Share

Bab 247

Penulis: Ayesha
Saat ini, sebuah sosok yang berdiri di belakang mereka pun mendengar ucapan Lambert. Itu adalah Devina.

Dia datang karena mendapat pesan dari Jay yang mengajaknya untuk duduk dan mengobrol. Tak disangka, dia malah mendengar pengakuan Lambert tentang Brielle.

Lambert melihatnya, hanya mengangguk ringan, lalu pergi.

Jay agak murung sambil minum. Devina duduk di sampingnya dan menasihati, "Jangan minum terlalu banyak."

Jay kini hanya ingin melupakan kesedihan lewat alkohol. Dia tahu ucapan Lambert
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Desi Store
biasanya bisa baca dengan nonton video kok skrg g ada yaa ada yg tau knp?
goodnovel comment avatar
Suryat
si devina gak intro kalau dialah racun yg sebenarnya..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1521

    Raline menggandeng Anya menuju sebuah kios yang menjual bunga. Mawar-mawar yang dibungkus dengan kertas warna-warni itu tetap tampak segar dan indah meski di bawah langit malam.Dia membeli satu buket, lalu menarik Anya mendekat dan berbisik, "Anya, kasih bunga ini ke Papa, terus suruh Papa kasih ke Mama."Anya langsung mengangguk. Sambil memeluk buket bunga itu, dia berlari menghampiri Raka bak burung kecil yang riang. Dia mendongakkan wajah mungilnya dan berkata, "Papa, ini buat Papa."Raka sedikit terkejut melihat buket bunga di tangan putrinya. Tak lama kemudian, dia melihat Raline yang berdiri tidak jauh dari sana tersenyum penuh kelicikan sambil menggerakkan bibir tanpa suara. 'Kasih ... ke ... Kak Brielle.'"Terima kasih, Sayang." Raka menerima buket bunga itu. Tatapannya dipenuhi senyuman, bercampur sedikit rasa tak berdaya sekaligus kasih sayang.Tentu saja dia mengerti maksud adiknya. Dia menunduk melihat buket bunga di tangannya, lalu mengalihkan pandangan ke arah Brielle ya

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1520

    Namun, waktu telah berlalu. Segalanya sudah berubah. Kini, Brielle menyukainya atau tidak, rasanya sudah tidak lagi berarti. Terlebih lagi, tato itu pernah menjadi sesuatu yang membuatnya sangat menderita.Permukaan air kolam bergoyang pelan, sementara sinar matahari terasa sedikit menyilaukan. Tatapan Raka tetap terkunci padanya, seolah masih menunggu jawabannya.Bulu matanya yang lebat dipenuhi butiran air, bagai deretan kipas kecil, membuat sorot matanya tampak makin dalam bak lautan."Yang penting kamu suka." Brielle menundukkan pandangannya. Jawabannya tetap sama seperti tadi. Cahaya di mata Raka sedikit meredup.Raka tahu Brielle sedang menghindari pertanyaannya, jadi dia tidak memaksanya untuk menjawab. Dia hanya tersenyum tipis, lalu berkata dengan suara rendah, "Aku suka."Dua kata itu diucapkan dengan pelan tetapi jelas, mengandung keyakinan yang tak perlu diragukan lagi.Brielle tetap menunduk sambil menggerakkan air dengan ujung jarinya. Raka mengambilkan pelampungnya, meny

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1519

    Di seberang kolam, Anya langsung panik. "Mama, Mama nggak apa-apa?"Anak kecil itu langsung hendak mengayuh pelampungnya untuk menghampiri. Namun, sebuah tangan segera menariknya."Nggak apa-apa. Ada Papa yang melindungi Mama."Dalam situasi seperti ini, mana mungkin Raline membiarkan si kecil mengganggu? Tentu harus ditahan.Sambil mengusap air di wajahnya, Brielle menenangkan putrinya. "Anya, Mama nggak apa-apa. Jangan khawatir."Brielle menyeka tetesan air yang menutupi matanya. Begitu membuka mata, yang pertama kali dilihatnya adalah garis-garis tubuh yang kencang dan kekar tepat di hadapannya.Tubuhnya seketika membeku. Wajahnya pun mulai terasa panas.Tangan Raka masih melingkari pinggangnya dengan erat. Telapak tangannya pun memancarkan kehangatan yang begitu nyata.Posisi mereka terlalu dekat. Begitu dekat hingga seolah membawa mereka kembali ke tahun-tahun ketika mereka masih sangat mesra.Tepat pada saat itu, Brielle melihat tato di dekat jantung Raka. Tatapannya langsung mem

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1518

    Kolam renang berada di teras yang memanjang dari lantai satu vila dan terhubung langsung dengan bagian dalam rumah melalui pintu kaca besar.Air kolam yang jernih berkilauan diterpa sinar matahari sore. Anya mengenakan pelampung dan sedang asyik bermain air."Papa, Mama, kalian datang!" Dia menatap orang tuanya yang datang bersama dengan wajah penuh kegembiraan.Raline juga tampak terkejut sekaligus senang melihat pemandangan itu. Sebulan yang lalu, dia bahkan tidak berani membayangkan momen seperti ini.Sekarang, dia merasa harapan yang selama ini dinantikannya benar-benar memiliki peluang untuk menjadi kenyataan.Raka melempar handuk ke kursi santai, lalu berjalan ke tepi kolam. Dengan gerakan yang lincah, dia langsung melompat ke dalam air, memercikkan cipratan yang cukup besar.Dalam sekejap, dia sudah menyelam beberapa meter sebelum akhirnya muncul kembali di samping putrinya. Tetesan air mengalir dari rambut pendeknya yang rapi hingga ke wajahnya yang tampan."Papa hebat sekali!"

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1517

    Sesampainya di pantai, Brielle memandang putrinya yang sedang bermain sambil menginjak air laut. Tanpa sadar, senyum pun merekah di wajahnya. Memang sudah lama sekali dia tidak mengajak putrinya keluar untuk bersantai."Papa, Mama, cepat ke sini! Air lautnya dingin sekali!" seru Anya sambil melambaikan tangan kecilnya dengan gembira.Brielle melepas sepatunya, lalu ikut berjalan ke air.Saat ombak kecil menyapu kakinya, dia tidak sadar gaunnya terlalu panjang. Dia berseru pelan, lalu buru-buru mengangkat ujung gaunnya hingga di atas lutut. Sepasang kaki jenjangnya yang putih mulus pun langsung terlihat.Raka berdiri beberapa meter di belakang mereka. Di balik kacamata hitamnya, dia diam-diam memandangi ketiga orang yang berada di pantai.Saat melihat kepanikan kecil Brielle barusan yang jarang sekali terlihat, sudut bibirnya tanpa sadar terangkat membentuk senyum. Dia berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Angin laut mengibaskan ujung kemeja linen yang dikenakannya, sekaligus me

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1516

    Dia merasa perlu mandi dulu agar pikirannya kembali segar sebelum lanjut lembur.Sepanjang akhir pekan, Brielle sibuk mempersiapkan perjalanan ini. Dia membelikan berbagai produk tabir surya untuk putrinya, sementara untuk dirinya sendiri juga menyiapkan banyak perlengkapan. Pergi ke pantai saat musim panas membuatnya merasa lebih tenang jika membawa satu set lengkap perlengkapan pelindung dari matahari.Anya juga sangat menantikan liburan ini. Dia bahkan sudah menyiapkan tas perjalanan kecilnya sendiri, mengisinya dengan gaun-gaun kecil kesayangannya. Brielle pun senang membiarkan putrinya merasakan serunya mengemas barang sendiri.Selama dua hari terakhir, Raka sangat sibuk. Dia harus menyelesaikan beberapa urusan sebelum berangkat liburan.Hari Selasa pukul sembilan lewat tiga puluh menit, jet pribadi Raka sudah siap untuk lepas landas.Anya tampak begitu bersemangat. Raline mengenakan gaun panjang kasual, sedangkan Raka hari itu memakai kaus polo putih sederhana dipadukan dengan ce

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 635

    Di bawahnya ada tulisan.[ Terima kasih karena kamu membuatku berkali-kali menjadi diriku yang lebih baik. Hal yang pantas untuk ditunggu, pada akhirnya akan datang. ][ Sepertinya dewi kita bukan hanya memenangkan penghargaan internasional, tapi juga sudah menemukan kebahagiaannya ya! Selain member

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 607

    Raka berjalan menuju sebuah lorong. Entah sengaja atau tidak, langkahnya terhenti sesaat ketika dia melewati kantor Brielle. Namun, dia tidak berlama-lama dan akhirnya memilih pergi.Saat pintu lift menutup, Raka mengusap pangkal hidungnya. Dia seharusnya sudah tahu, dengan karakter Brielle, dia tid

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 585

    Rapat dimulai. Perwakilan militer, Frans, mulai berbicara. Akhirnya, dia menyinggung perkembangan awal proyek antarmuka otak-mesin. Brielle mendengarkan dengan tenang ketika suara lembut Calvin terdengar."Dokter Brielle, berdasarkan penyelidikan kami, saat belajar di Jerman kamu pernah terlibat dal

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 566

    "Nek, jangan alihkan topik. Pokoknya soal rujuk, aku orang pertama yang nggak setuju." Raline mengangkat tangan tinggi-tinggi.Emily mendengus. "Memangnya perlu persetujuanmu? Ini urusan kakakmu dan Brielle.""Itu makin nggak mungkin. Kakak nggak pernah menjilat ludah sendiri. Dia nggak cinta Briell

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status