LOGINAshlan yang sudah mengerti dengan situasi yang ada akhirnya setuju untuk melakukan ritual pernikahan dengan kelima wanita cantik yang mengaku jika mereka bukanlah manusia biasa.
Klaim itu telah dibuktikan secara nyata oleh salah satu dari mereka sebelumnya, membuat pria itu tidak punya alasan lagi untuk menyangkal. Ritual pernikahan itu sangatlah berbeda dengan ritual pernikahan pada umumnya. Ashlan yang tidak tahu apa-apa hanya bisa terus mengikuti setiap arahan yang diberikan oleh Lira. Budak itu tidak berani membantah, tidak berani menolak, bahkan untuk sekadar mempertanyakan pun ia harus berpikir dua kali. Bahkan di saat Lira meminta kepada Ashlan untuk melepaskan semua benang yang menutupi tubuhnya, pria itu tetap tidak bisa menolak. Tangan pemuda itu sempat ragu, tetapi pada akhirnya ia tetap menurut. “Kenapa aku harus bertelanjang bulat seperti ini?” tanya Ashlan, suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya, seolah ia sendiri tidak yakin dengan pertanyaannya. “Semua ini ada sebabnya,” jawab Lira dengan tenang, tanpa sedikit pun terlihat ragu. “Kamu tidak perlu merasa cemas, karena bukan hanya kamu saja yang harus melepaskan semua pakaianmu. Kami juga akan melakukan hal yang sama.” Nada suaranya datar, tetapi penuh kepastian. Ashlan merasa sulit untuk percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Dalam pikirannya, semua ini terasa tidak masuk akal. Pemuda masih berpikir jika apa yang ia alami saat ini hanyalah ilusi yang tidak nyata—ilusi yang disebabkan karena dehidrasi dan juga rasa lapar yang terlalu menyiksa tubuhnya selama berhari-hari. Namun, semua prasangka itu langsung runtuh. Satu per satu, kelima wanita itu benar-benar melakukan apa yang mereka katakan. Lira, Nara, Vea, Sia, dan Elen... mereka berlima melepaskan setiap kain yang menutupi tubuh mereka. Gerakan mereka tenang, tanpa rasa ragu, tanpa rasa malu, seolah hal itu adalah sesuatu yang biasa bagi mereka. Ashlan terdiam. Matanya terbuka lebar. Ashlan tidak tahu harus melihat ke mana. Dan tanpa memberikan waktu bagi pria itu untuk mencerna semuanya, kelima wanita itu perlahan mendekat. Mereka berjalan bersama, mengelilinginya. Ashlan duduk di atas sebuah batu besar yang berada tepat di tengah lingkaran api yang menyala. Api itu tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk memberikan cahaya yang terang di ruangan bawah tanah itu. Cahaya api menari-nari, memantulkan bayangan mereka ke dinding batu di sekeliling. Suasana terasa hangat, tetapi juga menekan. “Berikan tangan kananmu kepadaku, dan kemudian berikan tangan kirimu kepada Lira.” Nara memberikan instruksi dengan suara yang lembut, tetapi tetap jelas. Ashlan menelan ludahnya pelan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengikuti perintah itu. Ia memberikan tangan kanannya kepada Nara, dan tangan kirinya kepada Lira. Sentuhan itu terasa hangat, berbeda dari yang ia bayangkan. Kemudian, dengan tangan yang lain, Nara dan Lira mulai mengalirkan sesuatu—sesuatu yang tidak terlihat, tetapi bisa dirasakan—kepada Vea dan Sia. Dan dari Vea dan Sia, aliran itu diteruskan kembali kepada Elen. Sebuah lingkaran terbentuk. Ashlan berada di tengahnya. “Sekarang kita hampir mencapai puncak penyatuan,” ucap Lira pelan. “Dan kamu... Ashlan, pusatkan pikiranmu pada kekosongan. Jangan pikirkan apa pun, dan tetap jaga ketenanganmu.” Elen menambahkan dengan suara yang jauh lebih pelan, hampir seperti bisikan yang tertiup angin, “Jangan terlalu gugup atau gelisah. Jika kamu gugup, ritual ini tidak akan berjalan dengan baik.” Begitu banyak tekanan yang diberikan. Namun, mereka mengatakannya seolah itu hal yang mudah. Ashlan mencoba menarik napas dalam. Sekali. Dua kali. Namun detak jantungnya tetap tidak mau tenang. Tangannya masih terasa dingin. Tubuhnya sedikit gemetar. “Sekarang... aku akan mulai,” ucap Lira. Sesaat kemudian— Ashlan langsung merasakan sesuatu di dalam tubuhnya seperti ditarik keluar. Rasanya aneh. Tidak sakit, tetapi juga tidak nyaman. Lebih seperti sesuatu yang perlahan-lahan diambil dari dalam dirinya. Di saat yang sama, ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Kelima wanita itu memancarkan cahaya. Lira dengan cahaya putih yang bersih. Nara dengan cahaya merah yang hangat. Vea dengan cahaya hijau yang tajam. Sia dengan cahaya kuning yang lembut. Dan Elen dengan cahaya biru yang tenang. Cahaya itu saling terhubung. Mengalir. Berputar. Dan pusatnya... adalah dirinya. Namun semakin lama, semakin kuat cahaya itu bersinar, tubuh Ashlan justru semakin melemah. Tenaganya terkuras. Napasnya menjadi lebih berat. Pandangannya mulai kabur. Lingkungan di sekitarnya mulai terasa jauh. Dan perlahan... kesadarannya mulai menghilang. Di saat itulah—Lira menghentikan ritual itu. “Ashlan!” Suaranya terdengar sedikit lebih keras dari sebelumnya. Lira langsung meraih tangan pria itu. Sentuhan itu membuat Ashlan sedikit tersentak. Jantungnya kembali berdegup. Dengan pelan, ia menarik tangannya. “Aku... sebelumnya baik-baik saja,” ucapnya pelan. “Tapi semakin lama... energiku seperti dihisap habis. Rasanya aku ingin pingsan.” Saat ia berbicara, ia melihat Lira dan Nara saling bertukar pandang. Tatapan mereka singkat. Namun jelas ada sesuatu yang sedang mereka komunikasikan. “Baiklah,” ucap Lira akhirnya. “Kita hentikan dulu sampai di sini.” “Kita akan lanjutkan nanti.” Lalu ia menatap Ashlan. “Dan untuk saat ini... kamu sudah sah menjadi suami kami berlima.” Ashlan terdiam. Benar-benar tidak mengerti. “Kapan?” tanyanya. “Seingatku kita belum melakukan apa pun.” “Ritual kami berbeda,” jawab Sia pelan. “Saat laki-laki dan perempuan saling membuka diri... itu sudah cukup.” Dan dari penjelasan itu, Ashlan akhirnya mengerti. Ia tidak berkata apa-apa lagi. ___ Setelah itu, Ashlan berganti pakaian. Tubuhnya terasa lebih ringan dibanding sebelumnya. Saat ia keluar dari kamar, ia langsung disambut oleh kelima wanita itu. Mereka sudah menyiapkan makanan. Aroma hangat langsung menyambutnya. Refleks, pria itu langsung bersujud. Namun— “Berhenti.” Suara Lira terdengar tegas. “Mungkin dahulu kamu adalah budak,” lanjutnya. “Tetapi sekarang tidak lagi.” “Kamu adalah suami kami. Harga diri kami ada padamu.” “Jadi jangan tunduk kepada siapa pun.” Ashlan terdiam. Perlahan, budak itu mengangkat kepalanya dan mengangguk. “Ayo, kita makan,” ucap Vea. Nada suaranya tetap dingin, tetapi kali ini ada sedikit kelembutan yang terasa. Ashlan duduk. Menatap makanan di hadapannya. Nasi putih. Sederhana. Namun bagi dirinya... sangat berharga. Tangannya sedikit gemetar saat mengambilnya. Pemuda itu mulai makan. Perlahan. Setiap suapan terasa hangat. Air matanya jatuh tanpa ia sadari. Ia terus makan. Makan malam itu terasa sangat nikmat. Dan setelah selesai— “Sepertinya energimu sudah kembali,” ucap salah satu dari mereka. Ashlan belum sempat menjawab. “Sekarang... ayo lakukan malam pertama kita.” Secara bersamaan, kelima wanita itu kembali melepaskan pakaian mereka di hadapannya. Tanpa ragu. Tanpa malu. Ashlan terdiam. Jantungnya berdegup lebih kencang. Lebih cepat dari sebelumnya. Dan kali ini... ia tahu, ia tidak bisa menghindar. —Bersambung—Setelah dengan berani membuat sumpah, Nadia langsung pergi meninggalkan tempat itu. Dan tidak lama setelah Nadia pergi ....Vea membalikkan badan, menatap Ashlan yang masih berdiri di belakangnya."Jangan pernah goyah hanya karena dia terang-terangan mengaku menyukaimu," tegur Vea, memecah keheningan. "Dia cuma putri manja yang tidak terbiasa ditolak."Elen melangkah mendekat, melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap Ashlan dengan tatapan yang jauh lebih serius."Vea benar. Dan ingat satu hal lagi, Ashlan," potong Elen dengan nada menekan. "Jika sampai kamu terbuai oleh rayuannya, bahkan sedikit saja! Kita semua yang ada di sini akan mati. Jiwa suci milikmu akan ternoda begitu disentuh oleh wanita lain."Lira, Nara, dan Sia tidak mengucapkan satu kata pun. Mereka hanya berdiri diam di posisinya masing-masing, menatap Ashlan dengan tatapan berat. Sikap diam ketiganya sudah cukup menjadi tanda bahwa mereka menyetujui setiap kata yang diucapkan oleh Vea dan Elen.Ashlan mengepalk
Satu minggu setelah kejadian di acara jamuan istana; Ashlan dan kelima istrinya melanjutkan hidup seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Namun, pada saat itu para pekerja di kebun tidak bisa menyembunyikan rasa kaget mereka ketika melihat perubahan wajah Ashlan yang kini semakin menua hanya dalam waktu satu minggu. ... Hari itu adalah pertama kali sejak terakhir kali Ashlan keluar saat ingin pergi ke istana. Karena satu minggu terakhir, Ashlan fokus menyembuhkan diri dengan melakukan meditasi bersama kelima istrinya. Walaupun pada saat itu efeknya tidak terlalu kuat, tetapi setidaknya hal itu bisa menutupi kurangnya usia Ashlan yang begitu banyak. Walaupun wajahnya tetap berubah, tetapi setidaknya perubahan itu tidak terlalu terlihat jelas. ... Setelah seminggu penuh beristirahat, Ashlan akhirnya kembali bekerja di lahan bersama dengan orang-orang lainnya ikut bekerja di sana. Dan sebelum bekerja ia ingin memastikan apakah permintaannya benar-benar telah dikabulkan oleh Raja Salman a
Walaupun pada saat itu rasanya kulit tubuh Ashlan tergoreng habis, dengan sisa tenaga yang ada ia langsung berlari untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi di aula jamuan sampai-sampai membuat Vea dan juga Elen berteriak dengan suara yang keras. Dan ketika ia baru sampai di sana, Ashlan benar-benar sangat terkejut melihat bahwa, Lira, dan Sia sudah tidak sadarkan diri di tempat itu. Dan bahkan Nara pun tampak lemah. Dan pada saat itu hanya Vea dan Elen yang baik-baik saja diantara mereka berenam. Dengan menggunakan sisa tenaga yang ada, Ashlan meminta bantuan kepada Raja Salman untuk membiarkan dirinya dan juga kelima istrinya untuk segera pergi dari istana. Dan beruntung pada saat itu Raja Salman memberikan izin dan bahkan membantu dengan memberikan seorang kusir untuk mengendarai kuda yang digunakan oleh Ashlan dan kelima istrinya. ... Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya mereka sampai kembali di rumah. Ashlan mengucapkan banyak terima kasih kepada kusir itu dan jug
"Tuan Ashlan adalah tamu terhormat yang kuundang secara pribadi ke istana ini. Siapa pun yang menghina Tuan Ashlan, itu artinya kalian telah menghina keputusanku dan menghina Kerajaan Jayakarta!" pangkas Raja Salman penuh penekanan.Tuan Bara dan Arka membeku di tempatnya. Hinaan yang ingin mereka lontarkan untuk mempermalukan Ashlan justru berbalik menjadi tamparan keras yang meruntuhkan harga diri mereka di hadapan seluruh pejabat dan bangsawan kerajaan. Tuan Bara cepat-cepat menundukkan kepalanya dalam-dalam, menahan rasa malu yang teramat sangat.Sementara itu, Ashlan hanya bisa terpana melihat ketegasan dari sang raja. Hatinya tersentuh melihat seorang penguasa tertinggi membela dirinya yang biasa ini dengan begitu megah.... Setelah kekacauan itu terjadi dan kemudian di atasi, semua orang duduk di tempat masing-masing sambil diam menyantap hidangan yang telah disiapkan khusus oleh Raja Salman untuk semua orang, terutama untuk Ashlan dan juga kelima istrinya. Dan di tengah-te
Pada saat Ashlan merasa takut dengan semua bandit itu, dan berpikir untuk menyerahkan semua harta bawaan mereka, serta juga hadiah-hadiah yang telah disiapkan—untuk diberikan kepada Raja Salman; kelima istri Ashlan justru tidak takut sama sekali dan bahkan langsung menghadapi para bandit tersebut dengan hanya menggerakkan beberapa jari tangan mereka hingga membuat semua bandit itu terlempar jauh. Ketika melihat apa yang baru saja dilakukan oleh kelima istrinya, Ashlan benar-benar dilihat bisa menahan diri untuk tidak terkejut. Ia benar-benar tidak bisa terbiasa dengan kejutan dan juga kekuatan yang ditujukan oleh para istrinya saat itu. Padahal sebenarnya ia telah beberapa kali melihat para istrinya menggunakan kekuatan mereka; tetapi tetap saja hal itu masih mengejutkan bagi Ashlan."Semua sudah beres sekarang. Kamu tidak perlu lagi memegangi tongkat itu. Dan ngomong-ngomong... kemana hilangnya kusir kita?" tanya Vea. "Emm... i-itu... tadi kurasa dia telah melarikan diri karena te
Ashlan benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Undangan dari Raja Salman?Bahkan sampai beberapa saat lamanya, Ashlan masih berdiri mematung di depan pintu rumahnya. Tatapan matanya terus berpindah dari wajah prajurit kerajaan ke gulungan surat bersegel emas yang berada di tangan pria itu.Baginya, semua ini terasa seperti mimpi.Dalam hatinya, Ashlan bertanya-tanya, kenapa seorang Raja Salman ingin mengundang dirinya yang tidak suci ini ke istana megah itu? Dulu, jangankan mendapatkan undangan dari raja. Berdiri di depan gerbang istana saja adalah sesuatu yang tidak pernah berani ia bayangkan.Namun sekarang...Seorang prajurit kerajaan benar-benar datang langsung ke rumahnya hanya untuk mengantarkan undangan resmi."Tuan Ashlan?" panggil prajurit itu sekali lagi ketika melihat Ashlan tidak kunjung menerima surat yang ia sodorkan.Ashlan tersentak."Oh... maaf."Dengan sedikit gugup, Ashlan mengulurkan kedua tangannya untuk menerima gulungan surat tersebut.