LOGINWorning!! Area 21++ Menjadi istri yang sebelumnya berstatus janda di keluarga konglomerat bukanlah sebuah kebanggaan, melainkan masuk dalam jeratan pernikahan yang sedingin es. Hidup sebagai anak penurut, Arumi terpaksa menikah untuk kedua kalinya demi bakti pada sang ayah, tanpa tahu bahwa Garendra—suami barunya— hanya menganggap wanita itu sebagai pajangan tak berharga. Sampai akhirnya di suatu malam, minuman Garendra dicampur obat oleh mantan kekasihnya sendiri—Bianca—yang berniat menjebak. Namun, justru Arumi yang menjadi sasaran pelampiasan hasrat yang liar. "Arumi, kenapa kamu masih sesempit ini?"
View More"Saya tidak mempermasalahkan status kamu, biarlah itu jadi masa lalu. Tapi yang perlu kamu tahu, saya akan tetap menafkahimu meski tidak akan mengatur urusan pribadimu nantinya."
Garendra mengatakannya tanpa nada merendahkan. Suaranya datar, sedingin ubin marmer di rumah megah itu. Kalimat itu terus terngiang, bahkan saat Arumi masih menatap pantulan dirinya di cermin rias yang retak sudutnya. Gaun off-white sederhana berbahan sutra itu melekat pas, akan tetapi dadanya terasa begitu sesak. Ini kali kedua dia memakai warna yang sama di depan penghulu berbeda. Bebannya terasa sepuluh kali lebih berat sekarang. "Sudah siap?" Ayah Arumi muncul di ambang pintu. Tatapannya kosong, tidak ada haru sama sekali. Pria itu hanya tampak lega karena beban tanggung jawab atas anak perempuannya yang janda akan segera berpindah tangan. "Sudah, Pak," bisik Arumi pelan. "Garendra pria baik. Dia tidak mempermasalahkan statusmu, meskipun orang tuanya sempat ragu," Ayahnya mendekat, memperbaiki letak veil Arumi dengan gerakan kasar. "Kamu harus tahu diri, Arumi. Jangan bawa masa lalumu yang kelam ke rumahnya." Arumi hanya mengangguk patuh. Masa lalu 'kelam' yang dimaksud sang ayah sebenarnya hanyalah perceraian setahun lalu. Pun, itu atas perjodohan kedua orang tuanya. Dunia tahu dia janda, dan dia tidak merasa perlu memperbaiki asumsi itu. Biarlah orang-orang menganggapnya sudah 'habis', toh itu lebih baik daripada harus menceritakan detail pernikahannya yang gagal. Dia memilih diam, membiarkan asumsi orang-orang mengalir begitu saja. Menjelaskan kebenaran hanya akan menambah daftar panjang penghinaan yang harus dia telan bulat-bulat. *** Prosesi ijab kabul berlangsung singkat dan begitu khidmat. Dalam satu tarikan napas, Arumi resmi menjadi istri Garendra. Saat mencium punggung tangan suaminya, wanita itu merasakan kehangatan yang asing menjalar ke nadinya. Tidak ada sentakan kasar atau tatapan merendahkan seperti yang dia bayangkan sebelumnya. "Terima kasih sudah menerima saya," bisik Garendra lembut. Arumi menangkap ada jarak yang membentang di balik nada halus itu. Garendra menerimanya sebagai kewajiban, bukan karena menginginkannya sebagai wanita. “Saya yang harusnya berterima kasih pada Mas, karena sudah mau menerima saya,” jawab Arumi sambil menunduk. Malam harinya, rumah besar milik Garendra terasa begitu sunyi dan mencekam. Arumi berdiri kaku di dekat lemari saat memasuki kamar utama yang luas. Jantungnya berdebar hebat, membayangkan tuntutan pria pada umumnya di malam pertama. Garendra masuk membawa segelas air putih, lalu melirik Arumi yang masih mematung. "Arumi, tidurlah di ranjang. Saya di sofa," ucap Garendra tenang sembari menaruh gelas di nakas. Wanita itu tersentak kaget. "Tapi Mas, ini kamar kita. Kalau Ibu tahu bagaimana?" "Ibu tidak akan tahu." Garendra memotong cepat sambil tersenyum tipis. "Saya tahu pernikahan ini mendadak, dan saya tahu kamu mungkin butuh waktu." Arumi terdiam seribu bahasa. Kata-kata itu terdengar sangat menghargai, tapi disisi lain, rasanya perih. Garendra seolah-olah menganggapnya sudah sangat berpengalaman dengan urusan ranjang, sehingga tidak perlu terburu-buru menyentuh wanita yang sudah pernah dimiliki pria lain. "Mas Garendra tidak keberatan saya seorang janda?" Arumi memberanikan diri bertanya. Garendra menghentikan gerakannya menata bantal di sofa. Dia menatap Arumi dengan sorot mata tulus yang menenangkan. "Status hanya label, Arumi." Dia memperbaiki letak kacamatanya. "Tidurlah." Ada kelegaan yang luar biasa di hati Arumi, tapi juga rasa pahit yang terselip di sana. Lidahnya mendadak kelu untuk bicara. Biarlah Garendra menganggapnya janda sebagaimana dunia melihatnya. Karena baginya, memulai lembaran baru sebagai 'teman' jauh lebih baik daripada harus dipaksa melayani pria lagi.Tiga minggu berlalu, akan tetapi Garendra belum juga tampak batang hidungnya. Hingga membuat Arumi kembali menanyakannya pasa Anthony. “Kenapa dia belum ke sini? Apa kamu betul-betul sudah bicara dengan Garen?”Anthony melonggarkan dasinya, pria itu baru saja pulang sepuluh menit lalu dari kantor. “Dia tidak akan pernah datang ke sini, Rum,” katanya datar. “Kenapa?” dahi Arumi mengernyit. Anthony menatap netra Arumi dengan begitu lekat. “Karena dia tidak mau. Dia bilang pada saya jika sudah tidak bisa mempertahankanmu. Segala yang sudah dilaluinya, hanya membuatnya lelah.”Deg!Dada Arumi naik turun, dentuman jantungnya begitu kesar, seolah ingin menerobos keluar dari tempatnya. Berikut adalah revisi kalimat agar lebih dramatis dan mengalir, diikuti dengan kelanjutan narasi yang Anda minta.---### Revisi Narasi AwalTiga minggu telah melumat sisa-sisa kesabaran Arumi, namun batang hidung Garendra tak kunjung tampak. Kegelisahan yang mengendap di dadanya kini meluap, memaksanya k
“Anthony, saya ingin bicara denganmu.” Anthony tengah menyapu selai di atas roti saat Arumi berujar. “Bicara apa?” Kedua alisnya tampak bertaut. “Setelah saya pikir-pikir.” Wanita itu merangsek kursinya, lalu ikut duduk berhadapan dengan Anthony. “Tidak seharusnya saya tinggal di rumahmu. Saya istri orang dan kamu … kamu orang asing.”Cleng. Tiba-tiba pisau selai di tangan Anthony jatuh begitu saja saat mendengar kalimat terakhir Arumi. “Asing? Kita saling kenal dan saya yang menolongmu saat kejadian itu menimpamu.”Arumi mengangguk. “Kamu betul, tapi … bukankah ini sebuah kesalahan? Seorang wanita yang berstatus menikah, tinggal serumah dengan pria lain. Saya harus bisa menyelesaikan masalah dengan Garendra. Saya tidak mau melibatkan kamu terlalu jauh dalam masalah rumah tangga saya. Saya—““Saya tidak merasa terbebani dalam segalanya. Kamu saya anggap sebagai adik, sudah sepatutnya saya melindungimu, bukan?” Anthony tiba-tiba memotong kata-kata Arumi. “Ya, saya sangat berterima
“Ooouuhh ….”Lenguhan itu bukan lagi sekadar suara. Melainkan sebuah gema dahaga yang memantul di dinding-dinding kamar yang sunyi, mengisi setiap celah udara dengan gelombang hasrat yang pekat. Di atas ranjang, dua beban tubuh sedang merintih, sinkronisasi gerakan mereka seakan menantang gravitasi. Kayu ranjang berderit ritmis, sebuah melodi panas yang lahir dari gesekan kulit yang mulai bersimbah peluh yang licin.Di bawah remang lampu yang temaram, siluet mereka menyatu tanpa sehelai benang pun yang menghalangi. Pria itu, dengan otot-otot punggung yang menegang sempurna di setiap dorongan, terus memacu ritme yang membuat dunia wanita di bawahnya jungkir balik.“Lebih dalam lagi, Ren! Ya, terus … di situ. Oouuuh!”Suaranya pecah, serak oleh kenikmatan yang nyaris tak tertahankan. Wanita itu mendongak, leher jenjangnya meregang hingga urat-urat halusnya terlihat jelas di bawah cahaya redup. Pupil matanya tenggelam ke balik kelopak yang bergetar hebat, menyisakan warna putih dengan sk
“Aku ingin bicara denganmu,” desis Garendra tajam.“Masuk dulu, kita sudah lama tidak bertemu,” sahut Bianca dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat. Ia menyandarkan bahunya di kusen pintu, menatap Garendra dengan tatapan yang ia pikir masih mematikan bagi pria tersebut.Garendra membuang napas kasar, sorot matanya dingin. “Aku tidak punya banyak waktu,” ucapnya ketus, tanpa berniat melangkah masuk satu inci pun.Bianca mencebikkan bibirnya, sengaja memancing reaksi. Perempuan berambut ikal itu masih begitu yakin bahwa sang mantan tunangan hanya sedang berakting ketus untuk menutupi sisa-sisa cinta yang masih membara.“Kalau begitu, katakan saja di sini! Karena aku juga tidak punya waktu untuk orang yang tidak bisa menghargai kehadiranku!” balas Bianca tak kalah sengit, egonya mulai terpantik.Garendra berdecih sinis. Tanpa membuang kata, ia menyodorkan layar ponselnya—menampilkan potongan rekaman CCTV yang ia dapatkan dari resepsionis apartemennya. “Aku tidak perlu menebak siapa












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore