LOGIN“Jika aku pergi, apakah Tuan Jenderal akan mencariku?” Lin Xueying menatap pria di hadapannya dengan mata setenang salju yang telah membeku terlalu lama. Dulu, ia hidup dalam pernikahan tanpa cinta. Diabaikan, dimanfaatkan, dilupakan, hingga akhirnya mati tanpa arti. Kini, dengan kesempatan kedua, ia hanya menginginkan satu hal: Bercerai. Namun Guo Zhenyu, suami yang tak pernah ia miliki sepenuhnya, justru berubah. “Pergi?” suara pria itu rendah, nyaris seperti bisikan yang menahan amarah dan sesuatu yang lebih dalam. Tangannya meraih pergelangan wanita itu, perlahan, seolah takut ia benar-benar akan menghilang. “Kau bahkan belum pernah benar-benar berada di sisiku… bagaimana mungkin aku membiarkanmu pergi?”
View MoreSelamat membaca.
Malam itu turun tanpa suara. Langit di atas ibu kota tertutup awan tipis, menyembunyikan bulan seperti rahasia yang terlalu lama disimpan. Angin musim dingin menyelinap melalui celah jendela paviliun timur—tempat yang terlalu jauh dari kediaman utama untuk disebut “rumah istri sah”, namun terlalu dekat untuk disebut pengasingan. Di dalam ruangan, aroma obat pahit bercampur dengan dupa cendana yang hampir padam. Lin Xueying berbaring di atas ranjang kayu berukir, tubuhnya ringan, terlalu ringan, seperti sesuatu yang siap menghilang. Selimut sutra biru tua menutupi hingga dadanya, namun dingin tetap merayap masuk, menempel di tulang-tulangnya. Di pergelangan tangannya, bekas luka tipis terlihat samar. Ia tidak merasakannya lagi. “...Nyonya, minum obatnya,” bisik pelayan tua di sampingnya, suaranya bergetar. Mangkok porselen putih di tangannya mengeluarkan uap tipis. Lin Xueying tidak menjawab. Matanya menatap langit-langit, kosong. Lima tahun pernikahan. Tiga anak. Dan tidak satu pun dari mereka berada di sini. Sebuah tawa kecil, nyaris tak terdengar, lolos dari bibir pucatnya. “Aku… benar-benar hidup dengan sia-sia.” Pelayan itu terdiam, tidak berani menanggapi. Di luar, langkah kaki tergesa terdengar. Suara benturan logam, pedang, mungkin. Lalu teriakan. Terlambat. Lin Xueying tahu itu bahkan sebelum suara pintu didobrak. Musuh suaminya. Ironis. Ia bahkan tidak pernah cukup dekat dengan pria itu untuk disebut sebagai kelemahan. Namun tetap mati… sebagai bagian dari dirinya. Napasnya semakin tipis. Dalam sisa kesadarannya, bayangan seorang pria melintas—tinggi, tegap, selalu mengenakan jubah hitam dengan pola naga perak di bahu. Wajah dingin, mata tajam yang tidak pernah benar-benar menatapnya. Guo Zhenyu. Suaminya. “...Jenderal tanpa hati,” gumamnya lirih, nyaris seperti doa yang pahit. Jika saja… Jika saja waktu bisa diulang, “Aku tidak akan menunggumu lagi.” Gelap menelan segalanya. *** Suara burung pagi. Sinar matahari hangat menembus tirai tipis berwarna gading. Aroma teh melati menggantikan bau obat. Lin Xueying membuka matanya. Langit-langit, Bukan yang kemarin. Jari-jarinya bergerak pelan, menyentuh kain sutra di bawahnya—halus, bersih, tidak dingin seperti sebelumnya. Ia duduk perlahan. Ruangan ini… Lebih terang. Jauh lebih hidup. Di sudut ruangan, vas porselen biru putih berdiri utuh. Tirai belum pudar. Bahkan meja riasnya masih penuh perhiasan yang dulu jarang ia pakai—anting giok, jepit rambut emas dengan ukiran bunga plum, lambang status sebagai nyonya keluarga Guo. Belum rusak. Belum ditinggalkan! Langkah kaki ringan mendekat. “Nyonya sudah bangun?” suara muda terdengar, cerah. Lin Xueying menoleh. Pelayan baru. Wajahnya masih segar, belum dipenuhi rasa takut seperti pelayan lama dulu. “Ini… tahun berapa?” tanyanya pelan. Pelayan itu berkedip, bingung. “Tahun ke-12 pemerintahan Kaisar Shenlong Nyonya.” Jantung Lin Xueying berhenti sesaat. Lima tahun. Lima tahun sebelum kematiannya, Ia menunduk, menatap tangannya sendiri. Tidak ada bekas luka. Hidup. Sebuah napas panjang keluar dari bibirnya, hampir seperti tangis yang tertahan. “Kalau begitu…” suaranya lembut, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kembali dari kematian. “Siapkan pakaian. Aku akan pergi ke kediaman utama.” Pelayan itu terkejut. “Nyonya? Biasanya Anda tidak...,” “Aku berubah pikiran.” Tegasnya, Nada suaranya tidak tinggi, tidak keras. Namun entah kenapa, membuat pelayan itu menelan kata-katanya sendiri. Beberapa saat kemudian, Lin Xueying berdiri di depan cermin. Jubah sutra merah muda pucat membungkus tubuhnya, bordiran bunga plum di bagian lengan melambangkan ketahanan di musim dingin. Rambutnya disanggul sederhana, dihiasi satu jepit giok—tidak berlebihan, tidak mencolok. Ia menatap pantulan dirinya. Wajah yang dulu selalu berharap. Sekarang… hanya tenang. “Aku tidak akan mati lagi,” gumamnya pelan. Pelayan di belakangnya tersenyum kecil, salah memahami. “Nyonya terlihat jauh lebih percaya diri hari ini.” Lin Xueying tidak menjelaskan. Ia memang tidak pernah menjelaskan. Dan orang-orang… selalu salah mengerti. *** Halaman kediaman utama lebih luas dari yang ia ingat. Para pelayan berhenti bekerja saat melihatnya lewat. Bisikan mulai terdengar. “Nyonya datang ke sini?” “Sudah berapa lama…?” Lin Xueying berjalan tanpa terburu-buru, langkahnya ringan namun pasti. Tangannya tersembunyi di dalam lengan jubah, menjaga postur anggun seperti yang diajarkan dalam adat bangsawan. Ia berhenti di depan aula utama. Pintu besar itu, terasa asing. Seolah ia tidak pernah benar-benar menjadi bagian darinya. “Aku ingin bertemu Jenderal,” katanya pada penjaga. Penjaga itu ragu sejenak, lalu memberi jalan. *** Di dalam aula, udara terasa lebih dingin. Guo Zhenyu berdiri di dekat meja panjang, mengenakan jubah hitam dengan ikat pinggang perak. Rambutnya diikat tinggi, ekspresinya tetap sama seperti yang ia ingat—dingin, tajam, tak tersentuh. Namun kali ini, Matanya benar-benar menatapnya. Untuk pertama kalinya. Lin Xueying merasakan sesuatu bergetar di dalam dadanya. Bukan cinta. Hanya sisa kebiasaan yang belum sepenuhnya mati. Ia menunduk sedikit, sesuai etika. “Aku datang untuk mengatakan sesuatu.” Suasana hening. Guo Zhenyu tidak segera menjawab. Tatapannya turun, memperhatikan setiap detail, cara wanita itu berdiri, cara napasnya stabil, cara matanya… tidak lagi memohon. “Apa itu?” akhirnya ia bertanya, suaranya rendah. Lin Xueying mengangkat wajahnya, tenang. “Aku ingin bercerai.” Sunyi. Begitu sunyi hingga suara angin di luar terdengar jelas. Beberapa pelayan di sudut ruangan menahan napas. Guo Zhenyu tidak bergerak. Namun matanya… berubah. Cukup untuk membuat udara di ruangan itu terasa berat. “Ulangi,” katanya pelan. Lin Xueying tidak ragu. “Aku ingin..., ” “Kau datang ke sini…” potongnya, melangkah mendekat perlahan, “hanya untuk mengatakan itu?” tanyanya, dengan nada suaranya yang tenang. Namun ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang, berbahaya. Lin Xueying tidak mundur. “Aku tidak ingin mati di sini.” Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa penjelasan, atau emosi berlebihan. Namun cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu terdiam. Pelayan-pelayan saling berpandangan. Salah paham. Mereka mengira itu hanya keluhan. Namun Guo Zhenyu, matanya menyempit. Untuk pertama kalinya… ia merasa kalimat itu tidak sesederhana yang terdengar. Ia berhenti tepat di depan wanita itu. Terlalu dekat. “Siapa yang akan membunuhmu?” tanyanya pelan. Lin Xueying menggeleng kecil. “Aku tidak tahu.” jawabnya. Dan itu… adalah kebenaran. Ia benar-benar tidak tahu siapa musuh yang akan datang. Namun, Ia tahu ia akan mati. Guo Zhenyu menatapnya lama. Lalu, tanpa peringatan, tangannya terangkat, menyentuh dagu wanita itu, mengangkat wajahnya sedikit. “Matamu, Menarik.” Bisikan itu hampir seperti pujian. Namun tatapannya… tidak. “Aku tidak ingat menikahi wanita yang berani menatapku seperti ini.” Jantung Lin Xueying berdetak lebih cepat. Ia seharusnya takut. Namun yang ia rasakan justru sesuatu yang lain. Gangguan. Karena semuanya… mulai berbeda. Dan itu berarti, masa depan yang ia tahu, mungkin tidak lagi sama. Tangan Guo Zhenyu belum dilepaskan. “Baik,” katanya tiba-tiba. Semua orang terkejut. “Jika itu yang kau inginkan, aku akan mempertimbangkannya.” Namun jari-jarinya justru mencengkeram sedikit lebih kuat. “Selama kau tetap di sisiku, untuk sementara.” Lin Xueying terdiam. Ia tidak tahu kenapa, Tapi kalimat itu terdengar seperti… jebakan. Dan untuk pertama kalinya sejak ia kembali, Ia merasa sesuatu yang lebih menakutkan daripada kematian. Perhatian seorang pria yang seharusnya tidak pernah peduli. Bersambung.....Surat itu masih terbuka di atas meja.Xueying tidak bergerak sejak Wei Cheng menyampaikan laporan mengenai pembayaran kepada Bai Lian. Matanya terpaku pada nama kakaknya yang tertulis di sana, seolah-olah dengan menatapnya cukup lama, lelaki itu akan muncul dari balik pintu dan menjelaskan semua kebohongan yang telah terjadi.Namun, pintu tetap tertutup.Tidak ada suara langkah kaki.Tidak ada seseorang yang memanggil namanya seperti dahulu.Hanya keheningan yang semakin terasa menyesakkan.“Kakakku masih hidup saat pemakaman itu,” gumam Xueying.Tidak seorang pun menyahut.“Dia berdiri di sana. Dia melihat peti kosong itu dimakamkan. Dia bahkan tahu aku mungkin sedang menangis di rumah.” Jemarinya meremas liontin perak. “Lalu, dia pergi begitu saja?”Suaranya tidak meninggi. Justru itulah yang membuat Zhenyu mengalihkan seluruh perhatiannya.Xueying menunduk. Bibirnya terkatup rapat, tetapi da
Di sebuah desa kecil di sebelah barat ibu kota, Zhou An masih berdiri di hadapan perempuan bercadar itu.Angin sore menggerakkan tirai bambu di depan rumahnya. Di atas meja kayu, surat yang baru saja diterimanya tergeletak berdampingan dengan sebuah keping kayu berlambang bunga plum.“Jadi, Anda benar-benar melihatnya sendiri?” tanya perempuan itu.Zhou An mengangguk perlahan.“Tidak ada kesalahan. Saya mengenali wajahnya. Bahkan suaranya masih sama seperti yang saya ingat.”“Apakah dia mengatakan sesuatu?”Lelaki tua itu terdiam sejenak. Pandangannya jatuh pada surat di atas meja.“Dia meminta saya menyiapkan peti mati tertutup. Katanya, keluarganya harus percaya bahwa dia sudah meninggal. Namun, ada satu hal yang membuat saya tidak pernah bisa melupakan pertemuan itu.”“Apa?”“Dia bertanya apakah adik perempuannya akan menghadiri pemakaman.”Jari perempuan itu mengencang di balik lengan bajun
Pagi menyambut kediaman keluarga Guo dengan udara dingin dan kabut tipis.Xueying sudah berada di ruang makan ketika Zhenyu datang dengan langkah perlahan. Bahunya masih dibalut kain perban, sementara salah satu tangannya sesekali menyentuh sisi punggung yang terasa nyeri.“Kenapa kau bangun sepagi ini?” tanya Xueying.“Karena istriku sudah bangun.”“Jawaban yang tidak masuk akal.”“Namun, tetap benar.”Zhenyu duduk di hadapannya. Seorang pelayan segera menuangkan teh, kemudian meletakkan semangkuk bubur hangat di dekatnya.Xueying memperhatikan cara suaminya menggerakkan tangan.“Apakah lukamu masih sakit?”“Sedikit.”“Sudah minum obat?”“Sudah.”“Obat yang pahit?”Zhenyu menghela napas.“Apakah kau akan terus mengingatkanku tentang obat itu?”“Kalau kau terus menghindarinya, tentu saja.”“Kalau begitu, aku lebih suka diingatkan oleh istrik
“Periksa seluruh bangunan di sekitar kediaman! Jangan biarkan seorang pun keluar tanpa pemeriksaan!”Suara Wei Cheng terdengar dari halaman.Para penjaga segera berpencar. Beberapa menuju gerbang belakang, sementara yang lain memeriksa gudang dan lorong penghubung antarrumah.Xueying masih berdiri di depan meja. Matanya terpaku pada tanda tangan Lin Fu dalam catatan pemakaman kakaknya.“Dia berbohong,” gumamnya.Zhenyu mengangkat pandangan. “Tentang apa?”“Lin Fu mengatakan bahwa dia menyembunyikan kematiannya sendiri karena diperintahkan. Namun, namanya tercantum sebagai orang yang menyerahkan peti mati kakakku kepada keluarga Lin.”Ia mengangkat dokumen itu.“Jika dia memang telah dinyatakan meninggal tiga tahun sebelumnya, bagaimana mungkin dia hadir dalam pemakaman enam bulan sebelum pernikahanku?”Yucheng yang berdiri di dekat jendela mengambil dokumen tersebut.“Bisa jadi seseorang menggunakan namanya.”“Namun, tanda tangannya cocok dengan catatan lain yang ditemukan di kediaman
Pagi datang dengan suara lembut burung gereja.Ciap… ciap…Kabut tipis menggantung di halaman kediaman utama keluarga Guo, menutupi ubin batu yang masih basah oleh embun. Para pelayan bergerak teratur, membawa nampan sarapan dengan langkah cepat namun senyap.Tap… tap…Di paviliun timur, Lin Xueyin
Langkah kaki Lin Xueying terdengar pelan di atas batu halaman.Tap… tap… tap…Angin sore mulai turun, membawa aroma daun pinus dari taman belakang. Langit berubah jingga pucat, tanda waktu makan malam akan segera tiba—sebuah rutinitas yang selalu sama di kediaman keluarga Guo.Namun tidak pernah be
Hening.Lampu minyak di sudut aula bergetar pelan.kelap… kelip…seolah ikut ragu pada suasana yang berubah tiba-tiba.Lin Xueying masih berdiri tegak, punggungnya lurus sesuai etika seorang putri bangsawan. Kedua tangannya tersembunyi di balik lengan jubah, jemarinya saling menggenggam pelan.krek
Selamat membaca.Malam itu turun tanpa suara. Langit di atas ibu kota tertutup awan tipis, menyembunyikan bulan seperti rahasia yang terlalu lama disimpan. Angin musim dingin menyelinap melalui celah jendela paviliun timur—tempat yang terlalu jauh dari kediaman utama untuk disebut “rumah istri sah”


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews