MasukBrielle keluar. Lastri membawa semangkuk sup sarang burung dan berkata, "Nyonya, aku masakkan sup sarang burung untuk menambah stamina."Brielle menatapnya dengan penuh rasa syukur. "Terima kasih."Kali ini karena kejadian Gaga, Lastri juga merasa sangat bersalah. Karena kelalaian sesaat, mereka jadi menyia-nyiakan begitu banyak waktu berharga.Brielle duduk sambil memakan sup sarang burung itu, sekaligus memegang iPad untuk lanjut menganalisis data.Pukul 8.30 malam, Raka keluar bersama putrinya untuk minum air. Anya berseru dengan gembira, "Mama sudah pulang! Aku lagi latihan perkenalan diri pakai bahasa asing sama Papa.""Hmm! Mama dengar kok, Anya sudah banyak kemajuan." Brielle memuji putrinya.Tatapan Raka tertuju ke wajahnya. Brielle mengangkat kepala dan berkata pelan kepadanya, "Terima kasih."Alis Raka sedikit berkerut. "Di antara kita nggak perlu seformal itu."Namun, Brielle merasa itu perlu. Mereka sudah menjadi dua individu yang terpisah, bukan lagi suami istri. Dia tidak
Harvis mengangguk ringan, tidak berkata apa-apa lagi. Dia tahu bahwa selama pernikahannya, Brielle sengaja menyembunyikan mimpi dan ambisinya. Menjadi istri dan ibu yang baik memang impiannya, tetapi jelas itu bukan jalan yang cocok untuknya. Dia seharusnya bersinar di bidangnya sendiri.Mungkin Raka sekarang sudah mengerti, tetapi semuanya sudah terlambat. Brielle yang dia kenal sekarang sudah bersinar terang dalam kariernya. Yang mendefinisikan Brielle sejak awal bukanlah pernikahannya dengan keluarga kaya, melainkan kemampuannya sendiri.Gavin memandang bosnya yang berdiri diam di tempat. Meskipun tidak tahu apa yang dibicarakan Raka dengan Harvis, saat ini aura yang menyelimuti atasannya terasa sangat berat. Benar-benar sesuatu yang jarang terjadi."Ayo!" Tak lama kemudian, Raka melirik jam tangannya, lalu berkata kepada Gavin. Setelah ini, dia masih harus pergi ke Grup Pramudita untuk rapat.Setelah Gavin masuk ke mobil, dia tak bisa menahan diri untuk bertanya, "Pak Raka, untuk u
Hari itu, Raka tak tahan dan sempat mengingatkan Brielle agar menjaga batas. Namun setelah itu, melihat mereka sering berbincang di sudut-sudut ruangan dengan begitu akrab, bisa dibayangkan betapa buruknya suasana hatinya malam itu. Bahkan, suasana Natal pun ikut terpengaruh.Raka tersadar kembali, kenangan tidak menyenangkan itu kembali muncul. Kini, dia dan Brielle sudah bercerai. Dia juga tahu bahwa hubungan Brielle dengan Harvis hanyalah persahabatan yang saling menghargai. Namun, rasa tidak nyaman di masa lalu itu masih terus berputar di dalam hatinya.Di seberang, Gavin menyadari bahwa atasannya tidak banyak makan. Dalam hatinya, dia berpikir dengan status Raka, makan di kantin umum seperti ini memang terasa kurang pantas baginya.Tak jauh di sudut lain, Faye menatap pemandangan itu dengan tajam. Hari ini dia kembali masuk kerja, tetapi tidak menyangka akan melihat pemandangan seperti ini.Brielle duduk bersama Harvis saja sudah cukup menyakitkan untuk dilihat, apalagi ditambah s
Namun, ada satu kabar yang menarik perhatiannya. Setelah Grup Datau bangkrut dan dilikuidasi, karena bisnis luar negerinya berkembang cukup baik, perusahaan itu diakuisisi oleh sebuah perusahaan teknologi medis baru.Artinya, Grup Datau benar-benar tidak akan ada lagi. Ayahnya juga tidak punya kesempatan untuk bangkit kembali. Memikirkan hal itu, Devina malah merasa beruntung karena sudah lebih dulu bergantung pada Ignas. Setidaknya sekarang dia punya sandaran dan tempat bertahan.Devina mengelus cincin berlian besar di jari manisnya yang baru saja diberikan Ignas. Meski pria itu sudah berumur, selama bisa memberinya kehidupan mewah, itu sudah cukup baginya.Sekarang dia mulai menantikan, sesuai kebiasaan tiap tahun, Raka seharusnya akan memberikan sesuatu. Meski hubungan mereka sekarang tegang, dalam kontrak tertulis jelas klausul hadiah tahunan yang memiliki kekuatan hukum.Kali ini, dia harus benar-benar memikirkan apa yang ingin dia minta.Mungkin dia bisa pergi berkeliling ke buti
"Pak Raka, jangan bicara terlalu mutlak. Ke depan kita pasti masih perlu saling berurusan di dunia bisnis. Rasanya nggak sepadan kalau sampai merusak hubungan demi seorang wanita, bukan?""Pak Ignas nggak perlu khawatir. Kalau nggak ada hal lain lagi, aku masih ada rapat. Maaf."Raka langsung menutup telepon, lalu melangkah masuk ke lift.Di sisi lain di dalam vila, wajah Ignas menjadi muram saat menggenggam ponselnya erat. Sejak awal dia memang tidak menyukai pemuda yang bertindak arogan itu. Sekarang, Raka bahkan sama sekali tidak menghargainya. Ini pertama kalinya dia diperlakukan seremeh itu.Saat itu, sebuah lengan lembut melingkar di lehernya. "Ignas, jangan marah. Kamu sudah melakukan banyak hal untukku."Meski sudah berusia, Ignas telah puluhan tahun berkecimpung di dunia bisnis. Sifat keras kepala dan tidak mau kalah dalam dirinya tidak kalah dari orang muda. Penolakan Raka yang tegas bukan membuatnya mundur, malah semakin membakar hasratnya untuk menang.Dia menarik Devina ke
Brielle melirik jam tangannya, lalu berkata pada pria di sofa, "Kamu pulang saja istirahat."Raka berdiri dan bertanya, "Gaga boleh aku bawa turun?"Brielle belum sempat menjawab, Anya sudah lebih dulu mengiyakan, "Papa, jaga Gaga ya!""Mm." Raka tertawa pelan sambil melirik Gaga. Gaga langsung mengerti dan mengikuti dia keluar.Setelah menidurkan Anya, Brielle kembali ke ruang kerja untuk merapikan materi hari ini. Tanpa sadar, pikirannya kembali pada sosok Qiora. Cara gadis itu menatap burung di langit, pasti dia juga sangat ingin terbang lagi dan kembali ke profesinya.Hati Brielle terasa berat. Beban di pundaknya seolah bertambah.Keesokan paginya, Raka mengantar Anya ke sekolah. Brielle kemudian pergi ke laboratorium. Saat ini sudah memasuki akhir semi, dia keluar dengan pakaian yang tidak terlalu tebal. Dalam perjalanan, dia juga menyadari dua mobil pengawal masih mengikuti di belakang.Setibanya di parkiran laboratorium, Brielle turun dari mobil, tapi tidak langsung masuk ke ged
Raka menyipitkan mata. Di kedalaman tatapannya tampak berkilat sedikit rasa penyesalan.Anya berlari kecil ke halaman rumah, lalu menoleh ke belakang. Kakinya yang mungil kembali berlari ke depan gerbang, menatap ayahnya yang berdiri di bawah cahaya lampu jalan. Dia bertanya, "Papa, kenapa nggak mas
"Ya, kami harus kembali ke kota dulu," jawab Jared."Ada masalah di perusahaan?" tanya Brielle."Bukan," Jared menggeleng. "Seorang teman dekat Pak Raka masuk ICU. Dia ingin segera pulang untuk memastikan keadaannya."Dari nada suara dan reaksi Raka saat tadi menelpon, dia bisa menebak bahwa satu-sa
Meira tadi hanya sempat melihat sekilas cucunya, tapi sampai sekarang bayangan itu masih teringat jelas di benaknya. Dia mengeluarkan ponsel dan menekan nomor putranya."Raka, tadi di sekolah aku melihat Brielle dan Anya. Bisakah kamu minta dia mengantar Anya ke rumah malam ini untuk makan malam ber
Brielle menatap Raka sekilas, lalu melangkah melewatinya sambil memeluk berkas di pelukannya.Saat Brielle sedang berbincang dengan Madeline, Raka mengetuk pintu dan masuk. Madeline sedikit terkejut. "Raka? Kenapa kamu datang ke sini?""Aku datang untuk mengetahui perkembangan proyek," jawab Raka. H







