เข้าสู่ระบบMenjadi istri yang sebelumnya berstatus janda di keluarga konglomerat bukanlah sebuah kebanggaan, melainkan masuk dalam jeratan pernikahan yang sedingin es. Hidup sebagai anak penurut, Arumi terpaksa menikah untuk kedua kalinya demi bakti pada sang ayah, tanpa tahu bahwa Garendra—suami barunya— hanya menganggap wanita itu sebagai pajangan tak berharga. Sampai akhirnya di suatu malam, minuman Garendra dicampur obat oleh mantan kekasihnya sendiri—Bianca—yang berniat menjebak. Namun, justru Arumi yang menjadi sasaran pelampiasan hasrat yang liar. "Arumi, kenapa kamu masih sesempit ini?"
ดูเพิ่มเติม"Apa kau bisa menjamin aku akan keluar dari sini, Sya?"Suara Celline terdengar begitu lirih, hampir tenggelam oleh kesunyian yang memenuhi ruangan. Namun, bagi Marsya, pertanyaan sederhana itu justru terasa jauh lebih menyakitkan daripada bentakan atau ancaman apa pun yang sebelumnya mereka terima. Ia menatap wajah Celline yang basah oleh air mata, melihat ketakutan yang begitu nyata di sana, dan untuk beberapa detik Marsya tidak mampu menemukan satu pun kata yang pantas untuk menjawabnya.Marsya menarik napas panjang. Perlahan, ia mendekat hingga duduk tepat di hadapan Celline, kemudian menggenggam kedua tangan wanita itu yang terasa dingin dan gemetar. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini," ucapnya jujur, membuat Celline kembali menundukkan kepala. Namun, Marsya segera mengangkat dagu sahabatnya itu, memaksanya untuk menatap kedua matanya. "Tapi ada satu hal yang bisa kujanjikan kepadamu, Celline. Aku akan mengeluarkanmu dari sini.""Bagaimana caranya?" Air mata kembal
"Makanlah. Bagaimanapun juga, kalian berdua membutuhkan sedikit amunisi untuk terus saling menyalahkan." Baron menyeringai miring. Dengan santai, pria itu meletakkan beberapa bungkus makanan di lantai, tepat di hadapan Marsya dan Dokter Celline. Makanan yang dibawanya tampak sudah hampir basi, aromanya bahkan mulai berubah, seolah benda itu bukan lagi sesuatu yang layak disebut makanan, melainkan sekadar sisa yang sengaja dilemparkan kepada dua manusia yang sedang tidak berdaya. Marsya menatap bungkusan itu dengan jijik. Tatapannya kemudian perlahan terangkat, mengarah tepat kepada Baron dengan sorot mata yang dingin dan penuh penghinaan. "Apakah kau pikir aku anjing?" suara Marsya terdengar bergetar menahan amarah. "Atau kau mengira aku akan menelan semua sampah yang kau lemparkan ke hadapanku?" Baron hanya terkekeh pelan. "Aku tidak pernah mengatakan kau anjing." "Kalau begitu, apa maksudmu memberikan makanan seperti ini?" "Aku hanya tidak ingin melihat kalian berdua pingsan k
Desing mesin mobil semakin mendekat hingga akhirnya sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan pagar rumah Arumi. Ban mobil itu menggesek permukaan jalan sebelum kendaraan tersebut benar-benar berhenti, dan sesaat kemudian pintu pengemudi terbuka. Angga keluar dengan napas yang sedikit terengah, buru-buru merapikan kemejanya yang kusut setelah perjalanan panjang. Namun baru saja kedua kakinya menginjak halaman, pandangannya langsung bertemu dengan sosok Garendra yang berdiri beberapa meter di depannya.Tatapan pria itu membuat langkah Angga seketika terhenti.Garendra berdiri tegak dengan wajah yang mengeras. Rahangnya tampak mengatup kuat, sementara kedua matanya menatap Angga seolah pria itu baru saja melakukan kesalahan paling fatal dalam hidupnya. Perlahan, tangan kanannya mengepal. Buku-buku jarinya memutih, urat di punggung tangannya mulai menonjol.Angga menelan ludah."Maaf, Tuan. Saya—""Kau cari mati!" Garendra menggelegar sebelum Angga sempat menyelesaikan ucapannya.Dalam
"Terima kasih." Angga terdiam sesaat. Entah mengapa, hanya dua kata sederhana itu mampu membuat sesuatu di dalam dadanya bergrlentar aneh. "Aku kebetulan lewat." "Tetap saja, kalau kau tidak datang, mungkin tasku sudah dirampas." Angga mengangguk singkat. "Rumahmu di mana? Biar aku antar." Gadis itu tampak ragu. "Tidak perlu repot." "Aku tidak bertanya apakah aku perlu repot atau tidak." Nada suara Angga membuat gadis itu terdiam. "Kau mau pergi ke mana?" Gadis itu akhirnya menjawab, "Kampus." "Kampus?" "Iya. Aku ada kelas pagi." Angga melirik jam tangannya. Kemudian ia menghela napas. "Masuk." Gadis itu membulatkan mata. "Apa?" "Aku antar." "Tapi ...." "Kalau kau terus berdiri di sini, tiga orang tadi mungkin kembali." Gadis itu langsung meno leh ke belakang. Angga menahan senyum tipis."Masuklah." Akhirnya gadis itu mengangguk. "Baik." Ia berjalan menuju mobil. Angga membukakan pintu penumpang untuknya. "Terima kasih." Kembali ucapan itu terden
Malam semakin larut, dan atmosfer di dalam ballroom mewah itu berubah menjadi lebih liar. Dentum musik orkestra berganti dengan irama jazz yang lebih progresif, sementara botol-botol sampanye terus dibuka. Gelak tawa para pria pemegang saham yang mulai mabuk berbaur dengan aroma cerutu mahal.Di su
Arumi tersentak. Kalimat Garendra barusan bukan sebuah sanjungan, melainkan serangan telak yang menghujam tepat ke ulu hatinya. Seolah ada penekanan yang kuat, jika di antara mereka ada jurang pemisah. “Benarkah? Bukankah kita berdua tahu alasannya kenapa kamu memilihnya?” Suara Bianca bergetar.
“Mas, maaf, sepertinya saya tidak bisa ikut ke pesta itu.” Arumi sedang menata makanan di atas meja makan. Bukan karena tak ada pelayan di rumah megah tersebut. Namun, bagi perempuan yang sudah menikah dua kali itu, menyediakan makanan untuk sang suami adalah sebuah kewajiban. Garendra mengerutka
Suara detak jam dinding di kediaman besar keluarga Wiratama terasa seperti ketukan palu yang menghakimi. Bagi Arumi, rumah megah itu bukanlah istana, melainkan sebuah museum sunyi di mana setiap langkah kaki harus diperhitungkan volumenya. Tiga hari telah berlalu sejak janji suci diucapkan, tapi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
คะแนน
ความคิดเห็นเพิ่มเติม