LOGINDiana tak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena satu malam yang penuh emosi. Saat ia mengetahui dirinya hamil, kebahagiaan itu langsung berubah menjadi kekhawatiran—bayi yang dikandungnya adalah buah dari Randy, musuh bebuyutannya. Dulu mereka selalu berseteru, saling menjatuhkan dalam urusan bisnis dan pribadi. Namun kini, keadaan memaksa mereka menghadapi kenyataan yang tak bisa dihindari. Di tengah rahasia, tekanan keluarga, dan konflik batin, Diana harus memutuskan apakah ia akan membenci atau menerima Randy—dan bayi mereka—di hidupnya. Cinta, dendam, dan pengkhianatan berpadu dalam kisah penuh drama ini. Akankah Diana dan Randy menemukan jalan untuk berdamai, atau masa lalu akan terus menghantui mereka?
View MoreDiana hampir menjatuhkan ponselnya saat bayangan di balik jendela itu bergerak—atau mungkin hanya ilusi yang dipicu rasa panik. Nafasnya tersendat, dadanya terasa seperti diperas sesuatu yang tak terlihat. Ia tidak langsung mendekat, hanya berdiri membeku beberapa langkah dari kaca, seolah jarak itu bisa melindunginya dari sesuatu yang bahkan belum pasti nyata.Tangannya bergetar saat ia mencoba menarik napas panjang. “Tenang… ini tidak masuk akal… ini pasti cuma bayangan,” bisiknya, meski suaranya sendiri terdengar rapuh di telinganya.Ia akhirnya memaksa diri melangkah mendekat. Setiap langkah terasa berat, seolah lantai apartemennya berubah menjadi medan yang tak bersahabat. Saat ia sampai di dekat jendela dan menarik tirai sedikit lebih lebar, pandangannya langsung menyapu ke luar. Jalanan sepi. Lampu kota redup. Tidak ada siapa pun.Kosong.Diana memicingkan mata, mencoba memastikan. “Tidak mungkin… tadi jelas ada…” gumamnya, lalu menghentikan kalimatnya sendiri. Jantungnya masih
Diana terbangun dengan napas terengah, jantungnya berdetak begitu keras seolah ingin keluar dari dadanya. Keringat dingin membasahi pelipisnya, sementara matanya menatap kosong ke langit-langit kamar yang terasa asing meski ia tahu ini adalah apartemennya sendiri. Tidak ada suara selain detak jam di dinding—tik… tik… tik—yang justru membuat kepalanya semakin penuh.Ia mengangkat tangan, menutup wajahnya, mencoba mengatur napas. Tapi bayangan itu kembali muncul. Tatapan dingin itu. Suara rendah itu. Cara seseorang berdiri terlalu dekat tanpa benar-benar menyentuh, tapi cukup untuk membuat ruang terasa sempit.“Kenapa…” bisiknya pelan, suaranya serak. “Kenapa aku tidak bisa melupakannya?”Ia duduk perlahan, menarik selimut menjauh dari tubuhnya. Pagi belum benar-benar datang, langit masih gelap kebiruan. Namun pikirannya sudah berisik sejak beberapa jam lalu. Setiap kali ia memejamkan mata, adegan itu kembali. Tidak pernah lengkap, tidak pernah jelas, tapi cukup untuk membuat dadanya se
Diana menatap jalanan dari jendela apartemennya, hujan tipis menetes di kaca, seolah meniru perasaannya yang bercampur aduk. Setiap tetes air tampak seperti pengingat malam-malam yang baru saja ia lalui—malam yang mengubah segalanya, malam yang membuatnya kehilangan pijakan dalam hidupnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, tapi hatinya masih berdebar kencang, rasa marah dan malu masih bercampur, membuatnya sulit berpikir jernih.“Kenapa semua ini harus terjadi padaku?” gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam di dalam suara hujan. Ia menunduk, menutupi wajahnya dengan tangan, menahan air mata yang nyaris tumpah. “Kenapa aku tidak bisa hanya menjalani hidup normal?”Teleponnya bergetar di meja. Diana menatap layar, tangan gemetar. Pesan itu dari Randy. Ia menahan diri untuk tidak membukanya, menahan napas, menahan emosi yang mencoba kembali menyeretnya ke malam itu. “Tidak… tidak sekarang,” bisiknya, menutup telepon dengan kasar. Ia memutuskan untuk menjauh, untuk me
Diana berdiri di tengah ruang tamu, napasnya terengah, jantungnya berdegup liar. Pesan di telepon masih terpampang jelas, menyisakan rasa marah yang membakar kulitnya. “Kau… kau dari pihak mereka?” suaranya hampir tak terdengar, tapi penuh dengan kemarahan yang terkumpul.Randy, yang duduk santai di sofa, menatapnya dengan tatapan dingin, matanya menyipit tipis seolah menilai setiap reaksi Diana. “Ya, Diana. Aku dari pihak yang berseberangan. Dan kau… kau baru menyadarinya sekarang.” Suaranya rendah, mantap, dan tidak menunjukkan satu pun rasa bersalah.Diana menatapnya dengan mata membara, darahnya mendidih. “Berarti… semua yang kau lakukan selama ini… semua kebohongan, semua permainan… semuanya untuk menguntungkan pihakmu?” Ia menepuk meja, hampir menjatuhkan gelas yang ia pegang. “Kau benar-benar menghancurkan hidupku!”Randy mengangkat bahu, menatapnya dengan tenang. “Aku tidak bilang ini mudah. Tapi aku tidak bisa membiarkan pihakku kalah hanya karena pertimbangan perasaanmu. Kau






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.