muda itu ingin membeliku,’ pikir Ashlan lemah.“Yang ini hampir mati!” teriak pedagang, setengah kesal, setengah putus asa karena sampai detik ini budak itu belum juga laku terjual.“Murah saja! Siapa yang mau mengambilnya, cukup dua keping perak saja!”“Baiklah. Dua keping perak. Aku akan membelinya dengan lima koin emas.” Wanita itu terdengar seperti wanita bangsawan yang kurang waras, tetapi nadanya tetap tenang.Bagaimana tidak? Dia begitu bodoh ingin membeli budak seperti Ashlan dengan harga mahal, padahal tidak ada kelebihan apa pun yang pria itu miliki.“Nona, jangan bercanda

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status