Mag-log inMenjadi istri yang sebelumnya berstatus janda di keluarga konglomerat bukanlah sebuah kebanggaan, melainkan masuk dalam jeratan pernikahan yang sedingin es. Hidup sebagai anak penurut, Arumi terpaksa menikah untuk kedua kalinya demi bakti pada sang ayah, tanpa tahu bahwa Garendra—suami barunya— hanya menganggap wanita itu sebagai pajangan tak berharga. Sampai akhirnya di suatu malam, minuman Garendra dicampur obat oleh mantan kekasihnya sendiri—Bianca—yang berniat menjebak. Namun, justru Arumi yang menjadi sasaran pelampiasan hasrat yang liar. "Arumi, kenapa kamu masih sesempit ini?"
view more"Saya tidak mempermasalahkan status kamu, biarlah itu jadi masa lalu. Tapi yang perlu kamu tahu, saya akan tetap menafkahimu meski tidak akan mengatur urusan pribadimu nantinya."
Garendra mengatakannya tanpa nada merendahkan. Suaranya datar, sedingin ubin marmer di rumah megah itu. Kalimat itu terus terngiang, bahkan saat Arumi masih menatap pantulan dirinya di cermin rias yang retak sudutnya. Gaun off-white sederhana berbahan sutra itu melekat pas, akan tetapi dadanya terasa begitu sesak. Ini kali kedua dia memakai warna yang sama di depan penghulu berbeda. Bebannya terasa sepuluh kali lebih berat sekarang. "Sudah siap?" Ayah Arumi muncul di ambang pintu. Tatapannya kosong, tidak ada haru sama sekali. Pria itu hanya tampak lega karena beban tanggung jawab atas anak perempuannya yang janda akan segera berpindah tangan. "Sudah, Pak," bisik Arumi pelan. "Garendra pria baik. Dia tidak mempermasalahkan statusmu, meskipun orang tuanya sempat ragu," Ayahnya mendekat, memperbaiki letak veil Arumi dengan gerakan kasar. "Kamu harus tahu diri, Arumi. Jangan bawa masa lalumu yang kelam ke rumahnya." Arumi hanya mengangguk patuh. Masa lalu 'kelam' yang dimaksud sang ayah sebenarnya hanyalah perceraian setahun lalu. Pun, itu atas perjodohan kedua orang tuanya. Dunia tahu dia janda, dan dia tidak merasa perlu memperbaiki asumsi itu. Biarlah orang-orang menganggapnya sudah 'habis', toh itu lebih baik daripada harus menceritakan detail pernikahannya yang gagal. Dia memilih diam, membiarkan asumsi orang-orang mengalir begitu saja. Menjelaskan kebenaran hanya akan menambah daftar panjang penghinaan yang harus dia telan bulat-bulat. *** Prosesi pernikahan berlangsung singkat dan begitu khidmat. Dalam satu tarikan napas, Arumi resmi menjadi istri Garendra. Saat mencium punggung tangan suaminya, wanita itu merasakan kehangatan yang asing menjalar ke nadinya. Tidak ada sentakan kasar atau tatapan merendahkan seperti yang dia bayangkan sebelumnya. "Terima kasih sudah menerima saya," bisik Garendra lembut. Arumi menangkap ada jarak yang membentang di balik nada halus itu. Garendra menerimanya sebagai kewajiban, bukan karena menginginkannya sebagai wanita. “Saya yang harusnya berterima kasih pada Mas, karena sudah mau menerima saya,” jawab Arumi sambil menunduk. Malam harinya, rumah besar milik Garendra terasa begitu sunyi dan mencekam. Arumi berdiri kaku di dekat lemari saat memasuki kamar utama yang luas. Jantungnya berdebar hebat, membayangkan tuntutan pria pada umumnya di malam pertama. Garendra masuk membawa segelas air putih, lalu melirik Arumi yang masih mematung. "Arumi, tidurlah di ranjang. Saya di sofa," ucap Garendra tenang sembari menaruh gelas di nakas. Wanita itu tersentak kaget. "Tapi Mas, ini kamar kita. Kalau Ibu tahu bagaimana?" "Ibu tidak akan tahu." Garendra memotong cepat sambil tersenyum tipis. "Saya tahu pernikahan ini mendadak, dan saya tahu kamu mungkin butuh waktu." Arumi terdiam seribu bahasa. Kata-kata itu terdengar sangat menghargai, tapi disisi lain, rasanya perih. Garendra seolah-olah menganggapnya sudah sangat berpengalaman dengan urusan ranjang, sehingga tidak perlu terburu-buru menyentuh wanita yang sudah pernah dimiliki pria lain. "Mas Garendra tidak keberatan saya seorang janda?" Arumi memberanikan diri bertanya. Garendra menghentikan gerakannya menata bantal di sofa. Dia menatap Arumi dengan sorot mata tulus yang menenangkan. "Status hanya label, Arumi." Dia memperbaiki letak kacamatanya. "Tidurlah." Ada kelegaan yang luar biasa di hati Arumi, tapi juga rasa pahit yang terselip di sana. Lidahnya mendadak kelu untuk bicara. Biarlah Garendra menganggapnya janda sebagaimana dunia melihatnya. Karena baginya, memulai lembaran baru sebagai 'teman' jauh lebih baik daripada harus dipaksa melayani pria lagi.Garendra melangkah lebar menyeberangi ruang tamu tanpa menghiraukan pukulan-pukulan kecil Arumi di dadanya, lalu menendang pintu kamar hingga terbuka lebar sebelum menghempaskan tubuh wanita itu perlahan di atas kasur. Sebelum Arumi sempat bergerak untuk bangkit, Garendra sudah mengungkung tubuhnya dari atas, memotong setiap celah untuk melarikan diri. "Garendra, hentikan! Kau tidak bisa seenaknya melakukan ini!" seru Arumi dengan napas terengah, mencoba mendorong dada bidang suaminya. Namun, tatapan tajam yang menghujam dari balik jarak sebegitu dekat membuat jemarinya mendadak kehilangan tenaga. Kenapa tubuhnya justru mengkhianati pikirannya sendiri? Ada kerinduan yang samar namun membakar di balik seluruh pertahanan dan sikap keras kepalanya selama ini. "Kenapa, Arumi? Kau mau berpura-pura tidak menginginkanku lagi?" bisik Garendra rendah, mengunci kedua pergelangan tangan Arumi di atas kepala dengan sebelah tangannya.Tanpa membuang waktu, tangan Garendra yang lain bergerak ce
Hampir satu minggu telah berlalu sejak pengakuan Arumi mengenai perlakuan Hendrawan terhadap dirinya. Garendra bahkan memutuskan untuk kembali memberi ruang pad Arumi. Sebab, pria itu tahu, ada terlalu banyak luka, terlalu banyak hal yang belum selesai Arumi tuntaskan, dan terlalu banyak perasaan yang sengaja wanita itu simpan di balik sikap keras kepala.Siang ini, Garendra kembali berdiri di depan rumah yang kini lebih sering dianggap Arumi sebagai tempat perlindungannya daripada rumah tangga mereka. Pria itu berdiri tegak di depan pintu dengan wajah setenang biasanya, seolah kedatangannya sama sekali bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan. Namun, sorot matanya yang tajam menunjukkan bahwa kali ini dia datang bukan sekadar untuk berkunjung.Begitu pintu terbuka, Arumi langsung menemukan sosok suaminya berdiri di hadapannya.Wanita itu terdiam sesaat sebelum akhirnya melipat kedua tangannya di depan dada. Sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya, tetapi senyum itu lebih menyerupa
"Apa kau bisa menjamin aku akan keluar dari sini, Sya?"Suara Celline terdengar begitu lirih, hampir tenggelam oleh kesunyian yang memenuhi ruangan. Namun, bagi Marsya, pertanyaan sederhana itu justru terasa jauh lebih menyakitkan daripada bentakan atau ancaman apa pun yang sebelumnya mereka terima. Ia menatap wajah Celline yang basah oleh air mata, melihat ketakutan yang begitu nyata di sana, dan untuk beberapa detik Marsya tidak mampu menemukan satu pun kata yang pantas untuk menjawabnya.Marsya menarik napas panjang. Perlahan, ia mendekat hingga duduk tepat di hadapan Celline, kemudian menggenggam kedua tangan wanita itu yang terasa dingin dan gemetar. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini," ucapnya jujur, membuat Celline kembali menundukkan kepala. Namun, Marsya segera mengangkat dagu sahabatnya itu, memaksanya untuk menatap kedua matanya. "Tapi ada satu hal yang bisa kujanjikan kepadamu, Celline. Aku akan mengeluarkanmu dari sini.""Bagaimana caranya?" Air mata kembal
"Makanlah. Bagaimanapun juga, kalian berdua membutuhkan sedikit amunisi untuk terus saling menyalahkan." Baron menyeringai miring. Dengan santai, pria itu meletakkan beberapa bungkus makanan di lantai, tepat di hadapan Marsya dan Dokter Celline. Makanan yang dibawanya tampak sudah hampir basi, aromanya bahkan mulai berubah, seolah benda itu bukan lagi sesuatu yang layak disebut makanan, melainkan sekadar sisa yang sengaja dilemparkan kepada dua manusia yang sedang tidak berdaya. Marsya menatap bungkusan itu dengan jijik. Tatapannya kemudian perlahan terangkat, mengarah tepat kepada Baron dengan sorot mata yang dingin dan penuh penghinaan. "Apakah kau pikir aku anjing?" suara Marsya terdengar bergetar menahan amarah. "Atau kau mengira aku akan menelan semua sampah yang kau lemparkan ke hadapanku?" Baron hanya terkekeh pelan. "Aku tidak pernah mengatakan kau anjing." "Kalau begitu, apa maksudmu memberikan makanan seperti ini?" "Aku hanya tidak ingin melihat kalian berdua pingsan k
Malam semakin larut, dan atmosfer di dalam ballroom mewah itu berubah menjadi lebih liar. Dentum musik orkestra berganti dengan irama jazz yang lebih progresif, sementara botol-botol sampanye terus dibuka. Gelak tawa para pria pemegang saham yang mulai mabuk berbaur dengan aroma cerutu mahal.Di su
Arumi tersentak. Kalimat Garendra barusan bukan sebuah sanjungan, melainkan serangan telak yang menghujam tepat ke ulu hatinya. Seolah ada penekanan yang kuat, jika di antara mereka ada jurang pemisah. “Benarkah? Bukankah kita berdua tahu alasannya kenapa kamu memilihnya?” Suara Bianca bergetar.
“Mas, maaf, sepertinya saya tidak bisa ikut ke pesta itu.” Arumi sedang menata makanan di atas meja makan. Bukan karena tak ada pelayan di rumah megah tersebut. Namun, bagi perempuan yang sudah menikah dua kali itu, menyediakan makanan untuk sang suami adalah sebuah kewajiban. Garendra mengerutka
Suara detak jam dinding di kediaman besar keluarga Wiratama terasa seperti ketukan palu yang menghakimi. Bagi Arumi, rumah megah itu bukanlah istana, melainkan sebuah museum sunyi di mana setiap langkah kaki harus diperhitungkan volumenya. Tiga hari telah berlalu sejak janji suci diucapkan, tapi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Mga Ratings
RebyuMore