Masuk"Kamu harus nurut sama suami, Nay. Bahkan kalau dia mau kamu ke kamar hotelnya, aku akan mengantarmu ke sana!" Kanaya mengorbankan kariernya semenjak dia menikah dengan Bram. Dia selama ini dituntut menjadi istri yang baik dengan diam di rumah saja agar barokah dan tidak durhaka. Tapi setelah pertemuannya dengan Arga, mantan kekasihnya yang terpaksa dia tinggalkan sebelum menikah, dunia Kanaya berubah total. "Kali ini kamu yang datang padaku dan tidak akan pernah aku lepaskan lagi!" Bagaimana kisah Kanaya menghadapi dua pria di dalam hidupnya?
Lihat lebih banyak“Naya! Apa ini? Apa kamu masih mau nentang aturanku lagi, hah?!”
Suara Bram memecah kesunyian rumah pagi ini. Pria itu datang ke dapur menemui istrinya sambil memegang sebuah selebaran di tangannya. Kanaya yang sedang memasak dan tidak tahu apa-apa, menoleh ke suaminya dengan tatapan bingung. “Ada apa, Mas?” tanya Kanaya. “Ada apa? Kamu masih nanya ada apa?” Bram mendengus geli, melemparkan selebaran yang ia temukan di atas majalah istrinya. "Kerja? Mau cari receh berapa kamu? Simpan saja mimpimu, Nay. Tanpa uang dariku, kamu bukan siapa-siapa di rumah ini." Kanaya menunduk perlahan. Ujung jemarinya mencengkeram pinggiran meja dapur hingga buku-buku jarinya memutih. 'Tanpa uangmu?' batin Kanaya mendidih. Ia menggigit bibir dalamnya kuat-kuat. 'Kalau bukan karena aku yang menekan pengeluaran sampai ke tulang, gaji manajermu itu tidak akan pernah cukup untuk merenovasi rumah ibumu, Mas.' Jika bukan karena hutang budi mendiang papanya ke keluarga Bram, Kanaya tidak akan mau menikah dengan pria seegois Bram. “Tapi tawarannya bagus, Mas. Gaji yang tawarkan juga banyak,” jawab Kanaya. "Banggain tawaran gaji gede? Silakan. Tapi percuma uangmu banyak, Nay, kalau statusmu cuma istri pembangkang yang nggak dapet ridho suami. Nggak akan berkah hidupmu." Saat masih sama-sama bekerja, Kanaya memang memiliki gaji yang lebih besar dari Bram. Dan hal itu membuat harga diri Bram terinjak-injak. Dan sejak Bram naik jadi manajer, pria itu menyuruh Kanaya melepas pekerjaannya, padahal saat itu gaji dan bonus Kanaya setara dengan gaji Bram saat ini. “Gak gitu, Mas. Kamu salah paham. Aku cuma ngerasa sayang sama ilmuku aja. Mumpung sekarang ad—“ “Cukup! Gak usah lagi bahas masalah kerjaan!” Bram memotong ucapan istrinya. Tatapan Bram makin tajam. “Gak usah bahas kerja lagi. Perempuan itu di rumah. Ngerti kamu!” tegas Bram sambil menunjuk ke istrinya. “Ada apa ini? Pagi-pagi udah ribut sampe kedengeran dari luar,” tanya Mira saat dia masuk ke dalam rumah sambil membawa cangkir tehnya. Kanaya melihat ke ibu mertuanya yang sejak bulan lalu tinggal di rumahnya karena rumah sang mertua sedang direnovasi. “Gak ada apa-apa kok, Bu,” jawab Kanaya pelan. “Kalo gak ada apa-apa, gak mungkin Bram sampe marah!” Mira menoleh ke putranya. “Ada apa ini Bram?” tanya Mira. Bram melirik sinis ke istrinya. “Kanaya minta kerja lagi, Bu,” jawab Bram ketus. “Kerja?” Mira langsung menoleh ke menantunya. “Heh Naya, emang kamu mau kerja apa, hah? Apa hidupmu masih kurang enak sekarang?” tanya Mira ketus. “Bukan gitu, Bu. Tapi kan sayang ijazah Naya nganggur. Lagi pula Naya juga punya pengalaman kerja bagus.” Kanaya mencoba membela diri. Mira tertawa merendahkan. “Pengalaman. Pengalaman apa maksudmu? Kamu lebih milih kerja daripada patuh sama suami kamu? Kunci surga kamu?” Kalau sudah begini, alasan seperti apa pun pasti tidak akan pernah ada gunanya lagi. Dengan sangat terpaksa Kanaya harus mengubur keinginannya untuk kembali bekerja. Kanaya menunduk. Dia kembali berbalik untuk melanjutkan mencuci piring yang tadi dia tinggalkan. Amarah Bram mulai melandai. Setidaknya niatan istrinya sudah kembali bisa dia patahkan. “Jangan lupa nanti malam. Pake bajumu yang paling bagus. Jangan bikin malu aku!” pesan Bram sebelum dia pergi ke kantor. Kanaya tidak menjawab. Dia masih mencuci piring itu dengan menekan emosinya yang sudah di ubun-ubun. Setelah lelah bergelut dengan pekerjaan rumah tangga yang tidak ada habisnya, Kanaya tak sadar jika hari sudah mulai gelap. Sebentar lagi Bram akan pulang, lalu mereka akan pergi ke pesta perusahaan. Bram akan menerima penghargaan atas prestasinya, dan dia diminta datang bersama istrinya. Kanaya mengusap pelan gaun malamnya yang warnanya mulai pudar di atas ranjang, satu-satunya pakaian pantas yang tersisa dari masa lajangnya. Langkahnya kemudian beralih ke meja rias, memompa sisa pelembap wajah dengan sangat hati-hati. Jika isinya habis, ia harus kembali menelan ceramah Bram soal pemborosan hanya demi uang lima puluh ribu. Sementara itu, napasnya seketika memberat saat matanya menangkap secarik tagihan marmer impor milik mertuanya yang tergeletak santai di dekat jam tangan sang suami. Deretan angka pada kertas itu sontak mengimpit dadanya, nominal yang setara dengan jerih payahnya bekerja selama setahun penuh. “Nay,” panggil Mira dari ruang tengah. “Iya, Bu,” jawab Kanaya parau, segera menghampiri mertuanya. “Kamu udah buatkan makan malam buat Ibu?” tanya Mira seraya menatap menantunya sambil mengernyitkan dahi. “Bukannya lauk siang tadi masih ada ya, Bu?” ucap Kanaya pelan. Mira melirik wajan dengan tatapan iba yang dibuat-buat. "Pantas suamimu kurus. Istrinya lebih sibuk bermimpi jadi wanita karir daripada memastikan perut keluarganya terisi makanan enak." Lagi-lagi Kanaya hanya bisa menghela napas berat. Tanpa banyak bicara, Kanaya langsung ke dapur. Dia membuatkan masakan dulu untuk mertuanya. Dan benar saja, saat Kanaya masih sibuk di dapur karena mertuanya meminta ini itu, Bram datang. Pria itu langsung membentaknya, karena pakaiannya belum selesai dia setrika. Bram melempar tas kerjanya ke sofa. Matanya langsung menajam melihat kemejanya masih tergeletak kusut di atas meja setrika. "Gini kok mau kerja? Ngurus satu baju suami aja kamu gak becus, Nay!" bentak Bram. Di meja makan, Mira hanya mendengus pelan sambil menyuap makan malam yang baru saja Kanaya masak dengan susah payah. Kanaya menelan ludah. Ia memejamkan mata, memilih menelan bulat-bulat kekesalannya daripada harus mendebat ibu dan anak itu. Kanaya kembali pada pekerjaannya. Kalau dia kelihatan protes, yang ada nanti dia akan semakin kena marah. Akhirnya setelah semua pekerjaan dia selesaikan, Kanaya kini mulai bersiap. “Ayo buruan. Jangan dandan lama-lama. Gak akan cantik juga kamu ntar,” ucap Bram sambil memakai jasnya. “Iya, Mas.” Kanaya merias wajahnya secepat mungkin. Lagi pula, dia juga tidak kenal dengan rekan kerja suaminya. Selama ini, Kanaya hanya akan pergi ke pesta perusahaan kalau Bram mengajak. Itu pun karena undangan yang mengharuskan dia hadir. Kalau tidak, pasti Bram akan mencari seribu alasan agar Kanaya tidak ikut. Bram merapikan dasinya tanpa menatap Kanaya. "Nanti, berdiri agak jauh dariku. Aku butuh istri yang bisa dibanggakan, bukan yang kelihatan seperti pembantu yang salah kostum." Pembantu. Mendengar kata itu, Kanaya merasa ada belati yang menusuk dadanya. "Baik, Mas," bisiknya lirih. Suaranya tenggelam oleh deru napasnya sendiri yang bergetar menahan tangis. Sepanjang perjalanan di dalam mobil, keheningan menyiksa Kanaya. Mati-matian ia menahan rasa sakit dari suaminya itu. Setibanya di sana, suasana ballroom hotel itu tampak begitu megah. Namun bagi Kanaya, tempat ini tak ubahnya seperti penjara mewah baginya. Tak ingin membuat malu Bram, ia menyingkir, berdiri kaku di sudut ruangan yang sepi. Tangannya menggenggam erat segelas air putih hingga buku-buku jarinya memutih, sementara matanya menatap nanar punggung suaminya yang tertawa lepas, sibuk mencari muka di kerumunan para petinggi. "Kanaya?" Sebuah suara bariton yang berat dan familier memecah riuhnya alunan musik. Kanaya mendongak, dan napasnya seketika tercekat. “Ka–kamu…”“Mas Bram! Bener-bener kamu ya!” geram Kanaya saat dia melihat suaminya sedang berjalan mesra dengan Ririn.Kanaya langsung meletakkan map yang dia bawa di kursi, siap mendatangi suaminya.Dia harus bertanya pada suaminya, kenapa mereka bisa semesra itu di tempat umum.Tapi saat akan meninggalkan toko, langkah Kanaya terhenti saat dia mendengar panggilan dari kliennya.“Bu Kanaya,” panggil klien Kanaya.Kanaya menoleh ke kliennya. “Iya, Pak,” jawab Kanaya.“Bu, saya masih ada beberapa barang yang mau saya pajang, kira-kira saya bisa dapat tempat yang agak luas lagi gak?”“Hah, tempat yang lebih luas?” ucap Kanaya sedikit bingung. Konsentrasinya terganggu karena apa yang dia lihat tadi.“Iya, Bu. Bisa?”“Emmm ....” Kanaya tidak langsung menjawab.Kanaya malah menoleh lagi ke tempat di mana dia tadi melihat Bram dan Ririn.Tapi sayangnya dua orang itu sudah menghilang. Bahkan saat Kanaya melihat ke sekitar, suami dan sekretarisnya sudah tidak terlihat lagi.“Ke mana mereka tadi,” gumam
“Sebenernya ....” Kanaya mengangkat kedua alisnya.“Gak ada lanjutannya, Mas?” tanya Kanaya saat Arga menggantung kalimatnya.Arga tersenyum. “Kenapa sih, buru-buru amat?” tanya Arga balik.“Masalahnya Pak Bram nanyain, Mas.”“Nanyain? Mau apa lagi dia?”“Ya nanya lah. Kan aku udah di sini. Kok masih belum ada kabar aja dari proyek itu.”Arga diam sejenak. Menatap Kanaya yang sedang menanti jawabannya.“Kalo dia nanya lagi, suruh nanya ke aku aja langsung. Ngerti?” ucap Arga.“Hmm ... Mas, kamu gak bermaksud nyuruh aku di sini dan gak bakalan lolosin proposal itu kan?” tanya Kanaya yang mulai curiga.“Kalo iya emang kenapa?”Kanaya kaget dengan jawaban Arga. Dia tidak menyangka kalau ini adalah siasat Arga agar bisa dekat dengannya lagi.Kalau sampai Bram tahu, pasti suaminya itu akan marah besar. Dan ini pasti akan berakibat buruk untuk Kanaya.“Mas, kok kamu gitu sih. Lagian kan kamu bilang kalo aku kerja di sini, nanti proposal itu bakalan kamu setujui.” Kanaya mengingatkan Arga ak
“Mas ... Mas Arga?? Gak! Gak boleh!”Kanaya segera mengetik balasan berisi larangan Arga datang menjemputnya. Tentu saja dia tidak ingin kalau mertuanya akan mengetahui kedatangan Arga.Apa lagi selama ini, Kanaya juga belum bercerita ke Arga kalau Bram suaminya. Bisa-bisa semua kebohongannya terungkap yang akan membuat proyek mahal suaminya akan terancam gagal.Untungnya ojek pesanannya sudah datang. Kanaya segera memasukkan ponselnya ke dalam tas dan berlari ke arah ojeknya.“Pak, cepetan ya. Keburu telat ntar,” pinta Kanaya yang kemudian naik ke motor.Tukang ojek itu langsung melajukan motornya, menuju ke tujuan, seperti yang dipesan Kanaya.Tanpa Kanaya sadari, di belakangnya ada mobil sedan mewah, yang parkir tidak jauh dari rumahnya.Arga yang baru saja parkir, sengaja menghubungi Kanaya dulu, saat dia melihat Kanaya sedang duduk di depan rumah.Tapi, ternyata semua tidak seperti yang dia sangka. Wanita itu malah menolaknya dan memilih naik ojek yang sebenarnya bisa dia batalk
“Posisi? Emm ... aku, aku di—“Terdengar suara ponsel yang menjerit dan menyita perhatian Bram. Suami Kanaya itu segera meninggalkan meja makan, mendatanginponselnya yang tergeletak di atas meja ruang tengah.Mira dan Kanaya melihat ke arah Bram. Setelah Bram menerima panggilan itu sambil berjalan menjauh dari meja makan, dua wanita itu kembali meneruskan makannya.Kanaya menarik napas lega, karena dia tidak harus berbohong lagi. Ternyata berbohong itu melelahkan, agar orang yang kita bohongi tidak curiga.“Kamu kerja capek, emang kamu kerja ngapain aja, Nay?” tanya Mira ingin tahu kegiatan menantunya di luar sana.Baru saja Kanaya merasa aman dan lega, ternyata mertuanya masih membahas masalah pekerjaannya lagi.“Emm ... anu Bu. Naya di suruh buat catetin barang dan ngecek stoknya,” jawab Kanaya asal.Padahal seharian ini kerjaan dia hanya makan lalu menonton drama. Kalaupun menemani Arga ketemu sama kliennya, dia juga tidak bicara, hanya mendengarkan saja.“Ooh ... jadi kerjaanmu ka












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.