Share

Bab 871

Penulis: Ayesha
Kesenjangan psikologis yang besar itu bagaikan seekor ular berbisa yang terus menggerogoti hati Faye. Dia berusaha mempertahankan ketenangan di permukaan, tetapi kepalan tangannya yang mengeras justru membocorkan ketidakrelaan di dalam hatinya.

Di sisi lain, Vonny juga diam-diam berdecak kagum dalam hati. Brielle memang terlalu memesona. Dia sampai bisa menarik tiga pria tampan untuk menemaninya sekaligus. Benar-benar tiada tandingan!

Quinn sendiri tidak terlalu memahami situasinya. Dia tersenyu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (10)
goodnovel comment avatar
Rahma Diana Utami
oh raka..biar devina ular berbisa itu aja yg kasi perhatian ke km sm spt slma itu km bgtu perhatian n menomor satukan serta meratukan devina..skrg jgn berharap apa2 pd brielle ya..km hrs rela ikhlas brielle menggapai bhagia nya dg laki2 lain.raka km hrs nikah n bhgia dg devina pilihanmu
goodnovel comment avatar
Wisti Tsuroya Ramadhan
pasti raka ga di tanya sama brielle.... malang nya raka.... ... kalo aku support brielle balikan sama raka tapi kalo harus pilih yg lain, ya pilih niro
goodnovel comment avatar
Cantik
Niro mmg luar biasa, aku suka Lambert, yg penting jangan Raka.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1408

    Kali ini, Harvis merasa perlu menyadarkan Brielle.Ucapan Harvis bagaikan sebuah kerikil yang jatuh ke permukaan danau di hati Brielle. Jemarinya yang menggenggam cangkir sedikit mengencang. Bulu matanya yang panjang terkulai, menutupi emosi di balik sorot matanya.Bagaimana mungkin dia tidak merasakannya?Awalnya Raka berinvestasi di laboratorium tanpa memperhitungkan biaya, lalu sekarang pria itu perlahan-lahan terlibat dalam setiap aspek kehidupannya. Banyak hal sudah melampaui batas sewajarnya.Brielle menghela napas pelan, lalu menatap Harvis dengan tatapan yang jernih dan tenang. "Kak Harvis, aku tahu apa yang harus kulakukan."Harvis ikut menghela napas. "Sebenarnya aku juga nggak seharusnya ikut campur. Aku cuma mengatakan beberapa hal sebagai seorang teman.""Aku tahu apa maksudnya, tapi mengetahui dan cara menanggapi adalah dua hal yang jauh berbeda." Brielle menoleh ke luar jendela."Aku berterima kasih atas dukungannya dalam karierku. Demi Anya, aku juga bersedia menjaga hu

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1407

    Saat pintu lift menuju lantai 27 menutup, Raka mengucapkan satu kalimat kepada Brielle, "Terima kasih."Brielle memandangi pintu lift yang telah tertutup. Hatinya bukannya tanpa gejolak sama sekali. Dia bisa merasakan permintaan maaf dan sikap mengalah dari Raka.Namun, luka masa lalu terlalu dalam. Banyak hal telah kehilangan kesempatan untuk diulang kembali.Misalnya cinta Brielle kepadanya, antusiasmenya terhadapnya, serta hati yang sejak lama telah padam untuknya.Mereka bisa menjadi teman, bisa menjadi rekan, bisa menjadi investor dan pihak yang menerima investasi. Namun, satu hal yang mustahil adalah menjadi suami istri lagi.Setelah kembali ke rumah, Brielle memberi tahu Lastri untuk tidak menyiapkan makan siangnya. Setelah itu, dia naik ke lantai atas untuk bekerja.Pukul 11.30 siang, Brielle menerima pesan dari Harvis. Dia turun ke lantai bawah. Ketika sedang memikirkan pekerjaan, tiba-tiba dia melihat sosok yang dikenalnya berjalan dari arah depan. Itu adalah Savana, ibu Lamb

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1406

    "Kalau begitu, sekitar jam 11.30 siang aku akan nunggu di gerbang kompleks rumahmu.""Oke." Brielle mengiakan, lalu sambungan telepon di seberang pun terputus.Saat berhenti di depan lampu merah, Brielle merasa pria di sampingnya terus menatapnya. Dia menoleh. "Lihat apa?"Melihat ekspresinya, Raka langsung tahu Brielle jelas sudah lupa soal ajakan makan siang tadi."Padahal aku yang lebih dulu ajak kamu makan siang," ucap Raka dengan nada masam.Brielle berkedip, baru teringat. Di supermarket tadi, sepertinya memang Raka sempat mengajaknya. Saat itu, dia pun menolak tanpa pikir panjang."Kak Harvis cari aku karena urusan pekerjaan." Brielle mencoba memberi alasan, meskipun sebenarnya dia tidak perlu menjelaskan apa pun. Dia bebas makan dengan siapa saja."Kalau begitu, aku boleh ikut?" tanya Raka tiba-tiba."Nggak boleh." Brielle menolak dengan tegas.Raka kembali terdiam beberapa detik. Rasa sesak di dadanya justru makin berat."Kenapa?" tanyanya tak bisa menahan diri. Ada sedikit ke

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1405

    Saat mereka tiba di area kasir, Brielle mulai mengeluarkan barang-barang miliknya dan meletakkannya di meja pemindaian.Raka menoleh kepadanya dan berkata, "Sekalian saja."Setelah berkata demikian, dia sudah mengeluarkan ponselnya dan membuka kode pembayaran. Brielle langsung menghentikannya. "Aku bayar sendiri.""Cuma beberapa kebutuhan sehari-hari. Nggak seberapa." Raka tetap bersikeras ingin membayarnya.Brielle mengulurkan tangan untuk menghalangi. "Aku bayar sendiri." Nadanya bahkan lebih tegas dari Raka. Tepat saat itu, sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel Raka. Dia melirik layar lalu berkata kepada Brielle, "Aku harus terima telepon penting. Boleh minta tolong sebentar?"Maksudnya sangat jelas. Di dalam troli masih ada sabun mandi dan satu pak kecil wiski miliknya.Brielle mengangguk. "Boleh."Raka pun melangkah pergi lebih dulu dan menuju sudut yang lebih sepi untuk menerima telepon.Setelah semua barang selesai dibayar, Brielle mendorong troli keluar dari area kasir. Pada

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1404

    Lastri yang berdiri di samping tersenyum melihat pemandangan itu. "Lihat saja Anya, senangnya bukan main. Pasti dia sangat merindukan Pak Raka."Brielle melangkah keluar rumah. Pada tubuh Raka masih terlihat aura lelah setelah perjalanan jauh, seolah baru saja turun dari pesawat."Pulanglah dan istirahat dulu. Aku yang antar Anya," kata Brielle. Dia bisa melihat dengan jelas bahwa pria itu tampak sedikit kelelahan."Aku ikut denganmu." Raka menggenggam tangan putrinya sambil menatap Brielle. Anya juga segera menggenggam tangannya lebih erat."Mama, aku mau Papa ikut antarin aku ke sekolah. Tolong ya, Mama."Brielle akhirnya hanya bisa mengangguk. "Baik."Di kursi belakang mobil, Anya dan Raka terus mengobrol. Topiknya tentu saja seputar perjalanan dinas Raka. Tak terasa mereka sudah sampai di sekolah. Anya masuk ke sekolah dengan riang.Setelah kembali ke mobil, Brielle menoleh ke arah pria yang masih duduk di kursi belakang. "Aku antar kamu pulang untuk istirahat.""Kamu sendiri mau k

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1403

    Di dalam kafe, Brielle sedang memegang cangkir kopi dan menyesapnya perlahan. Tatapannya penuh minat saat melihat Ferdian yang duduk di hadapannya. Kekaguman di matanya tidak pernah benar-benar hilang sepanjang percakapan mereka.Karena terlalu fokus pada diskusi, dia sama sekali tidak menyadari bahwa sesosok pria tinggi baru saja masuk ke dalam kafe. Sampai akhirnya sebuah suara rendah dan menarik terdengar dari sampingnya. "Nggak mau perkenalkan kami?"Brielle terkejut dan langsung mengangkat kepala.Saat melihat pria yang tiba-tiba muncul itu, dia tidak bisa menahan rasa herannya. "Bukannya kamu sudah berangkat ke bandara?""Kebetulan lewat. Aku masuk untuk beli kopi," jawab Raka dengan nada santai seolah tidak terjadi apa-apa. Di belakangnya, Gavin langsung memahami situasi dan segera berjalan ke meja pemesanan untuk memesan kopi.Sementara itu, tatapan Raka beralih kepada Ferdian yang duduk di seberang Brielle. Di matanya terdapat penilaian yang jelas.Brielle langsung merasakan a

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 495

    Begitu Lambert berjalan mendekat, Syahira langsung tersenyum. "Pak Lambert, kamu bisa main golf nggak?" tanyanya santai.Lambert mengangguk ringan dengan percaya diri. "Bisa.""Pas banget! Ajarin Brielle, dong! Dari tadi satu bola pun belum ada yang kena," kata Syahira sambil menahan tawa.Wajah Bri

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 481

    Tak lama kemudian, Anya datang dengan membawakan kue. Jay menerima kue itu dan tersenyum padanya. "Terima kasih, Anya."Brielle membawa putrinya naik ke mobil, lalu akhirnya dia mengerti maksud Jay. Sekarang dia tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.Sesampainya di rumah, Lastri membantu Anya me

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 485

    Brielle mengangguk pelan, lalu mengeluarkan ponselnya dan menambahkan kontak Alger di Skype.Sesaat kemudian, terdengar suara bariton yang dalam di sisi mereka. "Doktor Smith, sepertinya anggota timmu sangat tertarik pada peneliti utamaku?"Raka menatap dengan senyuman tipis di ujung bibirnya.Smith

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 460

    Penandatanganan kontrak pengalihan paten berjalan lancar. Brielle melirik jam tangannya, lalu berkata kepada Madeline, "Bu Madeline, aku ke laboratorium dulu.""Baik, silakan," jawab Madeline sambil mengangguk, lalu menoleh ke arah Raka. "Raka, ada yang mau kamu bicarakan?"Raka menatap Brielle yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status