로그인“Hafiz memperingatkan bahwa ini adalah neraka. Dan aku? Aku memilih untuk terbakar di dalamnya.” Lima tahun aku mencari jejaknya, hanya untuk mendapati Hafiz telah hidup dengan wanita lain. Duniaku hancur, namun obsesiku jauh lebih kuat dari harga diri. Aku diam-diam memaksanya dalam sebuah pernikahan rahasia—janji yang mengikat kami dalam keheningan yang menyiksa. Aku menerima kenyataan bahwa diriku hanyalah rahasia. Aku menerima neraka itu. Namun, seberapa lama aku bisa bertahan saat ketakutan jika Zuhra menemukan kebenaran perlahan membunuh kewarasanku? Happy reading 📖🏻
더 보기Jakarta, lima tahun yang lalu.
Aku menatap layar ponselku dengan intensitas yang tidak biasa. Di pojok kanan atas, jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Sebagai mahasiswi Psikologi semester lima, aku seharusnya sedang berkutat dengan jurnal tentang attachment theory, namun pikiranku justru tertambat pada deretan kalimat yang baru saja masuk di Direct Message I*******m miliku. @Hafiz: “Profilmu menarik. Ternyata kita di kota yang sama, walau beda kampus. Boleh kenalan?” Aku tersenyum tipis. Profil pria itu—Hafiz—menampilkan foto dirinya mengenakan seragam taruna pelayaran yang gagah. Rahang tegas, tatapan tajam, dan bahu lebar. Sebagai mahasiswi, aku tahu aku seharusnya berhati-hati, namun ada sesuatu dalam cara Hafiz menyapaku yang terasa... intens. Dengan ragu, aku membalas. @Zara: “Boleh. Tapi taruna pelayaran bukannya sibuk banget ya?” Percakapan malam itu mengalir begitu saja. Hafiz ternyata pria yang dominan, cerdas, dan memiliki pandangan hidup yang sedikit berbeda. Perlahan, ia bercerita bahwa ia berasal dari Mumbai, India. Ia berkisah tentang betapa besarnya tekanan keluarga di sana, di mana setiap langkahnya diatur oleh ayahnya yang kolot. Pertemuan pertama kami di sebuah kafe di pusat kota Jakarta terasa begitu magis. Aroma parfum woody yang memabukkan langsung menyeruak saat ia duduk di depanku. Pertemuan itu mematahkan rasa gugupku. Hafiz memperlakukanku seperti seorang ratu, namun dengan tatapan yang seolah ingin menelanku hidup-hidup. "Aku nggak nyangka kamu bakal secantik ini di dunia nyata," pujinya saat pertemuan ketiga kami, di sebuah taman kota saat senja. Jantungku berdebar kencang. Aku meruntuhkan pertahananku sendiri. Perasaan itu tumbuh, kuat dan menuntut. Tahun-tahun perkuliahan terasa begitu cepat. Aku dan Hafiz tidak bisa dipisahkan. Kami seperti dua kepingan puzzle yang akhirnya bertemu. Namun, intensitas pertemuan fisik membuat kami melampaui batas. Awalnya, Hafiz hanya mengantarku pulang ke kosan. Namun, seiring waktu, ia mulai membawaku ke apartemennya yang sepi, atau ke hotel-hotel di sudut kota saat ia mendapat izin keluar dari asramanya. "Hafiz, aku besok ada kuis Psikologi Perkembangan," keluhku suatu malam, saat kami berada di dalam kamar hotel yang ia sewa. Hafiz mengecup leherku lembut, tangannya menelusuri pinggangku dengan posesif. "Kuis bisa diulang, Sayang. Tapi aku... aku sebentar lagi harus kembali ke asrama." Ketergantunganku dimulai dari sana. Sentuhan Hafiz bagaikan narkoba bagiku. Aku merasa tidak bisa hidup tanpa kehadiran fisiknya. Aku menyerahkan segalanya—tubuh dan jiwaku—kepada pria yang aku yakini akan menjadi suamiku itu. Aku mengabaikan tugas kuliah, mengabaikan teman-temanku, hanya demi pertemuan-pertemuan intens yang berakhir di ranjang hotel. "Hafiz, kamu serius kan sama aku?" tanyaku suatu malam, kepalaku bersandar di dada bidangnya yang wangi sabun hotel. Ia mengecup dahiku lembut. "Tentu saja, Sayang. Setelah lulus, aku akan bicara dengan orang tuaku. Kita akan menikah." Janji itu adalah jangkar sekaligus racun bagiku. Aku menggantungkan seluruh harapanku pada janji tersebut. Hari kelulusan tiba. Panggung megah, toga hitam, dan senyum bahagia. Tapi, di balik senyumku, ada ketakutan yang merayap. Hafiz harus pulang ke negaranya untuk menempuh ujian keahlian pelaut tingkat lanjut. "Hanya sebentar. Aku akan ke sini lagi," kata Hafiz di bandara. Pelukannya erat, seolah tak ingin melepaskan. Aku menangis sesenggukan. "Janji ya, jangan hilang kabar. Aku nggak bisa kalau nggak ada kamu." "Aku janji." Minggu pertama setelah kepulangannya ke Mumbai, komunikasi masih intens. Video call setiap malam, seringkali diwarnai adegan dewasa yang membuatku semakin ketergantungan. Minggu kedua, mulai jarang. Bulan pertama, Hafiz mulai menghilang selama berhari-hari. Pesanku hanya dibaca, tanpa balasan. Bulan ketiga... ia menghilang total. Aku panik. Aku menelepon nomornya, tidak aktif. Aku mengirim pesan W******p, centang satu. I*******m? Akunnya tiba-tiba private dan tidak ada aktivitas lagi. Aku mencarinya ke mana-mana. Aku menghubungi teman-teman seangkatannya di kampus, mencoba mencari tahu lewat koneksi di India. Nihil. Hafiz lenyap ditelan bumi. "Mungkin dia punya urusan mendesak. Bersabar," kata sahabatku, Nufa, berusaha menenangkan. "Nggak, Fa. Dia janji! Dia nggak mungkin ninggalin aku kayak gini!" teriakku frustrasi. Setahun berlalu. Aku mulai meragukan kewarasanku sendiri. Apakah semua kenangan itu nyata? Ataukah aku hanya berhalusinasi mencintai seorang pria yang ternyata tidak nyata? Satu-satunya petunjuk yang kumiliki adalah nama sebuah kota yang pernah ia sebutkan, "Mumbai". Tapi Mumbai sangat luas. Mencari seseorang di sana sama dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami. ** Lima tahun kemudian. Aku kini bekerja sebagai staf HRD di sebuah perusahaan swasta. Penampilanku lebih dewasa, namun mataku memancarkan kesedihan yang mendalam. Aku belum pernah menjalin hubungan serius lagi. Bayangan Hafiz, sentuhannya, aroma parfumnya... terlalu kuat. Suatu malam, saat sedang scrolling I*******m, aku iseng mencari nama Hafiz kembali. Aku menemukan sebuah akun. Fotonya buram, tapi gaya rambut dan bentuk bahunya terasa familiar. Akun itu private. Dengan tangan gemetar, aku mengirimkan follow request dan pesan. @Zara: “Hafiz? Ini aku. Tolong jawab.” Tidak dibalas. Permintaanku tidak diterima. Keesokan harinya, aku membuat keputusan gila. Aku mengambil cuti panjang dan membeli tiket pesawat ke Mumbai. Aku tidak bisa hidup dalam ketidakpastian ini lagi. Aku harus menemukan jawaban, meskipun jawabannya akan menghancurkan hatiku. Mumbai dingin dan asing bagiku. Aku berdiri di tengah keramaian stasiun pusat, merasa kecil dan tersesat. Aku membawa satu koper besar dan alamat samar yang pernah ia sebutkan di sebuah distrik komersial. Selama seminggu, aku seperti detektif swasta. Aku mendatangi pelabuhan-pelabuhan, menanyakan foto Hafiz ke orang-orang di jalan, dan mencoba menghubungi koneksi lama yang dulu pernah kucari tahu lewat internet. Hasilnya nol. Semua orang menggeleng. Aku terduduk di sebuah bangku taman kota yang dingin, air mata mulai menetes. Rasa lelah fisik dan mental menggerogotiku. Aku merasa bodoh. Bagaimana mungkin aku berharap menemukan seseorang di kota sebesar ini hanya berdasarkan ucapan lima tahun lalu? Malam itu, di kamar hotelku yang kecil—tempat yang mengingatkanku pada kenangan kelam bersamanya—aku menatap ponselku. Aku membuka aplikasi I*******m lagi. Melihat follow request-ku masih tertunda. Dengan putus asa dan emosi yang meluap, aku mengetik pesan panjang. Pesan yang aku tahu mungkin takkan pernah dibaca. Namun, aku ingin melepaskan beban di dadaku. @Zara: “Hafiz, aku tahu kamu baca ini. Aku nggak tahu kenapa kamu lakuin ini ke aku. Tapi aku di sini. Aku di Mumbai. Aku sudah dua minggu mencari kamu di kota yang pernah kamu sebutkan. Tolong, temui aku sekali saja. Aku cuma butuh jawaban kenapa kamu menghilang. Aku... aku merindukanmu.”Zuhra melepaskan jabatan tangan kami, ia menyandarkan tubuhnya sedikit ke arah sofa, tetap berdiri dengan posisi yang dominan. "Kamu pasti sudah tahu apa tujuan saya datang kemari, bukan?" Aku tersenyum anggun, mencoba mengimbangi ketenangan Zuhra. "Iya, tentu saya tahu. Suami Anda sedang tidak ada di sini sekarang." "Saya tahu," jawab Zuhra santai, seolah keberadaan Hafiz saat ini bukan lagi r4h4si4 baginya. "Sejak kapan Anda menyukai suami saya?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja, sangat lembut namun tajam seperti sembilu. Aku terdiam sesaat, aku membasahi bibirku lalu menjawab dengan suara yang mantap. "Sebelum Anda menikah dengannya." Kali ini, giliran Zuhra yang terkejut. Alisnya bertaut, meski ia berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar. "Maksudnya?" "Iya, betul," aku melangkah satu tindak lebih dekat, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Zuhra. "Kami sudah saling mencin
Pagi itu di kediaman Adnan, keheningan di meja makan terasa begitu mencekam, meski hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen. Hafiz menyesap kopinya dengan perlahan, namun pikirannya melayang jauh ke kamar 301. Kata-kata Zuhra semalam tentang "suami yang menyewa hotel untuk wanita lain" terus berdengung di telinganya seperti lebah yang mengamuk. Ia menyadari sepenuhnya bahwa itu adalah sindiran halus yang mematikan."Aku harus segera memindahkan Zara ke apartemen," batin Hafiz gelisah. Hotel terlalu terbuka. Zuhra mulai mencium baunya.Zuhra, yang duduk di hadapannya, tampak tenang menyantap sarapannya. Namun, ketenangan itu adalah topeng paling sempurna yang pernah ia kenakan."Sayang," suara Zuhra memecah keheningan. "Aku belakangan ini merasa suntuk sendirian di rumah saat kamu bekerja. Bagaimana kalau makan siang nanti aku antarkan makanan ke kantormu? Aku masak menu favoritmu."Hafiz nyaris tersedak kopinya. Ia menata
Begitu mobil berhenti di depan pagar rumah, Zuhra segera turun."Terima kasih, Shena. Aku... aku tidak tahu apa yang akan terjadi malam ini.""Telepon aku jika terjadi sesuatu, Zuhra. Aku akan selalu ada," jawab Shena sebelum memutar balik mobilnya dan menghilang di kegelapan jalan.Sepuluh menit berlalu seperti berjam-jam bagi Zuhra. Ia duduk di sofa ruang tengah, memegang sebuah buku tebal yang terbuka di pangkuannya. Namun, matanya sama sekali tidak membaca barisan kata di sana. Ia sedang menghitung detak jantungnya sendiri yang berdebar kencang saat mendengar suara deru mesin mobil Hafiz memasuki halaman.Klik.Suara kunci pintu diputar. Hafiz melangkah masuk dengan wajah yang tampak sangat lelah. Ia langsung melepas kemejanya yang sudah sedikit kusut. Begitu melihat Zuhra masih terjaga, ia mencoba memaksakan sebuah senyum hangat yang biasanya selalu berhasil meluluhkan hati istrinya."Loh, Sayang? Kok belum tidur? Kan
Dengan jemari yang dingin, Zuhra mengetik barisan kata yang tampak sangat manis namun beracun.Zuhra: "Sayang, rapatnya sudah mulai? Jangan lupa makan malam ya, aku menunggumu di rumah."Di lantai tiga, tepatnya di kamar 301, suasana panas baru saja mereda. Keheningan yang intim menyelimuti ruangan. Hafiz dan aku masih terbaring bersinggungan kulit di bawah selimut sutra yang berantakan. Napas kami perlahan mulai teratur setelah pergulatan hebat yang menguras tenaga tadi. Hafiz memiringkan tubuhnya, mengecup bahuku yang masih lembap oleh keringat dengan penuh kasih.Ting!Suara notifikasi itu memecah kesunyian. Ponsel Hafiz yang tergeletak di atas nakas menyala, memendarkan cahaya putih di kegelapan kamar. Hafiz meraihnya dengan malas, mengira itu hanya urusan kantor. Namun, matanya seketika membelalak saat membaca nama pengirimnya.Zuhra.Hafiz terdiam membeku seolah seluruh aliran darahnya berhenti. Pesan itu tampak sangat sede






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.